Ini Penjelasan Sosiolog, Penyebab Maraknya Kekerasan Seksual di Sumbar

Ini Penjelasan Sosiolog Penyebab Maraknya Kekerasan Seksual di Sumbar Sosiolog Universitas Negeri Padang (UNP), Erian Joni.

Covesia.com - Sosiolog Universitas Negeri Padang (UNP), Erian Joni melihat, makin maraknya di Sumatera Barat (Sumbar), fenomena kekerasan seksual berupa pencabulan dan pemerkosaan, disebab karena terjadinya kemiskinan moral serta krisis kepemimpinan dalam keluarga.

"Ya, artinya kasus demi kasus kekerasan seksual yang terjadi di Sumbar belakangan ini menunjukkan makin menguatnya tudingan akan terjadinya disorganisasi yaitu keadaan tanpa aturan atau kekacauan masyarakat khususnya di institusi keluarga," sebut Erian kepada covesia pada Senin (27/7/2020).

Lanjut Erian, dimana keluarga inti (nuclear family) semakin lepas dari menjalankan fungsinya.

Sehingga terjadinya kemiskinan moral serta krisis kepemimpinan dalam keluarga, dan berdampak pada hilangnya fungsi afeksi (kasih sayang), kemudian proteksi (perlindungan), yang akan mengancam para anggota keluarga terutama anak.

Dikatakan Erian, sebenarnya kasus pencabulan bukan hanya terjadi di tengah keluarga, tapi juga terjadi di ruang publik, seperti di sekolah, kampus, kantor, transportasi umum bahkan tempat wisata. 

Menurutnya, hal ini juga dipicu oleh masih lemahnya pengawasan sosial pada ruang publik, misalnya oleh aparat keamanan, masyarakat sekitar bahkan fasilitas kamera CCTV sebagai bagian standar keamanan publik, sehingga pelaku mudah beraksi secara bebas tanpa tercium orang lain.

"Fenomena kekerasan seksual ini bisa kita jadikan kritik pada sistem sosial budaya Minangkabau, yang makin tergerus oleh perubahan sosial, ditandai oleh lepasnya ikatan kultural keluarga kaum (extended family). Akibatnya anak bukan lagi mendapat pengawalan dari anggota keluarga kaum, seperti mamak atau bako lagi," ungkapnya. 

Erian menyebutkan, disisi lain kekerasan seksual itu banyak yang tak terlaporkan. Seperti diintiminasi oleh pelaku, ketergantungan korban secara ekonomi pada pelaku dan kekerasan fisik lainnya.

"Itu karena lingkungan sosial dihuni oleh orang-orang yang makin individualis dan hilang dari kepedulian sosial, jadi jika ada kasus masyarakat hanya tau setelah kejadian dan bereaksi tidak dalam keseriusan," ucapnya. 

Dengan semua kejadian itu, menurut Erian solusinya perlu pengguatan nilai religi dan sosial dalam keluarga melalui konsep ketahanan keluarga, agar bebas dari kejahatan seksual kemudian perlunya pengetahuan hukum tentang sanksi kejahatan seksual.

"Paling penting lagi pengawasan orang terdekat, dengan membangunan komunikasi internal antar anggota keluarga," katanya. 

(per)


Berita Terkait

Baca Juga