1,19 Juta Penduduk di Sumbar Masih BAB Sembarangan

119 Juta Penduduk di Sumbar Masih BAB Sembarangan Wash Advisor SNV Indonesia, Bambang Pujiatmoko, saat Workshop Orientasi Media di salah satu hotel berbintang di Kota Padang, Rabu (15/8/2018) (Foto: Primadoni/Covesia)

Covesia.com - Dari data Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) dan Stichting Nederlands Vrijwilligers (SNV) menyebutkan, pada 2018 sebanyak 1,19 juta atau 22 persen penduduk di Sumatera Barat masih Buang Air Besar Sembarangan (BABS) dan memiliki sanitasi yang buruk.

Hal tersebut diungkapkan oleh Wash Advisor SNV Indonesia, Bambang Pujiatmoko, saat Workshop Orientasi Media di salah satu hotel berbintang di Kota Padang, Rabu (15/8/2018), yang diprakarsai Lembaga Pengkajian dan Pemberdayaan Masyarakat (LP2M), Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia PKBI) dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang didukung penuh oleh SNV.

Ia mengatakan, kesadaran perilaku masyarakat untuk hidup sehat masih minim. Masyarakat belum menjadikan sanitasi sebagai kebutuhan yang dinilai memiliki peran sangat penting terkait BABS tersebut.

“Jadi selama ini, dilihat per tahun angkanya ya sangat lamban. Karena sudah 73 tahun Indonesia merdeka saja, angka kita masih sekitar itu. Pertumbuhan penduduk memang cepat, namun harus diimbangi dengan percepatan juga,” ungkapnya. 

Dikatakannya, perilaku BABS itu masih ada karena masyarakat masih berpikir pembuatan sarana sanitasi atau jamban sehat itu mahal.

"Mereka masih beranggapan menyediakan jamban sehat itu sangat mahal, sehingga tetap berperilaku kurang sehat," terangnya.

Contohnya saja, kata Bambang misalnya di Pringsewu, tahun 2013 angkanya masih 69 persen atau masih ada 31 persen yang belum. Kemudian itu bisa dikebut dalam waktu 2 tahun.

"Kenapa? Karena semua gerak bareng, mulai dari Pimpinan daerah, SKPD, dan Ulama. Semua bergabung jadikan sanitasi menjadi isu bersama," sebutnya. 

“Sumbar saya yakin bisa, apalagi masyarakat Sumbar yang agamis. Dengan pendekatan agama, ada ajaran kebersihan. Dengan pendekatan itu perilaku BABS bisa berkurang,” sebutnya.

Terkait faktor penghambat, perilaku BABS merupakan kebiasaan turun temurun.

"Misalnya, orang lebih suka BAB di sungai atau pantai. Dia bisa lebih nyaman, nongkrong sambil ngerokok lebih nikmat. Sementara di rumah terbatas," jelasnya. 

“Nah itulah tantangannya," katanya menambahkan. 

Tidak hanya itu, buruknya sanitasi seperti septic tank yang lama tak dibersihkan dari tinja hingga pembuangan tinja yang sembarang dapat menimbulkan berbagai macam penyakit.

Maka, perlunya penyedotan setidaknya tiga sampai empat tahun sekali. Jika tidak, septic tank akan mengalami kebocoran, di mana bakteri akan mencemari lingkungan hingga radius 10 meter.

"Ke depan kita berharap masyarakat dapat mengubah perilaku dengan menerapkan hidup sehat. Bahwa, BABS itu sangat berbahaya bagi kesehatannya," harapnya.

Mulai saat ini, katanya, masyarakat harus menerapkan setop buang air besar sembarangan. Cuci tangan pakai sabun, jaga kebersihan air minum dan makanan, pengolahan sampah dan pengolahan cairan bekas rumah tangga.

(don)


Berita Terkait

Baca Juga