Kreatifitas Mengolah Makanan Dapat Mencegah Kurang Gizi pada Anak

Kreatifitas Mengolah Makanan Dapat Mencegah Kurang Gizi pada Anak

Covesia.com - Status gizi pada anak usia dini menjadi sangat penting. Kurang gizi pada anak merupakan masalah kesehatan masyarakat utama di negara berkembang termasuk Indonesia.

Kurang gizi merupakan gangguan kesehatan akibat kekurangan atau ketidakseimbangan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan, aktivitas berfikir anak dan semua hal yang berhubungan dengan kehidupan.

Makanan yang diberikan sehari-hari harus mengandung semua zat gizi sesuai kebutuhan, sehingga menunjang pertumbuhan yang optimal dan dapat mencegah penyakit defisiensi, mencegah keracunan dan juga mencegah timbulnya penyakit yang dapat mengganggu kelangsungan hidup anak.

Penyebab langsung status gizi yaitu makanan anak dan penyakit infeksi yang mungkin diderita anak. Penyebab gizi kurang tidak hanya disebabkan makanan yang kurang tetapi juga karena penyakit.

Anak yang mendapat makanan yang baik tetapi sering menderita penyakit infeksi dapat menderita kurang gizi. Demikian pula pada anak yang makannya tidak cukup baik, maka daya tahan tubuh akan melemah dan mudah terserang penyakit. Sehingga makanan dan penyakit merupakan penyebab kurang gizi.

PENDAHULUAN

 Status gizi pada anak usia dini menjadi sangat penting. Mengingat masa pertumbuhan pada 2 tahun pertama merupakan periode kritis bagi tumbuh kembang seorang anak. Kurang gizi pada anak merupakan masalah kesehatan masyarakat utama di negara berkembang termasuk Indonesia.

Walaupun dalam beberapa dekade ini Indonesia mengalami penurunan masalah kekurangan gizi, namun kekurangan gizi akut dan kronis masih cukup tinggi. Dari data nasional yang memperlihatkan adanya 36,8% anak usia bawah lima tahun (balita) yang mengalami stunting (pendek dan sangat pendek, diukur dengan tinggi badan menurut umur).

Indikator ini menunjukkan terjadinya kekurangan gizi dalam jangka waktu yang panjang atau kronis yang dikarenakan tingginya angka kesakitan atau rendahnya asupan makanan (Nastiti, dalam jurnal manajemen pelayanan kesehatan, 2010).

Hasil Riset Kesehatan Dasar pada tahun 2010, menyatakan bahwa di Indonesia prevalensi kurang gizi dan gizi buruk telah mengalami penurunan dari 18,4% pada tahun 2007 menjadi 17,9% pada tahun 2010, sedangkan prevalensi balita pendek terdiri dari sangat pendek 18,5% dan pendek 17,1%.

Penurunan prevalensi pada ini terjadi pada balita pendek dari 18,0% menjadi 17,1% dan balita sangat pendek dari 18,8% menjadi menjadi 18,5. Jika hal ini tidak segera ditangani akan menyebabkan gangguan perkembangan fungsi kognitif dan psikomotor, serta penurunan kemampuan intelektual.

Oleh karena itu, asupan gizi terhadap anak perlu diperhatikan agar anak tidak mengalami kekurangan gizi dan masalah kurang gizi ini dapat dicegah dengan beberapa solusi.

PEMBAHASAN

A. Pengertian Kurang Gizi pada Anak Usia Dini

Menurut (Khaidirmuhaj, 2009) menyatakan bahwa kurang gizi merupakan adanya gangguan kesehatan pada anak yang diakibatkan oleh ketidakseimbangan gizi yang diperlukan anak untuk pertumbuhan, aktivitas berfikir dan semua hal yang berhubungan dengan kehidupan anak.

Ngastiyah (2005:258), menyatakan bahwa kurang gizi pada keadaan awalnya tidak ditentukan oleh biokimia, tapi pada keadaan lanjut akan didapatkan kadar albumin rendah, sedangkan globulin meninggi.

Menurut Almatsier (2002:303), (dalam Nawan, tanpa tahun) mengemukakan pendapatnya bahwa kurang gizi disebabkan oleh kekurangan makanan yang bersumber energi secara umum dan kurang sumber protein. 

Sodikin (2013) berpendapat bahwa kurang gizi merupakan keadaan kurang gizi tingkat berat yang disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi protein dari makanan sehari-hari yang terjadi dalam waktu yang cukup lama.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa kurang gizi merupakan gangguan kesehatan akibat kekurangan atau ketidakseimbangan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan, aktivitas berfikir anak dan semua hal yang berhubungan dengan kehidupan.

B. Penyebab Kurang Gizi pada Anak Usia Dini

Keadaan gizi seseorang merupakan gambaran makanan yang dikonsumsi dalam jangka waktu yang cukup lama. Kebutuhan zat gizi yang tinggi ini diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan tubuh yang cepat.

Jika kebutuhan zat gizi tersebut tidak terpenuhi maka akan menyebabkan terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan tubuh, bahkan dapat menyebabkan tubuh kekurangan gizi dan mudah terkena penyakit dan sebaliknya (Supariasa, dkk.2002).

Masalah kurang gizi disebabkan rendahnya konsumsi energi dan protein dalam makanan sehari-hari. Terjadinya gizi kurang karena konsumsi energi lebih rendah dibandingkan dengan kebutuhan yang mengakibatkan sebagian cadangan energi tubuh dalam bentuk lemak akan digunakan.

Beberapa penelitian menyatakan bahwa masalah gizi pada bayi dan anak disebabkan oleh kebiasaan pemberian ASI dan MPASI yang tidak tepat (segi kuantitas dan kualitas). Selain itu, para ibu kurang menyadari bahwa sejak bayi berusia 6 bulan sudah memerlukan MPASI dalam jumlah dan mutu yang baik (Hermina & Nurfi, 2010).

Pada usia 6 bulan, selain ASI bayi mulai bisa diberi makanan pendamping ASI, karena pada usia itu bayi sudah mempunyai refleks mengunyah dengan pencernaan yang lebih kuat. Dalam pemberian makanan bayi perlu diperhatikan ketepatan waktu pemberian, frekuensi, jenis, jumlah bahan makanan, dan cara pembuatannya.

Adanya kebiasaan pemberian makanan bayi yang tidak tepat, antara lain : pemberian makanan yang terlalu dini atau terlambat, makanan yang diberikan tidak cukup dan frekuensi yang kurang (Maseko & Owaga, 2012) (dalam Hana,2012).

WHO (2001) menyebutkan bahwa ada 51% angka kematian anak balita disebabkan oleh pneumonia, diare, campak, dan malaria. Lebih dari separuh kematian tersebut (54%) erat hubungannya dengan masalah gizi. Oleh karena itu prioritas utama penanganan utama adalah memperbaiki pemberian makan kepada bayi dan anak serta perbaikan gizi ibunya (Depkes RI, 2007). 

Menurut UNICEF (1998), terdapat dua faktor penyebab utama kurang gizi pada anak yaitu: 

1) Penyebab langsung, faktor penyebab utama kurang gizi pada anak disebabkan kurangnya asupan makanan bergizi dalam tubuh anak baik secara kualitas maupun kuantitas. Selain itu, adanya infeksi penyakit yang menyertai sering kali juga merupakan penyebab yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan dan gizi anak.

2) Penyebab tidak langsung, faktor yang bukan penyebab utama terjadinya kurang gizi pada anak namun dapat berpengaruh seperti pola asuh, ketersediaan pangan dalam keluarga serta pelayanan kesehatan individu dan sanitasi lingkungan.

C. Akibat Kurang Gizi pada Anak Usia Dini 

Anak-anak yang tidak mendapatkan nutrisi yang cukup berpotens mengalami komplikasi serta gangguan kesehatan jangka panjang, diantaranya yaitu: 

1. Anak mengalami gangguan kesehatan mental dan emosional

Dalam hal ini menurut Children’s Defense Fund, anak-anak yang kekurangan asupan nutrisi dapat menderita gangguan psikologis, seperti rasa cemas berlebih maupun ketidakmampuan belajar, sehingga memerlukan konseling kesehatan mental. Kurang gizi juga membawa dampak yang buruk bagi perkembangan dan kemampuan adaptasi bagi anak pada situasi tertentu.

Pada sebuah studi “India Journal of Psychiatry” tahun 2008 mencatat dampak dari kurang gizi pada anak, diantaranya:

a) Kekurangan zat besi menyebabkan gangguan hiperaktif pada anak usia dini

b) Kekurangan yodium dapat menghambat pertumbuhan pada anak usia dini.

c) Kebiasaan anak dalam melewatkan waktu makan atau anak cenderung pada makanan mengandung gula yang menyebabkan depresi pada anak usia dini

2. Tingkat IQ anak menjadi rendah

Menurut data  National Health and Nutrition Examination Survey, anak-anak yang kurang gizi lebih cenderung melewatkan pelajaran di kelas sehingga anak tidak naik kelas. Fisik anak menjadi lemas, lesu, dan tidak dapat bergerak aktif, karena anak kekurangan vitamin, mineral, dan nutrisi lainnya.

Hal ini didukung oleh data World Bank yang mencatat hubungan antara kurang gizi dengan tingkat IQ yang rendah. Anak-anak juga dapat mengalami kesulitan mencari tema karena masalah perilaku mereka. 

Gagalnya anak dalam mencapai aspek akademis dan sosial diakibatkan karena kurang gizi. Hal ini tentu saja memiliki dampak negatif yang berkelanjutan sepanjang hidup anak, apabila tidak segera disembuhkan.

3. Terjadinya Penyakit Infeksi pada Anak

Akibat dari kurang gizi lainnya yang sering terjadi adalah risiko penyakit infeksi. Anak-anak dengan gizi yang kurang akan sangat rentan mengalami penyakit infeksi. Hal ini disebabkan oleh sistem kekebalan tubuhnya yang tak kuat akibat nutrisi tubuh Yng belum terpenuhi. Banyak vitamin dan mineral yang sangat mempengaruhi kerja sistem kekebalan tubuh, misalnya vitamin C, zat besi dan zink.

Apabila kadar nutrisi tidak tercukupi maka sistem kekebalan tubuh akan menjadi buruk. Jika seorang anak kekurangan zat gizi makro seperti karbohidrat dan protein yang merupakan sumber energi dan pembangun sel-sel pada tubuh. Kekuranga nutrisi ini akan  membuat fungsi tubuh anak menjadi terganggu.

4. Anak menjadi pendek dan tidak tumbuh optimal 

Anak yang pertumbuhan dan perkembangannya terhambat adalah dampak dari kurang gizi terhadap anak. Ketika anak mengalami masa pertumbuhan, anak sangat memerlukan zat protein yang digunakan untuk membangun sel-sel pada tubuh, dan karbohidrat sebagai sumber energi utama pada tubuh.

Jika tidak ada protein dan zat nutrisi lainnya, maka tidak mungkin pertumbuhan anak terhambat bahkan berhenti sebelum masanya. Oleh karean itu, penting bagi orang tua untuk terus memantau kesehatan anak, apalagi jika anak masih dalam usia di bawah lima tahun.

Dengan mengetahui status gizi anak, orang tua juga akan mengetahui apakah perkembangan anak itu normal atau tidak. Untuk itu, sebaiknya orang tua selalu memperiksa anak ke dokter dengan rutin.

D. Solusi Kurang Gizi Melalui Pendekatan Kreativitas Pengolahan Makanan

Ibu memegang peranan penting dalam mendukung upaya mengatasi masalah gizi terutama dalam hal asupan gizi keluarga, mulai dari penyiapan makanan, pemilihan bahan makanan, sampai menu makanan.

Ibu yang memiliki status gizi baik akan melahirkan anak yang bergizi baik. Kemampuan ibu dalam mengolah makanan sangat berpengaruh bagi status gizi anak, karena dari pengolahan makanan yang baik akan dapat meningkatkan nafsu makan anak.

Menurut Utami (2010:14) menyatakan bahwa, anak-anak sering ketakutan ketika orang tua memberikan makanan yang terdapat sayuran di dalam makanan tersebut. Sayuran dan buah adalah makanan yang tidak disukai oleh anak-anak.

Padahal sayuran dan buah-buahan mengandung zat-zat gizi yang sangat baik untuk tubuh anak. Selain itu anak-anak juga sangat menyukai makanan yang manis dengan warna yang mencolok seperti permen. Melarang anak mengkonsumsi makanan seperti permen terkadang akan menimbulkan sifat untuk memberontak jika tidak diimbangi dengan pemahaman yang diberikan kepada anak.

Disini orang tua dapat mengkreasikan makanan atau dikenal dengan istilah bento. Bento atau o-bentu adalah istilah bahasa Jepang untuk makanan bekal berupa nasi beserta lauk pauk dalam dalam kemasan praktis yang bisa dibawa-bawa dan dimakan di tempat lain.

Istilah bento adalah konsep one dish meal atau hidangan sepinggan yang mengandung gizi yang lengkap. Bekal bento ini akan memancing selera anak-anak karena dikreasikan dengan bentuk-bentuk yang lucu dengan warna yang variatif.

Bento merupakan bekal yang praktis, menarik dan kaya akan gizi yang berguna untuk pertumbuhan, perkembangan serta meningkatkan kecerdasan anak usia dini (Muaris,2010:1),(dalam Nurmatari,2013).

Dari permasalahan di atas orang tua juga dapat mengatasi masalah tersebut dengan mengolah buah-buahan,sayuran maupun bahan dari ikan dengan cara, sebagai berikurt:

1) Orang tua dapat mengolah buah-buahan menjadi minuman seperti: sirop, jus, sop buah maupun es cream yang sangat di minati oleh anak. Tidak hanya minuman saja, orang tua juga dapat membuat cemilan dari bahan dasar buah seperti: keripik buah, dodol, puding buah, pizza buah, yoghurt buah,permen buah, dll.

2) Orang tua dapat mengolah bahan dasar sayuran menjadi hidangan yang enak dan kaya rasa. Disini orang tua dapat mengolah sayuran menjadi makanan yang sehat dan disukai oleh anak seperti: nugget sayur, keripik sayur, bubur, otak-otak sayuran,salad sayur,dll

3) Orang tua dapat mengkreasikan makanan dari bahan dasar ikan menjadi beberapa makanan seperti:pregedel, kerupuk, mpek-mpek,dll.

KESIMPULAN

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa:

1) Kurang gizi sangat berbahaya bagi pertumbuhan dan perkembangan anak.

2) Anak yang tubuhnya kekurangan gizi  akan mudah terkena penyakit.

3) Masalah kurang gizi ini disebabkan rendahnya konsumsi energi dan protein dalam makanan sehari-hari. 

4) Disini orang tua sangat berperan penting dalam mendukung upaya mengatasi masalah gizi mulai dari penyiapan makanan, pemilihan bahan makanan, sampai menu makanan.

Dari permasalahan di atas orang tua dapat mengatasi dengan cara membentuk kreasi makanan atau dikenal dengan istilah bento. Bekal bento ini akan memancing selera anak-anak karena dikreasikan dengan bentuk-bentuk yang lucu dengan warna yang variatif.

DAFTAR PUSTAKA

  • Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. Riset Kesehatan Dasar 2010:Laporan Nasional.2010.
  • Departemen Kesehatan RI. Laporan Nasional Riset Dasar Kesehatan 2007. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Departemen Kesehatan. Jakarta.2008.
  • Devi, Mazarina.2010.Analisis Faktor-Faktor yang Berpengaruh Terhadap Status Gizi Balita di Perdesaan. Jurnal Teknologi dan Kejuruan, VOL. 33, NO.2.
  • Istono, Wahyudi, dkk. 2009.Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Status Gizi  Balita. Berita Kedokteran Masyarakat Vol. 25, No. 3
  • Melyasari, Friska.2013.Faktor Risiko Kejadian Stunting pada Balita Usia 12 Bulan di
  • Desa Purwokerto Kecamatan Patebon Kabupaten Kendal.Artikel penelitian
  • Nadiyah, Dodik Briawan, dan Drajat Martianto. Faktor Risiko Stunting pada Anak Usia 0-23 Bulan di  Provinsi Bali, Jawa Barat dan Nusa Tenggara Timur. ISSN 1978 - 1059 Jurnal Gizi dan Pangan, Juli 2014, 9(2): 125—132.
  • Nastiti, Dwi Iswarawanti.2010.”Peranan dan Tantangan Pemberdayaan dalam Usaha Peningkatan Gizi Anak Indonesia”. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 13, No. 4
  • Nurmatari.2013.Artikel. (Online). http://www.Bandung.detik. com/.../ angry- bird- hingga- bento- kartun- untuk- bekal...16januari 2013. Diakses 26 januari 2013.
  • Supariasa, Nyoman. Bakri, bachyar. Dkk. 2002. Penilaian Status Gizi. Jakarta : EGC.
  • Sofia, Hana Anugraheni.2012.Faktor Risiko Kejadian Stunting pada Anak Usia 12-36 Bulan di Kecamatan Pati, Kabupaten Pati.Artikel Penelitian.
  • Utami, Prapti. 2010. Jus Untuk Kecerdasan, Kesehatan, Daya Tahan Tubuh Anak. Jakarta: PT Agro Media Pustaka.
  • WHO. Global Strategy for Infant and Young Child Feeding. WHO/UNICEF. Geneva.1998. Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VII. Kerja sama LIPI Bappenas, UNICEF. Deptan, BPS, Jakarta.
Komentar