Berkaca dari Kasus Audrey, ini Pelajaran yang Bisa Diambil Menurut Psikolog

Berkaca dari Kasus Audrey ini Pelajaran yang Bisa Diambil Menurut Psikolog Empat dari 12 siswi SMU yang diduga menjadi pelaku dan saksi dalam kasus penganiayaan siswi SMP berinisial AU (14) di sela jumpa pers yang digelar di Mapolresta Pontianak, Kalimantan Barat, Rabu (10/4/2019). Foto: Antara

Covesia.com - Kasus perundungan yang dialami siswa SMP di Pontianak, Kalimantan Barat, Audrey, menunjukkan tindakan semacam itu kerap terjadi di kalangan anak-anak dan remaja, menurut Psikolog dari Universitas Andalas, Nila Anggreiny.

Dosen Psikologi Fakultas Kedokteran Unand itu mengatakan, perundungan oleh anak-anak dan remaja, telah terjadi di sosial media, secara verbal, fisik dan lingkup sosial. 

Namun, dari kejadian itu, menurutnya ada pelajaran yang harus diambil, baik dari sisi korban, pelaku, maupun orang tua kedua pihak. 

"Bila dari sisi korban, bisa kita ambil pelajaran bagaimana komunikasi orang tua dan anak itu sangat penting, sehingga anak bisa terbuka terhadap apa yang dialaminya," sebut Pengurus Wilayah Salimah Sumbar kepada Covesia, Kamis (11/4/2019). 

Sementara, dari sisi orang tua, penting memberikan edukasi bagaimana anak bisa melindungi diri dan bila terjadi sesuatu cepat berkomunikasi kepada orang tua.

"Kita sebagai orang tua bisa menunjukkan garansi, bahwa apapun yang diceritakan anak, anak akan merasa nyaman dan tidak takut," sebutnya. 

Dampak bully tidak hanya secara fisik, tapi juga psikologis yang bisa berdampak jangka panjang, sehingga korban butuh pendampingan psikologis, katanya.

Selain itu, untuk korban juga bisa diambil pelajaran bagaimana mengelola emosi dalam ruang lingkup sosial. Anak-anak dan remaja saat ini semakin lama cenderung lepas kontrol. 

"Mereka sulit berperilaku sesuai dengan tuntutan norma sosial yang ada," ujarnya. 

Dia mencontohkan, masih ada anak yang tidak hormat kepada guru atau yang lebih tua. Pemecahan masalah yang kurang bagus juga kerap terjadi. 

"Ketika ada masalah cara-cara instan digunakan," sebutnya. 

Sementara, bully juga dipaparkan di media sosial, maupun lewat acara bertema hiburan di televisi, seperti mencela fisik orang lain. Dari sini, katanya, lama-kelamaan mencela itu dianggap hal yang biasa.

"Nah, di sisi lain, dengan banyaknya komentar negatif netizen terhadap pelaku, di satu sisi pelaku juga sudah menjadi korban bully," katanya mengingatkan. 

Lanjutnya, "Kita sepakat mereka bersalah dan mereka menerima hukuman sesuai dengan kesalahan mereka, namun jangan sampai kita juga menjadi pelaku bully."

Pelaku juga membutuhkan pendampingan dan konseling, sehingga mereka juga bisa 'on the track,' sebutnya mengakhiri. 

(don/rdk)

Berita Terkait

Baca Juga