Tipologi Keberagamaan Mahasiswa: Survei Di 10 Perguruan Tinggi Negeri

Tipologi Keberagamaan Mahasiswa Survei Di 10 Perguruan Tinggi Negeri

Covesia.com - Survei tentang Model Beragama Mahasiswa di 10 Perguruan Tinggi Negeri, dilakukan SETARA Institute sebagai upaya mengenali secara presisi kuantitas problem yang menuntut penyikapan pemerintah dan kalangan perguruan tinggi. Sebelumnya, SETARA Institute telah melakukan kajian kualitatif yang secara purposif dan studi kasus telah menggambarkan bagaimana wacana dan gerakan keagamaan tumbuh subur di lingkungan perguruan tinggi dan pada batas-batas tertentu berpotensi bertransformasi menjadi intoleran, radikal dan bahkan terorisme. Wacana dan gerakan keagamaan tersebut secara langsung mengancam ideologi Pancasila.

Tuntutan penyikapan atas tumbuhnya wacana dan gerakan keagamaan di 10 perguruan tinggi membutuhkan baseline yang presisi, sehingga kalangan kampus memiliki baseline dan intervensi yang terukur dalam kerangka demokratik dengan mengadopsi paradigma inclusive governance. Dengan data presisi dan pendekatan inclusive governance, kecemasan banyak pihak tentang arus balik indoktrinasi Pancasila dan pilihan penanganan yang represif dapat dihindari.

MASALAH DAN RUANG LINGKUP

Tema utama survei ini adalah model beragama di kalangan mahasiswa perguruan tinggi negeri. Agar terfokus, masalah penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: Pertama, bagaimana kondisi objektif tipologi keagamaan di kalangan para mahasiswa perguruan tinggi negeri? Kedua, apa saja figur/faktor yang mempengaruhi pola keberagamaan mereka?

Permasalahan di atas dibatasi pada beberapa aspek berikut:

1. Penelitian dibatasi di 10 perguruan tinggi negeri (8 PTN umum, dan 2 PTN berbasis Islam) yaitu Universitas Indonesia, Institut Pertanian Bogor, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Brawijaya, Universitas Airlangga, Universitas Mataram, UIN Syarif Hidayatullah, dan Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung.

2. Responden dibatasi pada mahasiswa yang aktif kuliah, dimana status mereka terukur dengan data bahwa mereka mengikuti/mengambil mata kuliah tertentu.

KERANGKA METODOLOGIS

1. Lokasi dan Waktu Pengumpulan Data

Penelitian ini menggunakan survei yang dilakukan di 10 Perguruan Tinggi Negeri, yaitu (1) Universitas Indonesia, (2) UIN Syarif Hidayatullah, (3) Institut Pertanian Bogor, (4) Institut Teknologi  Bandung,  (5) UIN  Sunan  Gunung  Djati, (6) Universitas Gadjah Mada, (7) Universitas Negeri Yogyakarta, (8) Universitas Airlangga, (9) Universitas Brawijaya, dan (10) Universitas Mataram.

2. Populasi dan Sampel

Populasi  survei  ini  adalah  seluruh  mahasiswa  program  Strata  1  (sarjana)  dari  10
Perguruan Tinggi Negeri yang menjadi tempat survei. Sedangkan populasi sasaran adalah seluruh mahasiswa aktif kuliah di Fakultas yang menjadi target survei. Sebaran sampel fakultas untuk setiap perguruan tinggi ditampilkan pada Tabel 1 di bawah ini.

Jumlah total sampel survei adalah 1.000 orang mahasiswa. Jumlah sampel di setiap perguruan tinggi sebanyak 100 orang yang menyebar di 5 fakultas terseleksi secara purposif dengan distribusi yang merata, masing-masing 20 sampel per fakultas. Agar sampel mewakili semester kuliah (tahun angkatan), masing-masing semester (2, 4, 6, 8, dan non aktif) dialokasikan 5 sampel, dengan pengecualian untuk semester 8 dan mahasiswa non aktif.

Proses sampling (pencuplikan sampel) sebagai berikut. Pada dasarnya, sampel survei diseleksi secara random sistematis-berjenjang. Menurut rumus Slovin, untuk populasi survei yang berkisar 500.000, jumlah sampel random sebanyak 900 responden dengan margin of error pencuplikan sebesar 3,3%, dan tingkat kepercayaan 95%.

Untuk memenuhi kebutuhan analisis berbasis variabel agama, 100 sampel diseleksi secara purposif dengan ketentuan sebagai berikut. Setiap perguruan tinggi dialokasikan
12-13 sampel purposif yang tersebar masing-masing 1-3 sampel untuk setiap agama Katolik, Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu dan agama lainnya, kecuali untuk Universitas Mataram, UIN Syarif Hidayatullah dan UIN Sunan Gunung Djati.

TEMUAN KUNCI

Pertama, Profil Reponden. Sampel survei, berjumlah 1000 orang dengan alokasi sebaran merata masing-masing 100 responden untuk setiap perguruan tinggi. Mayoritas responden (46.2%) berlalar bidang studi ilmu alam, dan hanya sebagian kecil (18%) berlatar keilmuan humaniora. Selain itu, mayoritas (80%) responden mengenyamkan pendidikan sekolah umum, dan hanya 14% berlatar sekolah agama (madrasah-pesantren). Lebih jauh, 43% responden mengaku pernah mengenyam pendidikan formal (berijazah) di sekolah agama (madrasah) baik di level sekolah dasar atau menengah. Dengan kata lain, responden tidak mengenyam pendidikan yang dominan agama di sekolah.

Responden umumnya (99%) masih berstatus mahasiswa aktif kuliah. Hanya kisaran satu persen memasuki semester non aktif (semester 8 atau lebih). Ruang interaksi di ranah sosial-keagamaan responden masih sangat terbatas di lingkungan kehidupan kampus, kehidupan keluarga, dan pergaulan di lingkaran teman-teman kuliah. Latar belakang di atas mengisyaratkan bahwa hasil temuan ini sebagai fenomena tipologi keberagamaan generasi muda yang ruang gerak sosial-keagamaan sangat akrab dengan kehidupan kampus.

Dari segi usia, lebih dari tiga perempat responden umumnya   berusia antara 19 tahun sampai 21 tahun. Distribusi responden menurut jenis kelamin lebih banyak perempuan (58%). Hal ini terkait dengan latar belakang jurusan kuliah respoden yang secara tradisional akrab dengan dunia perempuan, seperti jurusan pendidikan dokter, keperawatan, pendidikan, dan psikologi.

Kedua, tipologi keberagamaan mahasiswa. Survei ini menunjukkan bahwa keberagamaan mahasiswa secara umum dapat diklasifikasi ke dalam 6 (enam) tipe yang dapat dibagi ke dalam 3 (tiga) lapis (layer), yaitu formalis (1)-substansialis (2) pada lapis keagamaan di ranah publik-kenegaraan, eksklusif (3)-inklusif (4) pada lapis keagamaan di ranah sosial- kemasyarakatan (internal dan eksternal agama), dan konservatif (5)-sekuler (6) pada lapis keagamaan di ranah individual.

Pada lapis pertama, formalis artinya responden mengambil sikap bahwa nilai-nilai agama harus diwujudkan dalam instrumen dan kelembagaan formal negara, sedangkan substansialis artinya nilai-nilai agama sudah secara hakiki diakomodasi dalam dasar negara (Pancasila), konstitusi negara, serta institusi dan instrumen turunannya. Di lapis berikutnya, eksklusif artinya paham keagamaan mereka tertutup dengan interaksi keagamaan dan sumber-sumber keagamaan yang homogen, sedangkan inklusif artinya paham dan interaksi keagamaan mereka bersifat terbuka dengan akses pada sumber-sumber keagamaan yang heterogen. Pada lapis ketiga, konservatif artinya secara individual mereka memiliki identitas keagamaan yang kuat dengan praktek keagamaan yang kaku sesuai dengan ajaran agama yang mereka yakini, sedangkan sekuler artinya mereka memandang agama sebagai urusan privat sehingga kuat tidaknya identitas dan ekspresi keagamaan benar-benar urusan individual setiap orang.

Secara keseluruhan, tipologi keberagamaan mahasiswa di 10 perguruan tinggi negeri yang disurvei terlihat pada Tabel 3 di atas. Jika ada sinyalemen penguatan sentimen konservatisme dan formalisasi agama di lingkup perguruan tinggi negeri, pernyataan tersebut didukung oleh data hasil penelitian ini.

Di lapis publik-kenegaraan, 33,5% mahasiswa berada pada tipe moderat.   24% lainnya formalis  dan  8.1% lainnya sangat formalis. Persentase mahasiswa yang substansialis hanya 15,3% dan yang sangat substansialis 19,1%. Data tersebut menunjukkan bahwa persentase mahasiswa yang sangat formalis memang sangat kecil, hanya 8,1%. Namun diperlukan kewaspadaan tinggi sebab 24% dari mereka formalis. Jika tidak ada intervensi yang presisi, mereka potensial untuk bergeser menjadi kelompok sangat formalis, yang berpotensi menjadi ancaman serius bagi dasar negara Pancasila, UUD 1945, dan sistem demokrasi. Hanya 33,5% dari mereka yang berada dalam kelompok moderat pada lapis ini.

Di lapis keagamaan pada ranah sosial-kemasyarakatan, hanya 20% responden yang berada dalam kelompok moderat. 25,8% dari mereka bertipe inklusif, namun 21,8% lainnya bertipe eksklusif. Pada lapis yang sama, 19,5% dari responden sangat eksklusif dan ‘hanya’ 12,9% mereka yang bertipe sangat inklusif. Data ini perlu mendapatkan perhatian lebih, bahwa total kelompok moderat dan inklusif hanya sebesar 45,8%, sedangkan 53% lainnya bertipe eksklusif dan sangat eksklusif.

Di lapis keagamaan pada ranah individual, sebagian besar mahasiswa berada pada kelompok moderat, yaitu 36%. Sedangkan 23,4% lainnya konservatif, dan ‘hanya’ 10,9% dari mereka yang sangat konservatif. 15% dari responden bertipe sekuler, dan 14,7% lainnya sangat sekuler.

Mengacu data pada Tabel di atas, terdapat tiga isu utama yang harus mendapatkan perhatian. Pertama, pada lapis pertama kelompok sangat formalis di lingkungan mahasiswa sebenarnya tidak terlalu besar, namun mereka yang bertipe formalis cukup besar, yaitu 24%. Kalau situasi ini tidak ditangani dengan presisi, akan terjadi potensi peningkatan ancaman terhadap negara Pancasila dengan semakin menguatnya kelompok yang menginginkan formalisasi nilai-nilai agama dalam kelembagaan negara dan positivisasinya dalam kebijakan negara. Kedua, kecilnya kelompok moderat pada seluruh lapis keagamaan menjadi tantangan tersendiri bagi pegiat demokrasi dan kebangsaan. Ketiga, pada lapis sosial-kemasyarakatan, kekhawatiran terhadap menguatnya eksklusivisme harus semakin besar, mengingat tingginya persentase responden pada kontinum eksklusif dan sangat eksklusif.

Terkait dengan tipologi keagamaan tersebut, terdapat satu catatan tambahan yang penting untuk dicermati, hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa mahasiswa dari kampus agama yang diwakili oleh dua Universitas Islam Negeri memperlihatkan tipe keberagamaan yang cenderung formalis, yang dalam kerangka hidup bermsyarakat, berbangsa dan bernegara, dapat mengganggu ritme kebhinekaan agama dan orientasi paham keagamaan.

Simpulan di atas harus dicermati dalam bingkai yang lebih luas, yaitu bingkai latar belakang mahasiswa dari kampus-kampus agama tersebut. Hal ini penting mengingat mahasiswa dari kedua kampus tersebut berasal dari segmen siswa yang memiliki watak sosial-ekonomi dan keagamaan  yang  agak tipikal; yaitu mereka banyak yang berasal dari lingkungan sekolah agama, dari kelompok sosial-ekonomi yang lebih rendah dari rata-rata kualitas sosial-ekonomi kampus lain yang menjadi sampel survei.

Ketiga, faktor/figur yang mempengaruhi tipologi keberagamaan mahasiswa. Responden menilai bahwa figur/faktor berikut adalah yang mempengaruhi keagamaan mereka.

Merujuk data yang disajikan pada di atas, keberagamaan responden lebih dominan dipengaruhi oleh figur tradisional yaitu orangtua dan guru agama. Di lihat dari rata- ratanya, responden mengaku orangtua merupakan figur/faktor yang paling berpengaruh terhadap keagamaannya. Pada kelompok responden yang  menyebut orang tua sebagai figur/faktor yang memberikan pengaruh, 47,8% dari mereka menyebut sangat berpengaruh.

Setelah pengaruh orang tua, pengaruh guru agama menempati tempat kedua. Pada kelompok  ini, 50%  dari responden menyebut mereka berpengaruh, dan hanya 19,3% yang menyebut sangat berpengaruh.

Berikutnya, yang mempengaruhi mereka adalah literatur keagamaan, kemudian. sebaya/teman kuliah (peer group) mdan media sosial. Sebagian besar responden menyebut 3 figur/faktor terakhir sebagai berpengaruh, dan ‘hanya’ masing-masing 10,7%, 6,3%, dan 6,4% yang menyebut sangat berpengaruh.

Data tersebut menunjukkan bahwa faktor tradisional orangtua atau keluarga memberikan pengaruh terbesar terhadap pola keberagamaan mahasiswa. Dengan demikian, ruang intervensi kebijakan kampus atas faktor ini sangatlah sempit. Selain keluarga, guru agama mempengaruhi pola keagamaan mahasiswa, karena itu pemetaan latar belakang dan asal sekolah mahasiswa baru akan memudahkan jenis intervensi yang akan dilakukan oleh pihak kampus terhadap pola keagamaan mahasiswa.

Di luar itu, kampus tetap memiliki potensi besar untuk menjadi enabling environments bagi bertumbuhnya  paham keagamaan yang mengancam toleransi,keberagaman, dan Pancasila sebagai ideologi bineka dan, terbuka, terutama karena dosen agama, literatur agama, dan peer group berpengaruh terhadap tipologi keagamaan mahasiswa.

Kesimpulan

Dari ulasan sebelumnya dapat ditarik dua poin simpulan kunci. Pertama, tipologi keagamaan mahasiswa dapat dibagi ke dalam tiga lapis, yaitu lapis individual, lapis sosial- kemasyarakatan, dan lapis publik-kenegaraan. Pada lapis pertama, terdapat dua tipe keberagamaan mahasiswa, yaitu konservatif dan sekuler. Pada lapis kedua, terdapat dua tipe keberagamaan; eksklusif dan inklusif. Sedangkan pada lapis ketiga, juga terdapat dua tipe keberagamaan, yaitu formalis dan substansialis. Satu catatan terpenting pada simpulan pertama ini adalah bahwa pada seluruh lapis keberagamaan tersebut kelompok moderat sangat potensial tergerus ke arah pendulum negatif (yaitu konservatif, eksklusif, dan formalis), jika tidak tersedia agenda dan intervensi untuk mencegahnya.

Kedua, pengaruh terbesar tipologi keagamaan mahasiswa berasal dari orang tua/keluarga. Meskipun demikian, guru agama juga memberikan pengaruh, sehingga pemetaan asal sekolah juga intervensi di tingkat persekolahan akan sangat mempengaruhi tipologi keagamaan mahasiswa di perguruan tinggi. Di samping itu, kampus dapat mempersempit lingkungan yang memungkinkan (enabling environment) konservatisme, eksklusivisme, dan formalism tipologi keagamaan mahasiswa dengan menangani isu-isu pendidikan agama, dan organisasi (keagamaan) mahasiswa yang memberikan ruang bagi eksklusivisme literatur keagamaan dan peer group yang eksklusif dan radikal.

Rekomendasi

Berdasarkan simpulan tersebut SETARA Institute mengajukan beberapa rekomendasi berikut.

Pertama, Kemenristekdikti RI dan perguruan tinggi hendaknya melakukan agenda dan mengambil inisiatif yang presisi untuk menangani beberapa masalah yang relevan, antara lain:

1. Mengambil kebijakan dan mengagendakan program khusus untuk mendinamisasi kegiatan kemahasiswaan di kampus dan merevitalisasi forum-forum akademik kebangsaan untuk memasifkan tumbuh dan berkembangnya kelompok moderat- nasionalis-Pancasilais di kalangan mahasiswa.

2. Mengembangkan program yang mensinergikan kampus dengan keluarga mahasiswa dalam memitigasi dan mencegah intrusi paham keagamaan yang berpotensi merusak tata sosial kemasyarakatan yang damai, toleran, dan rukun serta mengancam ideologi dan konstitusi negara.

3. Mengambil kebijakan dan mengagendakan program yang mencegah kampus menjadi enabling environments bagi berkembangnya paham dan gerakan keagamaan yang intoleran, eksklusif, dan ekstrim-kekerasan (violent-extremist) yang menginfiltrasi paham keagamaan mahasiswa melalui narasi dan literatur keagamaan serta peer group yang juga eksklusif.

4. Menata kegiatan kemahasiswaan yang membuka dinamika dan iklim organisasi yang inklusif dan kondusif bagi pembinaan ideologi kebangsaan dan pemajuan toleransi.

5. Mengambil kebijakan dan mengagendakan program tata kelola pendidikan agama (kurikuler dan ko-kurikuler) dan fungsionalisasi dosen agama untuk memajukan pengetahuan dan sikap keagamaan yang moderat dan inklusif.

Kedua, Pemerintah Pusat, khususnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, hendaknya mengambil kebijakan dan mengagendakan program untuk memitigasi dan mencegah berkembangnya paham keagamaan yang eksklusif di persekolahan, khususnya di Sekolah Menengah Atas (SMA)/sederajat, sebab sekolah merupakan pintu masuk awal berkembangnya paham keagamaan eksklusif sebelum berinkubasi di perguruan tinggi.

Ketiga, Pemerintah Daerah hendaknya mengambil iniasitif untuk mengintervensi lembaga persekolahan yang berada dalam kewenangan yurisdiksionalnya berdasarkan Otonomi Daerah agar persekolahan menjadi medium bagi pemajuan toleransi, penyebaran moderasi keagamaan, serta penguatan kebinekaan dan ideologi kebangsaan.

Narahubung:
Nooryamin Aini, Peneliti SETARA Institute, 087 8899 25212
Halili, Direktur Riset SETARA Institute, 0852 3000 8880

Komentar