Tas Anyaman Mansi di Agam Sangat Diminati Turis Mancanegara

Tas Anyaman Mansi di Agam Sangat Diminati Turis Mancanegara Foto: Johan Utoyo

Covesia.com - Jika berbicara tentang Ambun Pagi, kecamatan Matur, tentunya yang terlintas dibenak kita adalah, sebuah daerah  yang terletak di dataran tinggi  diantara perbukitan, kabupaten Agam, memiliki suhu paling dingin dan bisa memandang keindahan Danau Maninjau secara keseluruhan. Namun siapa sangka, selain objek wisata, Ambun Pagi juga memiliki kerajinan tangan tersendiri yang tidak dimiliki oleh daerah lainnya, yaitunya Kambuik Daun Mansi.

Mansi adalah sejenis pandan yang berbatang tinggi, memiliki berduri di sisi tengan dan bagian pinggir serta harus memiliki keterampilan khusus dan ekstra hati-hati untuk mengambilnya.  Pandan jenis ini dahulunya di gunakan masyarakat setempat untuk membuat tas dan tikar dan produk rumah tangga lainnya,

Namun seiring kemajuan zaman, tas dan tikar yang terbuat dari daun mansi itu mulai kalah dari produk yang terbuat dari plastik, kulit dan karet sintetis. Tikar dan peralatan yang terbuat dari mansi mulai  tinggalkan masyarakat dan mulia  beralih ke produk modern. saat ini hanya untuk prosesi adat, melayat serta tempat batandang, atau menjelang saudara bagi  penganten baru, di kecamatan matur  produk itu masih tetap di pertahankan.

Namun siapa sangka, barang tradisional yang hanya di miliki kabupaten Agam, provinsi Sumatera Barat itu sangat diminati wisatawan mancanegara saat  berkunjung ke kabupaten Agam. Mereka membeli kambuik dan tas tangan anyaman mansi untuk buah tangan saat kembali ke negara mereka nantinya.

Adalah Jasmiati (45), salah seorang masyarakat Ambun Pagi  yang saat ini  masih bertahan sebagai pengrajin tas dan tikar berbahan dasar mansi. Ia mengaku pada dahulunya setiap masyarakat di ambun pagi pasti memiliki keterampilan membuat anyaman dari mansi namun saat ini hanya tinggal sebagian kecil yang yang mahir membuat anyaman tersebut.

“Keahlian menganyam tas dan tikar dari mansi merupakan warisan turun temurun, dari nenek moyang kami dahulunya. Sambil santai, wanita disini membuat anyaman," ujarnya saat di konfirmasi Covesia.com, Minggu (15/7/2018).

Proses pembuatannya tidak terlalu sulit namun butuh keahlian, ketelitian dan kesabaran, sebab membuat anyaman dari daun mansi membutuhkan waktu yang cukup lama. Pertama, daun mansi di buang durinya kemudian di rebus selama 6 jam, setelah itu, sudah direbus, daun mansi tersebut  direndam kedalam air dingin salama satu malam, sudah itu dikeringkan, kemudian dikikis baru dibuat anyaman.

Adapun anyaman yang di buat Jasmiati memiliki Motif Kaluak Paku, motif Cita, motif  Kacang Goray serta produk yang dibuat  berupa tas, kambuik anam  sagi serta  tikar. 

”Untuk proses pembuatannya, 1 kambuik dan tikar bisa memakan waktu 3 sampai 7 hari tergantung ukuran dan kesulitan motif,“ jelasnya.

Untuk harga jual, Jasmiati melepas hasil kerajinannya berkisar dari Rp 70 hingga Rp 150 ribu itu juga  tergantung ukuran dan motif. Untuk proses  penjualan, ia hanya memajangkan produk di depan warung, jika ada wisatawan yang tertarik, mereka akan berhenti untuk membelinya,“ terangnya.

Saat ini Jasmiati mengeluhkan masalah pemasaran, terkadang dalam 1 minggu ia hanya terjual 2 buah tas, bahkan ada yang dalam 1 bulan tidak laku sama sekali, “produk ini umumnya diminati wisatawan manca negara, jadi tidak terlalu laku di pasaran, dalam daerah,“ tutup Jasmiati.

(han/don)

Berita Terkait

Baca Juga