Tanda-tandanya Anak Terkena Doktrin Terorisme

Tandatandanya Anak Terkena Doktrin Terorisme Pixabay

Covesia.com - Peristiwa terorisme serentak menyerang sejumlah titik. Mulai dari teror bom Surabaya misalnya, peristiwa tersebut diketahui melibatkan anak-anak.

Sang pelaku “mengorbankan” anak-anak mereka dalam aksi bom bunuh diri. Tentu saja fakta temuan ini membuat masyarakat syok tak percaya dan geram.

Di sisi lain, anak-anak tersebut tidak bisa disebut sebagai pelaku sepenuhnya. Mereka hanya menjadi korban atas indoktrinasi radikalisme yang dilakukan oleh orang tua dan orang-orang di lingkungan mereka.

Indoktrinasi radikalisme ini kemudian bisa mengarahkan anak melakukan kejahatan terorisme. Contoh sederhana yang masih jelas di ingatan adalah kejadian bom di Surabaya beberapa waktu lalu.

Dikutip covesia.com dari laman klikdokter, tanda-tanda indoktrinasi radikalisme dapat terlihat. Hal ini dapat diketahui dari sikap dan perilaku anak yang berbeda.

Menolak apa pun selain ajaran terorisme

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Susanto, mengungkapkan bahwa sikap dan perilaku anak tercermin saat ia berada di sekolah. Hal itu bisa dilihat saat sedang upacara.

"Jika anak terpapar indoktrinasi, maka yang terjadi anak tidak mau hormat bendera (Merah Putih). Anak juga tidak mau menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya," kata Susanto dalam konferensi pers di Kantor KPAI, Jakarta Pusat, belum lama ini.

Tanda-tanda indoktrinasi radikalisme juga terlihat dari otak pelaku bom di tiga gereja Surabaya berinisial DS. Ayah dari empat anak ini diceritakan tidak mau hormat bendera, bahkan enggan ikut upacara bendera.

"Sejak dia masih SMA. Ayah pelaku bom gereja Surabaya itu tidak mau hormat bendera (ikut upacara bendera) dan menyanyikan lagu Indonesia Raya," kata Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti, menambahkan.

Pada waktu itu, otak pelaku bom gereja Surabaya menjabat sebagai ketua Rohani Islam (Rohis) di sekolahnya. Menilik hal tersebut, perlu upaya inisiasi guru.

"Kejadian ini kan sudah 30 tahun lalu berarti. Pihak sekolah dan guru harus peka, tapi kita harus mendengar apa alasan dia berbuat seperti itu (tidak mau hormat bendera). Apakah alasannya mengarah pada indoktrinasi atau tidak," tutur Wakil Ketua KPAI, Rita Pranawati.

Intinya, seorang anak akan merasa bahwa ajaran terorisme lebih benar dibanding negara. Mereka kemudian menolak memahami aturan yang seharusnya berlaku karena telah terpapar ajaran yang salah.

Anak bukan pelaku terorisme

Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi, atau akrab disapa Kak Seto, menegaskan bahwa anak-anak bukan pelaku aksi teror. Mereka justru perlu dilindungi dari pandangan negatif tersebut.

Oleh karena itu, Kak Seto mengimbau agar dapat mengubah stigma anak-anak sebagai pelaku teror. Dia menyebutkan bahwa anak-anak merupakan korban dari lingkungan keluarganya, seperti peristiwa yang telah terjadi.

"Anak-anak bukan pelaku terorisme. Jadi dalam hal ini justru perlu mendapatkan perlindungan. Kami melihat bahwa ini sangat meluas, misalnya ada simpati anak-anak adalah hero, seolah pahlawan cilik yang akan disusul pahlawan cilik yang lain. Nah, ini tentu sangat berbahaya," katanya.

LPAI berkomitmen bersama lembaga perlindungan anak lainnya akan terus memberikan pencerahan melalui tulisan, wawancara, dan pelatihan. Hal ini guna mencegah munculnya kembali anak-anak yang terseret dalam aksi teror oleh orang tua mereka.

"Ini untuk mencegah dan sebagai upaya mengubah pandangan keliru bahwa anak-anak ini seolah pahlawan yang akan masuk surga dan sebagainya dengan menjadi pelaku terorisme dan sebagainya, ini yang akan kami luruskan semuanya," kata Kak Seto.

Edukasi yang tepat untuk anak

Mengingat aksi teror yang baru terjadi, jangan sampai anak terpapar doktrin terorisme. Dilansir dari laman resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, begini cara yang tepat untuk mengedukasi anak tentang terorisme.

Mencari tahu apa yang anak pahami. Setelah anak melihat informasi mengenai terorisme, orang tua harus mencari tahu apa yang dipahami anak mengenai peristiwa tersebut. Selanjutnya, bahas secara singkat apa yang terjadi, meliputi fakta-fakta yang sudah terkonfirmasi, dan ajak anak untuk menghindari isu spekulasi.

Saring infomasi. Kini informasi mengalir deras dan sangat mudah untuk diakses. Untuk itu, orang tua harus menjadi filter dan membatasi anak dalam hal akses informasi seputar terorisme. Ada baiknya untuk anak menghindari paparan terhadap televisi dan media sosial yang sering menampilkan gambar dan adegan mengerikan bagi kebanyakan anak, terutama untuk anak di bawah usia 12 tahun.

Pahami karakter anak. Setiap anak tentu memiliki karakter yang berbeda. Maka dari itu tak ada salahnya bagi orang tua untuk lebih memahami karakter anak supaya anak tidak mengalami rasa takut yang berlebihan. Jelaskan kepadanya bahwa terorisme sangat jarang terjadi, tapi kewaspaadaan tetap diperlukan.

Bantu ungkapkan perasaan. Sebisa mungkin bantu anak untuk mengungkapkan perasaan mereka. Jika marah, ungkapkan kepada orang yang terpat, contohnya kepada teroris. Berikan pengertian kepada anak bahwa pelaku teror bukanlah orang, golongan, atau agama tertentu. Sangat penting untuk mengedukasi anak untuk menjauhi prasangka.

Melakukan kegiatan secara normal. Salah satu tujuan teroris adalah menimbulkan keresahan. Jika kegiatan terorisme membuat masyarakat resah, maka tujuan mereka meneror telah berhasil.

Selain dengan edukasi, lakukanlah kegiatan keluarga bersama yang menyenangkan untuk memberikan rasa nyaman pada anak. Pantau juga dengan siapa anak bergaul atau lingkungan pergaulannya, baik di sekolah maupun di luar sekolah.

Tanda-tanda anak yang terkena doktrin terorisme dapat terlihat, oleh karena itu para orang tua harus peka. Berikan ia edukasi yang tepat dan kasih sayang supaya anak tumbuh menjadi sosok yang cerdas, ceria, positif, dan penuh percaya diri.

(sea0

Berita Terkait

Baca Juga