Wajib Swab, Perhatian Khusus Terhadap Penyebaran Covid-19 di Rumah Makan dan Restoran di Padang

Wajib Swab Perhatian Khusus Terhadap Penyebaran Covid19 di Rumah Makan dan Restoran di Padang Ilustrasi Uji Swab (Foto: dok.covesia)

Covesia.com - Maraknya pertambahan kasus positif Covid-19 di Kota Padang membuat pemerintah memberi perhatian khusus. Penyebaran terjadi karena adanya protokol kesehatan yang tidak dilakukan secara ketat. Pertambahan tersebut tidak hanya di pasar, namun lebih ke perkantoran dan rumah makan.

Menyikapi hal itu, Gubernur Sumbar Irwan Prayitno mengeluarkan instruksi dengan nomor 360/223/Covid-19-SBR/X-2020, bahwasanya Seluruh Pengelola Rumah Makan/ Restoran/ Cafe dan sejenisnya di Kota Padang untuk memperketat pengawasan dan penegakkan Perda Nomor 6 Tahun 2020 tentang Adaptasi Kebiasaan Baru Dalam Pencegahan dan Pengendalian Corona Virus Disease 2019 di seluruh Rumah Makan/ Restoran/ Cafe dan sejenisnya," ujar Irwan,Selasa (20/10/2020).

Selain itu Gubernur juga mewajibkan seluruh pengelola rumah makan, restoran dan Kafe untuk melakukan tes swab secara gratis. Untuk teknisnya diurus oleh kadis kesehatan Kota Padang dan Kepala Laboratorium Universitas Andalas, Dr Andani Eka Putra. Jika pengelola dan karyawan menolak dilakukannya tes swab maka rumah makan, restoran dan kafe terancam ditutup.

Hal tersebut tak lain berguna untuk mencegah penularan yang kian hari semakin merangkak naik. Bagaimana tidak, semenjak Corona sampai di Sumbar 26 Maret lalu hingga hari ini, 25 Oktober 2020 sudah 12 ribu lebih masyarakat Sumbar yang terinfeksi.

Kota Padang Menjadi Perhatian Nasional Akibat Tingginya Pertambahan Kasus

Ibukota Provinsi Sumatera Barat, Kota Padang memang masif melakukan pemeriksaan atau tes swab kepada masyarakatnya. Tak heran jika Kota Bengkuang ini mencatat ratusan kasus perharinya semenjak awal oktober. Bahkan pernah dengan 300 kasus lebih sehari. Kota Padang akhirnya menjadi perhatian nasional dengan kasus yang tinggi.

"Kota Padang semenjak dinyatakan zona merah, merah terus, Agam pernah merah balik ke orange. Kita upaya bertahap supaya covid-19 bisa melandai. Zona merah ada kaitannya dengan rumah makan karena salah satu penyebab juga," ungkap Gubernur saat diskusi melalui zoom yang bertemakan Tes Swab dan Protap Covid-19 untuk Rumah Makan dan Cafe di Zona Merah, Kamis (22/10/2020).

Irwan mengatakan jangan abai dengan keadaan sekarang, zona merah ada 15 indikator yang nilainya kritis dan Padang belum lepas dari indikator tersebut. "Kalau abai korban akan terus bertambah. Ikuti protokol kesehatan, baik bekerja, berdagang, ke mesjid, harus sesuai protokol agar tak terinfeksi," imbuhnya. 

Dikatakan Irwan, Cafe dan rumah makan banyak yang positif. Jika terus bertambah tidak mungkin lagi menambah kapasitas buat perawatan dan isolasi. Di M Djamil sudah ditambah 68 tempat tidur, Ahmad Muchtar 100 sudah mentok. 

Lebih lanjut Irwan menyebutkan sekarang giliran rumah makan dan restoran dites karyawannya agar tak ada cluster baru. 

"Kita bolehkan restoran buka usahanya dan memastikan karyawannya sehat. Ikut protokol kesehatan. Agar tidak ada pihak yang dirugikan. Sebab pelaksanaan PSBB gak mungkin, dananya sudah tidak ada dan kita sampai ke resesi. Kita tak ingin merugikan rumah makan, tapi meyakinkan bahwa rumah makan aman dari Covid-19. Jika sehat semua malah jadi daya tarik sendiri. Semua untung masyarakat sehat, pemilik usaha untung," jelasnya. 

Supaya kita terhindar dari Covid-19 muncullah instruksi Gubernur. Sebab Gubernur punya kewenangan kepala gugus tugas arahan, bupati dan walikota mencegah dan mengendalikan. Sebelumnya hotel lebih duluan di swab. Destinasi wisata juga swab gratis. Sopir taksi juga dites lewat organda.

Diakhir Irwan memesankan agar jangan takut diswab. "Saya 24 kali dites, besok yang ke 25 saya di BIM  tes lagi. Mari jaga diri dan keluarga, ini bisa terhenti penularannya. Kita beri fasilitas gratis," tutupnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Padang: Rumah Makan dan Restoran Perlu Jadi Perhatian Penghentian Penyebaran Covid-19

Feri Mulyani, Kepala Dinas Kesehatan Kota Padang mengatakan Kota Padang pernah mencatat 347 kasus dalam waktu sehari. “Ini menghawatirkan kita. Angka tersebut juga diikuti yang meninggal harian. Sementara kesembuhan di Kota Padang adalah 56 persen,"ungkap Feri saat menjadi narasumber di acara kawal Covid-19 tes swab dan protap Covid-19 untuk rumah makan dan cafe di Zona Merah, via zoom, Kamis (22/10/2020). 

Feri juga mengatakan angka positif ini sebenarnya yang aktif cukup banyak. "Sebagian besar isolasi mandiri di rumah yakni 2700 orang 70 orang di BPSDM, di rumah sakit 70 Rasidin, SPH 70, M Djamil 100 orang tak semuanya penduduk padang," terangnya. 

Ketika tidak terkontrol bisa menularkan ke yang lain. Dalam minggu depan bisa dimanfaatkan tempat isolasi yang disediakan oleh pemprov. Jadi yang rumahnya tak mungkin isolasi mandiri bisa isolasi di tempat yang disediakan. 

Lebih lanjut kata Feri cluster rumah makan dan restoran perlu jadi perhatian untuk memberhentikan penyebaran virus. Pelaku usaha restoran dan rumah makan diberi gratis untuk tes swab. 

"Cara melakukan pemeriksaan, ada mekanisme ke dinas pariwisata dan perdagangan. Ada alur yang harus kita ikuti. Jangan antrian swab di puskesmas ataupun labor. Kita inginkan pengusaha memahami jika pegawai restoran sampai hasil swab keluar tidak aktif dulu bekerja. Agar restoran bisa mengatur itu," ungkap Feri. 

Sebab kata Feri ketika di tes swab namun tetap bekerja ternyata positif artinya dapat menularkan ke yang lain. Salah satu bentuk antisipasinya adalah dengan memeriksakan karyawan dan pelaku usaha restoran. Penting diperhatikan pelaku usaha restoran dan rumah makan selayaknya tak lagi menyediakan cuci tangan di kobokan. "Tujuan kita memutus penularan, " imbuhnya.

PHRI Sumbar Sepakat Lakukan Testing Terhadap Pengelola Rumah Makan di Kota Padang

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia, Maulana Yusran mengaku setuju dengan instruksi yang dikeluarkan Gubernur tentang wajibnya pengelola dan karyawan dites swab demi mengantisipasi penyebaran Covid-19. 

"Pada prinsipnya saya menyetujui instruksi dari Gubernur Sumbar terkait dites swabnya seluruh karyawan restoran. Sebab ini adalah upaya penanggulangan penyebaran virus. Jika nanti ditemukan OTG bis langsung diambil tindakan seperti isolasi," ungkap Maulana kepada Covesia saat dihubungi via telepon, Selasa (20/10/2020).

Namun demikian, Maulana mengatakan jika ditemukan ada yang positif Covid-19 jangan disebutkan cluster restoran atau rumah makan. "Jangan sebut cluster jika ada yang positif covid, sebab merugikan dan mendeskreditkan tempat tersebut," ujarnya.

Pelaku Usaha : Pemilik Usaha Jangan Takut Swab, Ini Demi Pemutus Rantai Covid-19

Dalam sebuah diskusi via zoom yang diikuti berbagai pelaku usaha di Kota Padang beberapa waktu lalu, hadir seorang pelaku usaha hotel kota Padang. Yakninya Vera Mercure Padang. 

"Saya himbau teman-teman yang punya restoran dan tempat makan untuk test swab. Kita punya rumah makan ketika kita tak memotong mata rantai maka akan begitu terus. Tidak hanya beberapa orang saja yang akan terinfeksi bahkan ke beberapa orang lainnya," ungkap Vera. 

Lebih lanjut dikatakan Vera yang terinfeksi bisa saja dapatnya bukan dari rumah makan, tapi dari keluarga atau karyawan. Gejala Covid-19 banyak seperti bersin, meriang dan sesak nafas di akhirnya.

Pemilik usaha jangan takut, jika ditemukan karyawan yang positif bisa langsung dirawat dan diisolasi. Usaha dibuka lagi jika sudah aman. Jika belum maka bisa tes lagi untuk memutus mata rantai.  "Jangan sampai hanya memeriksakan 10 orang dari 30 karyawan yang dimiliki, sebab kita tidak dapat menemukan sumber positifnya kalau begitu. Biasanya yang terpapar satu orang menularkan ke 3 orang, 3 orang ke 6 orang. Mereka punya keluarga, itu kan bahaya kalau tidak cepat diketahui," jelasnya. 

Vera mengajak pelaku usaha untuk mau dites swab. "Sudah ada fasilitas diberikan oleh pemerintah kenapa gak diperiksa kesehatannya. Pelayanan penting banget diketahui, jika ada pegawai yang sakit ini penting memutus mata rantai covid-19," imbuhnya. 

Tak hanya itu, Vera juga bercerita pengalamannya perihal tes swab." Swab itu tidak sakit, saya sudah 5 kali swab dan waktunya kurang dari 10 detik. Jangan takut dan cemas, kita yakinkan staf kita untuk mau dites, yakinkan juga bahwa kita tidak akan meniggalkan mereka. Jika bisa support ayo kita himbau karyawan kita ditest kita bisa memutus mata rantai, " ujarnya. 

Mengenai sharing antara pelaku usaha tersebut, owner Dbesto, dr Yashinta bertanya terkait berapa hari karyawan diliburkan dan berapa lama hasil swab keluar. "Saya minta sharing kira-kira dapat karyawan positif apa yang dilakukan," ujarnya. 

Hadir juga Dharma Syaifullah GM Rumah Makan Silungkang. "Kami siap dites, kami menunggu teknisnya kita bisa lakukan sesuai arahan. Kami mendoakan covid menurun dan pulih kembali perekonomian kita," ungkapnya. 

Di diskusi itu hadir juga kepala labor Unand, Andani Eka Putra. Ia menyebutkan idealnya pemeriksaan swab adalah sekali sebulan paling tidak. Kita gratiskan terus karena membantu pemutusan Covid-19. 

"Imbal baliknya, kami minta komitmen dari pemilik restoran untuk patuh pada protap yang telah ditentukan. Pemeriksaan sample maksimal 36 jam sudah selesai. Sample boleh diserahkan kapan saja," katanya. 

Lebih lanjut kata Andani pengambilan tesnya nanti saya bekerjasama dengan dinas kesehatan kota Padang untuk bantu pengambilan teman-teman dari pemilik restoran ke dinas dan ke lab. "Koordinasi saya tawarkan kita punya grup WA untuk komunikasi kita agar lebih gampang," imbuhnya.

Tak hanya itu, kata Andani jika setelah kita lakukan tes dan hasil tes mereka negatif dan sudah sehat pegawai sudah kembali lagi. Kami sarankan kepada pemilik rumah makan untuk selalu memakai masker kalau bisa pakailah masker medis yang beli makan yang aman, nyaman. 

(ila/don)

Berita Terkait

Baca Juga