Dampak Eksploitasi Melalui Media Sosial Terhadap Perkembangan Sosial Anak Usia Dini

Dampak Eksploitasi Melalui Media Sosial Terhadap Perkembangan Sosial Anak Usia Dini

Covesia.com - Anak usia dini adalah anak yang  masa perkembangannya harus distimulasi. Dalam perkembangannya terdapat beberapa aspek yang perlu diperhatikan, sejak dini.

Salah satunya yaitu aspek  perkembangan sosial emosional. Aspek sosial emosional ini juga erat kaitannya dengan perkembangan fisik, kognitif, bahasa, kreatifitas dan seni serta perkembangan moral dan agama. 

Aspek sosial emosional ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan intellegensi serta psikologis anak. Aspek tersebut harus dikembangkan secara maksimal agar anak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik di tahapan usia selanjutnya.

Aspek sosial  emosional adalah aspek yang sangat menentukan apakah anak dapat berkomunikasi atau berinteraksi dengan baik dengan lingkungan sekitarnya, baik di lingkungan keluarga ataupun diluar keluarganya.

Dalam stimulasinya tentunya harus sering diajak bersosialisasi dan belajar untuk mengenal dirinya baik secara fisik maupun psikologisnya agar potensi yang ada dalam dirinya dapat terkembangkan secara optimal.

Semua potensi yang ada dalam diri anak usia dini tentunya sangat tergantung pada orang tua dalam menstimulasinya. Dalam hal ini tentunya orang tua berusaha memenuhi kebutuhan anaknya. Berbagai cara dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dan hasrat untuk memperoleh kecukupan.

Saat ini fenomena yang terjadi di masyarakat, orang tua bahkan memanfaatkan anak sebagai sumber kesenangan dan sumber keuangan. Hal ini tentunya tidak hanya dilakukan di dunia nyata tapi juga di dunia maya.

Perkembangan  teknologi yang semakin pesat  juga mendukung orang tua untuk melakukan berbagai cara agar kehidupannya berubah. Hal ini tentunya dapat digolongkan kepada tindakan eksploitasi.

Sesuai dengan pengertian eksploitasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yakni eksploitasi adalah pengusahaan, pendayagunaan, atau pemanfaatan untuk keuntungan sendiri. atau pemerasan  tenaga atas  diri orang  lain  merupakan  tindakan yang tidak terpuji.

Eksploitasi anak merupakan perbuatan yang dilarang oleh undang-undang, karena perbuatan ini melanggar hak-hak anak dan memberikan dampak buruk bagi perkembangan anak.

Dalam Pasal 13 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak disebutkan bahwa setiap anak selama dalam pengasuhan orang tua, wali, atau pihak lain manapun yang bertanggung jawab atas pengasuhan, berhak mendapat perlindungan dari perlakuan eksploitasi baik secara ekonomi dan/atau seksual.

Berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) pada tahun 2007, dari keseluruhan anak usia 10-17 tahun terdapat 3,7 juta anak yang bekerja atau sebesar 13,2%, yang kemudian sedikit menurun pada tahun 2008, menjadi 3,5 juta anak(11,9%), dan kembali meningkat pada tahun 2009, menjadi 3,7 juta anak (12,1%).

Pada tahun 2010, persentase anak yang bekerja kembali menurun menjadi 9,0%. Walaupun begitu secara jumlah masih cukup besar, yaitu 3,3 juta anak.

Saat ini eksploitasi tidak hanya dilakukan secara langsung namun dapat dilakukan melalui dunia maya. Media sosial adalah salah satu media yang dapat digunakan untuk melakukan tindakan eksploitasi, dengan tampilan dan fitur yang beragam.

Berbagai jenis media sosial yang seringkali digunakan untuk melakukan eksploitasi ini seperti facebook,twitter,Instagramdsb.Tidak sedikit juga orang mendapatkan penghasilan melalui media ini, mulai dari ratusan, jutaan bahkan milyaran rupiah. Tentunya ha lini sangat menggiurkan bagi orang tua, sehingga mau menjadikan anaknya sebagai alat penghasil uang dari media sosialnya

Dewasa ini, aktivitas daring yang dilakukan oleh khalayak diseluruh penjuru dunia terbilang masif dan intensif. Ada banyak motif dan tujuan yang mendasari khalayak dalam mengakses layanan daring, khususnya media sosial.

Beberapa isu-isu terkini  terkait  penggunaan  media   sosial yang relatif menyita perhatian para akademisi dan peneliti, yaitu  swafoto (selfie), cyberwar, belanja daring, personalisasi diri pengguna, dan budaya share tentunya hal tersebut didasari oleh berbagai tujuan baik positif maupun negative, salah satu tujuannya juga mungkin ada untuk melakukan tindakan eksploitasi. 

Dilatarbelakangi hal tersebutlah, penulis tertarik menyusun makalah yang berjudul “Dampak Eksploitasi Melalui Media Sosial terhadap Perkembangan Sosial Anak Usia Dini”.

Rumusan Masalah

  • Apa pengertian ekploitasi dan media sosial?
  • Bagaimanakah perkembangan social anak usia dini?
  • Apa saja faktor yang menyebabkan eksploitasi anak?
  • Bagaimana solusi atau upaya mengatasi eksploitasi anak melalui media sosial?

Tujuan Penulisan

  • Untuk mengetahui pengertian eksploitasi dan media sosial.
  • Untuk mengetahui konsep perkembangan anak usia dini.
  • Untuk mengetahui faktor penyebab eksploitasi anak
  • Untuk mengetahui solusi atau upaya mengatasi eksploitas anak melalui media sosial.

PEMBAHASAN

A. Pengertian Eksploitasi dan Media Sosial

1. Eksploitasi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia  (KBBI) eksploitasi adalah pengusahaan, pendayagunaan, atau pemanfaatan untuk keuntungan sendiri. atau pemerasan tenaga atas  diri orang  lain  merupakan  tindakan yang tidak terpuji.

Menurut Undang-Undang Republik  Indonesia  Nomor  23 Tahun  2002 pasal 13  ayat  (1) huruf b tentang perlindungan anak menyebutkan tentang perlakuan eksploitasi merupakan tindakan atau perbuatan yang memperalat memanfaatkan, atau memeras anak untuk memperoleh keuntungan pribadi, keluarga, ataupun goIongan.

Menurut pasal 13 UU no.23 tahun 2002 menyatakan setiap anak yang dalam pengasuhan orang  tua  atau   wali,   maupun pihak lain  yang bertanggung jawab atas pengasuhan, berhak mendapat perlindungan dari perlakuan

  • Diskriminasi
  • Penelantaran
  • Kekejaman, kekerasan, dan penganiayaan
  • Eksploitasi, baik ekonomi maupun seksual
  • Ketidakadilan dan
  • Perlakuan salah lainnya

Makna eksploitasi menurut terminologi adalah kecenderungan yang ada pada seseorang untuk menggunakan pribadi lain demi pemuasan kebutuhan orang pertama tanpa memperhatikan kebutuhan pribadi kedua (Kartono, 2001:180).

Dari beberapa pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa  eksploitasi merupakan tindakan pemanfaatan anak untuk kepentingan pribadi maupun golongan.

2. Pengertian Media Sosial

Istilah media sosial tersusun dari dua kata, yakni “media” dan “sosial”. “Media” diarti- kan  sebagai  alat  komunikasi  (Laughey, 2007; McQuail, 2003). Sedangkan kata “sosial” diartikan sebagai kenyataan sosial bahwa setiap individu melakukan aksi yang memberikan kontribusi kepada masyarakat.

Pernyataan ini menegaskan bahwa pada kenyataannya, media dan semua perangkat lunak merupakan “sosial” atau dalam makna bahwa keduanya  merupakan produk dari proses sosial (Durkheim dalam Fuchs,2014).

Dari pengertian masing-masing kata tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa media sosial adalah alat komunikasi yang digunakan oleh pengguna dalam proses sosial. Sedangkan jika digabungkan kedua istilahnya ekslpoitasi anak melalui media sosial dapat diartikan sebagai salah satu bentuk tindakan yang dilakukan oleh orang tua terhadap anak dengan memanfaatkan anak sebagai dan pendayagunaan anak untuk kepentingan pribadi melalui perangkat komunikasi.

Perangkat komunikasi tersebut dapat berupa aplikasi chatting, seperti facebook, WhatsApp dan Instagram. Penggunaan instagram sebagai komunikasi pembelajaran merupakan suatu fenomena baru yang ada didalam penggunaan media sosial, karena biasanya menggunakan cara komunikasi kelompok, komunikasi publik, ataupun komunikasi konteks sejarah dimana pengalaman itu terjadi.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh seorang peneliti, dalam menggunakan instagram informan melakukan personal branding tanpa sadar dengan menata galeri instagramnya sesuai dengan image yang ia ingin tampilkan dan tanpa sadar membangun brand-nya yaitu “ketekogleng”. 

Informan berusaha menampilkan kekhasannya  dengan mengunggah foto-foto yang menunjukkan kemampuan fotografinya dengan aliran landscape, culture dan  human interest.

Dalam kegiatannya melakukan personal branding informan mendapatkan beberapa keuntungan dari instagram,seperti mendapatkan popularitas, dapat bergabung dan pengakuan dari komunitas fotografi, serta keuntungan finansial dari  lomba yang diadakan di instagram.

B. Perkembangan Sosial Anak Usia Dini

Untuk mewujudkan dan mengoptimalkan potensi yang ada, anak usia dini tentunya harus distimulasi dari berbagai aspek. Aspek penting yang harus distimulasi yaitu aspek perkembangan sosial.

Dalam hal ini perkembangan perilaku sosial anak ditandai dengan adanya minat terhadap aktivitas teman-teman dan meningkatkan keinginan yang kuat untuk diterima sebagai anggota suatu kelompok, dan tidak puas bila tidak bersama teman-temannya.

Anak tidak lagi puas bermain sendiri dirumah atau dengan saudara-saudara kandung atau melakukan kegiatan dengan anggota-anggota keluarga anak ingin bersamaan teman-temannya dan akan merasa kesepian serta tidak puas bila tidak bersama teman-temannya.

Ciri-ciri perkembangan sosial anak usia tiga sampai enam tahun menurut Dini Sujiono(2009):

  • Menjadi lebih sadar akan diri sendiri
  • Mengembangkan perasaan rendah hati
  • Menjadi sadar akan rasial dan perbedaan seksual
  • Dapat mengambil arah, mengikuti beberapa aturan
  • Memiliki perasaan yang kuat ke arah rumah dan keluarga
  • Menunjukkan suatu perubahan dalam hal perasaan atau pengertian dari kepercayaan pada diri sendiri
  • Bermain paralel, mulai bermain permainan yang memerlukan kerja sama
  • Menyatakan gagasan yang kaku peran jenis kelamin
  • Memiliki teman baik meskipun untuk jangka waktu yang pendek, sering bertengkar tetapi dalam waktu yang singkat
  • Dapat berbagi dan mengambil giliran,
  • Ikut ambil bagian dalam setiap kegiatan pengalaman di sekolah
  • Mempertimbangkan setiap guru merupakan hal yang sangat penting
  • Ingin menjadi nomor satu
  • Menjadi lebih posesif terhadap barang-barang kepunyaannya

Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan sosial AUD(Hurlock,1995) ialah : faktor lingkungan keluarga, faktor dari luar rumah, dan faktor pengaruh pengalaman sosial.

Dengan demikian dapat dilihat bahwa tugas perkembangan ataupun ciri-ciri perkembangan sosial akan berjalan dengan optimal apabila anak mampu belajar tahapan awal atau dasar sosialisasi dan komunikasi yang baik dan juga didukung oleh lingkungan yang baik.

C. Bentuk-Bentuk Eksploitasi Anak

a. Eksploitasi Fisik

Eksploitasi fisik adalah penyalahgunaan tenaga anak untuk dipekerjakan demi keuntungan orangtuanya atau orang lain seperti menyuruh anak bekerja dan menjuruskan anak pada pekerjaan-pekerjaan yang seharusnya belum dijalaninya (iin-green.web.id/2010/05/08/definisi-kekerasan-terhadap-anak/).

Dalam hal ini, anak-anak dipaksa bekerja menggunakan segenap tenaganya dan juga mengancam jiwanya. Tekanan fisik yang berat dapat menghambat perawakan atau fisik anak-anak hingga 30% karena mereka mengeluarkan cadangan stamina yang harus 17 bertahan hingga dewasa.

Oleh sebab itu, anak-anak sering mengalami cedera fisik bisa diakibatkan oleh pukulan, cambukan, luka bakar, lecet dan goresan, atau memar dengan berbagai tingkat penyembuhan, fraktur, luka pada mulut , bibir, rahang, dan mata.

b. Eksploitasi Sosial 

Eksploitasi sosial adalah segala sesuatu yang dapat menyebabkan terhambatnya perkembangan emosional anak. Hal ini dapat berupa kata-kata yang mengancam atau menakut-nakuti anak, penghinaan anak, penolakan anak, menarik diri atau menghindari anak, tidak memperdulikan perasaan anak, perilaku negatif pada anak, mengeluarkan kata-kata yang tidak baik untuk perkembangan emosi anak, memberikan hukuman yang ekstrim pada anak seperti memasukkan anak pada kamar gelap, mengurung anak di kamar mandi, dan mengikat anak.

Pada sektor jasa, terutama hotel dan hiburan, anak-anak direkrut berdasarkan penampilan, dan berkemampuan untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Mereka harus melayani para pelanggan yang kebanyakan orang dewasa, sehingga berpeluang untuk mengalami tekanan batin karena mengalami rayuan-rayuan seksual.

c. Eksploitasi Seksual

Eksploitasi seksual adalah keterlibatan anak dalam kegiatan seksual yang tidak dipahaminya. Eksploitasi seksual dapat berupa perlakuan tidak senonoh dari orang lain, kegiatan yang menjurus pada pornografi, perkataan-perkataan porno, membuat anak malu, menelanjangi anak, prostitusi anak, menggunakan anak untuk produk pornografi dan melibatkan anak dalam bisnis prostitusi.

d. Faktor Penyebab Eksploitasi Anak

Beragam faktor penyebab terjadinya eksploitasi anak melalui media sosial, dan yang sangat mendukung tentunya adalah kemajuan teknologi informasi yang sangat pesat, juga diciptakannnya berbagai aplikasi seperti facebook, intagram, whatsapp dsb.

Melalui media sosial orang tua dengan leluasa menjadikan anaknya sebagai alat pemenuhan kebutuhannya bahkan berdalih ingin menjadikan anaknya sebagai tokoh utama yang difigurkan, ditambah lagi oleh fisik anak yang mendukungnya menjadi selebritas atau public figure di media sosialnya.

Tidak hanya memfigurkan anaknya, namun juga banyak yang memeras, menjadikan pengemis, memanfaatkan anak semata-mata demi kepentingan pribadi. Maraknya tindakan eksploitasi yang terjadi pada anak tentunya disebabkan oleh berbagai hal.

Berikut adalah beberapa faktor yang menjadi penyebab terjadinya eksploitasi anak, berdasarkan penelitian dari KPAI: 

1. Ekonomi

Faktor ekonomi merupakan pangkal utama dalam peningkatan jumlah pekerja anak. Harga bahan pokok yang semakin mahal, tingkat kebutuhan yang tinggi serta pengeluaran yang bertambah menuntut anak terjun untuk membantu mencukupi kebutuhan dasarnya.

Sebagian kasus pekerja anak ini terjadi pada keluarga menengah kebawah. Lapangan kerja terbatas, pertambahan pengangguran penyediaan lapangan kerja terbatas dan minimnya jaminan social.

Hal ini tentunya akan sangat mendukung orang tua untuk melakukan tindakan eksploitasi ini karena ambisinya ingin memenuhi kebutuhan hidupnya dengan cara instan.

2. Lingkungan 

Keadaan di lingkungan sekitar juga merupakan faktor pendorong terjadinya kegiatan eksploitasi terhadap anak karena pengaruh lingkungan psikologi sosial-budaya terhadap tumbuh kembang anak-anak. 

3. Pendidikan 

Edmonds (2007)  juga mengemukakan bahwa pendidikan yang rendah  menyebabkan pendapatan yang  rendah sehingga investasi pendidikan pada generasi yang  akan datang juga akan rendah.

Orangtuayang berpendidikan rendah, dengan pendapatan rendah akan  mempengaruhi kesehatan dan gizi anak sehingga berdampak pada produktivitas anak-anak baik dalam kegiatan  sekolah maupun bekerja.

Selain  itu, pengalaman orang tua yang bekerja pada masa  anak-anak membuat mereka  akan beranggapan bahwa bekerja pada masa kanak-kanak  adalah hal yang wajar.

Pernyataan Bellamy sesuai  dengan gambaran anak-anak bekerja dinegara-negara berkembang seperti  Indonesia. Anak-anak bekerja karena keadaan, yaitu untuk membantu orang tua memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Dengan adanya dorongan yang kuat untuk bekerja, anak-anak rentan untuk mengalami eksploitasi dan dipekerjakan dilingkungan-lingkungan berbahaya.

4. Lemahnya Penegakan dan Perlindungan Hukum

Penegakan dan perlindungan hukum di Indonesia terhadap anak masih sangat lemah. Hal ini dapat dilihat masih banyaknya anak Indonesia terutama daerah perkotaan yang hidup di jalanan, yang mengalami kekerasan seksual, dan lain sebagainya.

5. Keretakan dan Kekerasan Kehidupan Rumah Tangga

Masalah sosial merupakan hubungan seseorang (anak jalanan penjual koran) dengan masyarakat khususnya keluarga, karena keluarga yang mempunyai peran penting dalam kehidupan anak.

Bagaimana sikap orang tua, hubungan orang tua (ayah dan ibu) dapat mempengaruhi anak turun ke jalan seperti sering terjadi pertengkaran antara ayah dan ibu, perpisahan yang disebabkan ayah atau ibu pergi dari rumah dan menikah lagi atau bahkan perceraian antara ayah dan ibu. 

6. Perubahan Sosial dan Budaya

Terjadinya eksploitasi anak juga didorong dengan adanya perilaku manusia yang saat ini sudah menjadi budaya seperti pernikahan dini dan hutang. Faktor tersebut juga memberikan kontribusi cukup besar terhadap terjadinya praktik eksploitasi anak.

Salah satu faktor yang juga mempengaruhi adalah perubahan kualitas individu saat ini seperti maraknya budaya selfie, vlogger, youtuber tentunya juga menjadi faktor yang sangat mendukung selain itu juga didukung oleh lemahnya controlling oleh berbagai lapisan masyarakat seperti psikolog, KPAI, dan yang lain sabagainya.

Berkaitan dengan hal ini,khalayak lebih diperlakukan sebagai objek eksploitasi bagi kepentingan pasar, yakni media dan pengiklan. Namun,khalayak sendiri tidak merasa ‘dieksploitasi’ karena adanya anggapan atau ide mengenai masyarakat yang saling terkoneksi (networkedsociety), yang diterima sebagai suatu konsekuensilogis dari kemajuan teknologi dan dianggap sebagai suatu kewajaran, walaupun sesungguhnya merupakan bagian dari ideologi kapitalisme.

Disinilah konsep hegemoni dari Gramsci bisa dipakai untuk menjelaskan ide yang dianggap sebagai suatu kewajaran oleh masyarakat.

Selain faktor negatif tersebut, terdapat juga faktor positif yang menjadi peluang terjadinya eksploitasi anak salah satunya adalah adanya keinginan dan ambisi orang tua yang  ingin menjadikan anaknya sebagai tokoh terkenal, sehingga dorongan itu mampu membuat orang tua melakukan berbagai cara yakni melalui media sosial.

Juga bahkan faktor yang ada dalam diri anak seperti  kecanduan anak bermain di dunia maya, hal ini membuat anak merasa nyaman dengan dunia gadget nya, dan lebih sering berselancar dengan dunia maya sehingga ia mau mengikuti keinginan orang tuanya untuk terus di ekspos ke media sosial

Dari berbagai faktor tersebut dapat dipahami bahwa keluarga dapat menjadi faktor tunggal yang terpenting apakah seorang anak dilindungi atau tidak. Tentunya banyak kerugian yang dialami oleh anak akibat dari eksploitasi ini yang menyangkut fisik, psikologis, spiritual anak.

Tindakan eksploitasi anak melalui media sosial ini tentunya akan berdampak pada perkembangan sosial anak yaitu sebagai berikut:

  1. Anak berbohong, ketakutan, kurang dapat mengenal cinta atau kasih sayang, dan sulit percaya kepada orang lain. 
  2. Harga diri anak rendah dan menunjukkan perilaku yang destruktif.
  3. Mengalami gangguan dalam perkembangan psikologis dan interaksi sosial.
  4. Pada anak yang lebih besar anak melakukan kekerasan pada temannya, dan anak yang lebih kecil.
  5. Kesulitan untuk membina hubungan dengan orang lain karena terbiasa dengan dunia maya.
  6. Kecemasan berat, panik,dan depresi bermasalah di sekolah.
  7. Harga diri anak rendah sehingga tidak merasa percaya diri dalam berkomunikasi dengan orang lain.
  8. Gangguan personality.
  9. Kesulitan dalam membina hubungan dengan orang lain
  10. Mengalami masalah yang serius pada usia dewasa.

Dampak yang paling terlihat yaitu anak akan bersikap anti sosial dan akan sibuk dengan dunianya sendiri. Namun, tidak hanya berdampak negatif, eksploitasi anak melalui media sosial juga memiliki dampak positif, yaitu seperti anak akan memperlihatkan bakatnya dan meningkatkan kepercayaan dirinya.

E. Upaya  Mengatasi Eksploitasi Anak Melalui Media Sosial

Di dalam keluarga interaksi sosialnya berdasarkan simpati, ia pertama-tama belajar memperhatikan keinginan-keinginan orang lain, belajar bekerja-sama, bantu-membantu, dengan kata lain ia pertama-tama belajar memegang peranan peranan sebagai mahluk sosial yang memiliki norma-norma dan kecakapan-kecakapan tertentu dalam pergaulannya dengan orang lain.(W.A. Gerungan, 2004)G. Jadi upaya yang paling ampuh adalah dari keluarga., karena keluarga dan orang tualah yang berhak atasnya.

Sebagai solusi atau upaya eksternal yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:

  • Penegasan hak dan perlindungan anak. 
  • Undang-undang yang tertulis tentang perlindungan anak dan perempuan bukan jaminan untuk keamanan anak usia dini. Karena dilihat dari kenyataannya, masih banyak anak yang diterlantarkan, diperdaya, dan dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi. Hal ini tentunya sangat menuntut ketegasan dalam perlindungannya. 
  • Memaksimalkan pengawasan media sosial oleh berbagai pihak.
  • Dalam hal ini, pengawasan (controlling) media social  sangat diperlukan, karena aktivitas di dunia maya juga sangat berpotensi untuk memicu tindakan negatif para penggunanya.
  • Mengadakan sosialisasi tentang bahayanya penyalahgunaan media sosial bagi orang tua.
  • Salah satu hal atau upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya eksploitasi ini adalah sosialisasi pentingnya menjaga privasi ataupun kerahasiaan tentang hal pribadi, serta bahaya penyalahgunaan media sosial.
  • Meningkatkan peluang belajar.
  • Belajar adalah hal utama bagi setiap individu. Melalui belajar manusia mampu memahami perkembangan dan peka terhadap masalah yang terjadi disekitarnya, hal ini juga tentunya menjadikan individu memperoleh wawasan tentang bahayanya tindakan eksploitasi ini serta juga menjadi pertahanan diri agar tidak terjebak dalam lingkup eksploitasi tersebut.
  • Psikolog dapat memberikan psikoedukasi berbasis keluarga dan masyarakat.
  • Tak hanya peran keluarga, ataupun lingkungan sekitar, namun juga melibatkan para pakar masalah sosial dan psikologis. Pemberian edukasi berbasis keluarga merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh psikolog dalam mencegah tindakan eksploitasi ini.
  • Meningkatkan pemahaman orang tua terhadap bahayanya tidakan eksploitasi anak.
  • Hal ini bertujuan untuk meningkatkan pengawasan terhadap anaknya dan meningkatkan proteksi terhadap anaknya tersebut.
  • Memberi wawasan penggunaan media sosial dengan bijak kepada masyarakat umum.
  • Penyediaan lapangan pekerjaan yang cukup, hal ini agar orang tua tidak menjadikan anak sebagai sumber penghasilan.

PENUTUP

a. Kesimpulan

Eksploitasi merupakan tindakan yang sangat dilarang baik melalui tindakan nyata maupun melalui dunia maya. Pelaku eksploitasi dapat diancam pidana sesuai dengan aturan yang ada di Undang-Undang. Penyalahgunaan media sosial dapat berdampak pada perilaku anak dan hubungannya dengan orang lain.

b. Saran 

Peran serta masyarakat sangat di butuhkan baik secara kelembagaan maupun perseorangan yang dapat di mulai dari orangtua, guru, tokoh agama, tokoh masyarakat, pejabat pemerintah, harus bahu membahu menyadarkan para pihak yang berpotensi terjadinya tindak eksploitasi.

Pentingnya tugas Pemerintah Pusat dan Daerah untuk mensejahterakan warganya, untuk bisa memperdayakan masyarakat dan menyediakan pekerjaan yang layak dengan penghasilan yang mencukupi dan Sosialisasi tentang media sosial dan eksploitasi harus di berikan secara intensif.

 DAFTAR PUSTAKA

  • Mayar, Farida.2013. “Perkembangan Sosial Anak Usia Dini Sebagai Bibit Untuk Masa 
  • Depan Bangsa”.Jurnal Al-Ta’lim, Jilid1, Nomor 6 November 2013, hlm.459-464 (online), http://www.journal.tarbiyahiainib.ac.id/index.php/attalim/article/viewFile/43/50, diakses 20 februari 2019)
  • Mulawarman Dan Nurfitri. 2017.“Perilaku Pengguna Media Sosial beserta Implikasinya 
  • Ditinjau dari Perspektif Psikologi Sosial Terapan”. Buletin Psikologi, Vol.25, No. 1,36– 44 (online), (https://jurnal.ugm.ac.id/buletinpsikologi, diakses 16 Februari 2018)
  • Ramadhanti. TatiaRidho .2016. “Fenomena Pemanfaatan Instagram Sebagai Media
  • Personal Branding”. skripsi. Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Univesitas Diponegoro Semarang
  • Aminudin.2018. Eksploitasi Hak Anak Oleh Orangtua Sebagai Pengemis Di Kota 
  • Makassar Perspektif Hukum Nasional ( Telaah dengan Pendekatan Hukum Islam ). Skripsi. Jurusan Peradilan Fakultas Syariah dan Hukum  UIN Alauddin Makassar.
  • Iryani dan Priyarsono. “Eksploitasi terhadap Anak yang Bekerja di Indonesia
  • Exploitationof Working Children in Indonesia”. Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia Vol. 13 No. 2, Januari2013: 177-195ISSN1411-5212 (online), diakses 20 Februari 2019.
  • Ike Herdiana. “Media Sosial dan Human Trafficking: Sebuah Ulasan” Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Surabaya
  • http://www.perfspot.com/blogs/blog.asp?BlogId=121153).
  • http://www.kpai.go.id/artikel/temuan-dan-rekomendasi-kpai-tentang-perlindungan-anak-di-bidang-perdagangan-anak-trafficking-dan-eksploitasi-terhadap-anak
Komentar