Kasus Pembunuhan Adek Firdaus di Teluk Bayur, PH: Klien Kami Terpaksa untuk Membela Diri

Kasus Pembunuhan Adek Firdaus di Teluk Bayur PH Klien Kami Terpaksa untuk Membela Diri Sidang perkara pembunuhan dengan dua terdakwa Efendi Putra dan Eko Sulistiyono kembali digelar di Pengadilan Negeri Padang, Kamis (23/7/2020)(Foto: Fakhru)

Covesia.com - Penasihat hukum terdakwa kasus pembunuhan di Dermaga Beton Teluk Bayur, Kota Padang, Sumatera Barat, menyebut kedua kliennya Efendi Putra dan Eko Sulistiyono terpaksa melakukan tindak pidana pembunuhan kepada korban Adek Firdaus untuk membela diri.

"Secara hukum, klien kami hanya membela diri. Dengan keterpaksaan sebab nyawa mereka terancam," ungkap Kuasa Hukum Terdakwa Julaiddin Cs saat ditemui wartawan di Pengadilan Negeri Padang sebelum persidangan kasus tersebut, Kamis (23/7/2020).

Dia menuturkan dirinya menyampaikan hal tersebut bukan untuk mengintervensi hak prerogatif jaksa dan hakim. Namun, nyawa kedua kliennya itu terancam sebab korban diduga berupaya untuk membunuh dengan dua senjata tajam yaitu pisau dapur dan parang yang dibawa saat memasuki kawasan dermaga tersebut tanpa izin pada Rabu (1/1/2020) lalu sekitar 04.00 WIB.

Berdasarkan reka ulang peristiwa pada Kamis (20/2/2020) lalu, saat korban diketahui memasuki kawasan dermaga, kliennya yang bertugas sebagai satpam telah memberikan arahan secara baik-baik kepada korban.

"Dari awal memang tidak ada niat jahat Efendi dan Eko untuk melakukan itu. Sesuai tugas, mereka hanya memberi pengarahan agar korban keluar dari kawasan Pelabuhan Teluk Bayur," imbuhnya.

Namun, sambungnya, setelah diberi pengarahan, korban bukannya keluar tetapi malahan memasuki kawasan mess karyawan. Atas tindakan korban tersebut, terdakwa Eko kembali mendatangi korban sementara Efendi berjaga di pos jaga area pelabuhan.

"Pada saat mendatangi korban, Eko kembali menegur dengan baik agar korban keluar. Tapi korban malahan melawan dan mencaci maki Eko. Menanggapi itu, Eko memberikan pukulan peringatan pakai tongkat satpam. Korban melawan dan terjadi perkelahian," terangnya.

Ternyata, kata Julaiddin, korban membawa dua pucuk senjata tajam, yaitu pisau dapur dan parang. Mengetahui hal itu, terdakwa Eko memberi sinyal pakai senter kepada Efendi agar datang.

Saat Efendi datang, korban mengeluarkan pisau dan berniat untuk menusuk Eko. Namun berhasil ditepis oleh Efendi sehingga pisau tersebut terjatuh ke tanah. Melihat kejadian itu, Eko mundur karena merasa tidak sanggup.

Setelah itu, kata Julaiddin, Efendi berusaha untuk mengambil pisau. Saat dia merunduk, ternyata korban mengeluarkan parang dan berniat untuk menebas leher Efendi. Merasa nyawanya terancam, Efendi mengelak, dan terpaksa harus melumpuhkan korban dengan menusukkan pisau ke paha korban.

Bukannya menyerah, ternyata korban kembali mengayunkan parang ke arah Efendi. Efendi juga kembali berusaha melumpuhkan Adek dengan cara menusukkan pisau ke bagian paha, namun ditangkis oleh korban sehingga mengenai dadanya.

"Korban pertama sebenarnya security. Namun pembelaan diri terpaksa harus dilakukan, karena kalau tidak, nyawa mereka akan terancam. Menurut pandangan hukum kami, ini terpaksa dilakukan, bukan kehendak atau keinginan untuk melakukan itu. Kalau ingin melakukan itu, dari awal sudah dilakukan," sebut Julaiddin.

Selain itu, dia mengungkap, korban memasuki kawasan Dermaga Beton sekitar pukul 3-4 dini hari, dimana saat itu masih jam istirahat karyawan. Diduga ada niat tidak baik yang akan dilakukan korban. Sebelumnya, korban juga diduga selalu melakukan tindak pidana seperti pencurian barang milik orang lain di kawasan Pelabuhan Teluk Bayur dan di kapal 

"Dengan dugaan-dugaan itu, makanya security lebih waspada terhadap apa yang dilakukan korban. Langkah ini diambil untuk antisipasi, sebab sesuai tugas mereka digaji untuk menjaga pelabuhan," katanya.

Lebih lanjut Julaiddin menyatakan, berdasarkan rekonstruksi peristiwa itu, pihaknya selaku kuasa hukum menginginkan agar Efendi dan Eko dibebaskan demi hukum. 

Sementara itu, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Padang yang menangani perkara, Irna mengatakan bahwa perkara ini telah masuk ke ranah pengadilan. Untuk itu, perlu dilihat terlebih dulu fakta persidangan melalui keterangan para saksi.

"Nanti kita lihat fakta di persidangan. Masih ada beberapa saksi yang akan dimintai keterangan. Bagaimana faktanya, apakah membela diri atau bagaimana. Nah fakta persidangan itu nanti yang akan menjadi dasar pertimbangan majelis hakim untuk membuat putusan," katanya kepada wartawan.

(fkh)

Berita Terkait

Baca Juga