Dampak Perlakuan Memarahi Tanpa Kontrol Terhadap Perkembangan Psikologis Anak Usia Dini

Dampak Perlakuan Memarahi Tanpa Kontrol Terhadap Perkembangan Psikologis Anak Usia Dini

Covesia.com - Marah merupakan hal yang wajar dilakukan ketika anak melakukan suatu kesalahan. Namun kadang kala saat memarahi anak, tidak dapat mengendalikan emosi hingga melakukan kekerasan fisik seperti mencubit, menjewer, memukul, mengeluarkan kata-kata kasar, menyekap, dan memasung anak.

Di Indonesia, perlakuan memarahi anak seringkali terjadi baik di lingkungan keluarga dan sekolah. Seperti di lingkungan keluarga, orang tua (ayah dan ibu), kakak, tante, om dan lainnya ketika anak melakukan kesalahan kecil dan sepele namun memarahinya tanpa kontrol begitu pun di lingkungan sekolah, kadang guru memarahi anak dengan menjewer dan memukul dengan emosi yang tinggi.

Pada data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat selama kurun 2018 tingkat kekerasan terhadap anak bertambah 300 kasus dibanding tahun sebelumnya.

Tahun2018, KPAI mencatat ada 4.885 kasus kekerasan terhadap anak, bertambah dibanding tahun 2017 yang 4.579 kasus. Komisioner sekaligus Wakil Ketua KPAI, Rita Pranawati menyebut ada pertambahan sekitar 400 kasus kekerasan terhadap anak dibanding tahun sebelumnya.

Perlakuan memarahi tanpa kontrol telah terjadi di Tangerang, seorang ayah tega menyiksa dua anak kandungnya yang masih berusia di bawah umur hingga babak belur. Hal ini telah berlangsung sejak sang ayah ditinggal istrinya dua tahun yang lalu.

Sang ayah bernama  Anwar Bahtiar, warga Gang Rawit, RT 03\/ RW 05, Kelurahan Peninggilan Utara, Kecamatan Ciledug Kota Tangerang. Pria yang bekerja sebagai supir pribadi ini kerap melakukan penganiayaan terhadap kedua anaknya, yakni Rifa (7) dan Buya (6) hanya karena hal-hal sepele.

Menurut keterangan salah seorang tetangga, Anwar memang sering memarahi hingga memukul kedua anaknya hingga babak belur karena hal kecil seperti tidak bisa mengerjakan PR, tidak membereskan rumah ketika berantakan, atau main di luar rumah terlalu lama. Mereka tidak hanya dipukul dengan tangan, kadang pakai selang air, gagang sapu, kayu, bahkan dada dan perutnya diinjak. 

Ini sangat berdampak pada perkembangan psikologis anak usia dini. Anak usia dini merupakan anak pada masa golden age, jadi jika anak sering dimarahi tanpa kontrol anak akan tertekan, dan tertutup. Anak akan menjadi pribadi yang sulit berinteraksi dengan orang lain dan menjadi trauma.

Berdasarkan fenomena bahwa memarahi anak tanpa kontrol dapat menyebabkan kekerasan fisik dan psikis anak dan berdampak pada perkembangan psikolgisnya, maka penulis mencoba mengkaji tentang “Dampak Perlakuan Memarahi Tanpa Kontrol Terhadap Perkembangan Psikologis Anak Usia Dini.”

Rumusan Masalah

  • Apa pengertian dari memarahi tanpa kontrol?
  • Apa faktor-faktor penyebab memarahi tanpa kontrol?
  • Bagaimana perkembangan psikologis anak usia dini?
  • Apa faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan psikologis?
  • Bagaimana dampak memarahi tanpa kontrol bagi perkembangan psikologis anak usia dini?
  • Apa solusi yang ditawarkan agar bisa mengontrol emosi sehingga perkembangan psikologis anak tidak terganggu?

Tujuan Penulisan

  • Menjelaskan tentang pengertian dari memarahi tanpa kontrol.
  • Menjelaskan tentang faktor-faktor penyebab memarahi tanpa kontrol.
  • Menjelaskan tentang perkembangan psikologis.
  • Menjelaskan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan psikologis.
  • Menjelaskan tentang dampak memarahi tanpa kontrol bagi perkembangan psikologis anak usia dini.
  • Menjelaskan tentang solusi yang ditawarkan agar bisa mengontrol emosi sehingga perkembangan psikologis anak tidak terganggu.

Pembahasan

Adapun pengertian marah menurut para ahli:

  1. Utsman Najati (2005), adalah emosi alamiah yang akan timbul manakala pemuasan salah satu motif dasar mengalami kendala. 
  2. Chaplin (1998) dalam dictionary of psychology, bahwa marah adalah reaksi emosional akut yang timbul karena sejumlah situasi yang merangsang, termasuk ancaman, agresi lahiriah, pengekangan diri, serangan lisan, kekecewaan atau frustrasi dan ditandai dengan reaksi pada sistem otomik, khususnya oleh reaksi darurat pada bagian simpatetik, dan secara implisit disebabkan oleh reaksi seragam, baik yang bersifat somatis atau jasmaniyah mapun yang verbal atau lisan.

Sedangkan pengertian dari memarahi menurut Berger(2004:63)menyatakan pendapatnya dalam bahasa Inggris yang artinya adalah perwujudan dari perasaan seseorang yang merasa dirinya sebagai korban.Orang yang dimarahi juga merasa dirinya sebagai korban.

Memarahi tanpa kontrol merupakan cara paling buruk tidak sedang mendidik, melainkan melampiaskan setumpukan kekesalan kepada anak seperti berkata kasar, memukul, mencubit dan lainnya karena tidak bisa mengatasi masalah dengan baik dan juga disebabkan stres, lelah dan sakit kepala yang mengakibatkan perkembangan psikologis (kejiwaan) dan fisik anak terganggu.

Faktor-faktor Penyebab Memarahi Tanpa Kontrol

Faktor Penyebab bisa dari apa yang dilakukan oleh orang lain terhadap diri individu, namun bisa juga diakibatkan yang telah kita lakukan pada diri kita sendiri seperti stres, ingatan yang menyakitkan, kurang tidur, minum obat-obatan terlarang, sakit, kecemasan, merasa terancam, terluka dan sebagainya yang dapat membuat marah. 

Adapun menurut Mulyono (2006) secara garis besar sebab yang menimbulkan emosi marah itu terdiri dari faktor fisik dan psikis. Sebab-sebab yang mempengaruhi faktor fisik antara lain:

  1. Kelelahan yang berlebihan
  2. Zat-zat tertentu yang dapat menyebabkan marah. Misalnya jika otak kurang mendapat zat asam, orang itu lebih mudah marah
  3. Hormon kelamin sepertipada sebagian wanita yang sedang menstruasi, rasa marah merupakan ciri khas yang utama 

Sedangkan faktor psikis yang menimbulkan marah adalah erat kaitannya dengan kepribadian seseorang. Terutama sekali yang menyangkut dengan self concept yang salah yaitu anggapan seseorang terhadap dirinya sendiri yang salah.

Self concept yang salah selalu menghasilkan pribadi yang tidak seimbang dan tidak matang. Karena seseorang akan melihat dirinya sendiri sangat berlainan sekali dengan kenyataan yang ada. 

Beberapa self concept yang salah dapat kita bagi, yaitu: 

  • Rasa rendah diri (MC= Minderwaardigheid Complex), yaitu menilai dirinya sendiri lebih rendah dari yang sebenarnya. 
  • Sombong (Superiority Complex), yaitu menilai dirinya sendiri lebih dari kenyataan yang sebenarnya. Jadi merupakan sifat kebalikan dari rasa rendah diri. 
  • Egoistis atau terlalu mementingkan diri sendiri, yaitu menilai dirinya sangat penting melebihi kenyataan.

Jadi dapat disimpulkan bahwa banya faktor-faktor penyebab memarahi tanpa kontrol adalah karena stres, kelelahan berlebihan, minum obat-obatan terlarang, dan berkaitan dengan self concept.

Perkembangan Psikologis

Perkembangan dalam bahasa Inggris disebut development. Santrock mengartikan development is the pattern of change that begins at conception and continues through the life span (perkembangan adalah pola perubahan yang dimulai sejak masa konsepsi dan berlanjut sepanjang kehidupan). 

Pengertian psikologi menurut George A. Miller (1974: 4) dalam bukunya, adalah ilmu yang berusaha menguraikan, meramalkan dan mengandalkan peristiwa mental dan tingkah laku.

Sedangkan menurut Robert S. Woodworth dan Marquis DG (1957:7) dalam bukunya psikologi, psikologi ialah suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari aktivitas atau tingkah laku individu dalam hubungannya dengan alam sekitarnya. 

Maka dapat di simpulkan, bahwa pengertian perkembangan psikologi ialah ilmu pengetahuan tentang proses mental dan perilaku seseorang yang merupakan manifestasi atau penjelmaan dari jiwa itu sendiri.

Psikologi merupakan pemahaman tentang peserta didik yang berkaitan dengan aspek kejiwaan karena merupakan salah satu kunci bagi keberhasilan pendidikan bagi seorang pendidik. 

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Psikologis

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan psikologis

a)  Faktot nativisme 

Aliran atau teori nativisme dengan tokoh utamanya Schopenhover dan tokoh lainnya yang masih termasuk aliran ini adalah Plato, Descartes, Lombroso. Menurut pendapat aliran ini secara ekstrim menyatakan bahwa “perkembangan manusia itu sepenuhnya ditentukan oleh faktor pembawaan atau faktor-faktor yang dibawa sejak lahir.

Dari beberapa pernyataan di atas penulis menyimpulkan bahwa aliran nativisme menyatakan baik buruknya, berhasil atau tidaknya perkembangan individu sepenuhnya bergantung pada pembawaan individu yang dibawanya sejak lahir.

b)  Faktor empirisme 

Paham empirisme ini tokoh utamanya ialah Jhon Locke, “teori ini secara ekstrim menekankan kepada pengaruh lingkungan, teori ini berpendapat bahwa lingkunganlah yang menjadi penentu perkembangan seseorang, baik buruknya perkembangan pribadi seseorang sepenuhnya ditentukan oleh lingkungan atau pndidikan.”

Dari pendapat di atas dapat difahami bahwa teori ini menomorsatukan pengaruh lingkungan atau pendidikan dalam perkembangan manusia. Jadi, teori ini menganggap faktor pembawaan tidak berperan sama sekali dalam proses perkembangan manusia. 

c)  Faktor konvergensi

Teori konvergensi yaitu teori yang menjebatani atau menangani kedua teori atau faham sebelumnya yang bersifat ekstrim yaitu teori nativisme dan teori empirisme.

Sesuai dengan namanya konvergensi yang artinya perpaduan, maka berarti teori ini tidak memihak pada salah satu teori yang mempengaruhi perkembangan seseorang, bahkan memadukan pengaruh kedua unsur pembawaan dan lingkungan tersebut dalam proses perkembangan, menurut teori ini baik unsur pembawaan maupun unsur lingkungan sama-sama merupakan faktor yang dominan pengaruhnya bagi perkembangan seseorang.

Jadi dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan psikologis anak adalah nativisme, empirisme dan konvergensi.

Dampak Memarahi Tanpa Kontrol Bagi Perkembangan Psikologis Anak Usia Dini

Adapun beberapa dampak dari memarahi tanpa kontrol bagi perkembangan psikologis anak usia dini adalah

1. Anak akan merasa minder

Anak yang selalu dibentak akan tumbuh menjadi anak yang minder dan tidak percaya pada dirinya sendiri. Akan tertanam dalam jiwanya bahwa ia hanyalah anak yang selalu melakukan kesalahan, tidak pernah bisa berbuat kebaikan atau menyenangkan orang lain. Akibatnya anak menjadi ragu-ragu dan tidak percaya diri untuk melakukan sesuatu karena takut salah.

2. Anak akan cuek dan tidak peduli

Anak yang sering menerima bentakan bisa berkembang menjadi anak cuek dan tidak peduli. Ia akan sering mengabaikan nasihat orang. Bisa jadi ketika dibentak atau dimarahi anak akan diam mendengarkan, tetapi yang terjadi adalah kata-kata tersebut hanya dianggap sebagai angin lalu.

3. Anak menjadi tertutup

Anak menjadi takut pada lingkungan sekolah dan keluarga itu sendiri, sehingga anak akan tumbuh menjadi pribadi yang tertutup. Ia tidak mau berbagi cerita dengan orangtua bahkan orang lain di sekitarnya.

Anak takut bercerita karena ujung-ujungnya akan disalahkan oleh. Akibatnya komunikasi tidak berjalan baik, hal ini berbahaya karena anak akan menyimpan masalahnya sendiri, jiwa anak akan sangat rapuh.

4. Anak menjadi pemberontak

Anak menjadi keras kepala, suka membantah, dan membangkang. Mereka marah karena tidak dihargai, untuk melawan tentu saja tidak bisa karena ia hanyalah seorang anak kecil. 

5. Anak menjadi pemarah

Anak meniru sikap orangtua atau gurunya. Anak suka marah dan membentak anak karena hal hal sepele, maka anak akan melakukan hal yang sama kepada teman-teman atau adiknya sendiri.

6. Anak lebih banyak melamun

Anak menjadi lebih banyak melamun karena merasa terus ditekan. Anak merasa bingung harus berbuat apa, dan merasa hampa tidak memiliki tujuan. Anak mudah merasa kosong dan lebih suka menyendiri. Anak lebih mudah terpaku pada sesuatu dan larut dengan dunianya sendiri. Terkadang orang lain sulit untuk memahaminya

Solusi yang Ditawarkan Agar Bisa Mengontol Emosi Agar Perkembangan Psikologis Anak Tidak Terganggu

Beberapa solusi yang dapat ditawarkan adalah sebagai berikut:

a) Hindari bertindak kasar pada anak 

Orang tua sebaiknya memberikan penjelasan mengenai kesalahan anak.Sediakan waktu yang baik untuk berbicara dengan anak dengan memupuk suasana yang mesra, lembut, penuh kasih sayang dengan anak untuk berbicara tentang berperilaku yang baik.

Selain orang tua, guru di sekolah berperan penting untuk memupuk berperilaku baik, seperti yang dikemukakan oleh Read and Patterson (1980:68) guru/orang tua harus memberikan rasa aman.

Guru/orang tua perlu memiliki kestabilan emosi agar lebih mudah menerapkan apa yang diharapkan. Jadi jelaslah guru dan orang tua dapat mengenali anak, apapun yang terjadi dengan anak, sebaiknya berikan penjelasan terlebih dahulu tidak langsung bertindak kasar. 

b) Ciptakan hubungan yang menyenangkan

Keluarga dan guru, terutama di zaman sekarang, perlu mengetahui bagaimana cara berteman dengan anak. Bahkan, harus memahamifakta psikologi anak agar lebih tahu bagaimana harus menempatkan diri agar bisa lebih dekat dengan anak.

Dengan menjadi teman untuk anak, keluarga dan guru akan lebih mudah mengenali dunia anaknya dan anak pun akan merasa nyaman berdekatan dengan orang tua.

c) Berbicara dengan sopan dari hati ke hati 

Keluarga merupakan tempat strategis untuk memotivasi anak mewujudkan prestasi, seperti yang dikemukakan oleh Woolfolk (2002:350-351) keluarga tempat membina dan memberi penguatan, beri kesempatan anak memecahkan permasalahannya sendiri.

Keluarga dalam hal ini orang tua menjaga kesantunan berbahasa kepada anaknya saat marah, orang tua akan selalu menjaga dengan baik kata- kata yang kurang enak didengar harus dikikis dari sekarang, sehingga akan membantu mengoptimalisasi perkembangannya.  

d) Jangan ragu untuk minta maaf

Marah merupakan sifat alami setiap manusia ketika dihadapkan pada sesuatu yang tidak sesuai keinginan. Maka, jika marah kepada anak hingga kelepasan membentak mereka dan menyakiti hatinya, jangan ragu untuk meminta maaf. Hal ini akan membuat anak merasa ‘dimanusiakan’, diperlakukan sama seperti orang lain. 

Kesimpulan

Jadi dapat disimpulkan bahwa memarahi tanpa kontrol merupakan cara paling buruk tidak sedang mendidik, melainkan melampiaskan setumpukan kekesalan kepada anak seperti berkata kasar, memukul, mencubit dan lainnya karena tidak bisa mengatasi masalah dengan baik dan juga disebabkan stres, lelah dan sakit kepala yang mengakibatkan perkembangan psikologis (kejiwaan) dan fisik anak terganggu. Faktor-faktor penyebab memarahi tanpa kontrol adalah karena stres, kelelahan berlebihan, minum obat-obatan terlarang, dan berkaitan dengan self concept.

Pengertian perkembangan psikologi ialah ilmu pengetahuan tentang proses mental dan perilaku seseorang yang merupakan manifestasi atau penjelmaan dari jiwa itu sendiri. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan psikologis anak adalah  nativisme, empirisme dan konvergensi.

Adapun beberapa dampak dari memarahi tanpa kontrol bagi perkembangan psikologis anak usia dini adalahanak akan merasaminder, anak akan cuek dan tidak peduli, anak menjadi tertutup, pemberontak, juga pemarah dan anak lebih banyak melamun.

Beberapa solusi yang dapat ditawarkan adalah hindari bertindak kasar pada anak,ciptakan hubungan yang menyenangkan, berbicara dengan sopan dari hati ke hati dan jangan ragu untuk minta maaf.

Saran

1. Bagi orangtua 

Agar bisa mendidik anak, tidak berlebihan memarahi anak dan harus bisa memahami anak. Jangan sering mencubit, memukul dan mengeluarkan kata-kata kasar kepada anak itu bisa berdampak pada psikologisnya.

2. Bagi pemerintah

Agar lebih tegas terhadap anak dan memberikan sanksi bagi orangtua yang memarahi anaknya tanpa kontrol yang menyebabkan perkembangan psikologis anak terganggu.

Daftar Pustaka

  • Berger, Elizabeth. 2004. Raising Kids withCharacter: Developing Trust andPersonal
  • Integrity in Children. USA:Rowman & Litttlefield Publisher,Inc.
  • Chaplin.1993. Dictionary of Psychology Terj.Kartini Kartono, Kamus Lengkap  Psikologi,  Jakarta: Raja Grafindo Persada
  • Chandra, Ery. 2018. Angka Kekerasan terhadap Anak Selama 2018 MeningkatAda Pertambahan Sekitar 300 Kasus. TribunJabar.ID, Bandung
  • Detiknews, 2011. Kejam Bapak Siksa Anak Kandung Gara-gara Hal Sepele. Tangerang
  • Hansten, Ruth I. & Washburn, Marilynn J.2001. Kecakapan PendelegasianKlinis. Alih
  • Bahasa: Meitasari. AlihBahasa: Tjandrasa. Jakarta: EGCMedical Publisher.
  • Jhon W. Santrock, Educational Psychology, 5th edition (New York: McGrawHill Companies, 2011),  h.2 
  • Loewwenthal, Kate M. 2008. The Psychology of Religion: A Short Intorduction, Oxford: Oneworld,
  • Najati, Utsman. 2005. Hadis dan Ilmu Jiwa, Terj. M. Zaka  al-Farizi, Pustaka Bandung.
  • Santrock, Jhon W. 2010. Child Development, Boston: Pearson Education
Komentar