Puspaga Malang Inisiasi Kelas Pendidikan Ayah untuk Wujudkan Indonesia Layak Anak 2030

Puspaga Malang Inisiasi Kelas Pendidikan Ayah untuk Wujudkan Indonesia Layak Anak 2030 Livia iskandar (Konsultan MCA-Indonesia) dan Lenny n Rosalin (Deputi Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Bidang Tumbuh Kembang Anak) saat diskusi media di Malang

Covesia.com - Di Indonesia, satu dari tiga anak di bawah usia lima tahun mengalami stunting, yakni pertumbuhan fisik dan kognisi yang kurang optimal akibat kurang gizi sejak di dalam kandungan hingga usia dua tahun. Dengan angka ini, Indonesia berada di peringkat kelima negara dengan angka stunting tertinggi di dunia. Stunting juga dapat merugikan negara sebesar Rp 300 triliun per tahun.

Stunting merupakan kondisi di mana anak mengalami gangguan pertumbuhan sehingga menyebabkan ia lebih pendek ketimbang teman-teman seusianya. Banyak yang tak tahu kalau anak pendek adalah tanda dari adanya masalah pertumbuhan si kecil.

Apalagi, jika stunting dialami oleh anak yang masih di bawah usia 2 tahun. Hal ini harus segera ditangani dengan segera dan tepat. Pasalnya stunting adalah kejadian yang tak bisa dikembalikan seperti semula jika sudah terjadi.

Kondisi ini disebabkan oleh tidak tercukupinya asupan gizi anak, bahkan sejak ia masih di dalam kandungan. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa 20% kejadian stunting sudah terjadi ketika bayi masih berada di dalam kandungan.

Kondisi ini diakibatkan oleh asupan ibu selama kehamilan kurang berkualitas, sehingga nutrisi yang diterima janin sedikit. Akhirnya, pertumbuhan di dalam kandungan mulai terhambat dan terus berlanjut setelah kelahiran.

Selain itu, stunting juga bisa terjadi akibat asupan gizi saat anak masih di bawah usia 2 tahun tidak tercukupi. Entah itu tidak diberikan ASI eksklusif ataupun MPASI (makanan pendamping ASI) yang diberikan kurang mengandung zat gizi yang berkualitas.

Banyak teori yang menyatakan bahwa kurangnya asupan makanan yang mengandung zink zat besi, serta protein ketika anak masih berusia balita, adalah salah satu faktor utama yang menyebabkan kejadian ini.

Selain faktor gizi, stunting disebabkan faktor multidimensi yang memerlukan peran semua pihak. Studi yang dilakukan oleh TNP2K (2017) menyebutkan bahwa praktik pengasuhan yang kurang baik juga memberikan kontribusi pada stunting.

Pelatihan pola asuh yang baik untuk nutrisi anak dan pengetahuan mengenai nutrisi ibu hamil menjadi penting untuk dilakukan, terutama dengan melibatkan Ayah yang memiliki peran yang setara dengan ibu untuk pengasuhan anak. 

Sebagai upaya menurunkan dan mencegah stunting, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPP dan PA) bekerja sama dengan MCA-Indonesia melakukan uji coba modul untuk “Pelibatan Ayah dalam Pencegahan Stunting”. 

Hal ini sejalan dengan mandat KPP dan PA melalui Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) untuk memberikan pelayanan informasi bagi keluarga Indonesia utamanya untuk pemenuhan hak anak.

Kegiatan ini dilakukan dalam lokakarya yang diselenggarakan di Kota Malang pada 7-9 Maret 2018 yang dihadiri pekerja profesional Puspaga dari Provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, DIY, Tangerang dan Depok, selain perwakilan dari Kementerian terkait, Dinas Kesehatan, Kementerian Agama, serta pusat studi dan akademisi dari Kabupaten Malang.

Modul ini rencananya akan digunakan untuk meningkatkan kapasitas pekerja profesional Puspaga dan pihak terkait yang memiliki tugas pelayanan informasi bagi keluarga.

Modul ini berisi pengasuhan anak dalam perspektif hak anak, relasi yang setara antara Ayah dan Ibu, makanan bergizi bagi ibu dan anak balita, serta cara mengelola keuangan keluarga agar dapat menyediakan makanan yang bergizi dalam 1000 hari pertama kehidupan.

Diharapkan setelah lokakarya, profesional Puspaga diharapkan dapat langsung menerapkan ilmunya untuk memberikan layanan psiko-edukasi di Puspaga.

“Ayah memiliki tanggung jawab yang setara dengan ibu dalam mengasuh anak dan melakukan pekerjaan rumah tangga. Modul ini merupakan salah satu upaya MCA-Indonesia mendukung upaya pemerintah mencegah stunting dengan kebijakan responsif gender,” ujar Direktur Inklusi Sosial dan Gender MCA-Indonesia, Dwi Rahayu Yuliawati-Faiz. 

Modul kelas ayah mencakup langkah-langkah praktis yang harus dilakukan ayah pada berbagai tahapan, yakni sejak masa kehamilan ibu, pemberian ASI eksklusif, hingga anak tumbuh besar. Keterlibatan ayah, sebagaimana ditulis dalam modul ini- diharapkan dapat mencegah stunting dan meringankan beban pekerjaan ibu di rumah.

“Kelas ayah merupakan salah satu langkah strategis pencegahan stunting yang merangkul lebih banyak pihak. Hal ini melengkapi layanan konseling gizi yang telah ada baik bagi calon orang tua, orang tua dan orang yang bertanggung jawab terhadap anak serta layanan penjangkauan Puspaga. Kami mendorong setiap daerah minimal memiliki satu Puspaga sehingga para keluarga di wilayahnya memperoleh pembelajaran positif tentang hak anak,” ujar Deputi Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Bidang Tumbuh Kembang Anak, Dra. Lenny N. Rosalin. MSc, M.Fin. 

Oleh karena itu, Puspaga memiliki peran strategis dalam mengurangi stunting, terutama dalam merangkul keluarga Indonesia untuk lebih peduli terhadap pemenuhan hak dan perlindungan khusus anak. Hal ini sejalan dengan Program KPP dan PA untuk mewujudkan Indonesia Layak Anak di tahun 2030 dan Generasi Emas 2045 yang terbebas dari stunting. Diharapkan informasi dan program penjangkauan yang dilakukan di Puspaga akan memberi kontribusi terhadap terwujudnya generasi yang lebih sehat sebagai modal utama meningkatkan daya saing bangsa.

Tentang Millennium Challenge Account – Indonesia (MCA-Indonesia) 

MCA-Indonesia adalah pelaksana Hibah Compact dari Millennium Challenge Corporation (MCC), yang mendukung Kemitraan Strategis Amerika Serikat dengan Indonesia. MCA-Indonesia bertujuan mengurangi kemiskinan melalui pertumbuhan ekonomi, dan bertindak sebagai lembaga pengelola tiga proyek utama yakni: (1) Kemakmuran Hijau, (2) Kesehatan dan Gizi Berbasis Masyarakat untuk Mengurangi Stanting, dan (3) Modernisasi Pengadaan. 

Tentang Millennium Challenge Corporation (MCC) 

MCC adalah lembaga inovatif dan independen Pemerintah Amerika Serikat yang bertujuan membantu pengentasan kemiskinan secara global. Dibentuk oleh Kongres Amerika Serikat pada 2004, MCC telah menyalurkan Hibah Compact senilai US$ 11,2 miliar bagi 27 negara yang berkomitmen pada tata pemerintahan yang baik (good governance), kebebasan ekonomi, dan investasi pada warga negaranya. Hibah Compact bersifat kompetitif, artinya negara calon penerima hibah harus bersaing dalam proses seleksi yang transparan. 

(rls)


Berita Terkait

Baca Juga