Dua Anak di Sangihe Meninggal Akibat Demam Berdarah

Dua Anak di Sangihe Meninggal Akibat Demam Berdarah Ilustrasi - Pasien anak yang menderita Demam Berdarah Dengue (DBD) menjalani perawatan intensif di salah satu rumah sakit di Lhokseumawe, Aceh, Jumat (19/1/2018). Antara Foto/ Rahmad

Covesia.com - Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Sangihe Sulawesi Utara, Jophy Thungari mengatakan, awal Januari 2019, dua orang anak meninggal dunia akibat demam berdarah dengue (DBD).

"Awal Januari ini ada dua orang anak meninggal dunia karena DBD," kata Jophy Thungari di Tahuna, Kamis (10/1/2019a).

Menurut dia, berdasarkan catatan yang dimiliki dinas Kesehatan, sejak bulan Oktober 2018 sampai awal Januari 2019 terdapat 64 kasus DBD.

"Sejak bulan Oktober 2018 sampai sekarang sudah ada 64 kasus DBD di Sangihe," katanya.

Dia mengatakan, pada bulan Oktober terdapat 14 kasus DBD dan November 18 kasus, Desember 25 kasus dan awal Januari 2019 terdapat 7 kasus.

Pemerintah kabupaten melalui dinas Kesehatan terus berjuang untuk membasmi jenis nyamuk aedes aegypti sebagai penyebab DBD melalui fogging (pengasapan).

"Fogging sudah kami lakukan sejak bulan Oktober sampai sekarang di wilayah kampung dan kelurahan yang terdapat kasus DBD," kata dia.

Thungari mengimbau masyarakat untuk membantu membasmi berkembangnya nyamuk aedes aegypti dengan melakukan kegiatan 3M.

"Kami mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan termasuk membudayakan kegiatan 3 M yaitu menguras, menutup, dan mengubur," katanya.

Berdasarkan data tahun 2018 ada beberapa kecamatan yang rawan DBD seperti kecamatan Tahuna Barat Kelurahan Kolongan, Kecamatan Tabukan Utara Kampung Raku dan Petta dan Kecamatan Tahuna Kelurahan Soataloara.?

Sedangkan pada awal Januari 2019 di daerah ini DBD ada di kecamatan Tahuna di kelurahan Manente dan Santiago sementara di Kecamatan Tahuna Timur di kelurahan Tidore dan Tona.

(ant/rdk)

Berita Terkait

Baca Juga