Penanganan Anak dengan Gangguan Autis Menuju Kemandirian

Penanganan Anak dengan Gangguan Autis Menuju Kemandirian

Covesia.com - Keadaan anak-anak yang mengalami gangguan autis di kelompok masyarakat  menengah kebawah saat ini sangat memprihatinkan. Selain itu, banyak orang tua yang memiliki anak mengalami gangguan autis, namun tidak menyadari bahwa anaknya mengalami gangguan autis.

Autis merupakan suatu kelainan neurologis yang seringkali mengakibatkan ketidakmampuan interaksi komunikasi dan sosial. Tujuan penulis adalah sebagai berikut:

  • Mengetahui hakikat anak autis
  • Mengatahui gejala anak dengan gangguan autis
  • Mengetahui faktor-faktor anak autis
  • Mengetahui solusi berbagai penanganan anak dengan gangguan autis menuju kemandirian

Gejala dan tingkat keparahan autisme dapat berbeda pada tiap penderitanya. Pada penderita autisme dengan gejala ringan, aktivitas sehari-hari masih dapat dilakukan dengan normal. Tetapi bila gejala tergolong parah, penderita akan sangat membutuhkan bantuan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Faktor-faktor yang diduga kuat mencetuskan autisme yang masih misterius diantaranya adalah

  • Genetik: Ada bukti kuat yang menyatakan perubahan dalam gen berkontribusi pada terjadinya autisme
  • Pestisida: Paparan pestisida yang tinggi juga dihubungkan dengan terjadinya autisme
  • Obat-obatan

Bayi yang terpapar obat-obatan tertentu ketika dalam kandungan, memiliki risiko lebih besar mengalami autisme. Solusi upaya penanganan anak dengan autis menuju kemandirian sebagai berikut:

  • Bagi pemerintah, di harapkan dapat memberikan sosialisai yang luas mengenai autis
  • Bagi anak sekolah, seharusnya semakin membuka mata bagi masyakat agar tidak memandang sebelah mata terhadap anak yang mengalami gangguan autis
  • Bagi keluarga, melakukan penanganan intensif dan tida tertutup atau menutup diri
  • Bagi yayasan, melakukan program khusus dalam menangani anak yang berkebutuhan khusus. 

PENDAHULUAN

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia membutuhkan komunikasi yang baik antar orang-orang yang ada disekitar atau sekelilingnya. Manusia diciptakan sebagai makhluk yang sempurna dibandingkan dengan yang lainnya.

Manusia hidup bermasyarakat dan saling berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain. Manusia sebagai makhluk sosial tidak dapat hidup sendiri, pasti saling membutuhkan satu sama lain.

Oleh karena itu manusia tersebut membutuhkan pergaulan yang baik, dan dapat beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya, dengan tujuan agar dapat terciptanya hubungan yang baik diantara mereka.

Adaptasi dan proses berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari sangat diperlukan.Karena apabila seseorang tidak dapat berinteraksi dengan baik, dan tidak dapat beradaptasi dengan yang lainnya maka ia tidak dapat menjalani kehidupannya dengan baik juga.

Keluarga memiliki posisi sentral dalam hal konvensi hak pada anak. Keadaan anak-anak yang mengalami gangguan autis saat ini di masyarakat kelompok menengah kebawah sangat memprihatinkan.

Selain itu, banyak fenomena yang terjadi pada orang tua yang memiliki anak dengan gangguan autis namun tidak menyadari bahwa anaknya mengalami gangguan autis (Candra Gautama,2000 di kutip dari jurnal the role of parents to handle children autism/case study of 4 chilfren autism family in pekanbaru).

Menurut leo kanner (1943), istilah autisme berasal dari kata “autos” yang berarti diri sendiri dan “isme” yang berarti suatu aliran, autis berarti suatu paham yang tertarik hanya pada dunianya sendiri.

Autis juga berarti suatu keadaan dimana seseorang anak berbuat semaunya sendiri baik cara berfikir maupun berprilaku, keadaan ini biasanya terjadi sejak usia masih balita dan biasanya terjadi sekitar usia 2-3 tahun.

Berdasarkan data Dinas Pendidikan Sumatera Barat (Sumbar) yang disampaikan oleh Bapak Mahyeldi Ansharullah, S.P.(2017), jumlah anak berkebutuhan khusus mencapai 6.133 orang.

Rinciannya, 124 tunanetra, 897 tunarunggu, 3.437 tunagrahita dan 195 tunadaksa. Selain itu, 128 tunalaras, 798 autis, 159 Attention Deficit Hyperactivity Disorder dan 395 orang kesulitan belajar.

Kementerian Kesehatan menyebutkan jumlah anak autis cukup tinggi di Indonesia. Penderita autis di Indonesia sampai tahun 2004 telah mencapai angka 700 orang (Deskes,2004 dalam fasya, 2005). Setiap tahunnya, jumlah tersebut diyakini mengalami pertumbuhan 5%.

Jika mengikuti hitungan tersebut, maka pada tahun 2007, jumlah penderita autis mencapai 8.500 orang (Fasya,2005). Instalasi kesehatan sekitar 15% anak mengalami autisme dari 6.600 anak dalam tiga bulan pada tahun 2013.

Data dari RS Jiwa Heerdjan menunjukkan dari 15% anak autis yang ditemukan, paling banyak dialami anak laki-laki (86,9%) daan perempuan (13,1%). Jumlah ini paling banyak pada kelompok usia 5-9 tahun di usia 10-14 tahun (Fasya,2005).

Di Indonesia meski belum ada penelitian resmi, menurut Direktur Bina Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan. Diperkirakan ada sekitar 112.000 anak dengan gangguan spektrum autisme dengan rentang usia antara 5-19 tahun. Dengan perkiraan jumlah tersebut, tentu saat ini cukup banyak keluarga di Indonesia yang hidup dengan anak gangguan spektrum autisme.

Di Sumatera Barat, jumlah penderita autis berdasarkan data dari Badan Penelitian Statistik (BPS) sejak 2010 hingga 2015, terdapat sekitar 140.000 anak usia dibawah 17 tahun menyandang autisme.

Di Kota Padang telah tersebar 5 sekolah khusus autis dengan jumlah siswa 283 siswa (Dinas Pendidikan dan Kebudaaan Provinsi Sumatera Barat,2016). 

Kemandirian menjadi kata kunci bagi anak-anak autis. Demikian dikatakan oleh Tri Budi Santoso, seorang terapis okupasi pemilik Budi Center yang menyelenggarakan Pelatihan Aquatik Sensory Integration Pada Anak Berkebutuhan Khusus  di Hotel Kusuma Sahid, Jumat (10/4/2015). Di hadapan 28 peserta yang berasal dari Makasar, Balikpapan, Berau (Kalimantan Timur), DKI Jakarta dan Surakarta. 

PEMBAHASAN

A. Hakekat Anak Autisme

Istilah anak autisme merupakan istilah terbaru yang digunakan dan merupakan terjemahan dari child with specials needs yang telah digunakan secara luas di dunia internasional. Ada beberapa istilah lain yang pernah digunakan diantaranya anak cacat, anak tuna, anak berkelainan, anak menyimpang dan anak luar biasa.

Ada satu istilah yang berkembang secara luas telah digunakan yaitu difabel, sebenarnya merupakan pendekatan dari difference ability. Penggunaan istilah anak berkebutuhan khusus membawa konsekuensi cara pandang yang berbeda dengan istilah anak luar biasa yang pernah digunakan dan mungkin masih digunakan. 

Autis merupakan suatu kelainan neurologis yang seringkali mengakibatkan ketidakmampuan interaksi komunikasi dan sosial (Smith, 1998:150 dikutip dari skripsi istiqomatul khusna yang berjudul "Studi Kasus Penanganan Anak Autis Menggunakan Pendekatan Religi Di Pesantren Al-Achsaniyyah di kabupaten Kudus".

Pada umumnya kelainan neurologis ini terjadi pada tiga bulan pertama masa kehamilan, hal tersebut terjadi apabila sel-sel didalam otak janin tidak dapat tumbuh secara sempurna.

Sedangkan menurut Hardiono mengatakan bahwa gejala pada gangguan autistik sangat bervariasi dari anak ke anak. Tidak semua anak menunjukkan gejala yang sama jenisnya, dan tidak semua anak menunjukkan gejala sama berat.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa anak berkebutuhan khusus termasuk anak yang mengalami hambatan dalam perkembangan perilakunya dalam interaksi komunikasi dan sosial.

B. Gejala Penanganan Anak Dengan Gangguan Autisme

Gejala dan tingkat keparahan autisme dapat berbeda pada tiap penderitanya. Pada penderita autisme dengan gejala ringan, aktivitas sehari-hari masih dapat dilakukan dengan normal. Tetapi bila gejala tergolong parah, penderita akan sangat membutuhkan bantuan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Gejala yang muncul adalah terkait dengan cara penderita berkomunikasi dan berinteraksi. Sekitar 80-90% penderita, mulai menampakkan gejala pada usia  tahun. Pada kasus yang jarang, gejala autisme nampak pada usia di bawah 1 tahun.

Ciri-ciri anak autisme pada usia 12 bulan sebagai berikut:

  • Tidak ada kontak mata ketika di ajak berbicara
  • Tidak tersenyum kembali kepada yang mengajaknya berbicara atau tersenyum
  • Tidak beresppon terhadap suara
  • Tidak tertatik ketika diajak bermain bersama
  • Anak tidak menoleh ketika namanya dipanggil

Gejala autisme pada ana usia 12-24 bulan sebagai berikut:

  • Tidak dapat menggunakan peralatan sehari-hari seperti sikat gigi, sisir atau mainan
  • Tidak mengeluarkan kata-kata untuk mulai berbicara. Pada usia 16 bulan biasanya anak dapat mulai berbicara satu kata dan pada usia 24 bulan anak dapat berbicara dua kata
  • Tidak mampu untuk mengikuti perintah.

Gejala autisme pada anak usia 2 tahun ke atas sebagai berikut:

  • Menghindari kontak mata
  • Kemampuan berbahasa yang terlambat. Anak sulit untuk memberi tahu apa yang ia butuhkan. Beberapa anak bahkan tidak mampu berbicara sama sekali
  • Tidak bisa meniru bentuk suatu benda misalnya menggambar bentuk bola
  • Mengalami masalah dalam tingkah laku misalnya anak menjadi hiperaktif, impulsif atau agresif
  • Memiliki pola berbicara yang aneh. Intasi berbicara anak tidak sesuai atau terdengar datar. Anak sering mengulang kata yang sama

C. Faktor-faktor Penyebab Anak Autis

Berikut adalah faktor-faktor yang diduga kuat mencetuskan autisme yang masih misterius: 

  • Genetik: Ada bukti kuat yang menyatakan perubahan dalam gen berkontribusi pada terjadinya autisme. Menurut National Institute of Health, keluarga yang memiliki satu anak autisme memiliki peluang 1-20 kali lebih besar untuk melahirkan anak yang juga autisme. Secara umum para ahli mengidentifikasi 20 gen yang menyebabkan gangguan spektrum autisme. Gen tersebut berperan penting dalam perkembangan otak, pertumbuhan otak, dan cara sel-sel otak berkomunikasi. 
  • Pestisida: Paparan pestisida yang tinggi juga dihubungkan dengan terjadinya autisme. Beberapa riset menemukan, pestisida akan mengganggu fungsi gen di sistem saraf pusat. 
  • Obat-obatan: Bayi yang terpapar obat-obatan tertentu ketika dalam kandungan memiliki risiko lebih besar mengalami autisme. Obat-obatan tersebut termasuk valproic dan thalidomide. Thalidomide adalah obat generasi lama yang dipakai untuk mengatasi gejala mual dan muntah selama kehamilan, kecemasan, serta insomnia. Obat thalidomide sendiri di Amerika sudah dilarang beredar karena banyaknya laporan bayi yang lahir cacat. Namun, obat ini kini diresepkan untuk mengatasi gangguan kulit dan terapi kanker. 
  • Usia orangtua: Makin tua usia orangtua saat memiliki anak, makin tinggi risiko si anak menderita autisme. Penelitian yang dipublikasikan tahun 2010 menemukan, perempuan usia 40 tahun memiliki risiko 50 persen memiliki anak autisme dibandingkan dengan perempuan berusia 20-29 tahun. "Memang belum diketahui dengan pasti hubungan usia orangtua dengan autisme. Namun, hal ini diduga karena terjadinya faktor mutasi gen," kata Alycia Halladay, Direktur Riset Studi Lingkungan Autism Speaks. 
  • Perkembangan otak area tertentu di otak, termasuk serebal korteks dan cerebellum yang bertanggung jawab pada konsentrasi, pergerakan dan pengaturan mood, berkaitan dengan autisme. Ketidakseimbangan neurotrans-miter, seperti dopamin dan sero-tonin di otak juga dihubungkan dengan autisme.

D. Solusi Upaya Penanganan Anak dengan Autis Menuju Kemandirian 

1. Bagi Pemerintah

Bagi pemerintah diharapkan dapat memberikan sosialisasi yang lebih luas mengenai autis ke semua kalangan masyarakat, sehingga tidak lagi ada kesalahpahaman apa itu autis dan bagaimana menangani penderita autis serta dapat mengurangi jumlah penderita autis yang semakin meningkat.

Selain itu diharapkan agar pemerintah lebih memperhatikan anak-anak berkebutuhan khusus dengan cara mendirikan fasilitas-fasilitas penunjang perkembangan sehingga dapat dijangkau oleh kalangan manapun.

2. Bagi Anak Sekolah

Meningkatnya jumlah anak autis di Indonesia, seharusnya semakin membuka mata bagi masyarakat agar tidak memandang sebelah mata anak-anak mengalami gangguan autis. 

3. Bagi Keluarga

Bagi keluarga yang memiliki anak autis lebih baik untuk melakukan penanganan intensif dan tidak tertutup atau menutup diri. Hal ini berguna agar anak dapat bersosialisasi dan mengenal lingkungan luar selain keluarganya. Anak autis bukanlah anak yang harus dijauhi atau disembunyikan melainkan sama halnya seperti anak-anak lain. 

4. Bagi Yayasan

Bagi yayasan yang memiliki program khusus dalam menangani anak berkebutuhan khusus, perlunya peningkatan pelayanan baik dalam terapis maupun edukasi yang diberikan kepada penderita autis.

Oleh karena itu hendaknya yayasan lebih meningkatkan program terapi yang lebih baik dan layanan eukasi yang lebih baik agar penderita autis lebih cepat mengalami perkembangan dalam proses penyembuhan.

KESIMPULAN

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa:

  • Anak berkebutuhan khusus termasuk anak yang mengalami hambatan dalam perkembangan perikunya dalam interaksi komunikasi dan sosial.
  • Gejala yang muncul adalah terkait dengan cara penderita berkomunikasi dan berinteraksi.

Faktor-faktor penyebab anak autisme

  • Genetik: Ada bukti kuat yang menyatakan perubahan dalam gen berkontribusi pada terjadinya autisme.
  • Pestisida: Paparan pestisida yang tinggi juga dihubungkan dengan terjadinya autisme.
  • Obat-obatan: Bayi yang terpapar obat-obatan tertentu ketika dalam kandungan memiliki risiko lebih besar mengalami autisme.
  • Perkembangan otak area tertentu di otak, termasuk serebal korteks dan cerebellum yang bertnaggung jawab pada konsentrasi, pergerakan dan pengaturan mood, berkaitan dengan autisme.

Solusi anak dengan gangguan autisme menuju kemandirian sebagai berikut:

  • Bagi pemerintah, diharapkan dapat memberikan sosialisasi yang lebih luas mengenai autis ke semua kalangan masyarakat, sehingga tidak lagi ada kesalahpahaman apa itu autis dan bagaimana menangani penderita autis serta dapat mengurangi jumlah penderita autis yang semakin meningkat
  • Bagi anak sekolah, diharapkan meningkatnya jumlah anak autis di Indonesia, seharusnya semakin membuka mata bagi masyarakat agar tidak memandang sebelah mata anak-anak mengalami gangguan autis. 
  • Bagi keluarga yang memiliki anak autis lebih baik untuk melakukan penanganan intensif dan tidak tertutup atau menutup diri. 
  • Bagi yayasan yang memiliki program khusus dalam menangani anak berkebutuhan khusus, perlunya peningkatan pelayanan baik dalam terapis maupun edukasi yang diberikan kepada penderita autis. 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Ansharullah, Mahyeldi.2017.Seminar NasionalInklusi diAula.FakultasIlmuPendidikan. UniversitasNegeri Padang. Sabtu 04 November.
  2. Buku Pedoman Penanganan dan Pendidikan Autisme YPAC.
  3. Candra, Gautama,2000 di kutip dari jurnal The Role of Parents to Handle Children Autism/Case Study of 4 Chilfren Autism Family in Pekanbaru.JOM FISIP Vol.3 No. 1-3 Februari 2016. Pekanbaru.
  4. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat,(2016).
  5. Direktur Bina Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan.Badan Penelitian Statistik (BPS).2015.
  6. Departemen Kesehatan RI.Riset Kesehatan Dasar 2004.Laporan Nasional 2005.
  7. Devi, Dini Fidyanti.2016.Terapi Perilaku Untuk Melatih Kemandirian Berjalan Pada Anak Autis.SEMINAR ASEAN 2nd PSYCHOLOGY & HUMANITY forum UMM,19-20 Februari.
  8. Fasya.2005. dikutip dari Departemen Kesehatan RI.Riset Kesehatan Dasar 2004.
  9. Kanner, Leo.1943. Pengertian Autis dan Derajat Autisme dalam Pembelajaran. Silabus.mpi. Media Pendidikan Indonesia.
  10. Khusna Istiqomatul.2015.Studi Kasus Penanganan Anak Autis Menggunakan Pendekatan Religi. Fakultas Ilmu Pendidikan. Pendidikan Anak Usia Dini.
  11. Mariyanti Sulis, Nixon.2012.Gambaran Kemandirian Anak Penyandang Autisme Yang Mengikuti Program Aktivitas Kehidupan Sehari-hari (AKS).Jurnal Psikologi Volume 10 Nomor 2, Desember.
  12. Nisa Fatma Laili Khoirun.2014.Membangun Konsep Diri Bagi Anak Berkebutuhan 
  13. Khusus.Jurnal Stain Kudus Volume 2 Nomor 1, Januari-Juni.
  14. Santoso, Tri Budi.2015.Kemandirian Kata Kunci Bagi Anak Autis.Solider.or.id,Surakarta. 
  15. Smith, 1998:150 dikutip dari skripsi istiqomatul khusna yang berjudul Studi Kasus Penanganan Anak Autis Menggunakan Pendektan Religi Di Pesantren Al-Achsaniyyah di kabupaten Kudus.Pendidikan Anak Usia Dini. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Semarang.2015.
Komentar