Keluarga Broken Home dan Ancaman Kekerasan Fisik pada Anak

Keluarga Broken Home dan Ancaman Kekerasan Fisik pada Anak

Covesia.com - Anak adalah amanah dari Tuhan, dan mempunyai hak untuk dilindungi, dihargai, dipenuhi kebutuhannya. Anak juga merupakan generasi penerus cita-cita bangsa yang sangat berperan.

Agar anak menjadi manusia yang cakap bagi dirinya sebagai manusia dan sebagai pewaris bangsa yang memikul tanggung jawab besar, maka anak harus mendapat kesempatan untuk tumbuh dan berkembang secara optimal, baik fisik, mental, maupun sosial.

Perlu dilakukan pula perlindungan untuk mewujudkan kesejahteraan anak dengan memberikan jaminan terhadap perlindungan hak-hak nya yang seharusnya didapatkan oleh anak, dan tanpa tindak kekerasan.

Menurut fakih M (2003) yang di kutip oleh Widiastuti, pengertian kekerasan terhadap anak (child abuse) adalah semua bentuk perlakuan menyakitkan secara fisik ataupun emosional, penyalahgunaan seksual, pelalaian, eksploitasi komersial atau eksploitasi lain, yang mengakibatkan cedera/kerugian nyata ataupun potensial terhadap kesehatan anak, kelangsungan hidup anak, tumbuh kembang anak, atau martabat anak, yang dilakukan dalam konteks hubungan mencubit, menjewer buah hati hanya karena kesal, misalnya saat anak tidak menurut, tantrum, berkelahi dengan teman dan sebagainya.

Broken home adalah kondisi hilangnya perhatian keluarga atau kurangnya kasih sayang dari orang tua yang disebabkan oleh beberapa hal. bisa karena perceraian, sehingga anak hanya tinggal bersama satu orang tua kandung.

Rumah tangga merupakan suatu komunitas terkecil dari suatu masyarakat. rumah tangga yang bahagia aman dan tentram adalah menjadi dambaan setiap orang. Di indonesia adalah negara yang berdasarkan ketuhanan yang maha esa.

Dengan demikian, setiap orang dalam rumah tangga harus didasari agama dan kemanusiaan. hal ini penting untuk ditumbuh kembangkan untuk membangun keutuhan rumah tangga. Untuk mewujudkan hal tersebut tergantung pada orang dalam satu lingkup rumah tangga, bergantung pada setiap orang dalam satu lingkup rumah tangga, terutama dalam sikap, perilaku dan pengendalian diri setiap orang dilingkup rumah tangga tersebut.

Pada zaman sekarang banyak sekali keluarga yang hancur akibat perselingkuhan. Perselingkuhan merupakan tindak kekerasan yang dapat menimbulkan guncangan psikis korban. Pada zaman sekarang banyak sekali orang tua melakukan tindak kekerasan fisik terhadap anak kandungnya sendiri, karena efek dari perselingkuhan tersebut.

Saat ini, kekerasan terhadap anak tidak hanya di kota besar saja seperti Jakarta, Bandung, Bali, dan kota-kota besar saja yang terekspos media. Namun belakangan ini ramai diperhitungkan kekerasan anak yang dengan pelaku penganiayaan adalah ibu kandung Sy, berinisial, sry (35) (Solpos.com, Rabu 2/9/2015).

Kasus penganiayaan itu terbongkar ketika ada salah satu tetangga yang datang ke rumah korban. Warga curiga karena mata korban yang sedang tidur kondisinya lebam dan bengkak. Setelah ditanyakan kepada ibu kandungnya, dijelaskan bahwa anak tersebut jatuh.

Tapi warga tidak percaya dan melaporkannya kepada kepala desa setempat. Laporan itu pun dilanjutkan ke Polsek Slogohino, yang kemudian dilimpahkan ke Polres Wonogiri. Belakang, dicabut perempuan itu sering menganiaya anak mungilnya itu.

Berdasarkan data yang penulis peroleh dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan bahwa kekerasan pada anak selalu meningkat setiap tahun. Hasil pemantauan (KPAI) menyatakan bahwa kekerasan pada anak selalu meningkat setiap tahun.

Hasil pemantauan KPAI dari 2011 sampai 2014, terjadi peningkatan yang sifnifikan. “Tahun 2011 terjadi 2178 kasus kekerasan, 2012 ada 3512 kasus, 2013 ada 4311 kasus, 2014 ada 5066 kasus.

Wakil Ketua KPAI, Maria Advianti mengatakan bahwa anak bisa menjadi korban ataupun lingkungan sosial dimana anak tinggal, tumbuh, dan berkembang. terlihat sekali bagaimana pentingnya peran keluarga sangat signifikan dalam perkembangan, pembentukan karakter, serta masa depan anak.

Dua kasus yang sangat menyita perhatian publik adalah kasus seorang anak berusia di bawah lima tahun (balita) berinisial Sy (4) warga Slogohino, Kabupaten Wonogiri, diduga menjadi korban penganiayaan. Bocah itu mengalami luka lebam di mukannya.

Muncul pelaku kekerasan pada anak ada 3, yaitu di lingkungan keluarga, dilingkungan sekolah dan di lingkungan masyarakat. Hasil monitoring dan evaluasi KPAI tahun 2012 di 9 provinsi menunjukan bahwa 91 % anak menjadi korban kekerasan di lingkungan keluarga, 87.6 % di lingkungan sekolah dan 17.9 % di lingkungan masyarakat. Harian Terbit, Minggu (14/6/2015).

Berdasarkan data KPAI di atas, anak korban kekerasan di lingkungan masyarakat jumlahnya termasuk rendah yaitu 17,9 %. Artinya, anak rentan menjadi korban kekerasan justru dilingkungan keluarga dan sekolah. Lingkungan yang mengenal anak-anak tersebut cukup dekat. Pelaku kekerasan pada anak justru lebih banyak berasal dari kalangan yang dekat dengan anak.

Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Sumatera Barat Eri Gusman menyebut sumbar sedang dalam status darurat kekerasan terhadap anak. Dari tahun ke tahun laporan kasus kekerasan terhadap anak cendrung meningkat.

LPA Sumbar mencatat ada 58 laporan yang masuk pada 2014, 117 laporan 2015, 108 laporan 2016, dan mendekati 100 laporan hingga oktober 2017. Angka tersebut, kata Eri, belum termasuk kasus yang tidak dilaporkan ke LPA Sumbar. Dalam dua tahun terakhir, pelaku kekerasan juga dari kalangan anak-anak itu sendiri, ujar Eri, (09/11/2017).  

Pada hakikatnya keluarga merupakan tempat pertama bagi anak untuk memperoleh pengetahuan, pembinaan mental, dan pembentukan kepribadian yang nantinya akan ditambah dan disempurnakan oleh lingkungan sekolah maupun ini sudah banyak kekerasan pada anak yang terjadi di lembaga pendidikan seperti sekolah, pesantren, dan lembaga pendidikan lainnya.

Bagaimana tidak, anak sebagai penerus bangsa yang berhak mendapatkan perlindungan, pendidikan, dan pendampingan yang baik dari keluarga, lingkungan masyarakat, maupun sekolah justru mendapatkan perlakuan yang salah bahkan mengarah ke kerasan fisik maupun ferbal dan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.

Dilingkungan masyarakat memang banyak kejadian kekerasan terhadap anak dalam keluarganya sendiri, terutama kekerasan yang terjadi karena keluarganya yang tidak harmonis, padahal kekerasan terhadap anak sangat berbahaya bagi perkembangan fisik anak.

B. Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka dirumuskan permasalahannya sebagai berikut :

1. Apa konsep anak usia dini?

2. Apa itu perkembangan fisik anak usia dini?

3. Apa hakikat tentang keluarga broken home?

4. Apa penyebab dan akibat kekerasan fisikyang ditimbulkan oleh keluarga broken home?

5. Apa keterkaitan antara kekerasan fisik pada anak dengan keluarga broken home?

6. Apa solusi mengatasi kekerasan fisik terhadap anak pada keluarga broken home?

C. Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan, maka dapat saya ambil tujuannya sebagai berikut :

1. Mengetahui konsep anak usia dini.

2. Mengetahui perkembangan fisik anak usia dini.

3. Mengetahui hakikat tentang keluarga broken home.

4. Mengetahui penyebab dan akibat kekerasan fisik yang ditimbulkan oleh keluarga broken home.

5. Mengetahui keterkaitan antara kekerasan fisik pada anak dengan keluarga broken home.

6. Mengetahuisolusi mengatasi kekerasan fisik terhadap anak pada keluarga broken home.

PEMBAHASAN

A. Konsep anak usia dini

1. Pengertian anak usia dini

Anak usia dini adalah anak yang berada pada usia 0-8 tahun. Menurut Beichler dan Snowman (Dwi Yulianti, 2010: 7), anak usia dini adalah anak yang berusia antara 3-6 tahun.

Sedangkan hakikat anak usia dini (Augusta, 2012) adalah individu yang unik dimana ia memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan dalam aspek fisik, kognitif, sosio-emosional, kreativitas, bahasa dan komunikasi yang khusus yang sesuai dengan tahapan yang sedang dilalui oleh anak tersebut.

Menurut Mansur (2005: 88) anak usia dini adalah kelompok anak yang berada dalam proses pertumbuhan dan perkembangan yang bersifat unik. Mereka memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan yang khusus sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangannya. 

2. Karakteristik anak usia dini

Anak usia dini memiliki karakteristik yang khas, baik secara fisik, sosial, moral dan sebagainya. Menurut Siti Aisyah, dkk (2010: 1.4-1.9) karakteristik anak usia dini antara lain :

(a) memiliki rasa ingin tahu yang besar,

(b) merupakan pribadi yang unik,

(c) suka berfantasi dan berimajinasi,

(d) masa paling potensial untuk belajar,

(e) menunjukkan sikap egosentris,

(f) memiliki rentang daya konsentrasi ynag pendek,

(g) sebagai bagian dari makhluk sosial.

Dari penjelasan diatas dapat saya simpulkan bahwa anak usia dini adalah anak yang berusi 0-8 tahun yang sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat dan memerlukan stimulasi yang tepat agar dapat bertumbuh dan berkembang dengan baik.

B. Perkembangan fisik anak usia dini

Perkembangan merupakan suatu proses yang bersifat komulatif, artinya perkembangan terdahulu akan menjadi dasar bagi perkembangan selanjutnya. Oleh sebab itu, apabila terjadi hambatan pada perkembangan terdahulu maka perkembangan selanjutnya cenderung akan mendapatkan hambatan jamaris (2006: 19). 

Perkembanganan fisik adalah perkembangan yang berlangsung dalam waktu yang paling cepat pada masa kanak-kanak, tetapi terus berlanjut dengan cepat sampai duduk dalam bangku taman kanak-kanak.

Perkembangan anak-anak yang berada di kelas dasar tetap mengembangkan fisik mereka, tetapi tingkat nya tidak sama dengan anak-anak yang berada di kelas dasar tetap mengembangkan fisik mereka, tetapi tingkatannya tidak sama dengan anak-anak yang lebih lebih muda (bayi).

Anak usia dini berada dalam masa keemasan di sepanjang rentang usia perkembangan manusia. Mentesori dalam hainstock (1999: 10-11) mengatakan bahwa masa ini merupakan periode sensitif, selama masa inilah anak secara khusus mudah menerima stimulus-stimulus dari lingkungannya.

Pada masa ini anak siap untuk melakukan berbagai kegiatan dalam rangka memahami dan menguasai lingkungannya. 

Dapat saya simpulkan bahwa perkembangan fisik adalah perkembanga yang berlangsung dalam waktu yang paling cepat pada anak, tetapi terus berlanjut dengan cepat.

C. Hakikat keluarga broken home

Broken home adalah kurangnya perhatian dari keluarga atau kurangnya kasih sayang dari orang tua sehingga membuat mental seseorang anak menjadi frustasi, brutal dan susah diatur.

Menurut Malinka (2011, h. 6) broken home adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan suasana keluarga yang tidak harmonis dan tidak berjalannya kondisi keluarga yang rukun dan sejahtera yang menyebabkan konflik dan perpecahan dalam keluarga tersebut.

Dapat saya simpulkan bahwa broken home adalah kurangnya perhatian dan kasih sayang orang tua kepada anak.

D. Penyebab dan akibat kekerasan fisik yang ditimbulkan oleh keluarga broken home

Dalam The National Clearinghouse on family violence (1994), faktor penyebab kekerasan terhadap anak dalam keluarga sebagai berikut :

1. Faktor individu, antara lain tempramen, keptibadian, perilaku yang dipelajari, sikap, dan pengetahuan mengenai kekerasan dalam keluarga.

2. Faktor keluarga antara lain pola interaksi dalam keluarga (antara ayah anak, suami istri, antar saudara kandung), sikap dan nilai mengenai hak anak, orang tua, pasangan, kemampuan untuk mengatasi stress, sumber penghasilan yang ada/ tingkat ekonomi keluarga, kondisi hidup.

Penyebab kekerasan fisik yang ditimbulkan oleh keluarga broken home yang saya ambil yaitu orang tua yang selingkuh karena berbagai faktor :

a. Belum matangnya menjadi orang tua 

inilah salah satu faktor orang tua atau ibu melampiaskan amarah atau kesalnya terhadap anaknya dengan melakukan tindak kekerasan fisik. Dan karena faktor inilah tidak bisa menerima perselingkuhan dari salah satu pasangannya.

b. Emosi yang tidak terkontrol / frustasi 

Karena tidak bisanya mengontrol emosi untuk penghianatan dari pasangan maka anak menjadi sasaran nya.

c. Pengalaman negatif masa kecil

Pengalaman negatif masa kecil juga dapat menyebabkan kekerasan pada anak. yang mana orang tua juga mengalami kekerasan karena salah satu dari orang tuanya selingkuh atau berhianat.

Akibat kekerasan fisik yang ditimbulkan oleh keluarga broken home menurut saya anak akan mengalami memamar, bengkak, keseleo, patah tulang, luka bakar, pendarahan, lumpuh, bahkan bisa menyebabkan kematian.

E. Keterkaitan antara kekerasan fisik pada anak dengan keluarga broken home

Keterkaitan antara kekerasan fisik pada anak dengan keluarga broken home yaitu sangat erat kaitan nya karena didalam keluarga broken home tersebut terutama orang tua yang selingkuh, maka dari itu jika orang tua tidak bisanya menerima penghianatan dari ssalah satu pasangannya, orang tua tersebut melampiaskan kepada anak nya dengan melakukan kekerasan fisik terhadap anaknya.

Walaupun sebenarnya melakukan tindak kekerasan fisik terhadap anak tersebut sangat membahayakan perkembangan fisik dari anak tersebut.

F. Solusi mengatasi kekerasan fisik terhadap anak pada keluarga broken home

Solusi:

1. Solusi untuk ayah menurut saya :

a. Ayah harus mendekatkan diri kepada allah.

b. Sayangi dan melindungi anak sepenuh hati.

c. Mengelola emosi diri dengan baik.

d. Membiasakan komunikasi yang baik dengan anak.

e. Selalu menambah ilmu dan wawasan untuk mengasuh anak dengan baik.

2. Solusi untuk ibu menurut saya : 

a. Ibu harus mendekatkan diri kepada allah.

b. Ibu harus mencintai dan melindungi anak sepenuhnya.

c. Ibu juga bisa refreshing untuk menghidari kekerasan terhadap anak.

d. Ibu bisa menitipkan anaknya ke nenek nya agar tidak terjadinya tindak kekerasan terhadap anak.

e. Ibu harus mempelajari ilmu-ilmu parenting.

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Anak usia dini adalah anak yang berusi 0-8 tahun yang sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat dan memerlukan stimulasi yang tepat agar dapat bertumbuh dan berkembang dengan baik.

2. Perkembangan fisik adalah perkembanga yang berlangsung dalam waktu yang paling cepat pada anak, tetapi terus berlanjut dengan cepat.

3. Broken home adalah kurangnya perhatian dan kasih sayang orang tua kepada anak.

4. Penyebab kekerasan fisik yang ditimbulkan oleh keluarga broken home yang saya ambil yaitu orang tua yang selingkuh karena berbagai faktor :

a. Belum matangnya menjadi orang tua.

b. Emosi yang tidakterkontrol / frustasi.

c. Pengalaman negatif masa kecil.

5. Keterkaitan antara kekerasan fisik pada anak dengan keluarga broken home yaitu sangat erat kaitannya.

6. Solusi mengatasi kekerasan fisik terhadap anak pada keluarga broken home ayah dan ibu harus mencintai dan melindungi anak sepenuhnya.

B. Saran

Untuk keluarga broken home sebaiknya jangan sekali-kali melampiaskan amarahnya kepada anak, bahkan sampai melakukan kekerasan fisik terhadap anak.

DAFTAR PUSTAKA

  • Maknum, Lulluil.2017.Kekerasan terhadap anak yang dilakukan oleh orang tua.Vol.3,NO1,OKTOBER. Issn:2476-9703.Jurnal homepage: http://ojs.uinska-bjm.ac.id/index.php/muall/muallimuna)
  • Pasalbessy, D jhon.2010. Dampak Tindak Kekerasan Terhadap Anak Perempuan dan Terhadap Anak Serta Solusinya. Jurnal Sasi Vol.16.No3 Bulan Juli-September.
  • Nindya P.N,.2011. Hubungan Antara Kekerasan Pada Anak Terhadap Kecendrungan Kenakalan Remaja. Jurnal Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental vol.1No02.,Juni2012
  • Rozak, Purnama.2013. Kekerasan Terhadap Anak Dalam Rumah Tangga Perspektif Hukum Islam. Pemalang: STIT Pemalang dan Sekretaris Advokasi KLA 9(1). 45-70 Retrueved from http://schooler.google.co.id/
  • Septiani, Riswanti.2017. Mencegah dan mengatasi kekerasan terhadap anak. (Studi Kasus Pada Siswa SD Negeri 01 Tanjung Kecamatan Tanjung Kabupaten Brebes). Jurnal Unnes. (http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/phpj)   
Komentar