Kebiasaan Bohong Salah Satu Gejala Bipolar?

Kebiasaan Bohong Salah Satu Gejala Bipolar ilustrasi

Covesia.com - Tahukah anda bahwa gangguan bipolar merupakan salah satu jenis gangguan kejiwaan yang ditandai dengan perubahan atau gangguan mood yang ekstrem, termasuk perubahan pada energi dan fungsi dari seseorang.

Dipercaya bahwa salah satu tanda seseorang memiliki gangguan bipolar adalah kebiasaan berbohong. Benar atau tidak, ya?

Apakah mereka berbohong karena gangguan bipolar? Inilah pertanyaan terbesarnya. Berbohong sebetulnya bukanlah gejala diagnostik gangguan bipolar.

Hanya ada bukti kecil yang menunjukkan bahwa gangguan bipolar mengakibatkan penderitanya lebih rentan berbohong.

Hubungan antara berbohong dengan gangguan bipolar

Meskipun tanda-tanda gangguan bipolar bervariasi, tapi berbohong tidak ada dalam daftar gejala resmi. Hingga detik ini tidak ada bukti klinis yang menghubungkan antara gangguan bipolar dengan kebiasaan bohong, meskipun beberapa catatan kecil menunjukkan adanya kaitan.

Dikutip covesia.com dari laman klikdokter, diperkirakan bahwa beberapa orang dengan gangguan bipolar mungkin memiliki kebiasaan berbohong, yang mana ini merupakan akibat dari:

  • Berpikir dan berbicara cepat
  • Penyimpangan memori
  • Impulsif dan gangguan penilaian
  • Ego yang meningkat

Dilansir dari Medical News Today, ada banyak alasan mengapa seseorang dengan gangguan bipolar mungkin berbohong. Salah satunya adalah mereka mungkin tidak menyadari pada saat itu bahwa apa yang mereka katakan itu tidak benar.

Karena itu, mereka mungkin memberikan jawaban atau penjelasan lain di kemudian hari. Mereka mungkin berbohong untuk kepuasan diri atau untuk memuaskan ego mereka selama episode manik. Lalu, bisa jadi mereka juga berbohong untuk menyembunyikan masalah penyalahgunaan alkohol atau zat.

Selain itu, adanya kebutuhan untuk diakui yang dikombinasikan dengan keinginan terkait kegembiraan dan keyakinan bahwa seseorang tidak bisa disakiti, dapat meningkatkan risiko berbohong. Seorang blogger, Susan P, menulis di situs web International Bipolar Foundation bahwa mungkin orang bipolar merasa senang ketika kebohongannya dipercaya.

Sementara itu, seseorang dengan gangguan bipolar mungkin melakukan praktik berbohong untuk menutupi kondisi mereka yang sebenarnya. Ini mereka anggap perlu untuk menghindari stigma yang melekat pada masyarakat tentang penyakit mental atau karena penderita benar-benar percaya bahwa tak ada yang salah pada diri mereka. Kondisi ini bisa membuat pengobatan menjadi tantangan.

Gabe Howard, menulis di situs BPHope, mencatat bahwa orang-orang dengan gangguan bipolar mungkin berbohong untuk bisa masuk ke dalam komunitas pertemanan mereka, atau sesederhana supaya mereka bisa dengan mudah diterima oleh orang lain. Ini karena mengekspresikan emosi mereka yang sebenarnya bisa tampak aneh bagi orang lain yang tidak mengerti kondisinya.

Gabe menyebut bahwa menyuarakan perasaan mereka yang sebenarnya dapat mengundang kritik bahwa mereka hanya berpura-pura, mudah mendramatisir keadaan, atau sedang mencari perhatian.

Efeknya pada hubungan antarpribadi

Ketika seseorang dengan gangguan bipolar mulai mengatakan kebohongan, ia sebetulnya tidak berusaha untuk menipu orang lain. Akan tetapi, kebohongan bisa menyebabkan anggota keluarga, teman, dan rekan kerja melihatnya sebagai seseorang yang dengan sengaja berbohong.

Ketidakpercayaan akibat kebohongan yang dilakukan penderita bipolar bisa merusak hubungan dan menghambat pengobatan yang berkualitas. Efek ini dapat memiliki dampak jangka panjang pada kualitas hidup seseorang dengan kondisi tersebut.

Konseling dan kesadaran dapat membantu keluarga dan teman untuk berempati. Ini karena mereka lebih memahami hubungan antara gejala bipolar dan kebohongan atau kebohongan yang dirasakan.

Kecanduan dapat terjadi bersamaan dengan gangguan bipolar. Ini dapat memicu, atau bahkan bisa memperparah kebohongan kompulsif. Orang dengan gejala bipolar mungkin menolak mengungkapkan kecanduan mereka atau mungkin ingin menutupi kesalahan mereka. Semakin dalam kecanduan mereka, maka akan semakin sering mereka berbohong.

Ini juga berlaku untuk perilaku tidak menentu lainnya yang umum dengan gangguan, termasuk pesta minuman keras dan perjudian kompulsif. Seseorang mungkin ingin menutupi perilaku berisiko mereka dan konsekuensi terkait dengan berbohong.

Mengobati gangguan bipolar dan kebiasaan berbohong

Terapi perilaku kognitif, yang dikenal sebagai CBT, dapat membantu seseorang dengan bipolar yang cenderung berperilaku berbohong, serta mengetahui apa yang memicu kebohongan. CBT dapat mengajarkan seseorang bagaimana mengatasi berbohong dan mengembangkan perilaku yang lebih sehat.

Terapi bicara juga dapat membantu orang yang anda cintai melalui apa yang mereka alami dan belajar keterampilan mengatasi hal tersebut secara efektif.

Meskipun data ilmiah mungkin tidak mendukung hubungan antara kebiasaan berbohong sebagai gejala dari gangguan bipolar, tetapi ada catatan kecil bahwa keduanya berkaitan.

Jika ada orang-orang terdekat yang terdiagnosis mengalami gangguan bipolar dan ia mulai ketahuan sering berbohong, jangan langsung menghakimi. Akan lebih baik jika anda membawanya berkonsultasi ke psikolog, untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

(sea)

Berita Terkait

Baca Juga