Kronologis Evakuasi Jasad Qodri dari Bejana Penampung Air PLTU Teluk Sirih Menurut Kantor SAR Padang

Kronologis Evakuasi Jasad Qodri dari Bejana Penampung Air PLTU Teluk Sirih Menurut Kantor SAR Padang Sumber: Walhi Sumbar/HO Basarnas

Covesia.com - Qodri, pemuda 24 tahun, ditemukan tewas dalam keadaan mengambang di kawasan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Teluk Sirih, Kelurahan Teluk Kabung Tengah, Kecamatan Bungus Teluk Kabung, Kota Padang, Sumatera Barat, pada 2 April 2020 lalu.

Kepala SAR Kota Padang Asnedi mengatakan bahwa korban dinyatakan hilang, 1 April 2020, sore. "Tapi baru dilaporkan ke kami pada keesokan paginya. Tim langsung bergerak," ujarnya saat dihubungi Covesia.com, Selasa (7/4/2020).

Baca: Penangkap Ikan Tewas Tersedot Pengisap Air Laut, Walhi Minta PLTU Teluk Sirih Bertanggung Jawab

Dia menjelaskan kronologi kejadian korban dinyatakan hilang. Awalnya, kata Asnedi, korban bersama salah seorang temannya pergi menangkap ikan di kawasan PLTU Teluk Sirih.

"Dia pergi menembak ikan bersama temannya dengan cara berenang atau menyelam. Tetapi, pas salat Asar, temannya ini keluar (dari permukaan air) untuk pergi salat asar dulu. Setelah salat Asar, temannya itu tidak melihat Qodri muncul lagi ke permukaan," jelasnya.

Pada sore hari kejadian, teman korban tersebut lalu melapor ke Polsek Bungus Teluk Kabung. Setelah mendapatkan laporan keesokan paginya, Basarnas pun melakukan pencarian korban.

"Sekitar 19.30 WIB, ada nelayan yang melihat ada mayat yang mengapung di areal lokasi PLTU. Ternyata, korban. Kemudian, langsung dievakuasi oleh tim," ujarnya.

Secara lebih rinci, Asnedi menegaskan bahwa Qodri ditemukan dalam keadaan mengambang di bak penampung atau bejana milik PLTU

Saat ditanyakan penyebab kematian korban apakah tersedot mesin pengisap air laut milik PLTU atau tidak, Asnedi menjawab, "Kami tidak sampai ke situ. Kami hanya melaksanakan tugas. Mencari, menemukan, dan mengevakuasi korban."

Terkait hal tersebut, dia meminta Covesia untuk menghubungi pihak kepolisian setempat.

Sementara itu, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumbar meminta pihak Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Teluk Sirih Kota Padang bertanggung jawab atas tewasnya Qodri.

Kepala Departemen Advokasi dan Kampanye Walhi Sumbar Yoni Candra mengatakan, berdasarkan wawancara dengan warga sekitar, Qodri tewas tersedot mesin penghisap air laut milik PLTU Teluk Sirih. 

"Korban baru ditemukan dalam bak penampung atau bejana milik PLTU Teluk Sirih sehari setelah dinyatakan hilang pada 1 April," ujarnya dalam keterangan pers yang diterima Covesia.

Kata Yoni, korban sehari-hari berprofesi sebagai guru mengaji di Pondok Pesantren Dar el-Iman Padang. Yang bersangkutan menangkap ikan bersama salah seorang rekannya. Meski demikian, pada sore hari usai salat Asar, rekan korban tidak melihat Qodri lagi. 

"Rekan korban tersebut lalu bertanya kepada warga sekitar dengan menyebutkan bahwasanya korban tadi berada di daerah selatan dekat PLTU Teluk Sirih. Setelah mencari beberapa lama, masyarakat mendapat pentunjuk korban tersedot mesin penghisap air laut milik PLTU Teluk Sirih yang biasa digunakan untuk pembangkit dengan cara menetralkan air laut menjadi air tawar," jelasnya.

Dia menuturkan, berdasarkan penelusuran Walhi Sumbar, pipa yang digunakan PLTU Teluk Sirih untuk menyedot air laut berdiameter 200 cm. Di ujung pipa tersebut tidak dilengkapi dengan saringan atau alat pengaman.

Hal tersebut mengakibatkan mesin isap itu dengan sangat mudah menyedot apa saja yang berada di dekatnya. Selain itu, di area sekitar pipa, juga tidak ada tanda pentunjuk yang melarang maupun mengingatkan orang agar tidak mendekat, seperti plan maupun tanda peringatan yang lain.

"Kejadian serupa tidak saja terjadi kali ini saja namun hampir setiap tahun. Pada 2018 lalu, terdapat belasan penyu terjebak dalam bak penampungan yang terisap pipa PLTU Teluk Sirih," sesalnya. 

(fkh/rdk)

Berita Terkait

Baca Juga