Obesitas dan Ancaman Bagi Tumbuh Kembang Anak

Obesitas dan Ancaman Bagi Tumbuh Kembang Anak

Covesia.com - Obesitas pada masa anak merupakan faktor yang berhubungan dengan meningkatnya mortalitas dan morbiditas pada dewasa. Obesitas merupakan faktor risiko terjadinya penyakit jantung koroner, aterosklerosis, asam urat dan artritis.

Obesitas yang menetap sejak masa anak-anak sampai dewasa memicu terjadinya hipertensi dan penyakit  jantung iskemik. Oleh karena itu, obesitas menjadi masalah kesehatan  pada masyarakat (Hassink, 2003).

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2015 menunjukkan prevalensi obesitas secara nasional pada anak umur 5-13 tahun masih tinggi yaitu sebesar 9,2% atau masih di atas 5,0%, sedangkan prevalensi di Sumatera Barat yaitu sebesar 3,8%.

Pada tahun 2016 prevalensi obesitas secara nasional pada anak umur  5-12  yaitu sebesar 8,8%, sedangkan prevalensi di Sumatera Barat yaitu sebesar7,7%.

Prevalensi anak obesitas di Sumatera Barat lebih rendah dari angka nasional, namun terjadi peningkatan sebesar 100% dari tahun 2015 (8,9).

Hasil Penjaringan dari Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat tahun 2015 prevalensi obesitas pada anak sekolah dasar di Provinsi Sumatera Barat adalah sebesar1,2%.

Kabupaten/Kota  yang memiliki prevalensi paling  tinggi  adalah Kota Padang dan Kab. Pesisir Selatan dengan prevalensi yang sama yaitu sebesar2,9%.

Data  dari  Dinas  Kesehatan  Kota  Padang tahun  2015 menunjukan  bahwa  prevalensi obesitas tertinggi pada anak sekolah dasar di Kota Padang berada di wilayah kerja Puskesmas Andalas yaitu sebesar 6,1%.(10)

Masalah gizi di Indonesia saat ini memasuki masalah gizi ganda. Artinya, masalah gizi kurang masih belum teratasi sepenuhnya, sementara sudah muncul masalah gizi lebih. Kelebihan gizi yang menimbulkan obesitas dapat terjadi baik pada anak-anak hingga usia dewasa.

Obesitas disebabkan oleh ketidakseimbangan antara jumlah energi yang masuk dengan yang dibutuhkan oleh tubuh untuk berbagai fungsi biologis seperti pertumbuhan fisik, perkembangan, aktivitas, pemeliharaan kesehatan.

Jika keadaan ini berlangsung terus menerus (positive energy balance) dalam jangka waktu cukup lama, maka dampaknya adalah terjadinya obesitas. Obesitas merupakan keadaan indeks massa tubuh (IMT) anak yang berada di atas persentil ke-95 pada grafik tumbuh kembang anak sesuai jenis kelaminnya. Obesitas pada masa anak dapat meningkatkan kejadian diabetes mellitus (DM) tipe

Selain itu, juga berisiko untuk menjadi obesitas pada saat dewasa dan berpotensi mengakibatkan gangguan metabolisme glukosa dan penyakit degeneratif seperti penyakit jantung, penyumbatan pembuluh darah dan lain-lain.

Selain itu, obesitas pada anak usia 6-7 tahun juga dapat menurunkan tingkat kecerdasan karena aktivitas dan kreativitas anak menjadi menurun dan cenderung malas akibat kelebihan berat badan.

Rumusan Masalah

Berdasarkan hasil uraian latar belakang masalah diatas, maka permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah:

  • Apa hakikat obesitas pada anak?
  • Apa saja penyebab obesitas pada anak usia dini?
  • Apa saja ancaman obesitas pada tumbuh kembang anak usia dini?
  • Apa saja gejala dan solusi dari obesitas pada anak usia dini?

Tujuan Penulisan

Setelah menyusun makalah ini diharapkan pembaca mampu:

  • Mengetahui hakikat obesitas pada anak dini
  • Mengetahui penyebab obesitas pada anak usia dini
  • Mengetahui akibat obesitas pada tumbuh kembang anak usia dini
  • Mengetahui gejala dan solusi dari obesitas pada anak usia dini

PEMBAHASAN

A. Hakikat obesitas

Dari sisi kesehatan, obesitas adalah salah satu penyakit salah gizi, sebagai akibat DARI konsumsi makanan yang melebihi kebutuhannya. Perbandingan normal antara lemak tubuh dengan berat badan adalah sekitar 12-35% pada wanita dan 18-23% pada pria.

Obesitas adalah salah satu faktor risiko penyebab terjadinya penyakit degeneratif seperti Diabetes Mellitus (DM), Penyakit Jantung Koroner (PJK) dan Hipertensi (Laurentia, 2004).

Obesitas adalah keadaan patologis dengan terdapatnya penimbunan lemak yang berlebihan daripada yang diperlukan untuk fungsi tubuh (Mayer, 1973 dalam Pudjiadi, 1990 ). Dengan bahasa yang kerap dijelaskan oleh para dokter, pengertian obesitas adalah kondisi dimana lemak tubuh berada dalam jumlah yang berlebihan.

Kondisi ini tergolong ke dalam penyakit kronik, namun masih dapat diatasi. Disamping itu, obesitas juga berhubungan dengan sejumlah penyakit yang menurunkan kualitas hidup.

Jadi dapat disimpulkan obesitas yang dialami oleh anak pada hakikatnya adalah penumpukkan lemak pada tubuh yang sangat tinggi terjadi karena asupan makanan yang sangat banyak masuk ketubuh dibanding aktifitas membakar kalori pada tubuh, sehingga kalori pada tubuh menjadi menumpuk dalam bentuk lemak.

Kondisi tersebut dalam waktu lama menambah berat badan hingga mengalami obesitas. Penumpukan lemak tubuh ini meningkatkan risiko gangguan kesehatan, seperti penyakit jantung, asma.

B. Beberapa faktor penyebab obesitas pada anak usia dini

Pada  dasarnya  obesitas  terjadi  karena  energi  yang  didapat  lewat makanan  melebihi  energi  yang  dikeluarkan  anak.  Ketidakseimbangan  ini didapat  dari  berlebihnya  energi  yang  diperoleh  atau  berkurangnya  energi yang  dikeluarkan  untuk  metabolisme  tubuh,  thermolegulasi,  dan  aktivitas fisik (Galih, 2012).

Menurut   Galih   (2012)   ada   tiga   penyebab   obesitas,   antara   lain disebabkan oleh :

1. Faktor genetik

Merupakan faktor keturunan dari orang-tua yang sulit dihindari. Bila ayah atau ibu memiliki kelebihan berat badan, hal ini dapat diturunkan pada anak.

2. Makanan cepat saji dan makanan ringan dalam kemasan

Banyaknya restoran cepat saji merupakan salah satu faktor penyebab. Anak-anak sebagian besar menyukai makanan cepat saji bahkan banyak anak yang akan makan dengan lahap dan menambah porsi apabila makan makanan cepat saji.

Padahal makanan seperti ini umumnya mengandung lemak dan gula yang tinggi yang menyebabkan obesitas. Orang tua yang sibuk sering menggunakan makanan cepat saji yang praktis dihidangkan untuk diberikan pada anak mereka, walaupun kandungan gizinya buruk untuk anak.

3. Minuman ringan

Sama seperti makanan cepat saji, minuman ringan terbukti memiliki kandungan gula yang tinggi sehingga berat badan akan cepat bertambah apabila mengkonsumsi minuman ini. Rasa yang nikmat dan menyegarkan menjadikan anak-anak sangat menggemari minuman ini

4. Kurangnya aktivitas fisik

Masa anak-anak identik dengan masa bermain. Dulu, permainan anak umumnya adalah permainan fisik yang mengharuskan anak berlari, melompat atau gerakan lainnya.

Tetapi, hal itu telah tergantikan dengan game elektronik, komputer, Internet, atau televisi yang cukup dilakukan dengan hanya duduk di depannya tanpa harus bergerak. Hal inilah yang menyebabkan anak kurang melakukan gerak badan sehingga menyebabkan kelebihan berat badan.

Beberapa faktor penyebab obesitas pada anak antara lain asupan makanan berlebih yang berasal dari jenis makanan olahan serba instan, minuman soft drink, makanan jajanan seperti makanan cepat saji (burger, pizza, hot dog) dan makanan siap saji lainnya yang tersedia di gerai makanan. Selain itu, obesitas dapat terjadi pada anak yang kecanduan makan yang terlalu berlebihan.

C. Ancaman obesitas pada tumbuh kembang anak usia dini

Menurut Pingkan Palilingan  (2010), banyak sekali resiko gangguan kesehatan  yang  dapat  terjadi pada anak yang  mengalami obesitas. Anak dengan obesitas akan  mengalami  masalah  dengan  sistem jantung   dan   pembuluh   darah   (kardiovaskuler)   yaitu   hipertensi dan displidemia  (kelainan  pada  kolesterol). 

Bisa  juga  mengalami  gangguan fungsi  hati  dimana  terjadi  peningkatan  SGOT  dan  SGPT  serta  hati  yang membesar.  Bisa  juga  terbentuk  batu  empedu  dan  penyakit  kencing  manis (diabetes  militus).  Pada  sistem  pernafasan  dapat  terjadi  gangguan  fungsi paru, mengorok saat tidur dan sering mengalami tersumbatnya jalan nafas (obstructive sleep apnea).

1. Komplikasi kesehatan

Ganguan pernafasan Anak yang mengalami obesitas lebih berisiko mengalami asma. salah satu  yang menyebabkan hal ini adalah obesitas dapat menyebabkan inflamasi pada sistem kardiovaskuler di mana jaringan lemak di sekitar pembuluh darah paru-paru menyebabkan paru lebih sensitif terhadap rangsangan udara dari luar dan menyebabkan gejala asma.

2. Gangguan tidur

Dikenal juga dengan sleep apnea yang merupakan gangguan pernapasan yang terhenti untuk sesaat akibat penimbunan lemak pada anak yang mengalami obesitas. Dan mengakibatkan tidur menjadi tidak nyenyak.

3. Patah tulang

Anak yang mengalami obesitas berisiko mengalami patah tulang akibat berat badan berlebih dan tulang yang tidak terlalu kuat akibat jarang beraktivitas fisik.

4. Gangguan fisik

Anak yang mengalami obesitas cenderung sulit untuk menggerakan anggota tubuh dan memiliki kemampuan keseimbangan tubuh yang buruk seperti tidak dapat melompat dan berdiri dengan satu kaki.

5. Depresi 

Disebabkan oleh akumulasi dari masalah psikologis yang dipicu oleh interaksi sosial. Tidak hanya menarik diri, anak yang mengalami depresi akan kehilangan semangat dalam beraktivitas.

D. Pedoman Penanggulangan Obesitas pada Anak

Dari Kementrian Kesehatan Rebublik Indonesia.Pencegahan   dan   Penanggulangan obesitas   pada   anak     merupakan   suatu   upaya   komprehensif   yang   melibatkan   orang tua untuk mengatur pola hidup sehat pada anak.

Pola Hidup Sehat Cegah Obesitas Yaitu:

  • Konsumsi buah dan sayur 3 porsi sehari
  • Membatasi menonton tv, bermain komputer, game >2 jam/perhari
  • Tidak menyediakan tv dikamar
  • Mengurangi makanan dan minuman manis
  • Mengurangi makanan berlemak dan gorengan 
  • Kurangi makan diluar
  • Makanlah makanan sesuai dengan waktunya
  • Tingkatan latihan fisik pada anak menimal 1 jam/perhari
  • Melibatkan keluarga untuk perbaikan gaya hidup untuk pencegahan gizi lebih
  • Target penurunan BB yang sehat

Anak yang obesitas, terutama apabila pembentukan jaringan lemaknya terjadi sebelum periode usia 5-13 tahun, memiliki kecenderungan berat badan berlebih saat tumbuh dewasa.

Sama seperti orang dewasa, kelebihan berat badan anak terjadi karena ketidakseimbangan antara energi yang masuk dan energi yang keluar, terlalu banyak makan, atau terlalu sedikit beraktivitas, ataupun keduanya.

Akan tetapi berbeda dengan orang dewasa, berat badan anak pada kasus obesitas tidak boleh diturunkan, karena penyusutan berat akan sekaligus menghilangkan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan.

Laju pertumbuhan berat badan sebaiknya dihentikan atau diperlambat sampai proporsi berat terhadap tinggi badan mencapai normal. Perlambatan ini dapat dicapai dengan cara mengurangi makan sambil memperbanyak olahraga.

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan Obesitas yang dialami oleh anak usia dini pada dasarnya adalah:

  1. Kegemukan yang dialami oleh anak  pada hakikatnya adalah penumpukkan lemak pada tubuh yang sangat tinggi terjadi karena asupan makanan yang sangat banyak masuk ketubuh dibanding aktifitas membakar kalori pada tubuh, sehingga kalori pada tubuh menjadi menumpuk dalam bentuk lemak. 
  2. Penumpukan lemak tubuh ini meningkatkan risiko gangguan kesehatan, seperti penyakit jantung, asma.Obesitas pada anak dapat dinilai dari beberapa aspek. Terkadang seseorang anak terlihat gemuk, namun belum tentu disebut obesitas. Beberapa metode dan teknik diagnosis dapat dilakukan untuk menilai apakah anak gemuk sudah memasuki tahap obesitas atau hanya over weight.
  3. Beberapa faktor penyebab obesitas pada anak usia dini Faktor genetik faktor keturunan dari orang-tua yang sulit dihindari.
  4. Pencegahan   dan   Penanggulangan   kegemukan   dan   obesitas   pada   anak     merupakan   suatu   upaya   komprehensif   yang   melibatkan   orang tua  untuk mengatur pola hidup sehat pada anak.Konsumsi buah dan sayur 3 porsi sehariMembatasi menonton tv, bermain komputer, game >2 jam/perhari, Tidak menyediakan tv dikamar, Mengurangi makanan dan minuman manis

B. Saran 

  1. Bagi penderita obesitas sebaiknya orang tua disarankan untuk bisa memilih makanan yang baik dan sehat untuk anak serta sesuai dengan cakupan tubuhnya. Penggurangan kalori meningkatkan olah raga merupakan cara alami untuk mempertahankan tubuh yang baik.
  2. Berilah susunan makanan yang sehat secara seimbang, awasi kebiasaan makannya, jangan berikan makanan yang kandungan lemaknya tinggi seperti gorengan. Pilihlah daging yang tidak berlemak, misalnya sebelum dimasak dan disajikan; Buanglah lemak (visible fat) dan kulit pada daging ayam.
  3. Bila perubahan cara hidup gagal perlu diberikan obat-obatan yang aman dan efektif bagi tubuh anak.
  4. Upayakan banyak kesempatan beraktivitas fisik, terutama kegiatan di luar ruangan (outdoor) seperti berlari, berenang, atau bermain bersama teman, bermain bola, dan lain-lain. Kurangi jam untuk menonton TV. Jangan berikan banyak makanan dan minuman manis, karena ini adalah sumber kalori yang dapat meningkatkan berat badan

Daftar Rujukan

  • Kartini, sri.2016.Faktor Resiko Obesitas Anak Usia 5-15 Tahun. Jurnal Universitas Abdurrab.
  • Mokolensang, Olivia G dan Aaltje E. Manampiring.2016.Hubungan Pola Makan dan Obesitas Pada Anak. Jurnal e-Biomedik (eBm), Volume 4, Nomor 1, Januari-Juni.
  • Indrawati, fitri.2015.Mengatasi Obesitas Pada Anak. Jurnal Media Ilmu Indonesia, volume 5. Nomor 1. Edisi Juli. Issn:2088-6802
  • Ayu, Destya Sekar.2016. Diary Teratas (Terapi Anak Obesitas) dalam Perubahan Perilaku Gizi Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Unnes. (http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/ujph) 
  • Septiani, Riswanti.2017. Pola Konsumsi Feast Food, Aktivitas Fisik dan Faktor Keturunan Terhadap Kejadian Obesitas (Studi Kasus Pada Siswa SD Negeri 01 Tanjung Kecamatan Tanjung Kabupaten Brebes). Jurnal Unnes. (http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/phpj)   
  • Laurentia, 2004 Hakikat anak penderita obesita. Fakultas ilmu pendidikan. Pendidikan anak usia dini.
  • Galih, 2012 Faktor penyebab obesitas pada anak usia dini. Fakultas ilmu pendidikan.
  • Pingkan Palilingan  (2010)Ancaman obesitas pada tumbuh kembang anak usia dini. Pendidikan anak.
  • Kementrian Kesehatan Rebublik Indonesia. Pencegahan dan Penanggulangan obesitas   pada   anak 2004. Laporan nasional.
Komentar