Jubir: Warga Kota Pariaman yang Ditemukan Meninggal di Dhamasraya Bukan Karena Covid-19

Jubir Warga Kota Pariaman yang Ditemukan Meninggal di Dhamasraya Bukan Karena Covid19 Ilustrasi (pixabay)

Covesia.com - Warga Kota Pariaman yang ditemukan meninggal dunia di sebuah kontrakan di Jorong Lekuk Sentul Nagari Koto Baru Kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya Provinsi Sumatera Barat bukan karena Covid-19.

Hal tersebut diungkapkan oleh Juru Bicara Penanganan Covid-19 Dharmasraya Rahmadian. "Saya cenderung mengatakan bahwa yang bersangkutan meninggal dunia karena sakit jantung, bukan karena Covid-19," ujarnya saat dihubungi Covesia via telepon, Minggu (5/4/2020).

Meski demikian, jenazah lelaki berinisial N usia 57 tahun tersebut tetap ditangani sesuai standar prosedur tetap Covid-19. Hal tersebut dikarenakan, setelah ditemukan dalam keadaan tak bernyawa, warga sekitar ketakutan bahwa yang bersangkutan meninggal karena virus corona.

Meluruskan berita sebelumnya, korban bukan warga Nagari Koto Baru, tetapi hanya sewa kontrakan di sana. Berdasarkan Kartu Tanda Penduduk, dia beralamat di Kota Pariaman. Pekerjaannya sebagai buruh harian lepas pemasok ikan segar membuatnya harus mencari rumah persinggahan.

"Yang bersangkutan baru kembali dari Tembilahan Kabupaten Indragiri Hilir Provinsi Riau," jelas Rahmadian.

Jadi, pada hari kejadian, Jumat, 3 April 2020, sekitar 12.00 WIB, korban menghubungi istrinya yang berada di Kabupaten Tebo Provinsi Jambi dan mengeluhkan bahwa dadanya sakit. Korban juga meminta istrinya tersebut untuk datang ke kontrakannya itu.

Dikatakannya juga,  sekitar 17.00 WIB, ketika istrinya bersama seorang tetangga kontrakan korban membuka pintu, N sudah ditemukan meninggal dunia.

Karena sekarang lagi pandemi Covid-19, kata Rahmadian, masyarakat di sekitar lokasi kejadian pun takut bahwa N meninggal dunia karena virus itu.  Beredar informasi yang diragukan kebenarannya bahwa yang bersangkutan menderita demam.

"Karena masyarakat cemas, petugas kita jadi cemas juga. Karena ini kasus baru. Petugas kita jadi ragu juga. Daripada mereka tidak nyaman berkerja, jadi penanganan (jenazah dilakukan sesuai protokol pasien) Covid-19," ujarnya.

Belakangan, berdasarkan informasi yang diperolehnya dari petugas Puskesmas setempat yang sempat berkomunikasi dengan istri korban, N tidak demam atau pun batuk. 

Dokter spesialis paru, lanjut Rahmadian, juga mengatakan bahwa yang bersangkutan tidak demam dan tidak batuk. "Karena informasi saat itu simpang siur. Ini ada yang bilang demam, ini ada yang bilang tidak demam. Jadi, kita tangani sesuai prosedur penanganan Covid-19. Kan tidak ada ruginya itu," ucapnya.

Meski ditangani sesuai protokol pasien Covid-19, yang bersangkutan bukan berarti terjangkit virus itu. Pun, Satgas Covid-19 Dharmasraya juga tidak akan melakukan uji swab kepada yang bersangkutan.

"Jika gejalanya sakit dada, kita cenderung mengatakan dia sakit jantung. Kalau Covid-19 itu sesak napas. Kalau seandainya dia sesak napas, tidak mungkin dia masih bisa beraktivitas, berjalan-jalan. Dia baru pulang dari Tembilahan. Kalau sakit jantung, dadanya nyeri dan sesak napas. Kalau Covid-19, sesak napas juga. Tapi sesak napasnya ada demam. Kita ragu dia Covid-19,"  jelasnya. 

Lanjut Rahmadian pula, N sudah dikuburkan di kampung halamannya di Pariaman pada malam di hari kejadian. "Kita bawa APD juga. Sopir dan keluarganya juga kita kasih APD," imbuhnya.

Dia sampai saat ini belum menerima informasi soal proses pemakaman jenazah yang diduga meninggal dunia karena sakit jantung itu.

(fkh/adi)

Berita Terkait

Baca Juga