Dinkes Sebut Angka Stunting di Pasaman Turun 19,6 Persen

Dinkes Sebut Angka Stunting di Pasaman Turun 196 Persen Plt. Dinas Kesehatan Pasaman, dr. Rahadian Suryanta Lubis (dok covesia)

Covesia.com - Dinas Kesehatan Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat (Sumbar) mendata angka stunting pada tahun 2020 mengalami penurunan mencapai 19,6 persen.

"Pada tahun 2019, angka stunting pada balita mencapai 20,1 persen yakni berjumlah 4.312 balita, sedangkan tahun 2020 mencapai 19,6 persen sebanyak 4.276 balita," kata Plt. Dinas Kesehatan Pasaman, dr. Rahadian Suryanta Lubis didampingi Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Nurhalimah, Kamis (4/3/2021).

Tahun 2019, kata dia ada 11 Kecamatan yang mengalami stunting yakni Kecamatan Tigo Nagari, Kecamatan Panti, Kecamatan Duo Koto, Kecamatan Mapat Tunggul Selatan, Kecamatan Bonjol, Kecamatan Rao Utara, Kecamatan Lubuk Sikaping, Kecamatan Mapatunggul, Kecamatan Padang Gelugur, Kecamatan Rao dan Kecamatan Simpati.

"Kemudian 2020, 10 Kecamatan yakni Kecamatan Tigo Nagari, Kecamatan Panti, Kecamatan Mapat Tunggul Selatan, Kecamatan Bonjol, Kecamatan Rao Utara, Kecamatan Lubuk Sikaping, Kecamatan Mapatunggul, Kecamatan Rao, Kecamatan Simpati dan Kecamatan Duo Koto," tambahnya.

Selanjutnya tahun 2018, kasus stunting berjumlah 26,9 persen, total ada 4.761 balita di Enam Kecamatan antara lain Kecamatan Tigo Nagari, Kecamatan Panti, Kecamatan Duo Koto, Kecamatan Mapat Tunggul Selatan, Kecamatan Bonjol dan Kecamatan Rao Utara.

"Usia stunting bagi balita dari 0 - 5 tahun, usia terbanyak mengalami stunting berumur 2 tahun," katanya.

Jumlah anggaran pencegahan stunting  yang dibutuhkan tahun 2019, senilai 750 juta, tahun 2020 sebanyak 750 juta. 

"Untuk tahun 2021 anggaran yang dibutuhkan sebesar Rp823.180.000,-Bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Non Fisik Kementerian Kesehatan," katanya.

Ia mengungkapkan penurunan angka stunting di sebabkan dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) termasuk makan dengan suplemen bergizi oleh ibu hamil dan balita.

Selain PHBS, pihak Dinas Kesehatan, Puskemas dan Bidan Desa juga ikut melakukan pencegahan penurunan angka stunting.

Pencegahan stunting itu berupa, edukasi gizi seimbang seperti pemberian makanan tambahan biskuit, susu untuk ibu hamil dan balita, kelas ibu hamil, kelas ibu balita, kunjungan balita di Posyandu dan lainnya.

"Faktor dominan penyebab stunting ialah perilaku merokok orang tua, tidak punya jaminan kesehatan dan tidak ketersediaan akses jamban sehat," katanya.

Pihaknya mengimbau kepada masyarakat selalu menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan makanan bergizi setiap hari agar terhindar dari stunting.

(hri)

Berita Terkait

Baca Juga