Ternyata Anal Phallic pada Anak Berbahaya, Berikut Cara Pencegahannya

Ternyata Anal Phallic pada Anak Berbahaya Berikut Cara Pencegahannya

Covesia.com - Sejak kita lahir hingga saat ini ada beberapa masa yang telah kita lalui. Menurut Harvey A. Tilker, phd dalam developmental psycology today dan Elizabeth B. Hurlock mengemukakan ada beberapa masa yang akan kita lalui dalam kehidupan di antaranya mulai dari masa sebelum lahir, masa bayi ,masa anak anak, masa remaja dan lansia.

Di antara masa ini ada masa yang paling berharga yaitu masa yang disebut “golden age”. Dimana masa ini terletak pada masa anak usia dini. Anak usia dini adalah  anak yang berusia 1-8 tahun. Pada usia ini anak banyak meniru dan mencoba hal hal yang belum iya ketahui.

Keluarga terutama orang tua menjadi model bagi anak oleh sebab itu peran keluarga dan lingkungan sekitar anak sangat besar selain untuk memberikan contoh yang baik peran keluarga tidaklah penting terutama dalam masalah perkembangan si anak.

Pada anak usia dini ada beberapa masa perkembangan yang harus dilalui anak salah satunya adalah saat si kecil memasuki usia prasekolah (3-6 tahun) , usia ini disebut  fase anal phallic. Dimana rasa ingin tahu terhadap hal hal yang berhubungan dengan seks tampak dalam tingkah laku anak. Hal ini adalah sesuatu yang sangat wajar terjadi pada anak.

Tetapi akhir akhir ini beredar dan dapat kita temui di masyarakat bahwa banyak anak usia dini yang suka memainkan alat genitalnya terutama pada anak yang berjenis kelamin laki laki.

Salah satu fenomena yang dikutip dari Jakarta kompas.com “kelainan genital atau alat kelamin pada anak laki laki ternyata cukup banyak terjadi dari 10 anak 7 diantaranya mengalami masalah pada organ genital nya mulai dari ukuran penis kecil atau mikropenis, penis yang tidak muncul,infeksi pada penis dan lain sebagainya”.

Masalah pada organ genital ini muncul karena beberapa penyebab salah satu penyebabnya adalah kebiasaan buruk terutama pada saat usia dini yang mana anak suka memegang atau memainkan alat kelaminnya secara terus menerus (hasan:2006 ).

Sebenarnya ini tidak menjadi masalah, jika memang sedang melalui masanya (masa anal phallic). Tetapi hal ini menjadi masalah apabila  terjadi secara terus menerus hingga dewasa maka, ini dapat menyebabkan hal hal negatif terjadi pada diri anak seperti salah satunya gangguan seksual pada anak usia dini atau disfungsi seksual.

Oleh sebab itu saya sebagai penulis makalah ingin memberikan beberapa solusi atas fenomena yang terjadi , terkhusus untuk mencegah penyimpangan oleh anak yang nantinya akan saya kembangkan dalam makalah ini.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang  yang  telah diuraikan diatas dapat di identifikasi beberapa permasalahan yaitu:

  • Apakah hakekat anak usia dini?
  • Apakah pengertian masa anal phellic pada anak usia dini?
  • Apa  bahaya  fase anal phallic tanpa pengawasan orang tua dan keluarga?

Bagaimana solusinya untuk mengatasi masa anal phallic yang berkelanjutan pada anak usia dini?

Tujuan penelitian

Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

  • Untuk mengetahui apakah hakekat anak usia dini
  • Untuk mengetahui pengertian masa anal phellic pada anak usia dini
  • Untuk mengetahui  bahaya  fase anal phallic tanpa pengawasan orang tua dan keluarga
  • Untuk mengetahui bagaimana solusinya dan untuk mengatasi masa anal phallic yang berkelanjutan pada anak usia dini.

PEMBAHASAN

A. Hakekat Anak Usia Dini

1. Pengertian 

Anak usia dini adalah anak yang baru dilahirkan sampai usia 6 tahun. Usia ini merupakan usia yang sangat menentukan dalam pembentukan karakter dan kepribadian anak (Yuliani Nurani Sujiono, 2009: 7).

Usia dini merupakan usia dimana anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang pesat. Usia dini disebut sebagai usia emas (golden age). Pendidikan dan ayoman dasar dari keluarga dan orang orang terdekat anak sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan tersebut.

Ada berbagai kajian tentang hakikat anak usia dini, khususnya anak TK diantaranya oleh Bredecam dan Copple, Brener, serta Kellough (dalam Masitoh dkk., 2005: 1.12-1.13) sebagai berikut.

  • Anak bersifat unik
  • Anak mengekspresikan perilakunya secara relatif spontan
  • Anak bersifat aktif dan enerjik
  • Anak itu egosentris
  • Anak memiliki rasa ingin tahu yang kuat dan antusias terhadap banyak hal
  • Anak bersifat eksploratif dan berjiwa petualang
  • Anak umumnya kaya dengan fantasi
  • Anak masih mudah frustrasi
  • Anak masih kurang pertimbangan dalam bertindak
  • Anak memiliki daya perhatian yang pendek
  • Masa anak merupakan masa belajar yang paling potensial
  • Anak semakin menunjukkan minat terhadap teman

Dari beberapa hal diatas dapat kita lihat anak usia dini memiliki hakekat yang harus kita pahami salah satunya, anak memiliki rasa ingin tahu yang kuat. Hal ini juga terjadi pada saat anak masuki masa masa perkebangan fisik nya. 

2. Prinsip-prinsip Perkembangan Anak Usia Dini

Prinsip-prinsip perkembangan anak usia dini berbeda dengan prinsip-prinsip perkembangan fase kanak-kanak akhir dan seterusnya. Adapun prinsip-prinsip perkembangan anak usia dini menurut Bredekamp dan Coople (Siti Aisyah dkk., 2007:1.17-1.23) adalah sebagai berikut.

  • Perkembangan aspek fisik, sosial, emosional, dan kognitif anak saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu sama lain
  • Perkembangan fisik/motorik, emosi, sosial, bahasa, dan kognitif anak terjadi dalam suatu urutan tertentu yang relative dapat diramalkan 
  • Perkembangan berlangsung dalam rentang yang bervariasi antar anak dan antar bidang pengembangan dari masing-masing fungsi
  • Pengalaman awal anak memiliki pengaruh kumulatif dan tertunda terhadap perkembangan anak
  • Perkembangan anak berlangsung ke arah yang makin kompleks, khusus, terorganisasi dan terinternalisasi
  • Perkembangan dan cara belajar anak terjadi dan dipengaruhi oleh konteks sosial budaya yang majemuk
  • Anak adalah pembelajar aktif, yang berusaha membangun pemahamannya tentang tentang lingkungan sekitar dari pengalaman fisik, sosial, dan pengetahuan yang diperolehnya
  • Perkembangan dan belajar merupakan interaksi kematangan biologis dan lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial
  • Bermain merupakan sarana penting bagi perkembangan sosial, emosional, dan kognitif anak serta menggambarkan perkembangan anak
  • Perkembangan akan mengalami percepatan bila anak berkesempatan untuk mempraktikkan berbagai keterampilan yang diperoleh dan mengalami tantangan setingkat lebih tinggi dari hal-hal yang telah dikuasainya.
  • Anak memiliki modalitas beragam (ada tipe visual, auditif, kinestetik, atau gabungan dari tipe-tipe itu) untuk mengetahui sesuatu sehingga dapat belajar hal yang berbeda pula dalam memperlihatkan hal-hal yang diketahuinya.
  • Kondisi terbaik anak untuk berkembang dan belajar adalam dalam komunitas yang menghargainya, memenuhi kebutuhan fisiknya, dan aman secara fisik dan fisiologis.

Dari pengertian dan prinsip prinsip diatas dapat kita simpulkan bahwasanya setiap anak adalah individu yang unik. Mereka selalu melewati fase fase perkembangannya.

Dalam melewati masa masa perkembangan nya anak usia dini sangat butuh bimbingan serta perhatian agar anak tumbuh sesuai dengan  yang seharusnya. Begitu pula pada perkembangan anak pada fase anal phallic ini. Orang tua dan lingkungan anak harus peka terhadap perubahan tingkah laku anak dan memberikan pengawasan yang cukup.

B. Pengertian Masa Anal Phellic

Anak merupakan calon manusia dewasa, yang mana pada tahap ini segala yang ada dalam tubuhnya sedang di persiapkan untuk menjadi matang. Saat dewasa manusia akan mengalami fase kematangan seksual.

Untuk mencapai kematangan itu sejak  anak sudah ada fase fase perkembangannya. Ada fase oral yakni usia 0- 18 bulan , fase anal di usia 2-3 tahun. Fase phallic di usia 4-6 tahun, fase talent pada usia 7 hingga masa puber, dan fase genital yakni pada saat puber di usia 11- 18 tahun ( paul: 117 ).

Tetapi pada kali ini kita fokus membahas fase phallic. Fase ini berkembang pada anak usia 3 sampai 6 tahun. Pada tahap phallic atau yang disebut sebagai fase erotik fokus utamanya adalah pada alat kelamin. 

Jika  dilihat secara etimologi anal phallik berasal   dari  kata phallus  yang artinya dzakar sementara anal menurut KBBI memiliki arti  kegiatan yang berkaitan dengan anus atau dubur.

Secara harfiah anal phallic artinya anal menunjukkan sebuah kebiasaan sedangkan phallic menjelaskan sebuah kegiatan yang kritis atau sebuah keinginan pada anak yang mana keinginan ini apabila dilakukan akan menjadi kepuasan secara biologis pada anak.

Jadi disini dapat penulis simpulkan masa anal phallic adalah  masa  dimana adanya sebuah aktivtas seks pada anak usia dini yang cenderung  ingin mengetahui lebih dalam terkait organ genitalnya dimana masa anal ini terjadi pada usia 3 sampai 6 , masa anal phallic ini bisa seperti memasukkan tangan ke dubur atau sekedar memegang alat kelamin saja baik yang disadari anak atau tidak .

Hal ini biasanya sering lebih jelas terjadi pada anak laki laki . selama fase anal phallic berlangsung ,maka anak akan merasakan alat kelaminnya sebagai bagian yang menyenangkan  dan biasanya  anak juga sudah bisa menemukan perbedaan antara pria dan wanita

C. Perilaku Menyimpang Pada Anak saat berada  Pada Fase Anal Phallic

Apa yang dilakukan si keci adalah hal yang normal pada anak, tetapi pada masa ini anal phallic pengawasan dari orang tua dan lingkungan sekitar sangat penting agar tidak terjadi hal yang diluar batas, yang di awali pada masa anal di kalangan anak usia dini hingga terbawa pada saat dewasa lalu bagaimana jika  kebiasaan si kecil memainkan alat genitalnya sudah mengkhawatirkan.

Penting bagi orang tua dan lingkungan keluar mengetahui hal ini, yang mana rasa panasaran yang polos dalam diri anak.

Berikut ini tanda  tanda yang harus diperhatikan bahwasanya masa anal phallic telah menjadi disfungsi atau gangguan seksual:

  • Anak membujuk atau memaksa  orang lain bermain seks. apalagi jika kebiasaan ini dilakukan dengan anak anak yang terpaud perbedaan usia.
  • Anak menunjukkan sikap atau pemahaman yang tidak wajar tentang alat genital , penetrasi, aktivitas oral dan sebagainya.
  • Rasa ingin tahu si kecil terhadap  alat vital ini terjadi lebih dari sekali ,sekalipun orang tua telah melakukan pengawasan yang baik.
  • Anak mulai cenderung mulai merahasiakan  sesuatu  yang berkaitan dengan alat genitalnya.

Sementara jika kita perhatikan hal di atas bertolak belakang dengan perilaku normal yang dikemukakan oleh salah satu ahli psikoanalisis oleh Sigmund freudpada anak yang yang sedang memasuki masa anal phallic adapun kegiatan yang dilakukan anak adalah sebagai berikut:

  • Anak mulai menaruh perhatian kepada alat kelaminnya 
  • Anak mulai menangkap perbedaan antara alat kelamin perempuan dan laki laki 
  • Anak mulai tertarik pada orang tua yang berlainan jenis kelamin dengan dirinya 
  • Anak suka memainkan alat kelaminnya  pada waktu waktu tertentu

Saat anak melakukan hal di atas pada masa anal phallic itu adalah normal yang biasa terjadi pada diri anak usia dini 3-6 tahun.Tetapi jika telah ada tanda tanda yang tidak wajar bahkan sampai  anak dewasa masih kerap melakukan aktivitas seks seperti kebiasaan pada masa anal phallic berarti anak mengalami gangguan seksual.

Oleh sebab itu pada masa anal phallic pengawasan orang tua dan lingkungan sangat penting untuk menghindari terjadinya gangguan seksual.

D. Solusi  untuk mencegah bahaya kebiasaan buruk yang terjadi pada masa anal phallic oleh keluarga melalui nilai nilai edukasi

Nilai pendidikan (edukasi) merupakan batasan segala sesuatu yang mendidik ke arah kedewasaan, bersifat baik maupun buruk sehingga berguna bagi kehidupannya yang diperoleh melalui proses pendidikan (rohmat mulyana : 2004 ).

Proses pendidikan bukan berarti hanya dapat dilakukan dalam satu tempat dan suatu waktu. Tetapi nilai nilai ini dapat ditanamkan dimana saja dan kapan saja termasuk penanaman nilai nilai edukasi oleh keluarga.

Jika berbicara mengenai keluarga orang yang memiliki peranan yang besar terhadap penanaman nilai nilai edukasi adalah orang tua jika dihubungkan dengan eksistensi dan kehidupan manusia, sudah menjadi tugas orang tua untuk mendampingi dan mengawasi fase perkembangan anaknya.

Salah satu fase perkembangan anak adalah fase anal phallicyang terjadi pada usia dini ( 3-6 ) tahun. Fase anal phallic ini orang tua diharapkan memberi nilai nilai edukasi seks sedari dini. Karena jika tidak dari orang tua atau lingkungan keluarga penanaman nilai nilai edukasi seks sedari dini sangat jarang kita temukan di lembaga pendidikan anak usia dini.

Sementara penanaman nilai nilai edukasi seks sedari dini sangat penting.

Berikut adalah cara penanaman nilai nilai karakter melalui  pencegah kebiasaan buruk yang terjadi pada masa anal phallic:

1. Berikan penjelasan yang mudah dimengerti 

Psikolog Dian Ibung, Psi. mengatakan,  “Orangtua sebaiknya membicarakan baik-baik dengan anak, sejak si Kecil pertama kali memiliki rasa penasaran dengan organ genitalnya. Tanyakan apa yang anak ketahui tentang hal ini. Karena orangtua harus memastikan sejauh apa hal yang diketahui oleh si Kecil agar kita bisa meluruskan persepsi anak yang mungkin belum tepat.

Orangtua bisa menjelaskan pada si anak bahwa alat kelamin bersifat pribadi dan bukan untuk diperhatikan kepada orang lain dan di sentuh secara terus menerus ajak ayah bagi seorang ibu untuk membantu menjelaskan bahwa kebiasaan itu  kurang baik  untuk kesehatan.

2. Alihkan perhatian anak

Ketika anak  mulai berusaha untuk memainkan alat kelaminnya sendiri alihkan perhatian dengan kegiatan yang lebih menarik . orang tua bisa mengajak anak bermain agar tidak fokus pada kebiasaan yang kurang baik tersebut. Pastikan kegiatan bermain anak aktif menggunakn kedua tangannya.

3. Segerakan anak mengunakan celana dalam 

Setelah mandi atau aktivitas yang lainnya segerakan anak mengunakan celana dalam agar kesempatan untuk memainkan alat kelamin pada si anak berkurang.

Hal di atas merupakan edukasi sedari dini untuk anak agar dapat mencegah anak memainkan organ genitalnya. Untuk lebih lanjut ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh orang tua kepada anak jika mengetahui anak memainkan organ genitalnya:

a. Hindari memberikan hukuman pada anak

Ketika anak tertangkap sedang memainkan alat genitalnya jangan berikan hukuman kepada anak. Karena jika kita memberikan hukuman anak dapat merasakan perlakuan yang berbeda dan mendorong anak untuk berbuat lebih lanjut didasari dengan rasa panasaran yang ada pada diri anak.

b. Lakukan kontrol dengan pihak lain 

Jika anak sedang berada di sekolah tanyakan pada gurunya apakah ia sering memainkan atau memperhatikan alat kelaminnya kepada orang lain. Orang tua harus selalu berkoordinasi dengan pihak sekolah.

c. Cari bantuan dari pihak lain

Bila rasa ingin tahu yang ditunjukkan oleh si Kecil membuat orang tua cemas, carilah bantuan melalui sesi konseling dengan psikolog anak yang profesional. Pastikan si Kecil aman dan terlindungi.

Bila si Kecil menunjukkan gelagat yang mengkhawatirkan, cobalah temukan cara yang tepat untuk membujuk si Kecil agar ia mau menceritakan rahasianya. 

Dari hal di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa orang tua dan lingkungan anak sangat mempengaruhi tindakan yang akan di ambil anak.

Oleh sebab itu orang tua harus memperhatikan anak dengan melibatkan orang orang terdekat agar nantinya masalah yang berhubungan dengan kebiasaan buruk anak dapat teratasi dengan cara pencegahan dan penanaman nilai-nilai edukasi sedari dini terkait masalah perkembangan pada fase anal phallic ini.

PENUTUP

A. Kesimpulan

Masa anal phallic adalah masa yang pasti dilalui oleh anak usia dini. Masa ini adalah masa dimana anak mulai tertarik dengan organ genital yang dimilikinya, hal umum yang dilakukan anak adalah memainkan organ genitalnya.

Hal ini tidak menjadi masalah selagi masih dalam rentang usia yang wajar, tetapi yang menjadi permasalahan adalah fase anal phallic ini menjadi kebiasan yang terus menerus dilakukan anak hingga dewasa sebagai pemuas rasa seks yang harus di lampiaskan.

Tentunya ini tidak boleh terjadi karena memiliki dampak buruk pada perkembangan biologis anak dan perkembangan social anak di lingkungannya

Masa anal phallic cendrung Nampak terjadi pada anak laki laki tetapi tidak menutup kemugkinan terjadi juga pada anak perempuan. Pada masa ini sangat perlu perhatian dari orang tua dan lingkungan si anak agar masa anal phallic bisa dilalui dengan normal oleh anak.

  • Nilai nilai edukasi penting di tanamkan pada diri anak sejak dini seperti:
  • Berikan penjelasan yang mudah dimengerti  kepada anak terkait dengan kebiasaan yang dilakukan anak
  • Alihkan perhatian anak
  • Segerakan anak menggunakan celana dalam ketika sudah melakukan aktivitas tertentu.

Mungkin cara ini sedikit banyaknya dapat membantu anak dalam melewati masa anal phallic nya secara normal agar tidak terjadi kebiasaan hingga dewasa  melampaui batas fasenya (3-6 tahun)  yang akan berujung pada gangguan seksual seperti penis mengecil, infeksi pada penis, beseksual dan perilaku menyimpang  ditunjukkan oleh anak yang berhubungan dengan organ genitalnya.

B. Saran

Harapan penulis agar semua lembaga pendidikan anak usia dini benar benar menerapkan pendidikan seks sedari dini untuk anak anak yang ada di lembaganya serta melakukan koordinasi terkait masa anal phallic ini dengan orang tua anak.

Selain itu pendidikan seks sedari dini juga sangat membantu anak delam mencegah kekerasan seksual pada anak usia dini yang sedang marak terjadi pada saat ini.

DAFTAR REFERENSI :

  • Rohmat mulyana, mengartikulasikan pendidikan nilai. Bandung : 2004. Alfabeta
  • Paul henry mussen ,dkk. Perkembangan kepribadian anak.2006. Jakarta : rajawali pres
  • Hasan,aliah b, purwakania, psikologi perkembangan islam. Jakarta :rajawali pres.2006
  • Harvey ,elizabneth .Development psychology topday (2nd Edition). New York: Psychological Coorporation
  • Masitoh dkk  .2005. hakekat anak usia diini. Jakarta :Rajawali press
  • Yuiani . 2011. Psikologi Perkembangan. Malang: UMM PRESS. 
  • Siti. 2007. Psikologi anak dan remaja bandung. Remaja rosdakarya
Komentar