Memaksimalkan Asupan Protein Solusi Mencegah Obesitas Pada Anak

Memaksimalkan Asupan Protein Solusi Mencegah Obesitas Pada Anak

Covesia.com - Anak usia dini merupakan anak yang sedang dalam proses pertumbuhan dan perkembangan yang pesat. Menurut Ahmad Susanto (2017:5) mengatakan, usia dini disebut juga sebagai usia emas atau golden age, yaitu usia yang sangat berharga dibandingkan usia-usia selanjutnya, sekaligus masa kritis dalam tahap kehidupan yang akan menentukan perkembangan selanjutnya.

Jadi, stimulasi terbaik harus diberikan dengan maksimal oleh orang tua agar proses pertumbuhan dan perkembangan anak dapat berlangsung dengan optimal. Orang tua merupakan orang pertama yang ada dalam lingkungan anak, sehingga orang tua harus cerdas dan memiliki wawasan yang luas tentang anak usia dini agar dapat memberikan yang terbaik untuk anak dalam berbagai aspek pertumbuhan dan perkembangannya.

Pada era globalisasi saat ini berbagai permasalahan yang terjadi pada anak usia dini terkait dengan pertumbuhan dan perkembangan pada anak. Salah satunya permasalahan yang banyak dialami anak yaitu mengenai pemenuhan zat gizi pada anak yang tidak seimbang sehingga menyebabkan pertumbuhannya menjadi tidak baik, seperti obesitas dan lainnya.

Obesitas adalah suatu kelainan atau penyakit yang ditandai dengan penimbunan jaringan lemak tubuh secara berlebihan (Kadek Hartini, 2014). Obesitas adalah suatu penyakit yang serius karena akan berlanjut hingga usia dewasa yang dapat mengakibatkan masalah emosional dan sosial.

Seseorang dikatakan obesitas apabila kelebihan berat badan lebih 20% dari berat badan normal. Obesitas saat ini telah menjadi permasalahan dunia. Obesitas mempengaruhi hampir seluruh sistem organ dalam tubuh termasuk otak dan memiliki efek pada perkembangan pikiran.

World Health Organization (2014), menyatakan bahwa obesitas merupakan masalah epidemiologi global yang menjadi ancaman serius kesehatan masyarakat diseluruh dunia.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada semua populasi diseluruh dunia menunjukkan, penderita obesitas di Eropa Barat sebanyak (13,9%), Uruguay (18,1%), Costa Rica (12,4%), Chili (11,9%), dan Meksiko (10,5%). Dennis Bier 9 dari Pediatric Academic Society (PAS) (dalam Nurrahman, tanpa tahun) mengatakan, lebih dari 9 juta anak di dunia berumur 6 tahun keatas mengalami obesitas.

Data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS 2018), menunjukkan bahwa Indonesia mengalami peningkatan proporsi obesitas yang cukup tinggi yaitu sejak tahun 2007 tercatat sebanyak 10,5%, pada tahun 2010 tercatat sebanyak 14% pada tahun 2013 tercatat sebanyak 14,8% dan pada tahun 2018 tercatat sebanyak 21,8%. 

Selanjutnya (RISKESDAS, 2010) Prevalensi obesitas pada usia 5 sampai 12 tahun di Sumatera Barat pada tahun 2010 sebesar 3,8%, pada tahun 2013 meningkat menjadi 7,7%. kota Padang memiliki prevalensi obesitas pada anak umur 5 sampai 12 tahun sebesar 7,6% dan termasuk peringkat ke-8 tertinggi dari 10 daerah yang mengalami obesitas.

Menyikapi mewabahnya permasalahan obesitas pada anak maka,orang tua harusmemperhatikan asupan makanan yang diberikan agar permasalahan tersebut tidak sering terjadi pada anak. 

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka dapat diperoleh rumusan masalah sebagai berikut:

  • Bagaimana yang dimaksud dengan obesitas?
  • Bagaimana faktor penyebab terjadinya obesitas pada anak?
  • Bagaimana dampak obesitas pada perkembangan anak?
  • Bagaimana mencegah terjadinya  obesitas pada anak?

Tujuan

Adapun tujuan yang ingin dicapai yaitu sebagai berikut:

  • Menjelaskan apa yang dimaksud dengan obesitas
  • Menjelaskan faktor penyebab terjadinya obesitas pada anak
  • Menjelaskan dampak obesitas pada perkembangan anak
  • Menjelaskan cara mencegah terjadinya obesitas pada anak

Pembahasan

A. Pengertian Obesitas

Obesitas merupakan penyakit yang terjadi karena banyaknya energi yang masuk dibandingkan dengan energi yang keluar. Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), obesitas adalah keadaan indeks masa tubuh anak yang berada diatas persentil ke- 95 pada grafik tumbuh kembang anak sesuai jenis kelaminnya dengan proporsi lemak lebih besar dari pada komponen tubuh lainnya (Andra,2009).

Obesitas merupakan penyakit yang amat serius dan dapat menyebabkan masalah sosial dan emosional pada anak usia dini. Obesitas pada anak dapat terjadi karena pola makan yang kurang baik.

Seseorang dikatakan obesitas apabila memiliki berat badan 20% lebih tinggi dari nilai tengah kisaran berat badannya yang normal. Obesitas dikelompokkan menjadi tiga yaitu: obesitas ringan (kelebihan berat badan 20-40%), obesitas sedang (kelebihan berat badan 41-100%), obesitas berat (kelebihan berat badan >100%). 

Obesitas bukan hanya menyangkut pada permasalah fisik namun juga menyebabkan masalah psikologis seperti stres dan depresi.Menurut Wahyu (2009) Terdapat beberapa cara yang dapat digunakan untuk menentukan seorang penderita obesitas yaitu:

  1. Body Mass indeks (BMI) atau pengukuran indeks masa tubuh. Merupakan hasil bagi antara berat badan dalam satuan kilogram dengan kuadrat tinggi badan dalam satuan meter (m)
  2. Lingkaran pinggang.
  3. Rasio Lingkaran Panggul dan Pinggang (RLPP)
  4. Tebal lipatan kulit menggunakan alat ukur skinfold
  5. Kadar lemak tubuh menggunakan alat ukur Biolectrical impedance analysis (BIA)

Selain itu, Clement & Ferre (2003) menjelaskan bahwaBMI dihitung dengan mengukur berat tubuh dalam hitungan kilogram dibagi tinggi badan dalam hitungan meter. Apabila hasilnya sudah didapatkan, kemudian dibandingkan dengan ketentuan sebagai berikut: 

  • Nilai BMI <18,5 = berat badan dibawah normal 
  • Nilai BMI 18,5–22,9 = normal
  • Nilai BMI 23,0–24,9 = normal tinggi
  • Nilai BMI 25,0-29,9 = diatas normal
  • Nilai BMI > = 30,0 = Obesitas

B. Faktor Penyebab Terjadinya Obesitas Pada Anak

Permasalahan gizi pada anak-anak yang dihadapi oleh masyarakat dizaman sekarang bukan lagi tentang kekurangan gizi ataupun gizi buruk, akan tetapi kelebihan zat gizi atau yang dinamakan dengan obesitas.

Secara alamiah obesitas pada anak terjadi akibat mengkonsumsi kalori lebih banyak dari yang diperlukan tubuh dan juga terjadi karena pemasukan melebihi pengeluaran energi. Penyebab terjadinya obesitas dipengaruhi oleh genetik dan lingkungan. 

Faktor genetik adalah obesitas yang terjadi pada anak karena keturunan, ibu yang gemuk mempunyai peluang besar untuk mempunyai anak gemuk pula. Apabila ada keturunan obesitas maka akan ada kecenderungan seseorang membangun lemak lebih banyak dari orang lain karena ada sifat metabolisme yang diturunkan.

Menurut (Skelton, 2005) dalam (Riswanti, 2017) ada kemungkinan 50-70% seorang anak dapat mengalami kegemukan jika orang tuanya mengalami obesitas, dan 25-50% jika salah satu dari orang tuanya mengalami obesitas. 

Disamping faktor genetik, faktor lingkungan (kebiasaan makan orang tua) juga menjadi faktor yang sangat berpengaruh terhadap resiko terjadinya obesitas pada anak. Kelebihan zat gizi yang tidak terlalu dibutuhkan oleh tubuh dan kekurangan zat gizi yang sangat dibutuhkan tubuh. 

Hal inilah yang sering dilupakan dan diabaikan oleh banyak orang terutama orang tua dalam memenuhi kebutuhan gizi anak. Makan adalah tiang hidup bagi manusia, tanpa makan maka manusia tersebut tidak akan dapat melangsungkan kehidupannya dengan baik bahkan bisa meninggal dunia.

Namun, disisi lain kebiasaan makan yang tidak beraturan dan berlebihan malah akan menjadi masalah yang juga dapat mengganggu kelangsungan hidup manusia. Kebiasaan makan yang tidak beraturan maksudnya disini adalah orang tua yang sering makan berbagai jenis produk makanan tanpa memperhatikan kandungan gizi dan jumlah yang dimakan, kebanyakan mereka hanya mementingkan rasa jika enak maka akan sering dikosumsi.

Meningkatnya ketersediaan makanan berdampak semakin murahnya harga makanan di pasaran sehingga kecenderungan seseorang untuk makan akan meningkat.

Lingkungan keluarga adalah lingkungan pertama yang dihadapi anak semenjak dia lahir. Peran keluarga terutama orang tua adalah memberikan layanan terbaik yang dapat membantu proses pertumbuhan dan perkembangannya.

Jadi, segala aspek pemenuhan kebutuhannya harus benar-benar diperhatikan termasuk dalam pemenuhan gizi makan anak, karena usia dini adalah usia yang sensitif dengan segala stimulasi dan segala asupan yang diberikan akan memberikan pengaruh yang amat besar terhadap pertumbuhannya. 

C. Dampak Obesitas pada Perkembangan Anak

Penambahan ukuran atau jumlah sel-sel lemak menyebabkan bertambahnya jumlah lemak yang disimpan dalam tubuh. Penderita obesitas, terutama yang menjadi gemuk pada masa kanak-kanak, bisa memiliki sel lemak sampai 5 kali lebih banyak dibandingkan dengan orang yang berat badannya normal.

Permasalahan obesitas tidak hanya masalah kelebihan berat badan, tetapi juga menimbulkan berbagai gangguan dan penyakit seperti berikut ini:

  1. Obesitas dapat menimbulkan berbagai penyakit seperti korboditas, asma, diabetes, dan kardiovaskuler, tekanan darah tinggi, serangan jantung, stroke, kanker osteoartritis, batu kandung empedu, gangguan pertumbuhan tungkai kaki, gangguan tidur dan gangguan pernafasan lainnya (Kementerian kesehatan, 2012)
  2. Anak yang mengalami obesitas akan sulit beraktifitas karena kondisi fisiknya yang tidak normal dan menjadikan si anak cepat lelah dan tidak bertenaga dalam melakukan berbagai hal. 
  3. Anak yang obesitas juga akan terganggu dalam hal interaksi dengan lingkungan sosialnya seperti teman sebaya, orang dewasa dan lingkungan sekitar bahkan keluarga sekalipun.  Adakalanya keadaan fisik yang berbeda dengan yang lainnya membuat si anak tidak percaya diri karena takut ditertawakan dan tidak ada yang mau bermain dengannya, begitupun dengan lingkungan keluarga terkadang ada keluarga yang juga ikut merendahkan mental anak karena kelebihan lemak di badan dan merasa malu memiliki anggota keluarga yang obesitas.
  4. Anak menjadi depresi dan tidak percaya diri.
  5. Perkembangan pola pikir anak juga tidak dapat berkembang dengan optimal karena lemahnya energi dari dalam tubuh sehingga sel saraf otak juga melemah. Selain itu nutrisi yang masuk keotak juga tidak lagi sempurna karena banyaknya tumpukan lemak diberbagai titik sehingga aliran keotak menjadi tidak lancar. Hal ini mengakibatkan anak menjadi lambat dalam berpikir dan mencerna berbagai intruksi.

D. Cara Mencegah Terjadinya Obesitas pada Anak dengan Memaksimalkan Asupan Protein 

Seperti yang telah dikemukakan diatas bahwa obesitas terjadi akibat asupan energi dan lemak lebih tinggi daripada energi yang dikeluarkan. Faktor risiko yang paling berhubungan dengan obesitas pada anak usia 5-15 tahun adalah tingkat pendidikan anak (Sartika R.A.D, 2011).

Untuk itu perlu dilakukan upaya pencegahan dan penanggulangan faktor risiko obesitas dengan memaksimalkan asupan protein sejak dini dan mengurangi kandungan lemak pada makanan serta mengatur pola hidup sehat dalam keluarga. 

Anak membutuhkan berbagai macam zat gizi untuk masa pertumbuhannya yang terdiri dari karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral. Bayi dan anak-anak yang berada dalam tahap tumbuh kembang  membutuhkan protein lebih banyak perkilogram berat badannya dibandingkan dengan orang dewasa. 

Menurut Supariasa (2002) Nutrisi atau gizi adalah zat yang terkandung didalam makanan dan minuman yang dikosumsi dan dibutuhkan oleh organisme dalam menghasilkan energi untuk mempertahankan kehidupan dan fungsi organ-organ tubuh.

Lebih lanjut, Wardlaw (2007) nutrisi dibagi menjadi 2 bagian yaitu mikronutrien dan makronutrien. Mikronutrien adalah zat yang penting dalam menjaga kesehatan tubuh, tetapi hanya diperlukan dalam jumlah yang kecil seperti vitamin.

Vitamin adalah kelompok senyawa organik yang berbobot molekul kecil dan memiliki fungsi vital dalam setiap organisme yang tidak dapat dihasilkan oleh tubuh, serta mempertahankan kesehatan tubuh dalam kondisi normal.

Sedangkan, makronutrien adalah zat yang dibutuhkan dalam jumlah yang besar untuk memberikan sumber tenaga secara langsung seperti karbohidrat, lemak dan protein.

Karbohidrat adalah suatu zat yang berfungsi sebagai penghasil energi, dimana setiap gramnya dapat menghasilkan 4 kalori. Karbohidrat mengandung atom karbon, hidrogen dan oksigen yang menghasilkan H2O.

Karbohidrat sebagian besar dapat diperoleh dari bahan makanan yang dikonsumsi sehari-hari terutama yang berasal dari tumbuhan. Lemak merupakan suatu zat yang kaya akan sumber energinya sekaligusberfungsi sebagai isolator untuk membantu tubuh mempertahankan temperaturnya.

Bedanya dengan karbohidrat yaitu terletak pada fungsinya dimana lemak lebih berfungsi untuk pelindung organ tubuh, pembentukan sel, menghemat protein, memberi rasa kenyang dan kelezatan, sebagai pelumas dan memelihara suhu tubuh. Sedangkan protein merupakan bagian dari sel seluruh sel hidup dan bagian terbesar tubuh setelah air.

Lebih khusus tentang protein, dimana protein adalah sumber energi dan cadangan makanan yanga tersimpan didalam tubuh yang merupakan salah satu kelompok bahan makronutrien.

Namun, tidak seperti makronutiren lainnya, dimana protein berperan lebih penting dalam pembentukan biomolekul dari sumber energi (penyusun bentuk tubuh). Unsur utama dari protein adalah nitrogen, karena terdapat didalam semua protein akan tetapi tidak terdapat didalam karbohidrat dan lemak.

Molekul yang terdapat didalam protein lebih kompleks dari pada karbohidrat dan lemak dalam hal berat dan keanekaragaman unit asam amino yang membentuknya. Protein mempunyai berat molekul antara lima ribu sampai beberapa juta dan juga asam amino yang terdiri atas unsur karbon, nitrogen, hidrogen dan oksigen.

Adapun fungsi dan peran dari protein yaitu: transportasi dan penyimpanan seperti transportasi oksigen, proteksi imun, membangkitkan dan mengantarkan impuls saraf, pengendali pertumbuhan dan diferensiasi.

Asupan protein sehari-hari tergantung berat badan, usia dan jenis kelamin anak. Anak membutuhkan sekitar 10 persen dari total kebutuhan energi harian. Proporsi makanan yang sehat sebaiknya mengandung protein sebanyak 15-20%.

Protein berfungsi sebagai zat pembangun, protein dapat menyusun otot, membuat hormon, membuat enzim pencernaan. Asupan protein yang kurang dapat menghambat tumbuh kembang anak.

Jika pertumbuhan anak terhambat maka secara komposisi tubuh ototnya kecil dan dapat mengakibatkan anak akan lebih mudah gemuk. Namun, disamping itu kelebihan protein juga berdampak tidak baik terhadap anak oleh karena itu harus diberikan sesuai porsi anak dan dimulai sejak dini agar tidak terjadi obesitas pada anak. 

Protein memiliki peranan yang amat penting dalam menunjang pertumbuhan dan perkembangan seseorang. Protein juga merupakan zat gizi kunci untuk pertumbuhan fisik anak yaitu tulang dan otot. Protein juga sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan fungsi otak sehingga meningkatkan fungsi kognitif anak. 

Oleh sebab itu orang tua harus selektif dalam menyediakan menu makanan yang akan dikosumsi oleh anak terlebih dizaman sekarang berbagai jenis makanan sangatlah mudah untuk didapatkan.

Usaha untuk mewujudkan anak cerdas ceria harus mulai diterapkan sejak dini dan tidak membiarkan anak sering berdiam diri dan makan secara berlebihan karena peran orang tua cukup menentukan optimalisasi tumbuh kembang anak. 

Adapun kiat-kiat yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari untuk menjaga keseimbangan protein yaitu sebagai berikut:

  • Menerapkan prinsip 4 sehat 5 sempurna serta menjaga pola makan yang konsisten setiap harinya.
  • Mengkonsumsi makanan yang beragaman dalam satu porsi terlebih jika dalam makanan tersebut mengandung protein nabati dan protein hewani maka harus dikosumsi bersama kelompok pangan lainnya agar kualitas gizi lebih sempurna.
  • Batasi konsumsi pangan manis, asin dan berlemak.
  • Biasakan minum air putih yang cukup.
  • Biasakan sarapan dengan makanan yang mengandung protein yang cukup seperti kacang-kacangan yang diolah menjadi bubur.
  • Biasakan membaca label pada kemasan pangan.
  • Rutin cek kesehatan, melakukan aktifitas fisik dan pertahankan berat badan normal.

Kesimpulan

Obesitas adalah suatu kelainan atau penyakit yang ditandai dengan penimbunan jaringan lemak tubuh secara berlebihan. Penyebab terjadinya obesitas dipengaruhi oleh genetik dan lingkungan (kebiasaan makan orang tua).

Permasalahan obesitas tidak hanya masalah kelebihan berat badan, tetapi juga menimbulkan berbagai gangguan seperti penyakit korboditas, asma, diabetes, dan kardiovaskuler, tekanan darah tinggi, serangan jantung, stroke, kanker osteoartritis, batu kandung empedu, gangguan pertumbuhan tungkai kaki, gangguan tidur dan gangguan pernafasan lainnya.

Faktor risiko yang paling berhubungan dengan obesitas pada anak usia 5-15 tahun adalah tingkat pendidikan anak (Sartika R.A.D, 2011). Untuk itu perlu dilakukan upaya pencegahan dan penanggulangan faktor risiko obesitas dengan memaksimalkan asupan protein sejak dini dan mengurangi kandungan lemak pada makanan serta mengatur pola hidup sehat dalam keluarga. 

Saran 

  1. Kepada orang tua agar meningkatkan pengetahuan dan mengatur pola makan, keseimbangan zat gizi yang dikosumsi oleh anak serta membantu anak dalam mengatur rutinitas sehari-hari untuk mencegah terjadinya obesitas.
  2. Kepada seluruh pihak yang terkait dengan anak usia dini agar bersama-sama meningkatkan perhatian terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak agar lebih optimal agar berbagai penyakit seperti obesitas pada anak tidak semakin berkembang.

Daftar Pustaka

  • Andra. 2009. Sindrom Metabolik Usia Dini. Racikan Utama 6(10) : 1-3.
  • Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 2010. Riset Kesehatan Dasar 2010. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
  • Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 2013. Riset Kesehatan Dasar 2013. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
  • Bastian, I. 2006. Akuntansi Pendidikan. Jakarta: Erlangga
  • Clement, K. And P.Ferre. 2003. Genetics and the Pathophysiology Of Obesity. Pediatric Research
  • Kadek Hartini, Dkk. 2014. Korelasi Derajat Obesitas Dengan Prestasi Belajar Siswa
  • Sekolah Dasar (Sari Pediatri Vol. 16, No.1 juni 2014)
  • Kementerian Kesehatan RI. 2012. Pedoman Pencegahan dan Penanggulangan Kegemukan
  • dan Obesitas pada Anak Sekolah. Jakarta: Kemekes RI.
  • Nurrahman. Tanpa Tahun “Obesitas Dikalangan Anak-anak dan Dampaknya Terhadap Penyakit Kardiovaskular” dalam Jurnal Obesitas Pada anak. pdf. Diakses 9 februari 2019.
  • Riswanti, Bambang. 2017. Pola Kosumsi Fast Food, Aktifitas Fisik dan Faktor Keturunan Terhadap Kejadian Obesitas. Dalam Public Health Perspective Journal. http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/phpj
  • Sartika R.A.D. 2011.  Faktor Risiko Obesitas pada Anak 5-15 Tahun di Indonesia: Makara Kesehatan.
  • Susanto, Ahmad. 2017. Pendidikan Anak Usia Dini (Konsep dan Teori). Jakarta: BumiAksara.
  • Supariasa, et al. 2002. Penilaian Status Gizi, EGC. Jakarta
  • Wardlaw, G & Hampl, j. 2007. Perspective in Nutrition Seventh Edition. New York: McGraw-Hill.
  • Wahyu, G.G. 2009. Obesitas Pada Anak. Jakarta: Bentang Pustaka.
  • WHO. 2014. World Health Statistics 2014 Library Cataloguing-in-Publication Data.
  • Http://gizi.depkes.go.id/down/pedoman gizi/obesitas.pdf.diakses 9 februari 2019.
  • http://www.depkes.go.id/article/view/18110200003/potret-sehat-indonesia-dari-riskesdas-2018.html. Diakses pada 28 maret 2019.
Komentar