3 Fakta Vaksin AstraZeneca, Salah Satu Kandidat Vaksin Covid-19

3 Fakta Vaksin AstraZeneca Salah Satu Kandidat Vaksin Covid19 Ilustrasi Vaksin AstraZeneca Kandidat Vaksin Covid-19, Sumber Gambar (usnews.com)

Covesia.com - Kini begitu banyaknya negara yang sedang mengembangkan vaksin untuk melawan virus corona yang memang sangat cepat penyebarannya.

Salah satu vaksin yang telah melalui tahap uji klinis fase akhir yaitu AstraZeneca, vaksin asal Inggris yang sudah di-uji klinis di berbagai negara

Vaksin hasil dari kerjasama AstraZeneca dan Oxford ini pada pertengahan September 2020 yang lalu sempat dihentikan.

Hal yang menghentikan proses pengujiannya adalah karena vaksin ini memicu penyakit aneh pada satu orang relawan.

Juru bicara perusahaan AstraZeneca mengatakan, dihentikannya sementara proses pengujian vaksin tersebut untuk tinjauan keamanan agar tidak salah langkah.

Memang, tidak disebutkan pasti apa efek samping yang dihasilkan oleh vaksin ini sehingga sampai dihentikan tahap pengujiannya.

Namun, salah satu informasi yang beredar salah satu relawan mengalami gangguan neurologis (saraf) yang langka bernama transverse myelitis.

Meski demikian, Vaksin Covid-19 hasil kerjasama antara perusahaan AstraZeneca dan Oxford University ini tetap menjadi salah satu kandidat kuat sebagai vaksin yang akan bisa menangkal virus corona.

Bahkan menurut Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi, Indonesia akan memesan 100 juta dosis vaksin astrazeneca yang direncanakan akan tersedia pada awal tahun 2021.

Adapun berbagai fakta tentang Vaksin AstraZeneca ini yang harus kita ketahui bersama.

Vaksin AstraZeneca Sudah Masuk Uji Klinis Fase 3

Vaksin buatan Universitas Oxford dan AstraZeneca ini bernama AZD 1222 atau ChAdOxlnCoV-19.

Vaksin ini tengah melakukan uji klinis fase tiga atau fase akhir di Inggris, Brazil dan Afrika dengan menguji coba pada 20.000 relawan.

Vaksin ini juga diuji di AS dengan mengundang 50.000 relawan. Uji klinis fase ke-tiga dari vaksin Covid-19 merupakan evaluasi untuk melihat keampuhan dan keamanan dari kandidat vaksin.

Jika kandidat vaksin virus corona itu gagal untukmembuktikannya terkait dengan keampuhan dan keamanannya, maka jelas tak akan bisa menjangkau konsumen.

Melihat juga bagaimana efek samping yang ada pada relawan setelah disuntikan vaksin tersebut.

Salah Satu Kandidat Vaksin Covid-19 Terkuat

Chief scientist World Health Organization (WHO), Soumya Swaminathan mengatakan bahwa vaksin yang dikembangkan oleh perusahaan AstraZeneca merupakan salah satu kandidat terdepan dalam perlombaan penemuan vaksin.

Pendiri Microsoft, Bill Gates juga menjagokan vaksin ini sebagai senjata lawan virus corona di seluruh dunia.

AstraZeneca merupakan salah satu pionir dalam pengembangan vaksin Covid-19 ini.

Bahkan, mereka mendapatkan suntikan dana dari Pemerintah Amerika Serikat melalui operasi warp speed sebesar sebesar US$ 1,3 miliar (setara dengan Rp 18,85 triliun dengan asumsi kurs Rp 14.500/US$).

Hal itu juga sebagai pembayaran, lantaran AS meminta 400 juta dosis vaksin AZD1222.

Sudah Dipesan Negara Maju

Karena dianggap salah satu kandidat terdepan dalam pembuatan vaksin beberapa negara maju telah memesan vaksin Astrazeneca ini.

Negara maju yang dimaksud adalah Italia, Jerman, Belanda dan Perancis telah membayar uang muka US$843,2 juta untuk memesan 300 juta dosis vaksin.

Pada Mei 2020 yang lalu, Pemerintah Amerika Serikat juga telah mengumumkan bahwa memesan 300 juta dosis vaksin AstraZeneca dan menjanjikan kucuran dana sebesar US$1,2 miliar untuk mempercepat penemuan vaksin.

Tidak hanya negara maju, Indonesia juga ikut serta dalam memesan Vaksin AstraZeneca ini.

Menurut Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi, Indonesia telah memesan sebanyak 100 juta dosis vaksin AstraZeneca yang dicanangkan akan tersedia di Indonesia pada tahun 2021.

Seluruh negara di belahan dunia sedang menantikan vaksin untuk menangkal virus corona.

Jadi, sampai vaksin benar-benar siap digunakan, tetaplah patuhi aturan kesehatan dari pemerintah.

Jika terdapat gejala yang Anda rasakan dalam hal kesehatan, dapat ke dokter segera, dengan membuat janji terlebih dahulu menggunakan Aplikasi Halodoc.

Tidak hanya menyediakan fitur layanan kesehatan dan pendaftaran untuk rapid test atau swab test di seluruh fasilitas kesehatan di Indonesia, Halodoc juga memiliki informasi terkini terkait perkembangan vaksin covid-19.

(olg)

Berita Terkait

Baca Juga