Cerita Rhogerry, Mahasiswa Minang di Amerika Menghadapi Wabah Covid-19 

Cerita Rhogerry Mahasiswa Minang di Amerika Menghadapi Wabah Covid19  Rhogerry Deshycka mahasiswa S3 yang mengenyam pendidikan di Universitas California San Francisco (UCSF) bidang Biomedical Science (Foto: dok.pribadi)

Covesia.com - Amerika Serikat merupakah  negara yang masyarakatnya paling banyak dinyatakan positif Covid-19 melebihi China. Di tengah pandemi yang terus menyebarluas tersebut banyak dampak yang ditimbulkan baik dari segi sosial, pariwisata hingga perekonomian. 

Tidak demikian yang dialami oleh mahasiswa Minang asal Lubuk Minturun, Padang yang telah menetap di San Francisco semenjak 2018 lalu. 

Adalah Rhogerry Deshycka mahasiswa S3 yang mengenyam pendidikan di Universitas California San Francisco (UCSF) bidang Biomedical Science. Tidak seperti kebanyakan mahasiswa Minang di luar negeri yang kekurangan stok persediaan makanan, namun pria yang akrab disapa Gerry itu malah kesulitan untuk tetap di rumah selama pandemi berlangsung. 

"Saya mahasiswa PhD yang sebagian besar melakukan pekerjaan bangku di lab, jadi tidak mungkin untuk bekerja dari rumah. Hal tersebut karena saya tidak dapat melakukan eksperimen yang biasanya saya lakukan di laboratorium," ungkapnya kepada Covesia saat dihubungi melalui WhatsApp, Kamis (16/4/2020).

Untuk perkuliahan dipindahkan ke kelas virtual. "Jadi kami mentransisikan kelas dan bekerja secara virtual melalui pertemuan zoom agar kami dapat tetap di rumah," terangnya. 

Menjadi satu-satunya mahasiswa Minang di San Francisco, Gerry merasakan perjuangan yang cukup keras di sana. 

Mengenai Covid-19 di San Francisco kata Gerry memiliki jumlah kasus yang cukup tinggi. Namun, tampaknya dengan kebijakan untuk menetap di rumah dapat menekan perluasan kasus tersebut dan mengurangi angka kematian.

"Jumlah kasus mulai plateu dan kami memiliki angka kematian yang secara signifikan lebih rendah dibandingkan dengan New York dan Seattle," ujarnya. 

Di San Francisco ada kebijakan untuk menetap di rumah. Keluar rumah hanya untuk sesuatu yang benar-benar esensial seperti membeli bahan makanan. 

"Kami diizinkan untuk pergi keluar untuk berbelanja makanan pokok dan berolahraga juga, tetapi meminimalkan jumlah kontak dengan orang lain," katanya. 

"Supermarket membatasi jumlah pembeli di dalam, dan orang-orang antri di luar supermarket dengan jarak minimal 6 kaki. Kadang bisa ngantri sampai 4 jam, jadi saya minimalisasi juga frekuensi untuk berbelanja makanan dan keperluan lainnya".

Gerry bercerita bahwa dirinya tidak memiliki masalah dengan makanan pokok. Sebagian besar bahan makanan di sini tersedia. Namun pembeli disarankan untuk membeli makanan pokok dan perlengkapan esensial hanya seperlunya, tidak dalam jumlah yang banyak untuk disimpan.

"Saya cenderung berbelanja sekali dalam dua minggu. Setiap hari Sabtu saya membeli banyak bahan makanan cukup untuk dua minggu keselamatan dan memasak semuanya, lalu menyimpannya di kulkas untuk minggu berikutnya," ujar Gerry. 

Gerry menuturkan bagian tersulit dengan adanya Covid-19 ini adalah benar-benar berusaha untuk memiliki rutinitas kerja yang baik saat di rumah. 

Saat sekarang Gerry mengubah rutinitasnya. "Saya biasanya membaca di pagi hari, lalu berjalan-jalan di luar setelah makan siang selama 1 jam dan tetap jaga jarak dengan orang lain, serta selalu memakai masker selama di luar rumah," ungkapnya. 

Gerry mengatakan hampir semua toko-toko tutup di San Fransisco hanya grocery dan restoran yang buka, namun untuk restoran hanya bisa take out.

"Saya sangat beruntung bahwa Walikota San Francisco memperintahkan penduduk untuk dirumah saja sangat awal pandemi ini," katanya.

Kasus Covid-19 di New York hampir 10 kali California. San Francisco termasuk kota dengan populasi yang cukup tinggi menyamai New York, sedangkan kasus di San Francisco cukup sedikit. Itu dikarenakan penduduk di San Francisco ini penurut jadi semua orang dirumah aja. Semua orang memakai masker saat di luar rumah. Saat di supermarket juga antri berjauhan di luar guna minimalisasi kontak antar sesama. Kadang ketika cuaca bagus, banyak orang-orang yang piknik di Golden Gate Park atau Dolores Park, tapi tetap saling jaga jarak satu sama lainnya.

Kesulitan yang ditemui Garry di Amerika ialah susah menemukan makanan Padang. Akhirnya ia berinisiatif untuk masak sendiri ketika kangen rendang. 

"Tapi memasak sendiri ini juga menyenangkan selain menghilangkan stress tapi istimewa, karena bisa menjadi duta Ranah Minang. Jadinya sering kenalin dan masakin makanan Padang ke temen-temen di sini karena kuliner kita kan terkenal banget," ungkapnya. "Kemaren karena masaknya banyak jadi sempat kirimin paket makanan ke teman-teman yang juga di rumah saja".

Garry mengatakan bisa memasak berbagai makanan khas Padang seperti rendang, dendeng batokok, ayam kalio, samba lado ikan teri dengan kacang goreng, juga soto dan bakso.

(ila)

Berita Terkait

Baca Juga