Fakta Tentang Korban yang Selamat Setelah Dua Minggu Terkubur Akibat Likuifasi Tanah di Palu

Fakta Tentang Korban yang Selamat Setelah Dua Minggu Terkubur Akibat Likuifasi Tanah di Palu Tim Basarnas dibantu warga mengangkat jenazah saat evakuasi pascagempa di Kompleks Perumahan Nasional Kelurahan Bala Roa, Kota Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (2/10/2018) (foto: Antara)

Covesia.com - Beberapa waktu belakangan beredar di media sosial dan pesan berantai heboh soal video yang menunjukkan bayi dan ibunya selamat meski terkubur hidup-hidup di dalam lumpur.

Mereka adalah korban gempa bumi, tsunami, dan likuifasi tanah di Palu, Sulawesi Tengah. Dikabarkan, sang ibu dan bayi telah terkubur hidup-hidup selama 2 minggu.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho memastikan bahwa video ini memang benar adanya. Ibu dan bayi tersebut memang benar-benar korban gempa yang ada di Desa Langaleso, Jono Oge, salah satu wilayah yang terdampak bencana likuifaksi dan terseret lumpur.

Hanya saja, ibu dan bayi ini tidak terkubur selama dua minggu, namun terjadi di malam saat gempa mengguncang sebagian wilayah Sulawesi Tengah. Hal ini berarti, tidak benar bahwa mereka terkubur hingga berhari-hari lamanya.

Dilansir dari Popular Science, manusia memang tidak akan bisa hidup dalam waktu yang lama jika berada dalam kondisi terkubur hidup-hidup, termasuk terkubur di dalam lumpur. Bahkan, kita hanya akan mampu bertahan sekitar 10 menit hingga 1 jam saja.

Jika tidak kunjung mendapatkan pertolongan, maka manusia akan mengalami kondisi premature grave atau segera meninggal dunia. Memang, bagi mereka yang aktif berolahraga seperti atlet lari marathon atau perenang, mereka bisa hidup lebih lama beberapa menit dengan menahan napas, namun, kebanyakan orang tidak akan mampu melakukannya.

“Jika sampai manusia terkubur hidup-hidup, tidak ada lagi yang bisa dilakukannya selain menunggu bantuan datang. Jika tidak, maka ia akan terus berada dalam posisi ini hingga tidak lagi bisa mendapatkan oksigen,” ungkap Profesor Alan Reff dari University of Chicago, Amerika Serikat, dikutip covesia.com dari laman doktersehat.

Bahkan, jika korban masih memiliki akses untuk mendapatkan oksigen, bisa jadi ia tetap akan meninggal jika mengalami tekanan yang besar di dada atau organ-organ dalam lainnya. Tekanan ini bisa berasal dari tanah, lumpur, atau benda lain yang menimpanya.

“Jika sampai sudah tidak bisa lagi mendapatkan oksigen, maka jumlah karbondioksida yang semakin banyak akan membuat korban mengalami sesak napas dan akhirnya kehilangan kesadaran. Jika sampai hal ini terjadi, maka besar kemungkinan ia akan kehilangan nyawanya,” lanjut Prof. Alan.

(sea)

Berita Terkait

Baca Juga