Mengenal James Allison dan Tasuku Honjo, Peraih Nobel Bidang Kedokteran 2018

Mengenal James Allison dan Tasuku Honjo Peraih Nobel Bidang Kedokteran 2018 James Allison dan Tasuku Honjo, Peraih Nobel Bidang Kedokteran 2018

Covesia.com - Penyakit kanker masih menjadi momok menakutkan bagi masyarakat dunia. Hingga kini, penyebab pasti dan beragam pengobatan efektif masih mewarnai banyak penelitian.

Setidaknya inilah upaya dua peneliti kanker, James Allison asal Amerika Serikat (AS) dan Tasuku Honjo asal Jepang. Kedua ilmuwan tersebut memenangkan Hadiah Nobel 2018 di bidang kedokteran.

Berkat kegigihan mereka menemukan protein dalam sistem imun tubuh yang dapat dimanfaatkan untuk menyerang sel-sel kanker, kedua peneliti tersebut berhasil menyabet hadiah Nobel bidang kedokteran tahun 2018.

Selain rasa bangga karena temuan mereka diapresiasi secara global, keduanya juga membawa pulang hadiah uang sebesar 9 juta kronor (sekitar Rp15 miliar).

Mengenal James Allison dan Tasuku Honjo dan hasil penelitian mereka

James merupakan seorang profesor di University of Texas MD Anderson Cancer Center, AS, sedangkan Tasuku adalah seorang profesor dari Universitas Tokyo, Jepang, yang sudah bekerja di universitas tersebut selama 34 tahun.

Menurut Komite Nobel seperti yang dilansir covesia.com dari laman klikdokter, hasil penelitian mereka dianggap sukses merevolusi perawatan kanker dan mengubah cara pandang masyarakat tentang bagaimana kanker dapat dikelola.

Sementara itu, James mengatakan bahwa pada awalnya, tujuan ia meneliti permasalahan kanker bukanlah semata-mata untuk menyembuhkan, melainkan untuk melihat bagaimana sel T bekerja di dalam tubuh. Sel T itu sendiri sebenarnya sejenis sel darah putih yang merupakan bagian dari sistem kekebalan yang melindungi tubuh dari infeksi dan dapat membantu melawan sel kanker.

Kemudian, ia turut mempelajari protein yang berfungsi sebagai “rem” pada sistem kekebalan tubuh. Alasannya, melepaskan “rem” tersebut akan memungkinkan sel-sel kekebalan menyerang tumor. Penemuan itu pun kini menghasilkan perawatan kanker yang disebut terapi blokade imun.

Apa yang telah dikerjakan oleh James selama ini juga menjadi pemicu pengembangan obat penghambat keganasan sel (ipilimumab) sekaligus yang ditetapkan pertama kali oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) pada tahun 2011 sebagai obat yang dapat memperpanjang kelangsungan hidup pasien melanoma stadium akhir.

Selain itu, ipilimumab juga disetujui untuk mengobati kanker kolorektal dan sejenis kanker ginjal (karsinoma sel ginjal).

Dinobatkan sebagai salah satu pemenang Nobel, James ingin menyuarakan sekaligus menyemangati para penderita kanker di luar sana bahwa dirinya dan banyak peneliti lain (termasuk Tasuku) sedang berjuang keras dalam mewujudkan kemajuan pengobatan kanker. Ia pun berusaha untuk terus melanjutkan penelitiannya tentang seluk-beluk respons sistem kekebalan tubuh terhadap kanker.

Tidak berbeda jauh dengan James, Tasuku juga menemukan protein pada sel kekebalan tubuh dan mengilustrasikan bagaimana hal tersebut dapat berfungsi sebagai “rem”, meski dengan tindakan berbeda. Tahun ini kedua peneliti hebat tersebut akan dianugerahi penghargaan pada bulan Desember mendatang di Stockholm, Swedia.

Nah, sembari menunggu hasil penelitian pemenang Nobel bidang kedokteran 2018 dirasakan manfaatnya oleh warga dunia, jangan lupa untuk selalu menerapkan pola hidup sehat demi terhindar dan penyakit kanker yang bisa mematikan serta menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Jika ada riwayat kanker dalam keluarga, usahakan untuk rutin memeriksakan kesehatan agar bisa dideteksi sedini mungkin.

(sea)

Berita Terkait

Baca Juga