7 Makanan ini Tidak Dianjurkan Dikonsumsi untuk Sarapan, Apa Saja itu?

7 Makanan ini Tidak Dianjurkan Dikonsumsi untuk Sarapan Apa Saja itu ilustrasi foto: Pixabay

Covesia.com - Setelah menjalani liburan Hari Raya Lebaran, kita kembali ke rutinitas harian seperti biasa, termasuk rutin mengonsumsi sarapan pagi. Tanpa adanya sarapan yang bergizi, maka tubuh akan kesulitan untuk mendapatkan energi yang cukup demi melakukan aktivitas sehari-hari.

Hanya saja, pakar kesehatan juga menyarankan kita untuk tidak sembarangan mengonsumsi makanan untuk sarapan.

Beberapa jenis makanan yang tidak disarankan untuk sarapan

Pakar kesehatan menyarankan kita untuk mengonsumsi makanan dengan kandungan karbohidrat, vitamin, mineral, serat, bahkan lemak dengan kadar yang seimbang saat sarapan. Hal ini berarti, kita tidak bisa sembarangan mengonsumsi makanan di pagi hari.

Berikut adalah beberapa makanan yang sebaiknya tidak kita pilih saat sarapan dikutip covesia.com dari laman doktersehat.

Tidak ada lauk sayuran

Salah satu jenis menu sarapan yang paling sering dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia adalah makanan dengan lauk-pauk yang lezat tanpa sayuran. Sebagai contoh, kita bisa makan nasi dengan tempe, nasi dengan ayam goreng, atau nasi dengan telur saja saat sarapan.

Memang, kita bisa mendapatkan asupan karbohidrat dan protein yang bisa mengenyangkan dan menyediakan energi, namun hal ini justru membuat kita tidak mendapatkan asupan serat yang cukup.

Serat memiliki peran besar bagi kondisi dan kinerja saluran pencernaan. Selain itu, keberadaan serat juga bisa membantu perut kenyang dengan lebih lama sehingga kita pun tidak akan mudah tertarik mengonsumsi camilan tidak sehat.

Gorengan

Karena tidak sempat memasak atau bahkan sudah diburu waktu agar tidak terlambat, banyak orang yang akhirnya memilih untuk sarapan dengan gorengan.

Meski rasanya enak dan bisa mengenyangkan perut, gorengan tinggi kandungan lemak dan kolesterol yang bisa memberikan dampak buruk bagi berat badan, kesehatan jantung dan pembuluh darah, hingga membuat pencernaan menjadi lebih lambat sehingga akan membuat badan terasa sangat tidak nyaman.

Oatmeal instan

Salah satu jenis sarapan yang dianggap baik bagi kesehatan adalah oatmeal. Sayangnya, jika kita tidak cermat dalam memilih oatmeal, khususnya oatmeal instan, bisa jadi kita mengonsumsi gula dalam jumlah yang tinggi. Masalahnya adalah jika asupan gula harian berlebihan, dikhawatirkan akan membuat risiko terkena diabetes meningkat.

Pastikan untuk selalu mengecek label komposisi bahan-bahan dan nutrisi pada oatmeal yang kita beli demi memastikan bahwa oatmeal ini sehat untuk dijadikan sarapan setiap hari.

Makanan cepat saji

Banyak restoran cepat saji yang sudah menyediakan menu sarapan. Rasanya juga biasanya enak dan mengenyangkan. Masalahnya adalah makanan cepat saji biasanya tinggi kandungan lemak tidak sehat yang bisa membahayakan kesehatan.

Sosis

Daging olahan seperti sosis dan nugget memang cocok untuk dijadikan lauk sarapan mengingat mudah untuk diolah dan disukai oleh siapa saja. Sayangnya, berdasarkan sebuah penelitian yang dilakukan di Harvard University dan dipimpin oleh Joel Kahn, MD, dihasilkan fakta bahwa kebiasaan sarapan dengan daging olahan bisa meningkatkan risiko terkena penyakit jantung hingga 42 persen.

Alih-alih daging olahan, pakar kesehatan lebih menyarankan kita untuk mengonsumsi telur atau daging alami sebagai lauk saat sarapan.

Roti bakar

Roti bakar memang nikmat untuk dijadikan sarapan pagi. Sayangnya, roti putih yang dijadikan bahan utama menu ini biasanya rendah nutrisi dan serat. Selain itu, penggunaan mentega juga membuatnya tinggi kandungan lemak trans.

Sesekali mengonsumsinya boleh-boleh saja untuk dilakukan, namun pakar kesehatan tidak merekomendasikan roti bakar yang diolah dengan mentega setiap hari.

Hanya minum jus buah

Meski jus buah baik bagi kesehatan, kita tidak mendapatkan nutrisi yang diperlukan tubuh saat sarapan seperti karbohidrat dan protein. Bahkan, jika jus buah yang dikonsumsi adalah jus buah kemasan, bisa jadi konsumsi gula menjadi berlebihan dan bisa memicu peningkatan berat badan atau risiko diabetes.

(sea)

Berita Terkait

Baca Juga