Imron Ichwani, Anak Pedagang Bubur Keliling Lolos Seleksi Jadi Taruna Akmil

Imron Ichwani Anak Pedagang Bubur Keliling Lolos Seleksi Jadi Taruna Akmil Imron Ichwani, Anak Penjual Bubur Ayam Lulus Taruna Akmil 2018.(Dispenad)

Covesia.com - Imron Ichwani, seorang anak pedagang bubur keliling merupakan warga Desa Selabaya Kecamatan Kalimanah, Kabupaten Purbalingga, berhasil lolos seleksi calon taruna Akademi Militer (Akmil) Magelang.

Keberhasilan anak pedagang bubur ayam keliling itu membuktikan bahwa siapa pun bisa meraih mimpinya, termasuk menjadi taruna Akmil. 

Sugeng Suroso, ayah kandung Imron Ichwani sudah sepuluh tahun berdagang bubur ayam. Dari berjualan keliling dengan menggunakan sepeda motor, bapak tujuh anak itu mendapat penghasilan rata-rata Rp 50 ribu per hari.

Pada Sabtu (28/7/2018), Sugeng baru tiba di rumahnya setelah berjualan ketika melalui anaknya menyampaikan kabar gembira itu melalui telepon genggam.

"Alhamdulillah, Pak. Saya lulus Capratar Akmil", begitulah kalimat Imron seperti ditirukan Sugeng.

"Saya sempat nglegeg (diam terpaku). Tapi suara anak saya di telepon meyakinkan saya tidak sedang bermimpi," ujarnya.

Menurut sang ayah, Imron Ichwani dikenal sebagai anak yang berprestasi dan aktif berorganisasi. Sejak SD Ichwan sudah sering mengikuti lomba matematika. Bahkan nilai matematika pada Ujian Nasional (UN) bisa mendapatkan nilai sempurna yakni nilai 10.

Imron menamatkan SDnya di SD Negeri 1 Selabaya, Kalimanah pada tahun 2012. Kemudian ia melanjutkan ke SMP Negeri 1 Purbalingga.

Ketika bersekolah di SMP dan SMA, Ichwan tak berhenti menorehkan prestasi. Imron menjadi peserta olimpiade matematika tingkat provinsi. Di SMA Negeri 1 Purwokerto juga terus mengasah kemampuan dirinya dengan mengikuti beragam aktivitas ekstra-kurikuler.

Untuk menggapai cita-citanya itu, selama SMA, Ichwan tinggal bersama kakeknya di Purwokerto. Hal ini harus dilakukan lantaran rumahnya di Purbalingga jauh dari SMA Negeri 1 Purwokerto.

Ia juga selalu aktif dalam organisasi kesiswaan dan paskibraka. Dengan arahan dari guru pembina SMA, Imron yang awalnya bercita-cita masuk STAN bersama, bersama 16 rekan Almuni SMA N 1 Purwokerto mendaftar AKMIL.

"Ia yang awalnya bercita-cita masuk STAN, akhirnya memutuskan untuk mendaftar menjadi Akmil bersama 16 teman-temannya," Sugeng menjelaskan.

Bagi Sugeng, kisah ini bukan lagi dongeng. Lolosnya anaknya menjadi taruna Akmil seolah menjadi hadiahnya setelah sepuluh tahun ini, tiap hari, berdagang bubur ayam keliling.

"Saya cuma dagang bubur ayam keliling, berangkat jam 05.00 sampai jam 09.00 pagi. Rute jualan saya dari Dusun Karangpetir, Grecol, Karangmanyar sampai ke Asrama Batalyon 406/Ck di bojong dan balik lagi ke rumah," Sugeng menuturkan.

Komandan Kodim 0702/Purbalingga Letkol Inf Andy Bagus membenarkan bahwa salah satu putra terbaik Purbalingga lolos Capratar Akmil tahun 2018. Menurut dia, ini membuktikan mimpi menjadi seorang taruna Akmil bukan hanya untuk anak yang tinggal di kota-kota besar saja.

Lebih dari itu, ternyata anak dari desa dan dari keluarga yang kurang mampu pun bisa lolos seleksi Taruna Akmil. Ini juga menjadi bukti bahwa menjadi prajurit TNI merupakan hak dari semua Warga Negara Indonesia (WNI).

Menurut Andy, siapa saja boleh dan bisa menjadi Prajurit TNI, asalkan memenuhi persyaratan yang telah ditentukan oleh TNI. Ini berlaku untuk para calon perwira, bintara maupun tamtama.

"Dan yang perlu digarisbawahi, masuk TNI tidak dipungut biaya sama sekali alias gratis," Andy menegaskan.

(sea)

Berita Terkait

Baca Juga