Angka Kematian Akibat Laka Lantas di Padang Pariaman Tertinggi Kedua di Sumbar

Angka Kematian Akibat Laka Lantas di Padang Pariaman Tertinggi Kedua di Sumbar Kasat Lantas Padang Pariaman, Iptu Indra Kusuma (Foto: Peri)

Covesia.com - Januari hingga Juli tahun 2020, Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Padang Pariaman, Sumatera Barat (Sumbar) mencatat jumlah angka kematian akibat kecelakaan ada sekitar 41 jiwa. 

"Dengan 41 jiwa itu, sehingga membuat Padang Pariaman peringkat ke dua setelah Kota Padang, di Sumbar, dalam kasus kematian akibat kecelakaan lalu lintas," ungkap Kasat Lantas Padang Pariaman, Iptu Indra Kusuma kepada covesia.com pada Senin (7/9/2020).

Lanjut Indra, 41 jiwa itu didominasi mereka yang usia produktif yakni mulai umur 13 sampai 30 tahun.

"Ini akibat kurang patuhnya para pengendara terhadap aturan lalu lintas. Padahal kami selalu mengimbau kepada masyarakat agar menaati aturan lalu lintas, seperti memakai helm bagi kendaraan roda dua, memikirkan keselamatan orang lain dan dirinya sendiri," jelasnya.

"Sebab kami dari kepolisian tidak bisa melarang orang untuk tidak kecelakaan," ujarnya.

Namun, pihaknya tidak bosan-bosannya melakukan penyuluhan terhadap orang tua untuk mengingatkan anaknya, serta melakukan imbauan ke pasar-pasar.

"Kami juga selalu memberikan imbauan melalui media sosial, dan secara langsung dengan mendatangi sekolah. Tujuannya agar adek-adek kami pelajar itu menaati aturan untuk wajib memakai helm, agar kalaupun terjadi kecelakaan ada pelindung kepalanya," katanya. 

Indra menyebutkan, untuk penyebab kecelakaan diketahui bahwa Padang Pariaman jalannya cukup padat, kemudian juga pintu masuk ke Sumbar. Artinya banyak orang yang ingin melintasi daerah Padang Pariaman ini. 

"Kemudian, karena di sini ada pembangunan jalan tol, sehingga kendaraan besar membawa alat berat  juga sering melintasi jalan Padang Pariaman, sehingga memperlambat laju kendaraan lain, dan bisa menyebabkan kecelakaan," ucapnya. 

Indra mengatakan, jumlah kecelakaan itu melonjaknya setelah Pembatasan sosial berskala Besar (PSBB) kemaren, yang akan memasuki normal baru. 

Sedangkan untuk daerah yang paling rawan itu di daerah Ulakan Tapakis, Tiram, karena di sana jalan cukup padat dan di sana masyarakat jarang yang memakai helem.

(per)

Berita Terkait

Baca Juga