5 Cara Bijak Menyikapi Berita Hoaks Agar Tidak Stres

5 Cara Bijak Menyikapi Berita Hoaks Agar Tidak Stres ilusrasi foto: Pixabay

Covesia.com - Menyikapi berita hoax dan negatif di media sosial, juga koran dan TV, memang butuh dicerna dahulu baik-baik. Bagi orang yang hobi menelan isi berita mentah-mentah tanpa disaring bisa menjadi bumerang untuk dirinya.

Salah-salah, bisa membuat kesehatan mental, cara pandang, dan pola pikir jadi rusak. Lalu adakah cara untuk menyikapi berita hoaks atau negatif yang beredar agar tidak merusak pikiran dan bikin stres? Simak caranya di bawah ini, dikutip covesia.com dari laman hellosehat.

1. Perhatikan dulu kondisi emosional anda saat membaca berita

Selain untuk meraup keuntungan, berita-berita tertentu kerap digunakan sebagai “kendaraan” untuk mengubah pikiran dan persepsi anda terhadap berita yang disiarkan. Sebetulnya, ada cara untuk menyikapi berita hoax dan negatif agar tidak memengaruhi diri. Begini, awalnya coba amati kebiasaan anda untuk mendapatkan informasi.

Saat anda menonton atau membaca berita, apakah anda memerhatikan cara anda menerima informasi yang disiarkan? Beberapa isi berita kadang membuat anda jadi mual, sakit perut, atau sakit kepala.

Hal yang anda rasakan pada tubuh ini umumnya berhubungan dengan emosi negatif. Ini merupakan sebuah reaksi yang melibatkan sistem saraf simpatik anda, hampir mirip dengan kondisi kecemasan.

Ada baiknya untuk memerhatikan bagaimana tubuh dan perasaan anda bereaksi. Jika berita yang anda dapatkan bikin stres, stop dulu. Jauhi sumber informasi dari handphone, media sosial, televisi, dan lainnya. Ini penting agar kesehatan mental anda tetap terjaga dan otak tidak kewalahan dengan emosi negatif yang membuncah.

2. Batasi waktu untuk mengakses berita

Membaca berita tentu sangat penting, tapi jangan sampai anda jadi terobsesi dan merasa harus selalu update soal dunia luar. Anda harus bisa membatasi diri untuk mengakses informasi-informasi yang sifatnya cenderung negatif atau bahkan hoax.

Hal ini dilakukan juga agar anda bisa tetap bersikap positif, tidak negatif terus menerus. Anda bisa membatasi diri dengan meluangkan waktu-waktu tertentu saja untuk membaca atau menonton berita.

Contohnya setiap hari atur waktu untuk membaca berita di jam dan waktu tertentu, seperti membaca berita pada pagi hari sebelum berangkat kerja. Selebihnya anda luangkan waktu untuk melakukan hal yang lebih berguna, sehingga anda bisa memberikan energi positif lebih banyak di hidup anda.  

3. Imbangi dengan hal-hal yang positif dalam hidup

Setelah melihat berita negatif di sana-sini, imbangi dengan hal-hal atau lingkungan yang bersifat positif dan menghibur. Misalnya dengan bercengkerama dengan sahabat dan keluarga (tapi jangan membicarakan hal-hal yang negatif secara non-stop), menekuni hobi anda, berolahraga, dan jalan-jalan ke tempat yang menyenangkan.

Intinya, cari kegiatan yang membuat anda merasa lebih enteng dan bahagia.

4. Saring sumber beritanya dengan baik

Media sosial telah menjadi sumber koneksi utama berita-berita yang sedang terjadi. Namun, bisa menjadi bumerang juga bagi anda yang suka menelan mentah-mentah isi informasi di media sosial.

Untuk menyikapi berita hoax atau negatif yang banyak beredar, anda harus sangat selektif dalam menyaring berita dari mana saja yang bisa dipercaya dan pantas dibaca. Hindari informasi dari sumber yang gemar mendramatisir atau membesar-besarkan suatu kejadian, misalnya.

Perhatikan juga apakah kualitas atau nilai beritanya memang penting dan baik, bukan cuma sensasi sesaat (yang biasanya justru hoax).

5. Buat perubahan untuk diri anda sendiri dan sekitar

Kadang masyarakat hanya bisa mengeluh dan menuntut, tanpa membuat perubahan lebih baik yang berasal dari dirinya sendiri. Bagi anda yang sudah muak dengan berita-berita negatif di media, hal ini bisa jadi salah satu momen tepat untuk membuat perubahan.

Beranjaklah dari depan TV, letakan handphone, dan bergabunglah untuk menjadi relawan atau ke komunitas tertentu untuk membuat perubahan kecil tapi besar dampaknya. Di mana aksi lebih terbukti berhasil daripada hanya menggerutu di media sosial tanpa membuat dunia jadi lebih baik.

(sea)

Berita Terkait

Baca Juga