Pengaruh Lingkungan Sosial Terhadap Bahasa Anak

Pengaruh Lingkungan Sosial Terhadap Bahasa Anak

Covesia.com - Pendidikan menurut Undang- undang sistem pendidikan nasional No. 20 Tahun 2003, pengertian pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Berdasarkan pengertian di atas pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh seseorang untuk menambah pengetahuan dan keterampilan seseorang yang akan dijadikan bekal dalam hidupnya. 

Salah satu jalur pendidikan yang bisa dapatkan melalui jalur pendidikan informal. Pendidikan informal adalah pendidikan yang diperoleh dalam keluarga baik itu ibu, ayah dan saudara, paman, bibi dan keluarga lainnya.

Salah satu yang harus dikembangkan orang tua dari anaknya  adalah kemampuan dasar  yang dimiliki anak  yaitu kemampuan bahasa. Bahasa merupakan salah satu media yang digunakan manusia dalam berkomunikasi.

Manusia tak akan lepas dari proses penggunaan bahasa dalam hidupnya sehari-hari. Namun pada anak usia dini, tata bahasa yang mereka gunakan berbeda dengan orang dewasa. Terdapat hubungan antara bahasa yang didapatkan anak pertama kali dengan perkembangan bahasa anak nantinya.

Jika anak memperoleh kata kotor pertama kali dalam keluarganya dan sering diucapkan keluarganya itu akan menjadi kebiasaan bagi anak sampai dewasa. Kemampuan bahasa memegang peranan penting dalam perkembangan anak, namun perkembangan yang lain juga tidak kalah pentingnya.

Perkembangan bahasa anak usia 4-5 tahun sangat cepat. Kemampuan mereka menyerap dan mengingat pembicaraan orang disekitarnya sangat tinggi.

Dilihat pada zaman sekarang ini banyak anak yang mengunakan kata bahasa kotor dalam tata bahasanya sehari- hari. Hal ini bisa terjadi karena dua hal yakni orang tuanya yang sering menggunakan bahasa kotor di depan anaknya dan akibat lingkungan masyarakatnya.

Bahasa kotor yang sering digunakan pada anak saat ini carut marut dan lainya yang tidak seharusnya digunakan anak- anak. Saya semakin tertarik membahas ini karena ada juga yang meneliti tentang ini yang judulnya “Pengaruh Penggunaan Bahasa Kasar Dalam Konteks Pergaulan” oleh Muhammad Dzaky Murtadha.

Jadi menurut penulis dalam perkembangan bahasa anak, lingkungan sangat mempengaruhi karena anak juga belajar dari lingkungannya. 

B. Rumusan Masalah 

  • Apa itu lingkungan sosial  anak?
  • Bagaimanakah  interaksi sosial pada anak ?
  • Apa itu bahasa kotor ?
  • Bagaimanakah tahap perkembangan bahasa anak ?
  • Apa saja faktor penyebab perolehan bahasa kotor pada anak ?
  • Menjelaskan pengaruh perolehan bahasa kotor terhadap perkembangan bahasa anak ?
  • Bagaimana langkah-langkah untuk mengatasi anak yang mengunakan bahasa kotor ?

C. Tujuan Penulisan Makalah 

  • Untuk mengetahui apa itu lingkungan sosial anak 
  • Untuk mengetahui bagaimanakah interaksi sosial pada anak 
  • Untuk mengetahui pengertian bahasa kotor
  • Untuk mengetahui tahap perkembangan bahasa anak 
  • Untuk mengetahui faktor penyebab perolehan bahasa kotor (jorok) pada anak 
  • Untuk mengetahui pengaruh perolehan bahasa kotor terhadap perkembangan bahasa Anak 
  • Untuk mengetahui langkah-langkah untuk mengatasi anak yang berbahasa kotor (jorok)  

PEMBAHASAN

A. Pengertian Lingkungan Sosial Anak 

Lingkungan sosial adalah tempat anak saling berinteraksi dan melakukan sesuatu secara bersama-sama antar sesama ataupun lingkungannya. Lingkungan sosial terdiri dari beberapa tingkat.

Tingkat yang paling awal adalah keluarga, dari keluarga kita diajari cara, sikap, dan sifat untuk berinteraksi dengan orang lain didalam maupun diluar keluarga. Tingkat selanjutnya adalah sekolah, dimana kita bisa mengembangkan pelajaran bersosialisasi yang diberikan keluarga di rumah ke lingkungan sekolah, kita bisa berinteraksi dengan guru dan teman-teman.

Tingkatan paling akhir adalah lingkungan masyarakat yang akan ditemui nanti.

B. Interaksi Sosial Pada Anak

Manusia adalah makhluk sosial, yaitu makhluk yang selalu membutuhkan sesamanya dalam kehidupannya sehari-hari. Oleh karena itu, tidak dapat dihindari bahwa manusia harus saling berhubungan dengan manusia lainnya :

1. Komunikasi 

Komunikasi adalah proses pengiriman berita dari seseorang kepada orang lainnya.

2. Sikap 

Sikap (attitude) adalah istilah yang mencerminkan rasa senang , tidak senang atau perasaan biasa-biasa saja (netral) dari seseorang terhadap sesuatu. “sesuatu” itu bisa benda, kejadian, situasi, orang-orang atau kelompok

3. Norma Sosial 

Norma sosial adalah nilai-nilai yang berlaku dalam sesuatu kelompok yang membatasi tingkahlaku individu dalam kelompok tersebut. Dalam norma sosial ada terkandung sanksi sosial artinya barangsiapa melakukan sesuatu yang melanggar norma, akan dikenai tindakan tertentu oleh masyarakat.

C. Pengertian Bahasa Kotor

Bahasa kotor adalah bahasa yang tidak pantas pada norma yang berlaku. Bahasa kator merupakan kata- kata yang mengandung makna negative, yang termasuk dalam bahasa kotor adalah bahasa kasar sendiri mengandung cacian, makian, kebencian, ketidaksabaran, kekesalan, menyakiti orang lain yang menunjukan ketidakmampuannya dalam menghadapi lingkungannya dengan baik.

Melihat pengertian diatas, maka bahasa kotor adalah bahasa yang dianggap rendah atau bahasa yang tidak sesuai dengan norma dan nilai- nilai yang ada di masyarakat. 

D. Tahap Perkembangan Bahasa Anak

Papalia & Olds, Morrow dalam Jumaris (2010:52-55) menguraikan perkembangan kemampuan bahasa lisan anak sejak usia 0 sampai usia 6 tahun yang diuraikan pada bagian berikut ini :

1. Perkembangan Bahasa Lisan Usia 0-1 tahun

Pada tahun pertama kelahirannya, kemampuan bahasa lisan anak diungkapkan melalui berbagai percobaan yang dilakukannya dalam bermain dengan suara. Kegiatan percobaan yang dilakukan anak seperti : mengeluarkan suara meraban yang merupak ekspresi rasa senang.

2. Pada usia 8-12 bulan 

Kemampuan berbahasa lisan anak meningkat dengan cepat, anak sudah mengerti arti berbagai kosakata walaupun ia belum dapat mengungkapkannya secara lisan. Pada masa ini anak sudah dapat mengucapkan kosakata yang mudah yang sering didengarnya, seperti susu, mama, papa, dada.., tidak, mau, dll.

Pada tahap selanjutnya anak menggunakan satu kata dengan banyak makna seperti : susu yang berarti ” saya mau susu ", mau yang berarti ” saya minta makan, minta minum, minta susu, dll.

3. Perkembangan Bahasa Lisan Usia 1-2 tahun

Pada masa ini perkembangan bahasa lisan anak sangat pesat. Sejalan dengan kemampuannya dalam mengeluarkan bunyi dari kosakata yang dilanjutkan dengan merangkai bunyi menjadi kata dan menggunakan kata tersebut dalam berbagai konteks. 

4. Perkembangan Bahasa Lisan Usia 2-3 tahun

Bahasa lisan anak usia 2-3 tahun berkembang sangat pesat. Pada usia ini anak telah menguasai dan mengerti 300-1000 kosa kata (Santrocks 2008) akan tetapi belum dapat menggunakannya dalam percakapan secara penuh.

Sejalan dengan perkembangan kosakata yang pesat tersebut, anak senang, bermain kosakata dengan mengucapkan secara berulang-ulang kosakata yang baru diketahuinya dan mulai merangkai' kalimat yang belum mengandung makna.

Kesenangan anak dalam bermain kosakata terletak pada ketertarikan mereka pada intonasi dan pola kosakata, misalnya : anjing, guk...guk. kucing, nngeong....nngeong, mobil,uuumm... uummmm

5. Perkembangan Bahasa Lisan Usia 3-4 tahun

Pada usia 3-4 tahun kemampuan bahasa lisan anak sudah menyamai kemampuan bahasa orang dewasa. Kosakata anak berberkembang dengan pesat. menjelaskan bahwa pada usia ini, anak sangat aktif melakukan kegiatan komunikasi dengan orang-orang di sekitamya.

Keingintahuan anak tentang berbagai hal menyebabkan anak di usia ini aktif. mengajukan berbagai pertanyaan, seperti I Apa ini ?”, Mengapa begini ? 1 ’’Dari mana datangnya ini ? ” ’’Bagaimana ini terjadi ?”

6. Perkembangan Kemampuan Bahasa Usia 4-5-6 tahun

Pada usia 4-5 tahun anak kemampuan anak dalam berbicara hampir sama dengan kemampuan orang dewasa. Pada masa ini, anak telah menguasai sedikitnya 2500 kosakata dan menggunakannya secara aktif dalam berkomunikasi dengan orang-orang di sekitamya.

Kemampuan anak dalam penerapan elemen-elemen bahasa semakin baik. Anak sudah memahami bahwa dengan bahasa bukan hanya sekedar bahasa, tetapi, mengandung makna yang sangat luas, dengan menggunakan bahasa, ia akan dapat menyatakan keinginannya, penolakannya, kekagumannya, membuka kesempatan untuk berteman, belajar, dll.

Kreativitas anak dalam berbahasa makin berkembang, ia sudah dapat berpuisi, bercerita, dan menghindarkan rasa malu, rasa salah dan memiliki istilah untuk situsi-situasi tertentu.

Anak menggunakan bahasa untuk mengontrol situasi, dengan demikian kemampuan bahasa yang digunakan anak untuk berimajinasi pada usia 3-4 tahun bergerak pada hal-hal yang nyata dan memecahkan masalah.

7. Perkembangan Kemampuan Bahasa Usia 6-7-8 tahun

Pada usia 7-8 tahun kemampuan bahasa anak, khususnya yang berkaitan dengan penerapan aturan tata bahasa sudah sejajar dengan kemampuan orang dewasa.

Pada usia ini, anak telah mampu berkomunikasi dengan baik, dan mampu mengungkapkan apa yang mereka lakukan, yang akan mereka lakukan, keberhasilan yang mungkin mereka capai, serta kendala-kendala yang mungkin mereka temui.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan perkembangan bahasa anak  melalui tujuh tahapan. Tahapan pertama, anak mulai ingin bicara tapi belum bisa mengeluarkan kata- kata masih mengeluarkan suara meraban.

Bahasa meraba pada bayi adalah mengeluarkan suara sebagai latihan persiapan berbicara. Selanjutnya pada tahapan kedua, anak mulai bisa mengucapkan kosakata yang sering didengarnya dan mudah diingat seperti mama, papa,ibu, ayah, kakak dan yang lainnya tapi belum diucapkan secara jelas.

Pada usia 1- 2 tahun merupakan tahapan yang ketiga, dimana kosakata anak akan terus bertambah dan anak akan berusaha merangkai setiap kata menjadi bahasa yang baik untuk diucapkan anak dan didengar oleh orang lain.

E. Faktor Penyebab Perolehan Bahasa Kotor (jorok) Pada Anak Usia Dini

Kenapa anak-anak sekarang ini sering mengunakan kata kasar ? Penyebabnya penggunaan kata kasar pada anak usia dini akan dijelaskan di bawah ini :

1. Keluarga dan lingkungannya 

Karena secara tidak langsung anak-anak menikmati reaksi orang-orang disekitarnya dan mencontohnya, seperti ia ditertawakan seolah-olah itu lucu dan menghibur, atau diperhatikan dengan rasa kaget dan ingin tahu dengan lingkungannya. 

2. Teman sekolah 

Anak berkata kasar atau jorok bisa juga terpengaruh temannya di sekolah, sekedar iseng, atau saat ia merasa marah dan mengetahui bahwa kata tadi bisa memancing kekesalan orang lain.

3. Keinginan mendapatkan perhatian 

Begitu anak melontarkan kata kotor, anak segera mendapatkan perhatian dari orang tua maupun orang dewasa lainnya, sekalian perhatian itu berbentuk teguran atau amarah.

4. Ada kesenangan yang diperoleh dari mengejutkan orang lain

Perasaan senang yang dialami anak saat berhasil mengejutkan orang lain. Ketika anak bisa membuat orang dewasa shock, seketika ia merasa mengungguli orang dewasa tersebut.

Anak-anak mungkin menggunakan kata-kata kotor itu untuk mengekspresikan perasaan marah, kesal, atau kecewa pada orang lain

5. Keinginan untuk memberontak 

Anak mempunyai suatu perasaan bermusuhan terhadap orang dewasa. Selama ini mungkin ia mungkin merasa terlalu ditekan, batasi, atau mungkin juga merasa diperlakukan kasar, akibatnya ia menjadi berkeinginan untuk memberontak dan agresif melawan orang dewasa. 

6. Keinginan diterima teman sebayanya 

Beberapa anak mengira bahwa anak dengan berbicara kotor, ia akan dipandang gaul, berani atau macho oleh teman- temannya.

7. Bisa juga anak belajar bahasa baru dan anak sering mendengar orang tuanya mengucapkan itu atau melakukan itu tanpa mengetahui artinya

Disamping faktor diatas itu juga yang menyebabkan anak memperoleh kata kotor yaitu sebagai berikut :

a. Televisi 

Maksud dari televisi ini tentu hanya program-program yang tidak pantas di tonton oleh anak, seperti sinetron yang mungkin mengandung adegan kekerasan dan ucapan-ucapan yang tidak baik. Adegan bermesraan yang belum pantas untuk diketahui oleh seorang anak. Film kartun yang banyak mengeluarkan kata-kata kasar karena ceritanya tentang perang atau lain-lain.

b. Memarahi anak dengan kata kasar 

Kita terkadang kita tidak menyadari saking jengkel atau kesalnya kita pada anak,  kita tidak sadar memarahi dia dengan kata-kata kasar dan hal ini harus kita hindari karena berdampak tidak baik pada anak, kita cari cara lain untuk marah. Misalnya dengan menasehati bahwa perbuatan seperti itu tidak benar dan kita tunjukan hal yang benar pada anak.

c. Bertengkar dihadapan anak 

Hal ini sangat penting sekali untuk dihindari, jangan kita bertengkar dengan siapapun di depan anak apalagi sampai mengatakan kata-kata yang tidak baik, karena anak akan sangat cepat meniru dan mungkin anak akan melihat kita sebagai sosok pemarah. 

d. Memperdengarkan lagu-lagu tentang kekerasan

Faktor ini perlu juga untuk kita hindari, misal seorang ayah suka dengar lagu-lagu yang ada kata-kata kasarnya, maka kita sebagai orang terdekat wajib mengingatkan. Kalau mau mendengarkan lagu tentang kritik pada pemerintah atau yang lain jangan sampai di dengar anak-anak.

e. Memperdengarkan lagu-lagu tentang cinta

Fenomena ini sering terjadi banyak sekarang anak-anak SD bahkan TK yang sudah mengetahui pacaran. Ini sungguh sangat di sayangkan. Mungkin juga hal ini terjadi karena pengaruh dari lagu-lagu cinta yang sering anak dengar atau tontonan.

Kita tentu tidak ingin generasi kita menjadi generasi yang rusak. Jadi tugas kita sering-seringlah memperdengarkan lagu anak-anak yang mengandung contoh yang baik untuk mereka.

F. Pengaruh Perolehan Kata Kotor Terhadap Perkembangan Bahasa Anak Usia Dini 

Disini penulis menemukan bahwa pengaruh perolehan bahasa kotor (jorok) terhadap perkembangan bahasa anak usia dini sangat mempengaruhi pertumbuhan atau kematangan kata-katanya.

Dimana kata-kata negatif yang seharusnya belum pantas didapatkannya, kini telah menjadi hal yang biasa-biasa saja. Adapun pengaruh perolehan bahasa kotor (jorok) terhadap perkembangan bahasa anak usia dini  yaitu sebagai berikut: 

  • 1. Anak akan berani berkata kasar (jorok/kotor) kepada orang yang lebih dewasa darinya.
  • 2. Anak akan menganggap kata-katanya tersebut sebagai sesuatu hal yang biasa.

G. Langkah- langkah Untuk Mengatasi Anak yang Berkata Kotor (jorok)  

1. Mengajarkan ekspresi emosi yang lebih tepat 

Bila anak mengeluarkan kata-kata kotor tiap kali ia marah, ajarkan cara mengekspresikan emosi yang lebih baik, misalnya dengan berbicara asertif, yaitu menyampaikan kepada orang lain tentang ketidaksetujuan kita terhadap perilakunya yang membuat kita merasa tidak nyaman.

Anak yang masih kecil biasanya kesulitan untuk merumuskan bagaimana perasaannya, padahal mengenali perasaan beserta penyebab timbulnya perasaan merupakan langkah untuk bisa mengelola emosi secara baik.

Oleh karena itu, ketika melihat anak sedang diluapi perasaan marah atau frustrasi, orangtua bisa membantu membacakan perasaannya dan menjelaskan sebab timbulnya perasaan tersebut.

Misalnya saja saat anak marah karena diejek teman, orangtua bisa berkata, “Alvin, kamu jengkel sekali ya, karena si Robert mengejek caramu menyanyi di depan kelas. Kamu bisa bilang padanya bahwa kamu jengkel ditertawakan terus, dan minta supaya ia tidak lagi mengungkit hal itu.” 

2. Mengabaikan anak jika kata kotor yang diucapkan jika hanya untuk mencari perhatian

Mengabaikan dilakukan dengan pura-pura tidak mendengar anak atau tidak menunjukkan ekspresi terkejut saat mendengar kata-kata kotor anak. Jadi, saat anak mengeluarkan kata-kata kotor, orangtua tidak perlu memelototi anak, berteriak, atau memukul anak, melainkan cukup mengalihkan pandangan ke arah lain atau kembali menggeluti aktivitas/kesibukan yang sedang dikerjakan.

3. Berpura-pura bodoh 

Cara seperti ini terdengarnya memang aneh, tapi kadang justru jadi cara yang ampuh. Saat anak mengeluarkan kata-kata kotor, orangtua bertanya dengan lagak bodoh, “Eh, kata apa yang kamu bilang tadi? Apa artinya itu? Mama nggak ngerti.

Coba kasih tahu mama.” Dengan bersandiwara pura-pura tidak mengenal kata yang digunakan anak, anak justru jadi merasa bingung, sehingga di lain waktu, ia akan menjadi malas menggunakan kata-kata itu. 

4. Menyatakan ketidaksetujuan 

Beri tahu anak bahwa kata-kata yang buruk bisa mencerminkan bahwa orang yang mengatakannya adalah orang yang tidak sopan, atau tidak tahu aturan, sehingga jika ia menggunakannya, orang lain bisa mengira dia anak yang tidak sopan.

Bisa juga mengatakan kepada anak, “Teman-temanmu mungkin pakai kata-kata itu, tapi kita tidak,” atau “Mama tidak pernah marahi kamu pakai kata-kata itu, jadi mama juga tidak mau kalau kamu pakai kata-kata itu untuk marah.” 

PENUTUP

A. Kesimpulan 

Bahasa kotor adalah bahasa yang tidak pantas bagi norma yang berlaku. Faktor yang menyebabkan anak mengunakan bahasa kotor dalam kehidupan sehari- hari yang pertama dari keluarga dan selanjutnya dari lingkungan sosial anak.

Adapun cara mengatasi anak yang suka berbahasa jorok, yaitu sebagai berikut : 

  • Perhatikan kapan anak mengunakan bahasa kotor
  • Saat anak mengunakan bahasa kotor tanyakan pada anak darimana mendapatkan bahasa kotor itu
  • 3Berikan pengertian pada anak bahwa bahasa itu tidak baik diucapkan, kenalkan pada anak dampak yang akan terjadi
  • Berikan kepercayaan pada anak untuk mengeksplor, untuk mengetahui hal baru
  • Biarkan anak berinteraksi dengan lingkungan sosialnya secara mandiri.

B. Saran 

Harapan dari penulis, semoga kita sebagai orang dewasa bisa membimbing anak untuk tidak mengunakan bahasa kotor dalam berbicara di kehidupan sehari-hari.

DAFTAR RUJUKAN 

  • Eha Yaniarti. 2011. Pengaruh Pola Asuh Terhadap Perkembangan Bahasa.
  • http://ehayuniartikusniadi.wordress.com/PENGARUHASUHTERHADAPPERKEMBANGANBAHASA
  • Sugono, Dendy. 2009. Mahir Berbahasa Indonesia Dengan Benar. Jakarta: PT Gramadia    Pustaka Utama
  • http://adisastrajaya.blogspot.com/2012/06/makalah-pengaruh-bahasa-kotor-jorok.html?m=1
  • Samsunuwiyati  Marat. Psikologi Perkembangan. Bandung : Pt Remaja Rosdakarya
  • Sarlinto W. Sarwono. 2009. Pengantar Psikologi Umum. Depok :PT Rajagrafindo Persada
Komentar