Pengaruh Stunting Terhadap Perkembangan Intelegensi Pada Anak Usia Dini

Pengaruh Stunting Terhadap Perkembangan Intelegensi Pada Anak Usia Dini

Covesia.com - Anak usia dini adalah anak yang berada pada rentan usia 0-6 tahun (Undang-undang Sisdiknas tahun 2003) dan 0-8 tahun menurut para pakar pendidikan anak.

Sedangkan menurut Mansur (2005:88) anak usia dini adalah anak yang berada dalam proses pertumbuhan dan perkembangan yang bersifat unik. Mereka memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan yang khusus sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangannya.

Kecerdasan bagi anak usia dini memiliki manfaat yang besar bagi dirinya sendiri dan bagi perkembangan sosialnya karena tingkat kecerdasan anak yang berkembang dengan baik akan memudahkan anak bergaul dengan orang lain serta mampu menciptakan hal-hal yang baru.

Pengembangan kecerdasan manusia hendaknya dilakukan sejak anak usia dini. Pada anak usia dini sekitar lima tahun merupakan masa keemasan (golden age) yang perkembangan kecerdasannya mencapai 50% kapasitas kecerdasan orang dewasa.

Perkembangan merupakan suatu perubahan yang berlangsung seumur usia dini meliputi perkembangan fisik, bahasa, kognitif dan sosial emosionalnya. Hidup dengan bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang lebih sempurna dan kompleks dalam kemampuan bergerak. 

Intelegensi didefenisikan sebagai kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan atau belajar dari pengalaman, dimana manusia hidup dan berinteraksi didalam lingkungannya yang kompleks sehingga memerlukan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Menurut M Dalyono (2004:124) intelegensi adalah kemampuan yang bersifat untuk mengadakan penyesuaian terhadap sesuatu situasi atau masalah yang meliputi berbagai jenis kemampuan psikis seperti: abstrak, berpikir mekanis, matematis, memahami, mengingat, berbahasa dan sebagainya.

Jadi dapat dijelaskan bahwa perkembangan intelegensi adalah suatu perubahan yang terjadi pada anak usia dini yang mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan atau belajar dari pengalaman, dimana manusia hidup dan berinteraksi didalam lingkungannya yang kompleks sehingga memerlukan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Stunting merupakan permasalahan yang semakin banyak ditemukan di negara berkembang, termasuk Indonesia. Menurut United Nations International Children’s Emergency Fund (UNICEF) satu dari tiga anak mengalami stunting. Sekitar 40% anak di daerah pedesaan mengalami pertumbuhanyang terhambat.

Oleh sebab itu, UNICEF mendukung sejumlah inisiasi untuk menciptakan lingkungan nasional yang kondusif untuk gizi melalui peluncuranGerakan Sadar Gizi Nasional (Scaling Up Nutrition-SUN) di mana program ini mencakup pencegahan stunting.

Stunting merupakan masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi (Fitrah, 2013).

Menurut World Health Organization (WHO) tahun 2010, prevalensi stunting dikatakan tinggi apabila mencapai 30%-39% dan dikatakan sangat tinggi jika prevalensinya mencapai ≥ 40%. Prevalensi anak stunting di Indonesia termasuk dalam kategori tinggi karena berdasarkan Riskesdas tahun 2013, secara nasional prevalensi stunting adalah 30,7%.

Prevalensi stunting meningkat secara nasional dalam tiga tahun 2010-2013 sebanyak 1,6%. Angka prevalensi tersebut masih lebih tinggi dibandingkan angka prevalensi gizi kurang dan buruk (17,9%), kekurusan (13,3%) serta kegemukan (14%) (Riskesdas, 2013).

Kejadian balita stunting (pendek) merupakan masalah gizi utama yang dihadapi Indonesia. Berdasarkan data Pemantauan Status Gizi (PSG) selama tiga tahun terakhir, pendek memiliki prevalensi tertinggi dibandingkan dengan masalah gizi lainnya seperti gizi kurang, kurus dan gemuk. Prevalensi balita pendek mengalami peningkatan tahun tahun 2016  yaitu 27,5% menjadi 29,6% pada tahun 2017.

Prevalensi balita pendek di Indonesia cenderung statis. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 menunjukkan prevalensi balita pendek di Indonesia sebesar 36,8%. Pada tahun 2010, terjadi sedikit penurunan menjadi 35,6%.

Namun prevalensi balita pendek kembali meningkat pada tahun 2013 yaitu menjadi 37,2%. Prevalensi balita pendek selanjutnya akan diperoleh dari hasil Riskesdas tahun 2018 yang juga menjadi ukuran keberhasilan program yang sudah diupayakan oleh pemerintah.

Jadi dapat dijelaskan bahwa Indonesia termasuk negara yang memiliki tingkat prevalensi stunting yang sangat tinggi. Sehingga sangat diperlukan penanganan yang serius terhadap permasalahan ini. Karena hal ini berkaitan dengan generasi-generasi bangsa indonesia ke depannya.

Masalah 

  • Apa itu anak usia dini dan perkembangan intelegensi anak usia dini?
  • Apa yang dimaksud dengan stunting ?
  • Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya stunting ?
  • Bagaimana pengaruh stunting pada anak usia dini terhadap perkembangan intelegensi?
  • Bagaimana cara mencegah pengaruh stunting pada anak usia dini terhadap perkembangan intelegensi?

Tujuan Penulisan

Berdasarkan rumusan masalah di atas dapat penulis ambil tujuan penulisannya yaitu:

  • Untuk mengetahui anak usia dini dan perkembangan intelegensi anak usia dini
  • Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan stunting
  • Dapat mengetahui apa saja faktor yang menyebabkan terjadinya stunting
  • Dapat mengetahui pengaruh stunting pada anak usia dini terhadap perkembangan intelegensi
  • Untuk mengetahui cara mencegah pengaruh stunting pada anak usia dini terhadap perkembangan intelegensi

PEMBAHASAN

A. Pengertian Anak Usia Dini

Anak usia dini ialah anak yang berumur 0-6 tahun yang memiliki pertumbuhan dan perkembangan yang lebih pesat dan fundamentl pada awal-awal tahun kehidupannya. Dimana perkembangan menunjukkan pada suatu proses ke arah yang lebih sempurna dan tidak begitu saja dapat diulang kembali.

Anak usia dini adalah anak yang berada pada rentan usia 0-6 tahun (Undang-Undang Sisdiknas tahun 2003) dan 0-8 tahun menurut para pakar pendidikan anak. Sedangkan menurut Mansur (2005:88) anak usia dini adalah anak yang berada dalam proses pertumbuhan dan perkembangan yang bersifat unik.

Mereka memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan yang khusus sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangannya.

Pada masa ini merupakan masa emas atau golden age, karena anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat dan tidak tergantikan pada masa mendatang.

Menurut berbagai penelitian di bidang neurologi terbukti bahwa 50% kecerdasan anak terbentuk dalam kurun waktu 4 tahun pertama. Setelah anak berusia 8 tahun perkembangan otaknya mencapai 80% dan pada anak usia 18 tahun mencapai 100% (Slamet Susanto, 2005:6).

B. Perkembangan Intelegensi Anak Usia Dini

Perkembangan merupakan suatu perubahan yang berlangsung seumur usia dini meliputi perkembangan fisik, bahasa, kognitif dan sosial emosionalnya. Hidup dengan bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang lebih sempurna dan kompleks dalam kemampuan bergerak. 

Intelegensi didefenisikan sebagai kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan atau belajar dari pengalaman, dimana manusia hidup dan berinteraksi didalam lingkungannya yang kompleks sehingga memerlukan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Menurut M Dalyono (2004:124) intelegensi adalah kemampuan yang bersifat untuk mengadakan pemnyesuaian terhadap sesuatu situasi atau masalah yang meliputi berbagai jenis kemampuan psikis seperti: abstrak, berpikir mekanis, matematis, memahami, mengingat, berbahasa dan sebagainya.

Perkembangan intelegensi adalah suatu perubahan yang terjadi pada anak usia dini yang mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan atau belajar dari pengalaman, dimana manusia hidup dan berinteraksi didalam lingkungannya yang kompleks sehingga memerlukan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Berdasarkan pengertian diatas, ada berbagai macam bentuk perkembangan intelegensi yaitu:

  • Perkembangan motorik
  • Perkembangan kognitif
  • Perkembangan linguistik 
  • Perkembangan sosial dan moral

C. Pengertian Stunting

Stunting adalah masalah gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu lama, umumnya karena asupan makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Stunting umumnya terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru terlihat saat anak berusia dua tahun. 

Stunting atau pendek, merupakan suatu retardasi pertumbuhan linier telah digunakan sebagai indikator secara luas untuk   mengukur   status    gizi individu maupun kelompok masyarakat.    Pendek sering dipakai sebagai terjemahan stunting.   

Memang terjemahan ini benar adanya, tetapi terdapat suatu unsur  atau  elemen  maupun nuansa  yang  tidak tercakup  dalam  pengertian pendek.  Dengan kata lain  stunting  tidak  sekedar  pendek  saja,   tetapi terkandung adanya  proses  perubahan  patologis, jadi tidak sernata-mata pendek atau shortnes saja.

Stunting (kerdil) adalah kondisi dimana balita memiliki panjang atau tinggi badan yang kurang jika dibandingkan dengan umur. Kondisi ini dengan panjang atau tinggi badan yang lebih dari minus dua standar deviasi median standar pertumbuhan anak dari WHO.

Balita stunting termasuk masalah gizi kronis yang disebabkan oleh banyak faktor seperti kondisi sosial ekonomi, gisi ibu saat hamil, kesakitan pada bayi dan kurangnya asupan gizi pada bayi. Balita stunting dimasa yang akan datang akan mengalami kesulitan dalam mencapai perkembangan fisik dan kognitif yang optimal. 

Stunting  dapat  diketahui  bila  seorang  balita  sudah  ditimbang  berat badannya dan diukur panjang atau tinggi badannya, lalu dibandingkan dengan standar, dan hasilnya berada dibawah normal. Jadi secara fisik balita akan lebih pendek dibandingkan balita seumurnya. Penghitungan ini menggunakan standar Z score dari WHO.

Stunting adalah masalah gizi utama yang akan berdampak pada kehidupan sosial dan ekonomi dalam masyarakat. Ada bukti jelas bahwa individu yang stunting memiliki tingkat kematian lebih tinggi dari berbagai penyebab dan terjadinya peningkatan penyakit.

Stunting akan mempengaruhi kinerja  pekerjaan  fisik  dan  fungsi  mental  dan  intelektual  akan  terganggu (Mann dan Truswell, 2002). Hal ini juga didukung oleh Jackson dan Calder (2004) yang menyatakan bahwa stunting berhubungan dengan gangguan fungsi kekebalan dan meningkatkan risiko kematian.

Di Indonesia, diperkirakan 7,8 juta anak mengalami stunting, data ini berdasarkan laporan yang dikeluarkan oleh UNICEF dan memposisikan Indonesia masuk ke dalam 5 besar negara dengan jumlah anak yang mengalami stunting tinggi (UNICEF, 2007).

Hasil Riskesdas 2010, secara nasional prevalensi kependekan pada anak umur  2-5 tahun  di Indonesia adalah 35,6 % yang terdiri dari 15,1 % sangat pendek dan 20 % pendek.

Tanda-tanda anak mengalami stunting yaitu, sebagai berikut:

  • Anak berbadan lebih pendek untuk anak seusianya.
  • Proporsi tubuh anak cenderung normal tetapi anak tampak lebih muda/kecil untuk usianya.
  • Berat badan rendah untuk anak seusianya.
  • Pertumbuhan tulang tertunda.

Jadi dapat disimpulkan bahwa stunting ini merupakan suatu masalah gizi yang melanda anak mulai dari dalam kandungan sampai pada anak sudah dilahirkan. Stunting yang biasanya banyak terjadi di negara berkembang termasuk Indonesia. Faktor utama terjadinya stunting ini yaitu  kurang asupan gizi dari makanan yang dicerna oleh sang ibu ketika mengandung.

D. Faktor Penyebab Stunting

Faktor-faktor terjadinya stunting pada anak usia dini atau balita disebabkan beberapa hal yaitu:

1. Situasi ibu dan calon ibu

Kondisi kesehatan dan gizi ibu sebelum dan saat kehamilan serta setelah persalinan mempenganruhi pertumbuhan janin dan risiko terjadinya stunting. Faktor lainnya pada ibu yang mempengaruhi adalah postur tubuh ibu (pendek), jarak kehamilan yang terlalu dekat, ibu yang masih remaja, serta asupan nutrisi yang kurang pada saat kehamilan.

Menurut Peraturan  Menteri Kesehatan  Nomor 97  Tahun 2014  tentang Pelayanan Kesehatan Masa sebelum Hamil, Masa Hamil, Persalinan, dan Masa sesudah Melahirkan, Penyelenggaraan Pelayanan Kontrasepsi, serta Pelayanan Kesehatan Seksual, faktor-faktor yang memperberat keadaan ibu  hamil  adalah terlalu muda, terlalu tua, terlalu sering melahirkan, dan terlalu dekat jarak  kelahiran.

Usia  kehamilan ibu  yang terlalu muda (di bawah 20 tahun) berisiko melahirkan bayi  dengan berat lahir  rendah (BBLR). Bayi  BBLR mempengaruhi sekitar 20%  dari  terjadinya stunting

Kondisi  ibu  sebelum masa kehamilan baik  postur tubuh (berat badan dan tinggi badan) dan gizi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya stunting. Remaja putri sebagai calon ibu di masa depan seharusnya memiliki status gizi yang baik. 

Pada tahun 2017, persentase remaja putri dengan kondisi pendek dan sangat pendek meningkat dari tahun sebelumnya, yaitu7,9% sangat pendek dan 27,6%  pendek.

2. Situasi bayi dan balita

Nutrisi  yang diperoleh sejak bayi  lahir tentunya sangat berpengaruh terhadap pertumbuhannya termasuk risiko  terjadinya stunting. Tidak  terlaksananya inisiasi  menyusu dini  (IMD), gagalnya pemberian air  susu ibu  (ASI) eksklusif, dan proses  penyapihan dini  dapat menjadi salah satu faktor terjadinya stunting.

Sedangkan dari  sisi pemberian makanan pendamping ASI (MP ASI) hal yang perlu diperhatikan adalah kuantitas, kualitas, dan keamanan pangan yang diberikan.

Pada tahun 2017,  secara nasional persentase  bayi   baru lahir  yang mendapat IMD sebesar 73,06%, artinya mayoritas bayi  baru lahir  di Indonesia sudah mendapat inisiasi  menyusu  dini.

Provinsi dengan persentase tertinggi bayi  baru lahir  mendapat IMD adalah Aceh (97,31%)  dan provinsi dengan persentase terendah adalah Papua (15%). Ada  12 provinsi yang masih di bawah angka nasional sedangkan Provinsi Papua Barat belum mengumpulkan data.

Asupan zat   gizi  pada balita sangat penting dalam mendukung pertumbuhan sesuai dengan grafik pertumbuhannya agar tidak terjadi gagal tumbuh (growth faltering) yang dapat menye- babkan stunting.

Pada tahun 2017, 43,2%  balita di Indonesia mengalami defisit energi dan 28,5% mengalami defisit ringan. Untuk kecukupan protein, 31,9% balita mengalami defisit protein dan 14,5% mengalami defisit ringan.

Untuk memenuhi kecukupan gizi  pada balita, telah ditetapkan program pemberian makanan tambahan (PMT) khususnya untuk balita kurus berupa PMT lokal  maupun PMT pabrikan yaitu biskuit MT balita. Jika  berat badan telah sesuai dengan perhitungan berat badan menurut tinggi badan, maka MT balita kurus dapat  dihentikan dan dilanjutkan dengan makanan keluarga gizi seimbang.

3. Situasi sosial ekonomi dan lingkungan

Kondisi  sosial ekonomi dan sanitasi tempat tinggal juga  berkaitan dengan terjadinya stunting. Kondisi  ekonomi erat kaitannya dengan kemampuan dalam memenuhi asupan yang bergizi dan pelayanan kesehatan  untuk ibu  hamil dan balita. Sedangkan sanitasi dan keamanan pangan dapat meningkatkan risiko  terjadinya penyakit infeksi.

Berdasarkan data Joint Child  Malnutrition Estimates tahun 2018,  negara dengan pendapatan menengah ke  atas mampu menurunkan angka stunting hingga 64%,  sedangkan pada negara menengah ke bawah hanya menurunkan sekitar 24% dari  tahun 2000 hingga 2017. Pada negara dengan pendapatan rendah justru mengalami peningkatan pada tahun 2017.

Penyakit infeksi   yang disebabkan  oleh higiene dan sanitasi yang buruk (misalnya diare dan kecacingan) dapat menganggu penyerapan nutrisi pada proses pencernaan. Beberapa penyakit infeksi  yang diderita bayi dapat menyebabkan berat badan bayi  turun.

Jika  kondisi ini terjadi dalam waktu yang cukup lama dan tidak disertai dengan pemberian asupan yang cukup untuk proses penyembuhan maka dapat mengakibatkan stunting.

Pada tahun 2017, 72,04% rumah tangga di Indonesia memiliki akses terhadap sumber air minum layak. Provinsi dengan persentase tertinggi adalah Bali (90,85%), sedangkan persentase terendah adalah  Bengkulu (43,83%).

Masih  terdapat  20 provinsi yang di  bawah persentase  nasional. Sumber air minum layak yang dimaksud adalah air minum yang terlindung meliputi air ledeng (keran), keran umum, hydrant umum, terminal air, penampungan air hujan (PAH) atau mata air dan sumur terlindung, sumur bor atau pompa, yang jaraknya minimal  10 meter dari  pembuangan kotoran, penampungan limbah, dan pembuangan sampah. Tidak  termasuk air kemasan, air dari penjual keliling,  air yang dijual melalui tangki, air sumur dan mata air tidak terlindung.

Rumah tangga yang memiliki sanitasi layak menurut Susenas adalah apabila fasilitas sanitasi yang digunakan memenuhi syarat kesehatan, antara lain dilengkapi dengan jenis  kloset leher angsa atau plengsengan dengan tutup dan memiliki  tempat pembuangan akhir  tinja  tangki (septic tank) atau Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL), dan merupakan fasilitas buang air  besar yang digunakan sendiri atau bersama.

Persentase rumah tangga yang memiliki  akses sanitasi layak di Indonesia tahun 2017  adalah 67,89%. Provinsi dengan persentase tertinggi adalah DKI Jakarta (91,13%), sedangkan persentase terendah adalah Papua (33,06%).

E. Pengaruh Stunting Pada Anak Usia Dini Terhadap Perkembangan Intelegensi

Indonesia masih memiliki masalah gizi pada anak. Balita dan bayi pendek (stunting) masih menjadi pekerjaan rumah. Bayi stunting dibawah usia 2 tahun pertumbuhan tubuhnya tidak normal seperti bayi pada umumnya. “masa pertumbuhan balita kita juga melihat fenomena bayi pendek (stunting).

Bayi pendek itu beda dengan manusia pendek. Pada saat dia lahir pada pertambahan waktu dan usia dia harusnya ada pertumbuhan yang baik “ kata pakar Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor (IPB) Nur Mahmudi Ismail.

Berdasarkan fenomena yang terjadi di Indonesia diatas dapat diambil intisarinya yaitu masih sangat tinggi angka stunting yang mempengaruhi pertumbuhan anak balita dibawah usia 2 tahun. Dengan hal tersebut stunting akan mempengaruhi kecerdasan anak.

Stunting ini biasanya terjadi disebabkan kurangnya asupan nutrisi berkepanjangan saat balita dibawah 5 tahun. Kondisi ini menyebabkan kondisi otak anak akan terganggu dalam pertumbuhannya atau pertumbuhan tidak sempurna. “Disebabkan kurangnya nutrisi berkepanjangan dan perhatian. Kualitas IQ dan EQ akan menurun”

Selain pernyataan diatas stunting juga mengakibatkan otak seorang kurang berkembang. Dengan demikian anak bisa kehilangan kesempatan atau peluang lebih baik dalam hal pendidikan. Anak-aank yang lahir dengan ketimpangan tersebut akan mengalami sulit mengalami ketimpangan di masa depannya.

Stunting berdampak pada tingkat kecerdasan, kerentanan terhadap penyakit, menurunkan produktifitas dan kemudian menghambat pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kemiskinan dan ketimpangan.

Menurut World Health Organization (WHO) dampak yang ditimbulkan stunting dapat dibagi menjadi dampak jangka pendek dan dampak jangka panjang.

1. Dampak jangka pendek

  • Peningkatan kejadian kesakitan dan kematian
  • Perkembangan kognitif, motorik, dan verbal pada anak tidak optimal
  • Peningkatan biaya kesehatan

2. Dampak jangka panjang

  • Postur tubuh yang tidak optimal saat dewasa (lebih pendek dibandingkan pada umumnya)
  • Meningkatnya risiko  obesitas dan penyakit lainnya
  • Menurunnya kesehatan reproduksi
  • Kapasitas belajar dan performa yang kurang optimal saat masa sekolah
  • Produktivitas dan kapasitas kerja yang tidak optimal

F. Cara Mencegah Pengaruh Stunting Pada Anak Usia Dini Terhadap Perkembangan Intelegensi

Stunting merupakan salah satu target Sustainable Development Goals (SDGs)  yang termasuk pada tujuan pembangunan berkelanjutan ke-2 yaitu menghilangkan kelaparan dan segala bentuk malnutrisi pada tahun 2030 serta mencapai ketahanan pangan. Target yang ditetapkan adalah menurunkan angka stunting hingga 40%  pada tahun 2025.

Untuk mewujudkan hal tersebut, pemerintah menetapkan stunting sebagai salah satu program prioritas. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 39  Tahun 2016  tentang Pedoman Penyelenggaraan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga, upaya yang dilakukan untuk menurunkan prevalensi stunting di antaranya sebagai berikut:

1. Ibu Hamil dan Bersalin

  • Intervensi pada 1.000 hari  pertama kehidupan
  • Mengupayakan jaminan mutu ante natal care (ANC) terpadu
  • Meningkatkan persalinan di fasilitas kesehatan
  • Menyelenggarakan program pemberian makanan tinggi kalori,  protein, dan mikronutrien (TKPM)
  • Deteksi dini penyakit (menular dan tidak menular)
  • Pemberantasan cacingan
  • Meningkatkan transformasi Kartu  Menuju Sehat (KMS) ke dalam Buku  KIA
  • Menyelenggarakan konseling Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan ASI eksklusif; dan i. Penyuluhan dan pelayanan KB

2. Balita

  • Pemantauan pertumbuhan balita
  • Menyelenggarakan kegiatan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk balita
  • Menyelenggarakan stimulasi dini perkembangan anak
  • Memberikan pelayanan kesehatan yang optimal

3. Anak Usia Sekolah

  • Melakukan revitalisasi usaha kesehatan sekolah (UKS)
  • Menguatkan kelembagaan tim pembina UKS
  • Menyelenggarakan Program Gizi Anak Sekolah (PROGAS)
  • Memberlakukan sekolah sebagai kawasan bebas rokok dan narkoba

4. Remaja 

  • Meningkatkan penyuluhan untuk perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), pola gizi seimbang, tidak merokok, dan tidak mengonsumsi narkoba

5. Dewasa muda

  • Penyuluhan dan pelayanaan keluarga berencana (KB)
  • Deteksi dini penyakit (menular dan tidak menular)
  • Meningkatkan penyuluhan untuk PHBS, pola gizi seimbang, tidak merokok/mengonsumsi narkoba

PENUTUP

A. Kesimpulan 

  1. Anak usia dini adalah anak yang berada pada rentan usia 0-6 tahun (Undang-Undang Sisdiknas tahun 2003) dan 0-8 tahun menurut para pakar pendidikan anak. Sedangkan menurut Mansur (2005:88) anak usia dini adalah anak yang berada dalam proses pertumbuhan dan perkembangan yang bersifat unik. Mereka memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan yang khusus sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangannya.
  2. Perkembangan intelegensi adalah suatu perubahan yang terjadi pada anak usia dini yang mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan atau belajar dari pengalaman, dimana manusia hidup dan berinteraksi didalam lingkungannya yang kompleks sehingga memerlukan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan.
  3. Stunting (kerdil) adalah kondisi dimana balita memiliki panjang atau tinggi badan yang kurang jika dibandingkan dengan umur. Kondisi ini dengan panjang atau tinggi badan yang lebih dari minus dua standar deviasi median standar pertumbuhan anak dari WHO. Balita stunting termasuk masalah gizi kronis yang disebabkan oleh banyak faktor seperti kondisi sosial ekonomi, gisi ibu saat hamil, kesakitan pada bayi dan kurangnya asupan gizi pada bayi. Balita stunting dimasa yang akan datang akan mengalami kesulitan dalam mencapai perkembangan fisik dan kognitif yang optimal. 
  4. Faktor-faktor penyebab stunting pada anak usia dini atau balita diantaranya, situasi ibu dan calon ibu, situasi bayi dan balita, serta situasi sosial ekonomi dan lingkungan.
  5. Menurut World Health Organization (WHO) dampak yang ditimbulkan stunting dapat dibagi menjadi dampak jangka pendek dan dampak jangka panjang.
  6. Cara mencegah pengaruh stunting pada anak usia dini atau balita yaitu dengan program Indonesia sehat dengan pendekatan keluarga yang mana bertujuan untuk menurunkan prevalensi angka stunting yang terjadi.

B. Saran 

Dari pembahasan dan kesimpulan diatas maka ada beberapa saran yang bemanfaat bagi:

  • Pembaca, semoga dengan pemaparan ini dapat memberi pemahaman tambahan sehingga tertarik untuk melakukan suatu tindakan yang mana bisa menurunkan angka prevalensi stunting di Indonesia,
  • Orang tua, semoga dengan membaca dan memahami makalah ini dapat meningkatkan kesadaran orang tua maupun calon orang tua untuk meningkatkan kesehatan dan memenuhi keseimbangan gizi baik untuk dirinya maupun untuk anak-anak.

 DAFTAR RUJUKAN

  • Dalyono, M. 2004. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta
  • Ernawati, Fitrah. (2013). Pengaruh Asupan Protein Ibu Hamil dan Panjang Badan bayi Lahir Terhadap Kejadian Stunting Pada Anak Usia 12 bulan di kabupaten Bogor (Effect of The Pregnant Women’s Protein Intake and Their Baby Length an Birth To Incidence of Stunting Among Children Aged 12 Months In Bogor District). Jurnal Penelitian Gizi dan makanan. 36 (1), 1-11
  • Imtihanatun, N. (2014). Faktor Risiko Panjang lahir Bayi Pendek di Ruang Bersalin RSUD patut Patuh Patju Kabupaten Lombok Barat. Jurnal Media Bina Ilmiah. 8(1), 66-76.
  • Kementerian Kesehatan RI. 2013. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 75 Tahun 2013 tentang Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan bagi Bangsa Indonesia. Jakarta
  • Mansur.2005. Pendidikan Anak Usia Dini dalam Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  • UNICEF. Tracking Progress on Child an Maternal Nutrition: A survival and development priority. New York: UNICEF, 2009
  • WHO.  2014.  WHO  Global  Nutrition Target: Stunting Policy Brief. Geneva. 
  • WHO.  2017.  Stunted Growth and Development. Geneva.
Komentar