Keluar dari PSBB, Bukittinggi Benahi Ekonomi Daerah

Keluar dari PSBB Bukittinggi Benahi Ekonomi Daerah Walikota Bukittinggi Ramlan Nurmatias

Covesia.com - Kota Bukittinggi, Provinsi Sumatera Barat menyatakan keluar dari masa PSBB dan menjadi kota pertama yang mengajukan tidak memperpanjang masa PSBB kepada pemerintah provinsi.

Mengambil langkah percepatan dalam kondisi pandemi Covid-19 selama kurang lebih 2,5 bulan, pemerintah kota Bukittinggi secara bertahap mulai membenahi berbagai sektor, mulai dari pariwisata, perekonomian, perhotelan, sekolah dan lainnya.

Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias, menyampaikan pihaknya dalam waktu dekat akan segera membenahi ekonomi daerah yang mana 80 persen perekomian daerah anjlok karena pandemi Covid-19.

"Kita akan segera buka objek wisata, perhotelan, sekolah, mesjid, dan pasar," kata Ramlan Nurmatias kepada awak media, Rabu (27/5/2020).

Ia menerangkan pariwisata Bukittinggi merupakan tulang punggung PAD yang menjadi andalan Bukittinggi dan di bulan Juni seluruh objek wisata akan di buka, namun tetap akan menerapkan protap Covid-19.

Setiap pengunjung yang akan masuk objek wisata diwajibkan mencuci tangan di tempat yang telah disediakan dan pengunjung akan diukur suhunya sebelum masuk objek wisata.

"Untuk kapasitas pengunjung dibatasi dari hari biasa sebelum pandemi guna mengantisipasi penularan Covid-19," ujarnya.

Pemerintah kota juga akan membuka masjid dengan ketentuan setiap jamaah wajib mencuci tangan dan membawa sajadah dari rumah dan dianjurkan untuk berwuduk di rumah sebelum ke mesjid.

Sedangkan untuk aktivitas pasar, para pedagang sudah bisa memulai berjualan namun tetap dengan ketentuan yang ditetapkan.

"Termasuk pada Juli nanti kita akan buka pasar Atas Bukittinggi," ujarnya.

Untuk perhotelan, kata Ramlan setiap pengunjung dari luar daerah akan diminta surat keterangan kesehatan dan seluruh karyawan akan dilakukan rapid test.

Sementara untuk dunia pendidikan, akan di mulai pada bulan Juli, namun untuk Paud, TK dan SD kelas 1 dan 2 tetap diliburkan.

"Sebelum memulai aktivitas kegiatan belajar seluruh guru di Bukittinggi akan dilakukan rapid test," ungkapnya.

Sedangkan untuk jam belajar akan dikurangi menjadi 3,5 jam tanpa keluar main dengan menggunakan dua shift dimana satu lokal hanya boleh 15 murid dan dilanjutkan shift berikutnya.

(deb)

Berita Terkait

Baca Juga