Advetorial Pemko Bukittinggi

Mengenang 118 Tahun Sang Proklamator Bung Hatta

Mengenang 118 Tahun Sang Proklamator Bung Hatta Sang Proklamator Bung Hatta (Foto: Ist)

Covesia.com - Genap berusia 118 tahun di tanggal 12 Agustus 2020, Sang Proklamator, Bung Hatta yang lahir pada tahun 1902 di kampung Aua Tajungkang kota Bukittinggi, Sumatera Barat merupakan sosok pahlawan nasional yang dikenal di mata dunia dengan gagasannya.

Terlahir dari pasangan Muhammad Djamil dan Siti Saleha, Mohammad Hatta diberi nama Mohammad Athar yang berasal dari bahasa Arab, yang berarti harum. 

Namun, putra asli dari tanah minang Kota Bukittinggi itu dalam kesehariannya lebih akrab dipanggil 'Atta' karena pada zamannya orangtua dulu sulit menyebut 'Athar', hingga akhirnya melekatlah nama 'Hatta' yang dikenal hingga sekarang.

Menikah pada tanggal 18 November 1945 dengan Siti Rahmiati Hatta dengan nama asli Rahmi Rachim pada 18 November 1945, Bung Hatta dikaruniai tiga orang anak perempuan yakni Meutia Farida Hatta, Gemala Rabi'ah Hatta, dan Halida Nuriah Hatta.

Mohammad Hatta juga pernah menjadi wakil Presiden RI bersama Soekarno dalam memperjuangkan dan memproklamirkan kemerdekaan RI di tahun 1945 pada masa zaman penjajahan Belanda.

Semasa hidupnya, Bung Hatta dikenal akan komitmennya pada demokrasi, sehingga dengan buah pemikirannya, ia sukses membangun perekonomian bangsa dan masyarakat melalui koperasi, sehingga ia dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia. Ia juga merupakan negarawan dan ekonom Indonesia yang menjabat sebagai Wakil Presiden Indonesia pertama.

Bung Hatta meninggal di Jakarta, 14 Maret 1980 dalam usia 77 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Tanah Kusir, Jakarta. Pemerintah Indonesia menetapkannya sebagai salah seorang Pahlawan Nasional Indonesia pada tanggal 23 Oktober 1986 melalui Keppres nomor 081/TK/1986.


Pada umumnya, sejarah Bung Hatta bisa diakses melalui internet ataupun cerita dari tenaga pendidik di bangku sekolah ataupun diperkuliahan. Namun, tak sedikit pula warga yang ingin mengetahui bagaimana sosok Bung Hatta di mata keluarga dan cerita semasa hidupnya, yang memang dikenal sederahana, meskipun lahir dari keluarga yang bisa dikatakan berada.

Salah satu peninggalan sejarah yang bisa dinikmati masyarakat, sebagai wadah dalam menggali sejarah dan mengenal lebih dekat sosok Bung Hatta, adalah rumah kelahiran Bung Hatta. Melalui rumah masa kecilnya yang berlokasi di jalan Soekarno-Hatta No. 37 Bukittinggi, pengunjung bisa mengetahui lebih banyak tentang Bung Hatta, bahkan rumah kelahiran Bung Hatta juga masih dilengkapi dengan beberapa koleksi pemberian keluarga Bung Hatta. Dengan koleksi itu, menjadikan pemikiran pengunjung bisa dibawa ke zaman di mana jejak-jejak kecil Bapak Proklamator itu.

Begitu masuk ke dalam rumah kelahiran Bung Hatta, banyak terdapat informasi mengenai Bung Hatta yang bisa dibaca melalui keterangan foto-foto dan benda- benda kenangan Bung Hatta yang ada di ruang tamu. Dari rumah itu juga kita dapat mengetahui silsilah keluarga Bung Hatta yang jarang diketahui masyarakat. 


Pria bernama asli Mohammad Athar ini merupakan anak dari pasangan H. M. Djamil dan Saleha, memiliki satu orang kakak kandung bernama Rafi'ah atau yang akrab disapa Upik dan 4 orang saudara tiri perempuan dari pernikahan ibunya dengan Mas Agus H. Ning.

Naik ke lantai dua, akan dijumpai kamar tempat Bung Hatta dilahirkan Siti Saleha pada tanggal 12 Agustus 1902. Sementara itu di belakang rumah utama, dapat dilihat tulisan "kamar bujang" di salah satu sudut ruangan. Ruangan ini adalah kamar tempat Bung Hatta menghabiskan masa remajanya sebelum merantau ke Pulau Jawa.

Dalam sebuah kamar yang berisi satu tempat tidur, satu lemari dan satu meja belajar serta satu unit sepeda tua adalah saksi bisu bagaimana Bung Hatta menghabiskan hari-harinya di masa kecil hingga beranjak remaja. Selain kamar bujang yang ada di bagian belakang rumah, Bung Hatta juga memiliki satu kamar lagi yang berada di rumah utama yang terletak di depan dekat pintu masuk. Kamar tersebut adalah ruang khusus yang digunakan Bung Hatta untuk membaca, hanya ada meja dan kursi serta tempat tidur untuk beristirahat. 

Selain kamar Bung Hatta dan orang tuanya, di rumah kelahiran ini juga terdapat kamar tidur milik kakek dan paman Bung Hatta.

Rumah kelahiran Bung Hatta pada awalnya dibangun pada tahun 1860 dan dibangun kembali atas kerja sama Yayasan Pendidikan Wawasan Nusantara (Universitas Bung Hatta) dan Pemerintah kota Bukittinggi dimana peresmiannya dilakukan tanggal 12 Agustus 1995 oleh Menteri Negara Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Azwar Anas. Pembangunan kembali rumah kelahiran Bung Hatta ini tetap mempertahankan bentuk aslinya, tujuannya agar kenangan tentang masa kecil Bung Hatta tetap terjaga. 


Rumah kelahiran Bung Hatta ditetapkan sebagai salah satu benda cagar budaya dan dilindungi oleh Undang-undang nomor 11 tahun 2010. 

Saat ini pengelolaan rumah kelahiran Bung Hatta diserahkan ke pemerintah kota Bukittinggi, melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan menjadi salah satu destinasi wisata sejarah di Bukittinggi. 

Pada 12 Agustus 2020 ini, Bung Hatta genap berusia 118 tahun. Tak ada salahnya bagi masyarkat, terkhusus bagi warga Bukittinggi dan sekitarnya untuk kembali mengenal lebih dekat sosok Sang Proklamator dengan mendatangi langsung rumah kelahiran Bung Hatta yang berada di jalan Soekarno-Hatta no.37.

Bahkan, tak sedikit pula pengunjung yang datang dari luar daerah di Indonesia hanya untuk mengenal kembali sosok bersahaja itu di rumah masa kecilnya dan mengenang sejarah Bung Hatta yang memang dikenal dengan ide gagasannya.

(deb)


Berita Terkait

Baca Juga