Pelaku UMKM Keluhkan Penurunan Omset Akibat Corona

Pelaku UMKM Keluhkan Penurunan Omset Akibat Corona Kepala Bidang UMKM Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Pasaman, Yossy Nasution dengan sejumlah pelaku UMKM (Dok Covesia)

Covesia.com - Sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) makin babak belur (terpuruk) ditengah merebaknya wabah corona (Covid-19) dalam kurun waktu sebulan terakhir.

Salah seorang pelaku UMKM Pisang Caramel di Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat, Dilva Gusma Yanti (42) mengatakan sudah satu bulan ini tidak berproduksi lagi akibat dampak virus corona (Covid-19) tersebut.

"Daya jual menurun drastis sejak dua bulan terakhir ini. Terparahnya satu bulan ini, tidak lagi ada pesanan dari pelanggan. Makanya kami lebih memilih menyetop produksi dari pada rugi," terang Dilva Gusma Yanti kepada Covesia.com, Selasa (24/3/2020).

Dilva menyebutkan biasanya dalam satu bulan pesanan Pisang Caramel miliknya bisa mencapai 800 hingga 1.000 bungkus dari konsumen di berbagai daerah di Sumatera Barat.

"Dari penjualan itu biasanya kami bisa mraup untung bersih sekitar Rp7,5 Juta per bulannya. Dari situ bisa membayar angsuran utang dan gaji karyawan," katanya.

Namun saat ini kata dia merupakan masa-masa sulit ditengah berbagai bahan pokok rumah tangga turut naik.

"Harga sembako semakin melonjak naik. Pemasukan tidak ada. Angsuran utang menumpuk. Kemudian kami terpaksa merumahkan karyawan untuk sementara waktu. Karena tidak mampu membayar gajinya," ungkapnya.

Hal senada juga disampaikan oleh salah seorang pelaku UMKM, Elliza yang juga terpaksa menututup usahanya akibat tidak ada pesanan.

"Rata-rata langganan konsumen kami banyak dari sektor Pariwisata yang datang ke Sumatera Barat. Karena Covid-19 ini, jumlah pengunjung turun drastis. Apalagi semenjak keluarnya kebijakan melarang aktifitas diluar rumah," terang Elliza.

Elliza mengatakan saat ini delapan karyawannya terpaksa berhenti dari usahanya itu akibat tidak memiliki biaya untuk gaji.

"Biasanya setiap bulan bisa memproduksi pesanan sekitar empat ribu bungkus 'Galamai'. Dengan hasil produksi itu bisa meraup omset sekitar Rp50 Juta. Saat ini babak belur abis deh. Biaya hidup aja susah," katanya.

Pihaknya berharap pemerintah bisa memperhatikan kondisi tersebut agar makin hari tidak terus terpuruk.

Menanggapi itu Kepala Bidang UMKM Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Pasaman, Yossy Nasution mengaku sangat prihatin akan kondisi tersebut.

"Keluhan seperti ini mulai kami terima dalam sebulan terakhir. Kami juga sudah membicarakan terkait persoalan ini bersama pimpinan agar diupayakan tidak terus terpuruk," ungkap Yoosy Nasution.

Saat ini kata dia ada sekitar 7.500 UMKM dengan berbagai bidang usaha berkembang di Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat.

"Jumlah masyarakat yang menggantungkan hidupnya disektor ini tidaklah sedikit. Kami bakal mengupayakan transaksi secara online dan pengiriman barang lewat jasa agar roda UMKM ini terus berjalan. Sehingga dampaknya tidak terus meluas dan ekonomi masryarakat bisa stabil,"tutupnya.

(hri)

Berita Terkait

Baca Juga