Fakhrizal dan Cerita Inspiratif dalam Memuliakan Anak Yatim

Fakhrizal dan Cerita Inspiratif dalam Memuliakan Anak Yatim Irjen Pol Fakhrizal saat menyantuni anak yatim dalam suatu kesempatan.

Covesia.com - Kisah bagaimana Rasulullah SAW dan sahabat Abu Bakar memuliakan anak yatim menjadi inspirasi bagi banyak orang, terutama umat Muslim. Perintah dari Allah SWT serta sabda Nabi SAW. menjadi dasar bahwa memuliakan anak yatim adalah suatu keharusan. 

Di balik kaharusan itu banyak pula manfaat yang diperoleh bagi orang-orang yang secara konsisten menunjukkan kepedulian kepada anak yatim. Juga, banyak kisah tentang orang sukses yang tidak terlepas dari hubungannya bersama anak yatim. 

Dalam salah satu sabdanya, Rasul menjelaskan bahwa kedudukan orang yang memuliakan, menyantuni, dan mengasihi anak yatim akan mendapatkan surga yang jaraknya bagaikan jari telunjuk dan jari tengah. Isyarat ini menunjukkan orang yang memuliakan anak yatim akan mendapat kedudukan  yang juga mulia, di mata Allah SWT. dan manusia. 

Bahkan Allah SWT dalam firman Nya juga mengecam tindakan yang menyakiti anak yatim baik fisik maupun perasaannya. Demikian pula, Rasul SAW sangat melarang menelantarkan anak yatim. Dalam Alquran, Allah SWT mengecam orang-orang yang suka menghardik anak yatim dan enggan memberi makan fakir miskin. Allah menyebut mereka itu sebagai pendusta agama. (QS al-Ma'un [105]: 1-5).

Sebagai pemimpin umat manusia di dunia dan akhirat, Rasulullah telah mencontohkan bagaimana cara memuliakan anak yatim. Hal ini juga sepatutnya diteladani bagi semua kalangan apalagi para pemimpin. 

Kepada Covesia.com beberapa waktu lalu, Inspektur Jenderal Polisi (Irjen Pol) Fakhrizal berbagi pengalaman bagaimana rasanya memuliakan anak yatim. Ada kenyamanan, ketentraman dan rasa bahagia seketika melihat senyum dari anak yatim. 

Dari apa yang dirasakannya itu, kebiasaan bertemu dan berbagi kepada anak yatim secara istiqamah dilakukan, di sela-sela kesibukan sebagai abdi negara dan pelayanan masyarakat. 

"Ini suatu kewajiban bagi saya untuk menjaga dan menyantuni anak yatim, dan agama kita (Islam) juga menganjurkan. Kalau ada rejeki dan kemampaun kenapa tidak!" ujarnya. 

Meski tidak bisa meluangkan lebih banyak waktu bersama anak yatim, dia mencoba membuat jadwal rutin untuk mengunjungi dan menyantuni anak yatim. 

Saat menjabat sebagai Kapolres, dia menjadwalkan bertemu anak yatim satu kali dalam satu bulan. Sementara saat menjabat sebagai Kapolda, intensitasnya ditingkatkan menjadi dua kali setiap bulan. 

"Waktu jadi kapolres, berkunjung ke panti asuhan saya lakukan satu bulan sekali, itu waktu jadi Kapolres Jepara. Saat menjabat Kapolda, saya lakukan dua kali dalam sebulan yakni pada minggu pertama dan ketiga. (Dua kali dalam sebulan) itu ketika sudah menjadi Kapolda di Kalimatan Tengah dan Sumatera Barat," terang Fakhrizal.

Dia mengungkapkan, ada kepuasan batin bagi saat bisa bertemu dan menyantuni anak yatim.

"Alhamdulillah ada suatu kepuasan batin saat makan bersama dengan mereka, walaupun sedikit, mereka begitu menikmati. Selain itu kita juga beri santunan, untuk mereka beli buku dan biaya sekolah," ucapnya. 

Saat ini Fakhrizal bertugas Mabes Polri, kesibukan tidak membuat perwira polisi  lulusan Akabri 1986 itu kesulitan melakukan hal serupa.

"Saya sudah terbiasa 'dikelilingi' anak yatim, mulai sejak awal menjadi polisi hingga saat ini, dan bertekad hingga akhir hayat," ujar jendral 'ninik mamak' ini.

Belum ada laporan valid tentang jumlah anak yatim di Indonesia. Sementara, pada tahun 2013, Yayasan Yatim Mandiri mencatat jumlah anak yatim di Indonesia saat ini mencapai 3,2 juta jiwa. Entah hari ini, berapa jumlah anak yatim yang selayaknya mendapatkan perhatian dari banyak pihak di negeri ini. 

Kepedulian dari orang-orang yang diberikan kelebihan rezeki, tentu sangat diharapkan. Terutama para pemimpin, yang mendapat amanah harta, memberi manfaat, dan menjaga anak yatim guna masa depan mereka yang lebih cerah.

(rdk)

Berita Terkait

Baca Juga