Warga di Pessel Sambut Idul Adha dengan Tradisi Malamang

Warga di Pessel Sambut Idul Adha dengan Tradisi Malamang Tampak Ibu-ibu yang sedang memasak lamang di Kecamatan Sutera Pessel, Kamis (30/7/2020)(Istimewa)

Covesia.com - Sambut datangnya hari raya Idul Adha 1441 H, warga di Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat (Sumbar) lakukan tradisi malamang. 

Menurut salah seorang warga setempat, Alisma (55), tradisi atau kebiasaan malamang sudah dilakukan sejak zaman nenek moyangnya.

Dimana, kebiasaan itu terus dilakukan saat penyambutan hari-hari besar islam seperti, menyambut hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. 

"Setiap hari Idul Adha dan Idul Fitri, kami pasti melamang. Karena, sudah menjadi tradisi kami sejak jaman dulu," sebutnya pada Covesia.com, Kamis (30/7/2020). 

Kemudian katanya, lamang yang sudah dimasak nantinya akan diantarkan ke rumah sanak saudaranya. 

Selain diantararkan ke sanak saudaranya, lamang juga diperuntukkan sebagai penyambut tamu yang datang bermaaf-maafan ke rumah mereka. 

Terpisah, Mira (40) menjelaskan, cara pembuatan lamang yaitunya menggunakan bahan-bahan yang sederhana. 

Pertama, bahan yang digunakan adalah beras katan yang dibasuh setelah itu dikeringkan 

Kemudian, beras katan itu dimasukkan kedalam potongan bambu sepanjang 1 meter yang dialas dengan daun pisang. 

Selanjutnya, beras katan yang sudah dimasukkan ke dalam bambu, dikasih santan kelapa yang telah diaduk bersama garam, vanile secukupnya. 

"Lalu, lamang siap dimasak dengan cara dibakar selama lima jam, sampai lamang benar-benar matang,"ucapnya

Ia menambahkan, lamang yang biasa dibuat oleh warga setempat itu, tidak hanya lamang katan saja. Namun, ada beberapa jenis lamang yang biasa dibuat oleh warga setempat. 

"Ada lamang tepung dengan bahan pisang, ada lamang ketan hitam dan putih serta ada lamang luo atau lamang yang berisi pemanis campuran gula merah dengan kelapa yang sudah dikikis," katanya.

Lanjutnya, meski ditengah pandemi Covid-19, tradisi malamang untuk menyambut kedatangan Idul Adha masih tetap dilakukan sebagian warga di kecamatan itu. 

Sebab, tradisi ini sudah menjadi kebiasaan yang tidak pernah ditinggalkan oleh warga sekitar. 

"Hampir seluruh warga kita melakukan tradisi malamang meski ditengah pandemi. Jika ada yang tidak, mungkin hanya sebagian," pungkasnya.

(ind)

Berita Terkait

Baca Juga