Perilaku Seseorang yang Berisiko untuk Coba Bunuh Diri

Perilaku Seseorang yang Berisiko untuk Coba Bunuh Diri Pixabay

Covesia.com - Setiap aksi bunuh diri adalah kasus yang tidak ada yang akan benar-benar tahu apa yang jadi alasan utama di baliknya, bahkan para ahli sekalipun.

Ada banyak alasan mengapa seseorang mungkin ingin mengakhiri hidupnya sendiri. Sebagian besar orang yang mencoba bunuh diri memiliki penyakit jiwa.

Lebih dari 90 persen orang yang bunuh diri memiliki gangguan mental, entah itu depresi, gangguan bipolar, atau diagnosis lainnya. Penyakit kronis, penyalahgunaan zat, trauma kekerasan, faktor sosial ekonomi, hingga putus cinta pun umum menjadi pendorong keinginan bunuh diri.

Tapi tindakan bunuh diri itu sendiri tidaklah rasional terutama bagi kita yang memandangnya dari kacamata luar. Insting manusia dirancang sedemikian untuk selalu mengedepankan keselamatan diri, dan keinginan untuk melindungi diri ini mendorong pemikiran bahwa nyawa harus dijaga baik-baik dengan segala cara.

Sebaliknya bagi mereka yang berpikir untuk mengakhiri nyawanya, mereka berpikir masalah dan kesakitan mereka akan hilang dengan mencoba bunuh diri.

“Untuk alasan yang tidak kita pahami sepenuhnya, beberapa orang mengalami keputusasaan dan rasa sakit yang begitu dalam sehingga mereka percaya bahwa mereka lebih baik mati saja,” kata Dr. John Campo, kepala psikiatri dan kesehatan perilaku di The Ohio State University Wexner Medical Center, dilansir dari Live Science.

Kita semua menghadapi masalah dalam hidup. Satu perbedaannya adalah bahwa di antara individu-individu yang memutuskan mengakhiri nyawanya sendiri, masalah mereka ini menyebabkan rasa sakit atau keputusasaan yang luar biasa sehingga mereka tidak dapat melihat jalan keluar yang lain.

Pada dasarnya setiap orang memiliki insting untuk bertahan di dunia ini. Hanya saja tergantung pada apa yang dipercaya, maka tubuh dan pikirannya pun akan mengikuti. Jika ia percaya bahwa ia tak akan sanggup hidup, maka tubuhnya pun akan ikut merespon dengan sikap apatis layaknya bom waktu yang menghitung mundur.

Orang yang mencoba bunuh diri mungkin tidak bisa beradaptasi dengan masalah hidupnya

Pada dasarnya, tingkat kerumitan masalah yang dialami dan kekuatan mental bisa berbeda-beda setiap orang. Banyak orang yang menganggap masalah yang dihadapinya lebih berat dibanding orang lain, padahal ketika dilihat dari sudut pandang luar yang lebih luas, ada banyak orang di luar sama yang menghadapi masalah serupa dan bahkan lebih berat dibanding dirinya.

Respon seseorang terhadap stres dan masalah pun berbeda-beda. Ada yang tetap optimis ketika dirinya sedang dilanda banyak masalah. Ada yang pesimis, merasa tidak sanggup dengan semua beban yang ia harus tanggung sehingga merasa hidupnya tidak berarti lagi.

Sedikit banyak, kegagalan beradaptasi inilah yang seringnya menjadi salah satu kekuatan pendorong bagi orang-orang yang tampak “sukses” untuk mencoba bunuh diri. Perfeksionisme yang sehat seharusnya mencerminkan usaha yang positif menuju pencapaian; sekali gagal, anda bangkit untuk terus mencoba lagi dan lagi, namun masih mampu mengakui kesalahan dan menurunkan standar bila diperlukan.

Tapi bagi beberapa orang yang memiliki cara pandang “cacat”, justru perilakunya mencerminkan kekhawatiran akan penilaian orang lain dan ketakutan besar akan kegagalan saat mencoba mencapai cita-cita muluk yang tidak dapat dicapai.

Mereka tidak memiliki pola pikir sehat yang diperlukan untuk menyesuaikan pandangan mental mereka, bahkan ketika situasi mereka memerintahkan mereka untuk beradaptasi. Sebaliknya, mereka tetap bertahan pada siklus jahat dari “berbuat lebih banyak lagi, lakukan lebih baik lagi, jangan sampai gagal, jangan lengah, jangan bersantai, berbuat lebih banyak, lakukan lebih baik, jangan sampai gagal, jangan lengah, jangan bersantai,” dan tidak pernah membiarkan diri mereka sejenak untuk berdamai.

Keinginan untuk bunuh diri seringnya tidak ingin diketahui orang lain

Beberapa orang yang melakukan bunuh diri mungkin memiliki masalah mental yang jelas, seperti depresi atau kecanduan. Banyak juga yang dipicu oleh perasaan amarah, keputusasaan, nelangsa, atau kepanikan yang intens. Sementara itu, banyak juga kasus bunuh diri yang tidak menampakkan alasan konkret maupun gejala apapun. Banyak orang yang tampak bahagia, sukses, dan memiliki hidup sempurna memutuskan untuk mengakhiri hidupnya tanpa alasan yang diketahui oleh orang-orang terdekatnya sekalipun.

Semasa hidupnya, orang-orang ini tampaknya baik-baik saja dan bisa menjalani hidup normal layaknya orang lain, tidak menderita maupun terluka. Tapi itu benar-benar hanya karena mereka sangat hebat dalam menutupi masalah mereka.

Tepat di balik penampilan dan tingkah laku “bahagia” mereka tersimpan pusaran dari konflik emosional dan kekacauan jiwa. Mereka bisa sangat lihat menjaga penampilan demi menyesuaikan diri dengan lingkungan luar dan ekspektasi dari orang lain. Mereka dapat selalu terlihat menawan, bahagia, dan sukses di luar bahkan jika jiwanya sedang sekarat di dalam.

Banyak orang tidak pernah membiarkan orang lain tahu apa yang mereka rasakan atau rencanakan. Hal ini mungkin didasari oleh ketidakinginan untuk mengecewakan orang lain, ketidakinginan untuk dihakimi atas perbuatan nekatnya, atau ketidakinginan untuk rencananya digagalkan.

“Orang-orang yang berniat bunuh diri tahu bahwa mereka harus menyimpan dan mematuhi rencana mereka sendiri jika mereka akan melakukan tindakan tersebut,” Dr. Michael Miller, asisten profesor psikiatri di Harvard Medical School.

Inilah sebabnya mengapa akan sangat sulit bagi orang sekitar untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan orang-orang ini. Mereka sangat pandai menyembunyikan luka mereka. Anda akan mengira anda benar-benar mengenal mereka. Anda bahkan mungkin percaya bahwa koneksi anda dan dia sudah amat dekat layaknya keluarga sendiri saat tiba-tiba, mereka bunuh diri.

Gelagat orang yang ingin mencoba bunuh diri tak selalu tampak jelas bagi orang sekitar

Beberapa kasus bunuh diri (dan mencoba bunuh diri) tidak datang tiba-tiba tanpa gejala. Beberapa orang termasuk mereka yang ragu-ragu untuk bunuh diri sekalipun bisa secara sadar atau tidak sadar memberi petunjuk untuk orang lain di sekitarnya sebagai usahanya meminta pertolongan.

Menurut Yayasan Amerika untuk Pencegahan Bunuh Diri (ASFP), antara 50 sampai 75 persen orang yang mencoba bunuh diri pernah mengutarakan pikiran, perasaan dan rencana bunuh diri terlebih dahulu sebelum melakukan aksi nekat tersebut.

Tapi sayangnya, tanda-tanda peringatan bunuh diri ini sering luput dari perhatian. Keyakinan masyarakat awam bahwa aksi bunuh diri adalah hal yang tabu untuk dibicarakan dan merupakan sikap tak menghormati agama menjadi penyebab yang paling umum.

Namun yang tidak banyak diketahui orang awam bahwa sesungguhnya dengan membicarakan keinginan bunuh diri dan hal-hal sadis lain terkait usahanya, orang-orang yang ingin bunuh diri sedang meminta teman bicara yang bisa menolong dan mencegah mereka dari aksi nekat tersebut.

“Mereka ingin hidup, tapi mereka ingin mati,” kata Campo. “Orang-orang itu dalam kebingungan. Mereka sedang kesakitan.” Tapi mereka tidak tahu harus apa dan bagaimana.

Berikut adalah beberapa perilaku yang dapat membuat teman dan keluarga mengetahui bahwa ia berisiko tinggi untuk mencoba bunuh diri (diadaptasi dari HelpGuide.org):

  • Berbicara tentang bunuh diri: Pernyataan seperti “Saya lebih baik mati”, “Keluarga akan hidup lebih baik jika tanpa saya di dunia”, atau “Kalau suatu saat kita bertemu lagi nanti…,”
  • Mencari cara bunuh diri: Mencoba mendapatkan akses senjata, pil tidur, tali tambang, pisau, atau benda lain yang bisa digunakan untuk usaha bunuh diri.
  • Tidak ada harapan untuk masa depan: Perasaan tidak berdaya, putus asa, dan terjebak, atau percaya bahwa segala sesuatu di hidupnya tidak akan pernah membaik.
  • Membenci diri sendiri: Perasaan tidak berharga, bersalah, malu, dan membenci diri sendiri; pernyataan seperti “Saya berharap saya tak pernah dilahirkan ke dunia ini”, atau “Saya benci diri saya sendiri,”
  • Memberikan “warisan”: Memberikan barang berharga miliknya, menghabiskan waktu khusus di hari-hari terakhirnya untuk anggota keluarga, atau memberikan nasehat-nasehat pada orang sekitar
  • Mengucapkan selamat tinggal: Kunjungan atau panggilan telepon ke keluarga dan teman yang tampak tidak biasa atau tak terduga; Mengucapkan selamat tinggal pada orang-orang seolah mereka tidak akan bertemu lagi.

Orang-orang yang menunjukkan tanda-tanda ini sering mengutarakan penderitaan mereka, berharap mendapat tanggapan. Setiap dari tingkah laku dan gelagat yang mereka tunjukkan adalah informasi yang sangat berguna yang tidak boleh diabaikan.

Bantuan anda sangatlah berharga dan mungkin bisa menyelamatkan satu nyawa. Studi menunjukkan bahwa sekali metode bunuh diri yang mematikan berhasil dicegah, banyak yang tidak mencari cara lain untuk mengakhiri hidupnya.

Dapatkan bantuan jika orang terdekat anda ingin bunuh diri

Mengetahui alasan dan penyebab mengapa seseorang ingin bunuh diri bukanlah jaminan anda akan menghentikan aksi nekat tersebut pada waktunya. Yang bisa kita ambil maknanya dari artikel ini adalah bahwa bunuh diri menentang prediksi.

Akan tetapi, ini adalah permulaan. Mudah-mudahan hal ini setidaknya akan meningkatkan kesadaran anda bahwa bunuh diri adalah fenomena serius, dan bisa anda cegah sebelum benar-benar terlambat.

Kita semua memiliki masalah dalam hidup, tapi ada baiknya kita juga harus mulai lebih peduli dan memperhatikan orang-orang terdekat di sekitar kita akan tanda-tanda kesulitan, ketakutan, dan penderitaan yang mungkin mereka alami.

(sea)

Berita Terkait

Baca Juga