5 Kekerasan Verbal Dalam Hubungan Tanpa Disadari Anda Juga mengalaminya

5 Kekerasan Verbal Dalam Hubungan Tanpa Disadari Anda Juga mengalaminya ilustrasi

Covesia.com - Dalam kehidupan sehari-hari, kekerasan menjelma jadi banyak wujud. Yang paling mudah dikenali yaitu kekerasan fisik. Namun, selain kekerasan fisik masih ada wujud kekerasan lain yang tak kalah sadis dan patut diwaspadai, yaitu kekerasan verbal. Bentuk tindak kekerasan ini sering kali tak disadari, baik oleh pelaku maupun korban.

Meskipun kekerasan verbal tidak meninggalkan bekas luka yang kasat mata, bentuk kekerasan ini sama menyakitkannya dengan kekerasan fisik. Sejumlah penelitian membuktikan kalau korban kekerasan verbal bisa mengalami trauma psikologis yang serius.

Selain itu, kekerasan ini juga sangat mungkin menghancurkan hubungan pasangan. Lantas apa saja tanda-tanda kekerasan verbal? Perhatikan baik-baik dua belas jenisnya berikut ini, dirangkum covesia.com dari berbagai sumber.

1. Meremehkan

Meskipun terdengar sepele, namun meremehkan merupakan salah satu bentuk kekerasan verbal. Anda perlu waspada, pasalnya, pelaku mungkin akan meremehkan Anda dalam bentuk komentar sarkastik atau candaan.

Komentar-komentar seperti “duh, kamu menjelaskan seperti yang sudah paham saja, ya!” atau “kamu mau melamar ke perusahaan itu? serta komentar atau candaan lainnya yang bernada sejenis adalah salah satu cara pelaku untuk membuat anda merasa kecil dan bodoh.

Untuk menghadapi kekerasan verbal seperti ini, cara terbaik dan termudah adalah dengan mengabaikannya. Ingatlah, bahwa pelaku adalah seseorang yang toxic dan tidak perlu ada dalam lingkaran pertemanan anda. Jika tidak memungkinkan, jagalah jarak dan minimalisir kontak dengan pelaku.

2. Merasa dirinya lebih mengerti anda

Seorang pelaku kekerasan verbal mungkin akan meyakinkan korban, bahwa ia lebih mengenal korban dibanding dirinya sendiri. Karena itulah, pelaku pun kerap menilai, melabeli, dan mengatur-atur korban.

Menyebut anda ‘terlalu baper’, ‘tukang bohong’, ‘tidak bisa dipercaya’ adalah beberapa contohnya. Tujuan pelaku adalah agar anda percaya dan merasakan bahwa hal yang dikatakan pelaku benar.

Jika anda sudah mempercayai omongan pelaku, tentu akan semakin mudah bagi pelaku untuk mengontrol anda, bahkan menyuruh-nyuruh anda! Hal ini kerap terjadi dalam hubungan, ketika sang kekasih kerap mengatur apa-apa saja yang boleh dan tidak boleh anda lakukan.

3. Menentang

Meskipun pendapat atau argumen anda benar, apa pun yang anda katakan akan selalu ditentang oleh pelaku kekerasan verbal. Seringkali, alasan pelaku menentang anda juga tidak jelas, bahkan tidak beralasan.

Pelaku hanya ingin menyalahkan pendapat anda dan meluapkan emosi. Korban kekerasan verbal dalam bentuk ini pun kerap bertanya-tanya, apakah ada yang salah dalam diri mereka sehingga si pelaku selalu menyalahkan mereka.

Padahal, sebenarnya mereka sama sekali tidak bersalah, kok! Jika berkelanjutan, kekerasan verbal seperti ini dapat menurunkan rasa percaya diri, bahkan sampai menganggu kesehatan mental korban, lho! Ingat, jangan takut untuk berargurmen jika pendapat anda memang benar.

4. Menginterupsi

Selain membuat anda merasa kecil, pelaku kekerasan verbal juga akan membuat anda merasa bahwa opini anda tidak penting. Bahkan, tidak sedikit juga pelaku yang mengambil ruang anda untuk berbicara.

Pelaku akan sering menginterupsi atau memotong omongan anda. Ada juga pelaku yang menyelesaikan kalimat anda, menjawab, mengambil keputusan, hingga beropini atas nama anda, tanpa seizin anda! Jika hal ini terjadi pada anda, jangan dibiarkan, ya!

Anda harus mengambil keputusan dengan tegas dan menjauhi pelaku, sebelum ia semakin memegang kontrol atas hidup anda.

5. Memerintah

Menuntut, melarang, membatasi, dan memerintah pasangan mungkin jadi kebiasaan Anda. Padahal, hal ini bisa membuat pasangan jadi tertekan. Contohnya antara lain melarang pasangan untuk bekerja sampai larut malam atau memerintahkan pasangan untuk pulang sekarang juga ketika sedang lembur di kantor.

6. Mengancam

Ancaman adalah bentuk kekerasan verbal yang mungkin paling mudah dikenali. Apalagi, dalam konteks hubungan antar kekasih. Pasalnya, putus hubungan adalah ancaman yang kerap digunakan. Misalnya, “jika kamu tidak mau berubah, kita putus saja!”.

Untuk beberapa orang, berakhirnya hubungan dianggap sebagai mimpi buruk. Dengan rasa takut sang pasangan akan meninggalkannya, korban kekerasan verbal ini rela memohon-mohon dan melakukan segala cara agar pelaku tidak mewujudkan ancamannya.

Tidak hanya dalam hubungan antar kekasih, dalam dunia kerja, kekerasan verbal ini pun bisa terjadi, lho! Bukan tidak mungkin senior anda di kantor mengancam akan menjelek-jelekan anda pada si bos jika Anda menolak untuk menggantikannya cuti.

Lebih baik, jauh-jauh saja ya dari orang yang melakukan kekerasan verbal pada anda! Jika kekerasan verbal sudah tidak bisa ditolerir, jangan ragu untuk melaporkannya pada pihak yang berwenang.

(sea)

Berita Terkait

Baca Juga