Memetakan Ancaman atas Negara Pancasila di Perguruan Tinggi Negeri

Memetakan Ancaman atas Negara Pancasila di Perguruan Tinggi Negeri

Covesia.com - Sebagai negara dengan ideologi pluralis nan terbuka yaitu Pancasila, Indonesia harus terus menerus mewaspadai, mencegah, dan melawan radikalisme yang dapat memecah belah dan mengganggu keselamatan negara-bangsa. Dalam kontinum ideologis,radikalisme merupakan simpul kritis yang mengantarkan pihak atau aktor terpapar pada tindakan teror dan perlawanan fisik-sistemik atas negara.

Oleh karena itu, setiap kesempatan struktural (structuralopportunity) (Robert,2009) dan lingkungan yang memungkinkan (enabling environment (Garzon,2011) bagi radikalisme dan terorisme, salah satunya di perguruan tinggi, harus memperoleh perhatian memadai dan menjadi bagian integral penanganan intoleransi, radikalisme dan gerakan perlawanan terhadap Pancasila.

Penelitian mengenai pemetaan wacana dan gerakan keagamaan diperguruan tinggi dilandasi oleh dua konteks.

Pertama,konteks makro,dimana pada tingkat nasional dan lokal terjadi penguatan intoleransi dan konservatisme keagamaan,bahkan violent extremism (ekstremisme-kekerasan) baik dalam bentuk yang sporadis berupa serangan-serangan terhadap gereja, pembubaran peribadatan dan lain sebagainya, maupun dalam bentuk yang terorganisasi seperti aksi teror.

Kedua, konteks mikro, dimana perguruan tinggi sendiri dalam beberapa waktu belakangan ini secara faktual merupakan target strategis penyebaran narasi narasi radikal. Padahal dunia kampus memiliki peran vital dalam pembangunan bangsa dan penggemblengan generasi masa depan bangsa.

Perguruan tinggi, sebagaimana lembaga pendidikan pada umumnya, merupakan lokus sekaligus institusi yang paling strategis dalam melakukan rekayasa sosial, dibandingkan dengan pranata sosial lainnya.

Singkatnya,sektor pendidikan adalah medium yang menentukan suatu kondisi sosial masyarakat baik pada masa sekarang maupun dimasa yang akan datang.

Namun demikian, sektor pendidikan dianggap sebagai salah satu masalah utama dalam pengembangan masyarakat yang toleran. Akenson(2004) berpandangan bahwa sistem pendidikan merupakan salah satu struktur institusi utama yang melanggengkan intoleransi sektarian.

Melalui sektor pendidikan inilah toleransi dan intoleransi direproduksi sebagai sebuah siklus ilmu pengetahuan dan menjadi konstruksi sosial berkelanjutan. Lebih dari itu, perguruan tinggi juga berhadapan dengan konteks umum penguatan intoleransi, penyebaran radikalisme, menguatnya konservatisme keagamaan, dan terjadinya ekstremisme kekerasan.

Hasil survei yang dilakukan oleh SETARA Institute (2015) terhadap siswa-siswi SMA (Sekolah Menegah Atas) Negeri di Jakarta dan Bandung tahun 2015, menunjukkan bahwa ada persoalan ditingkat guru, terutama guru agama,dalam memberikan pemahaman tentang makna toleransi atau kebhinekaan.

Dengan kata lain, bahwa guru tidak optimal mentransmisikan pengetahuan keagamaan yang plural dan tidak mampu menjadikan pendidikan kewargaan sebagai sarana efektif memperkuat toleransi. Temuan tersebut hanya menggambarkan satu soal dari kurang kondusifnya pembelajaran toleransi di lingkungan pendidikan.

Merujuk pada situasi toleransi siswa seperti dijelaskan diatas, maka episode inkubasi siswa yang sejak sekolah menengah telah menjadi tidak toleran akan terjadi ketika siswa menjadi mahasiswa universitas.

Temuan-temuan dari beberapa studi tentang radikalisme mahasiswa dikampus-kampus perlu diteliti secara menyeluruh dan ditulis ke dalam peta toleransi yang komprehensif, sehingga dapat digunakan sebagai referensi untuk mempersiapkan kebijakan penghapusan intoleransi dan pencegahan radikalisme di universitas, dengan fokus utama mahasiswa.

SETARA Institute menyadari bahwa radikalisme tidak serta merta muncul dan berkembang dengan sendirinya, namun ada pihak-pihak yang mengorkestrasi agenda radikalisasi secara terencana.

Salah satu yang kerap menjadi media penyebaran radikalisme adalah lembaga pendidikan yang merupakan media tradisional atau tempat yang kerap menjadi ruang persebaran radikalisme (hotspots).

Pemanfaatan lembaga pendidikan sebagai media inkubasi sekaligus penyemaian radikalisme dilatarbelakangi oleh strategisnya posisi lembaga ini sebagai pranata sosial yang menentukan kondisi sosial masyarakat dimasa kini dan masa mendatang melalui generasi muda yang dididik didalamnya.

Radikalisasi dalam sektor pendidikan menyasar peserta didik yang secara psikologis masih dalam masa pencarian jati diri yang haus akan pengetahuan,dan kebenaran.

Kekhawatiran adanya radikalisme dalam dunia pendidikan termasuk universitas bukanlah hal yang berlebihan. Banyak laporan maupun hasil penelitian yang telah memaparkan betapa ada gejala serius masifnya radikalisasi diperguruan tinggi terutama yang menyasar mahasiswa.

Pada tahun 2018, Badan Nasional penanggulangan Terorisme (BNPT) merinci ada tujuh perguruan tinggi negeri yang terpapar radikalisme. Pada tahun yang sama, Badan Intelijen Negara (BIN) juga menyebut ada 39 persen mahasiswa di 15 Provinsi yang terpapar paham radikal.

Hasil survei Alvara Research Center (2017 ) juga mengindikasikan hal serupa bahwa dikalangan mahasiswa ada kecenderungan pemahaman dan sikap yang intoleran dan radikal, yang ditunjukkan dengan beberapa indikator pertanyaan yakni persentase mahasiswa yang tidak mendukung pemimpin non muslim cukup besar29,5%; mahasiswa yang setuju dengan negara Islam sebesar 23,5%; dan persentase mahasiswa setuju dengan khilafah17,8%.

Beberapa tahun sebelumnya pada tahun 2016, LIPI menyebutkan bahwa gerakan radikal telah menyasar kampus-kampus dalam rangka radikalisasi hingga rekrutmen kader dengan memanfaatkan diskusi-diskusi dan organisasi mahasiswa di kampus.

Terdapat persoalan serius yang tengah menimpa kampus-kampus di Indonesia yakni ketidakmampuan menangkal penguatan intoleransi,penyebaran radikalisme, penguatan konservatisme keagamaan dan afirmasi atas ekstremisme kekerasan di dalam tubuh mereka sendiri.

Riset beberapa lembaga sebagaimana diulas sebagian di muka menjelaskan fenomena itu secara benderang. Dengan demikian, perhatian serius perlu diarahkan pada eksistensi kampus sebagai lembaga pendidikan yang idealnya menghasilkan lulusan yang toleran, cinta damai dan bertanggungjawab sesuai Pancasila dan UUD1945.

Bukan justru menjadi lokus sekaligus intitusi yang menjadi ruang persemaian narasi-narasi radikal dari kelompok tertentu. Untuk itu diperlukan suatu penelitian lebih mendalam terhadap kondisi toleransi dan radikalisme di kampus yang mengungkap lebih jelas mengenai seperti apa dan bagaimana kondisi intoleransi dan radikalisme di kampus dapat berkembang dengan leluasa.

Dalam penelitian ini,SETARA Institute memfokuskan diri untuk memetakan wacana dan gerakan keagamaan dikalangan mahasiswa.

Kerangka Konseptual

Konsep kunci dalam penelitian ini perlu secara ringkas disampaikan, baik karena mengundang ‘academic dispute’ maupun demi mencegah meluasnya pemahaman atas konsep dimaksud.

Terdapat tiga konsep kunci yang penting untuk ditegaskan pendefinisiannya dalam penelitian ini, yaitu toleransi, radikalisme serta wacana dan gerakan keagamaan.

Toleransi merupakan ekspresi penerimaan dari satu terhadap yang lain, pengakuan dari diri (self) akan keberadaan liyan (others), dan kehendak masing-masing identitas yang berbeda untuk hidup berdampingan secara damai.

Dalam kerangka toleransi, jika pun terdapat ketidaksetujuan terhadap kepercayaan dan keyakinan yang melekat pada identitas yang berbeda baik diranah simbol, tradisi, norma, bahkan ritus ketidaksetujuan tersebut dihaluskan (sublimated disapproval) (Little,2008).

Bahkan, meskipun entitas partikular tertentu percaya bahwa mereka memiliki kekuatan untuk ikut campur terhadap identitas lain yang berbeda, mereka secara sengaja memilih tindakan untuk menahan diri dari mencampuri pihak yang berbeda (Cohen,2004), apalagi mengubah dan mempersekusinya.

Sedangkan radikalisme, dengan mengacup ada konsepsi Omar Ashour (2009) dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme(BNPT), merupakan paham atau ideologi yang secara umum memiliki beberapa ciri berikut;

Pertama,menggunakan kekerasan atas nama agama untuk melakukan perubahan atas tatanan yang ada. Kedua, antidemokrasi, NKRI dan Pancasila, dan ketiga, berpaham takfiri (mengkafirkan oranglain).

Sementara wacana keagamaan mahasiswa yang dimaksud dalam penelitian ini adalah seluruh narasi yang mempengaruhi pandangan dan perilaku keagamaan

mahasiswa, mulai dari sumber bacaan, organisasi, pola-pola interaksi, saluran-saluran formal dan informal pengajaran agama, serta lingkungan makro perguruan tinggi yang mempengaruhi wacana keagamaan pada diri mahasiswa.

Sedangkan gerakan keagamaan adalah setiap aktivitas berupa tindakan kelompok yang bersifat formal maupun informal yang berbentuk organisasi atau individu yang secara spesifik berfokus pada suatu isu-isu keagamaan dengan melaksanakan, menolak, atau mengkampanyekan sebuah perubahan.

Kerangka Metodologis

Atas nama kebebasan akademik, masing-masing peneliti di 10 perguruan tinggi diberikan kemerdekaan untuk menggunakan tool ilmiah yang paling pas bagi riset dimasing-masing kampus.

Namun demikian, penelitian mengenai kondisi wacana keagamaan dikalangan mahasiswa di 10 universitas ini secara umum menggunakan pendekatan kualitatif dalam penelitiannya.

Sementara itu, jenis penelitian yang digunakan di tiap-tiap peneliti di setiap universitas tidaklah sama persis namun disesuaikan dengan kecenderungan dan keahlian peneliti di masing-masing universitas.

Sehingga, ada beberapa jenis penelitian yang digunakan dalam keseluruhan penelitian ini seperti penggunaan jenis penelitian studi kasus untuk penelitian di UGM dan UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Kemudian ada pula penggunaan metode penelitian Desk Review (kajian dokumen, data statistik, riset sebelumnya serta textbook) untuk penelitian di Universitas Airlangga serta kombinasi dengan survei sederhana untuk penelitian di IPB. Adapula penggunaan metode etnografi yang digunakan secara kombinatif pada penelitian dibeberapa universitas.

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini juga menggunakan beberapa teknik yang secara umum meliputi wawancara mendalam (in-depth interview) baik terstruktur maupun tidak terstruktur, diskusi kelompok terfokus atau Focused Group Discussion(FGD), pengamatan atau observasi, dan analisis dokumen atau data sekunder.

Penelitian di ITB menggunakan teknik pengumpulan data wawancara jurnalistik yang semi struktural dan observasi. Kemudian di UNAIR menggunakan teknik pengumpulan data berupa Wawancara mendalam (Indepth Interview), individual interview, observasi, deskstudy atau Studi Literatur, FGD, Policyreview, dan auto etnografi.

Di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, teknik pengumpulan datanya menggunakan teknik wawancara mendalam, pengamatan partisipatif dan dokumentasi.

Di Universitas Indonesia menggunakan teknik wawancara mendalam dan observasi langsung. Di Universitas Brawijaya juga menggunakan teknik pengumpulan data wawancara mendalam.

Lalu di IPB menggunakan teknik pengumpulan data analisis media dan deststudy serta wawancara mendalam. Untuk waktu dan tempat penelitian, secara umum penelitian dilaksanakan di 10 universitas di Indonesia yakni Universitas Indonesia, Universitas Islam Negeri Syarief Hidayatullah, Institut Teknologi Bandung,Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, Institut Pertanian Bogor, Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Brawijaya, dan Universitas Airlangga.

Penelitian disetiap universitas berlangsung pada bulan Februari-April2019.

Beberapa Temuan Kunci

Pertama, secara demografi kemahasiswaan, 10 Perguruan Tinggi Negeri(PTN) merupakan miniatur Indonesia muda yang beragam etnis, ras, suku dan agama.

Meskipun demikian, analog dengan demografi penduduk Indonesia, mayoritas mahasiswa di PTN yang menjadi area riset ini beragama Islam. Secara faktual, kegiatan keislaman lebih dominan dikalangan mahasiswa. Dampaknya, kegiatan mahasiswa beragama selain Islam tidak banyak terakomodasi.

Dalam potret demikian itulah, praktik-praktik intoleransi mengemuka, terutama yang berkenaan dengan tata cara berpakaian, terbatasnya akses minoritas non muslim atas aktivitas peribadatan, tidak tersedianya fasilitas tempat ibadah, diskriminasi yang dialami oleh minoritas non muslim dalam kegiatan bersama kemahasiswaan,dan lain sebagainya. Gejala ini ditemukan di seluruh area riset.

Kedua, corak kegiatan keislaman di sebagian besar kampus sebenarnya monolitik, cenderung homogen, belum mengakomodir kegiatan kelompok-kelompok lain sesama Islam.

Hal itu terlihat dari dominasi kegiatan keislaman tertentu yang diakomodir oleh lembaga struktural kemahasiswaan seperti Lembaga Dakwah Kampus(LDK), Lembaga Dakwah Fakultas (LDF), dan UKM Kerohanian Islam (dengan aneka nomenklatur organisasi), yang sebenarnya hanya mengakomodasi kegiatan keislaman kelompok-kelompok Tarbiyah dan Tahririyah ( yang belakangan simpul-simpul gerakannya dikuasai oleh gerakan Tarbiyah).

Hampir semua organisasi dan kegiatan keislaman di seluruh kampus area riset memiliki kecenderungan yang sama.

Ketiga,wacana keagamaan di kalangan mahasiswa berbagai perguruan tinggi negeri saat ini sebagian besar masih dikuasai oleh kelompok tarbiyah dan eks-HTI  yang ‘bertransformasi’menjadi aktivis gerakan tarbiyah.

Hal ini terjadi di beberapa kampus yang menjadi area riset SETARA Institute ,yaitu UI, IPB, ITB, UGM, dan UNY.

Meskipun terdapat variasi dan perbedaan fokus,wacana keagamaan yang dikembangkan oleh mereka bersifat eksklusif, mendukung dan memperjuangkan formalisme syariah Islam dikampus, sehingga cenderung intoleran terhadap non muslim dan resisten terhadap wacana keagamaan kelompok lain.

Keempat, wacana dominan yang dikembangkan oleh kelompok Islam eksklusif di kalangan mahasiswa beberapa kampus, khususnya di UI, IPB, ITB, dan UIN Jakarta, antaralain;

(1) Kewajiban umat Islam untuk menegakkan ajaran dan nilai-nilai Islam dalam kehidupan bermasayarakat. Narasi yang dikembangkan adalah cara pandang bahwa keselamatan masyarakat hanya dapat dicapai selama masyarakat taat menjalankan perintah Tuhan yang sudah disampaikan melalui AlQuran dan hadits.

(2) Adanya ancaman terhadap Islam yang datang dari musuh-musuh Islam. Narasi yang direproduksi adalah perlunya umat Islam bersatu melawan penindasan terhadap Islam yang terus berkembang secara berkelanjutan oleh kaum kafir atau musuh-musuh Islam, yang merupakan kombinasi dari kelompok Kristen, Zionisme, imperialisme-kapitalisme Barat, dan kalangan liberal-sekuler. Kejahatan global atasPalestina merupakan amsal yang direproduksi secara konstan untuk menguatkan wacana ini.

(3) Era sekarang adalah era perang pemikiran (ghazwulfikr). Narasi yang mendapat penekanan bahwa Islam ditaklukkan oleh Barat karena penguasaan pemikiran dan kebudayaan. Kombinasi dari ketiga narasi tersebut adalah terbangunnya sebuah komunitas solid yang eksklusif, bersikap hati-hati, mencurigai, memusuhi, dan menutup diri dari kalangan lain.

Kelima, gerakan keagamaan dikalangan mahasiswa di berbagai kampus negeri hampir seluruhnya didominasi oleh gerakan tarbiyah yang dilakukan dengan cara menguasai organisasi kemahasiswaan intra kampus (dihampir seluruh kampus areariset), masjid besar Kampus (UI, IPB, ITB, dan Universitas Brawijaya, UNRAM), mushalla-mushalla Fakultas (dihampir seluruh area riset), dan asrama mahasiswa (IPB).

Akibatnya, dinamika politik mahasiswa dikampus cenderung eksklusif, anti pemimpin organisasi kemahasiswaan dari kalangan non muslim atau bahkan muslim diluar kelompoknya.

Akibatnya, diberbagai organisasi dan kelembagaan mahasisawa, berkembang sikap bahwa mahasiswa non muslim tidak boleh memimpin satu organisasi/kelembagaan mahasiswa intrakampus.

Merekatidak menyetujui pemimpin nonmuslim dalam beragam dimensi kehidupan kemahasiswaan dikampus. Hal ini tentu saja merupakan buah dari indoktrinasi keagamaan eksklusif mengenai pemahaman keagamaan yang bersifat tekstual dan skripturalistik.

Keenam, penguasaan organisasi intrakampus oleh gerakan keagamaan eksklusif dibeberapa kampus dilakukan dengan aneka strategi politik, bahkan dengan menghalalkan segala cara (machiavellis).

Misalnya, dengan merekayasa aturan Panitia Penyelenggara Pemilu Mahasiswa yang juga mereka kuasai, sehingga calon Ketua BEM hanya satu (tunggal) dari kelompok mereka, politisasi aturan mengenai syarat dukungan yang sulit dipenuhi bakal calon dari kelompok lain, dan lain sebagainya. Mereka membayangkan kontestasi politik mahasiswa seperti daarul harb (wilayah peperangan), sehingga kebohongan, rekayasa,dan strategi curang-manipulatif menjadi ‘halal’ untuk digunakan.

Ketujuh, wacana dan gerakan keagamaan yang bersifat eksklusif memicu terjadinya pelanggaran hak dasar bagi minoritas non muslim, khususnya hak atas kebebasan beragama/berkeyakinan.

Aktivis kunci Ormawa intrakampus pada umumnya bersifat permisif terhadap ketidaktersediaan fasilitas tempat ibadah serta fasilitas untuk kegiatan keagamaan lainnya. Sebagian besar pemimpin Ormawa melakukan labelling bahwa mahasiswa non muslim yang secara jumlah memang tidak banyak tersebut tidak rajin dan tidak intensif beribadah.

Selainitu, pada umumnya mereka beranggapan bahwa minoritas harus hormat dan tunduk pada aturan mayoritas.

Kedelapan, beberapa medium penyebaran wacana islamisme kelompok Islam eksklusif dan kontra wacana terhadap paham keagamaan yang berbeda dengan mereka dikalangan mahasiswa disebarkan melalui berbagai kajian, khutbah jum’at, liqo’, daurah, halaqoh dan pengkaderan anggota secara rutin.

Selain itu, diseminasi wacana keagamaan mereka juga dilakukan melalui berbagai bacaan buku, majalah dan buletin jum’at.

Kelompok Salafi Wahabi mempunyai Buletin Al Hujjah, HTI punya Kaffah yang disebar ribuan eksemplar setiap pag ijum’at. Buletin itu biasanya diletakkan diberanda masjid.

Kesembilan, reproduksi wacana dan gerakan ke islaman eksklusif di hampir seluruh area riset dilakukan dengan melakukan penguasaan atas masjid.

Ada tiga polaumum penguasaan yang dilakukan oleh kelompok ke islaman eksklusif yaitu sebagai berikut.

A) Dengan menjadikan masjid besar kampus sebagai markas utama kaderisasi dan penguasaan jaringan strategis yang dibutuhkan, termasuk Ormawa intra kampus. Pola semacam ini ditemukan di IPB, dimana masjid pusat Al-Hurriyyah dijadikan sebagai markas utama kelompok Tarbiyah dan eks-HTI yang belakangan menyaru ke dalam gerakan tarbiyah.

B) Dengan menguasasi sepenuhnya masjid besar kampus dan mushalla (atau masjid) fakultas-fakultas dan asrama mahasiswa. Pola ini dapat ditemukan di sebagian besar perguruan tinggi area riset.

C) Menjadikan masjid besar dikampus sebagai ‘centralhub’ yang menghubungkan jaringan dengan masjid-masjid ‘tetangga’ disekitar kampus. Hal itu yang terjadi di UGM, paling tidak sebelum tahun 2012.

Kesepuluh, wacana dan gerakan keagamaan eksklusif yang berkembang di kalangan mahasiswa dan politik organisasi kemahasiswaan merembet ke dalam politik kampus pada umumnya, sebab structural opportunity dilingkungan kekuasaan kampus,baik direktorat maupun dekan, disadari oleh kelompok Islam eksklusif menentukan iklim kaderisasi mereka dikalangan mahasiswa dan menentukan eksistensi dan kekuatan jaringan mereka di kampus.

Kekuatan-kekuatan jejaring politik yang dimiliki dan dilakukan kelompok bekerja aktif dalam ragam momentum politik di internal kampus, mulai dari pemilihan Rektor, Dekan, hingga Ketua Jurusan.

Fenomena ini tergambar di beberapa kampus, utamanya di IPB, ITB, dan UI dengan beberapa varian.Dalam konteks itu, perlu disampaikan bahwa diseluruh arear iset, secara riil tidak ada Rektor yang betul-betul memiliki latar belakang keislaman eksklusif.

Namun, berkembangnya keislaman eksklusif dikampus menunjukkan bahwa kebijakan, absensi kebijakan,atau kelalaian pimpinan kampus negeri telah melahirkan enabling environment bagi penguatan wacana dan gerakan keislaman eksklusif di kampus.

Kesebelas, kecuali di UIN Jakarta, UIN Bandung dan UGM (dimana Asistensi Agama Islam sudah dihapus sejak 2012), program pendampingan pendidikan agama Islam (dengan aneka nomenklatur program seperti mentoring, tutorial, atau asistensi) diinstrumentasi oleh gerakan Islamis eksklusif untuk mendoktrinkan wacana keagamaan versi mereka.

Dihampir seluruh area riset, seluruh mahasiswa muslim wajib mengikuti program tersebut karena memiliki bobot SKS. Dalam spektrum masalah ini, pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) juga rekrutmen dosen pengampunya menjadi mendesak untuk dilakukan penataan ulang olehsetiap perguruan tinggi negeri.

Keduabelas, minimnya kontestasi dan pengaruh wacana keagamaan dikalangan gerakan mahasiswa dari kelompok berbasis organisasi massa besar seperti NU dan Muhammadiyah, juga organisasi-organisasi non-religious based lainnya, merupakan salah satu faktor yang membuat dominasi wacana keagamaan di berbagai kampus bercorak eksklusif dan intoleran.

Secara umum (kecuali di UIN Jakarta), HMI, PMII, IMM, KMNU, GMNI dan organ ekstra keagamaan lain tidak banyak memberikan strategi oposisional terhadap dan gagal menawarkan alternatif bagi gerakan keislaman eksklusif semacam gerakan tarbiyah, terutama melalui KAMMI yang berafiliasi ke Partai Keadilan Sejahtera(PKS), dan gerakan tahririyah yang sejak 2017 bertransformasi secara terselubung ke dalam gerakan tarbiyah.

Hampir seluruh informan kunci dari kelompok moderat di kampus-kampus area riset mengonfirmasi situasi tersebut.

Ketigabelas,surutnya iklim diskusi ilmiah diseluruh area riset, mendorong percepatan tumbuhnya lingkungan yang memungkinkan (enabling environment )terjadinya dominasi wacana keagamaan eksklusifala gerakan tarbiyah dan tahririyah,yang secara aktif menawarkan forum diskusi alternatif yang menjawab kebutuhan mahasiswa, yang mulai bertransformasi menjadi masyarakat urban.

Pada saat yang sama mereka juga mengalami kekeringan spiritualitas masyarakat modern dan perkotaan. Gerakan keagamaan eksklusif tidak hanya menawarkan pemahaman Islam sebagai ‘teologi pasca kematian’, tapi juga membangun ghirah ke islaman untuk bangkit dari ketertindasan oleh konspirasi nasional dan global serta memiliki kewaspadaan yang tinggi dalam perang pemikiran (ghazwulfikr) yang sedang berlangsung.

Dalam suasana perang yang di indoktrinasikan tersebut, mereka hanya membaca literatur-literatur ke islaman tokoh-tokoh mereka, seperti Hasan Albanna dan Aidh Alqarni.

Pemikiran dari kaum Islam pluralis dan pembaharu di Indonesia seperti Nurcholish Madjid, Ahmad Syafii Maarif, Abdurrahman Wahid, tidak pernah mereka diskusikan, kecuali dalam konteks indoktrinasi bahaya ancaman pemikiran liberal.

Dalam konteks yang sama, tulisan tokoh-tokoh lain dengan kepakaran agama sangat mumpuni seperti M.Quraish Shihab, Musthafa Bisri(GusMus), dan M Zainul Majdi (TGB) tidak mendapat tempat dalam forum-forum tertutup kelompok Islamis tersebut. Mereka lebih suka menyimak tulisan atau ceramah Felix Siauw, Salim AFillah, dan Adi Hidayat.

Keempatbelas, beberapa kampus area riset saat ini telah menampilkan inisiatif untuk mencegah dan memitigasi radikalisme dan gerakan keislaman eksklusif di perguruan  tinggi negeri.

Diantara kampus-kampus area riset, prakarsa untuk meng-counter narasi dan gerakan keislaman eksklusif yang membahayakan kelembagaan akademik kampus dan eksistensi Pancasila sebagai ideologi negara -bangsa adalah Universitas Gadjah Mada pada Tahun 2012, di era kepemimpinan Rektor Pratikno yang berlangsung sampai sekarang.

Beberapa kampus lainnya mengalami transformasi dan inisiatif serupa. Secara umum,dengan tidak bermaksud mengecilkan inisiatif-inisiatif lain,beberapa yang dapat disebut sebagai berikut.

1) Merespons tendensi eksklusivisme yang berkembang di Jamaah Shalahuddin, UGM telah merestrukturisasi peran dan fungsi Organisasi tersebut sebagai Unit Kerohanian di UGM dan mengganti namanya menjadi “Unit Kerohanian Mahasiswa Muslim Gadjah Mada” (UKMM-GM), juga status dan peranannya.

2) UGM juga merestrukturisasi pengelolaan Masjid Kampus UGM dan memposisikannya langsung dibawah rektorat. Hasilnya latarbelakang keislaman para narasumber yang mengisi kegiatan keislaman dimasjid kampus lebih beragam dan lebih moderat.

3) UGM menghapus asistensi agama Islam yang pada praktiknya digunakan kelompok keislaman eksklusif untuk mendiseminasi wacana dan doktrin keagamaannya, bahkan sebagai bagian dari simpul kaderisasi.

4) Sejak 2018, pimpinan UI secara serius melakukan program deradikalisasi, terutama dalam bentuk pengisian jabatan-jabatan penting dikampus dengan tokoh-tokoh pluralis dan moderat.

5) Dikalangan masyarakat sipil kampus UI, terjadi penguatan organ dan jaringan moderasi keagamaan dan pemajuan toleransi yang melakukan aksi-aksi strategis untuk memperkuat kebinekaan di UI.

6) Di IPB, dibawah kepemimpinan Rektor Arif Satria, telah diambil prakarsa untuk ‘membuka’ Masjid Alhurriyyah untuk seluruh paham keislaman, melalui program subuh berjama’ah, IPB bershalawat, sentralisasi seluruh kegiatan keislaman di Masjid, dan sebagainya.

7) IPB merupakan satu-satunya diantara kampus area riset yang menyediakan fasilitas peribadatan untuk seluruh agama selain Islam.

8) Untuk mengantisipasi infiltrasi radikalisme, sejak 2017 UNY dibawah kepemimpinan Rektor Sutrisna Wibawa melembagakan Pusat Studi Pancasila dan Konstitusi (PSPK) untuk memperkuat dan memajukan kajian Pancasila dan pembumian nilai-nilai Pancasila.

9) UNY juga melakukan terobosan kultural untuk membangun iklim kampus dan masjid yang lebih terbuka. UNY mengadakan konser band dikampus dan event UNY njathil (Jathilan sering dipandang oleh kelompok Islam eksklusif sebagai tradisi yang dapat merusak aqidah). Rektor juga mengadakan Tabligh Akbar dengan Pembicara Gus Muwafiq sekaligus konser Bimbodi Masjid Kampus.

Simpulan

Pertama, diberbagai kampus negeri area riset masih berkembang wacana dan gerakan keagamaan eksklusif yang tidak hanya digencarkan oleh satu kelompok keislaman tertentu, tapi oleh beberapa kelompok yaitu gerakan salafi-wahabi, gerakan tarbiyah,dan gerakan tahririyah.

Dalam situasi tertentu,kondisi ini sesungguhnya berpotensi menjadian caman bagi Pancasila, demokrasi, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Misalnya, wacana Islam tertindas oleh musuh-musuh Islam dalam bentuk konspirasidan ghazwulfikr yang terus menerus-menerus direproduksi dan diindoktrinasi kepada generasi muda di perguruan tinggi, akan mengancam harmoni sosial dan integrasi nasional, jika ada pemicu (trigger)politik yang tepat.

Kedua, pembubaran HTI pada kenyataannya tidak mengurangi derajat eksklusivitas wacana dan gerakan keislaman diperguruan tinggi, pun tidak menjadi solusi kunci bagi penyebaran radikalisme di perguruan tinggi atau paling tidak penyebaran narasi intoleransi.

Sebab wacana dan gerakan keislaman eksklusif dengan ragam variannya sejatinya sudah mengakar sejak lama,sekitar dua dekade yang lalu.

Pembubaran HTI hanya menghilangkan struktur organisasi dipermukaan, tapi wacana keislaman eksklusif yang dikembangkan masih terus berkembang bahkan aktivis dan organisasi onderbouw-nya seperti Gema Pembebasan secara riil masih eksis dibawah permukaan.

Ketiga, inisiatif yang sudah dilakukan oleh beberapa perguruan tinggi menunjukkan bahwa aktor-aktor kunci di perguruan tinggi memainkan peran penting dalam mengurangi structural opportunity dan mendestruksi enabling environments bagi berkembangnya wacana dan gerakan keislaman eksklusif di kampus, khususnya kampus-kampus negeri.

Komentar