Pengamat: Permasalahan Sosial di Pariaman Berkaitan dengan Perkembangan Daerah

Pengamat Permasalahan Sosial di Pariaman Berkaitan dengan Perkembangan Daerah Ilustrasi - Monumen Perjuangan TNI AL Kota Pariaman

Covesia.com - Sosiolog Universitas Negeri Padang (UNP) Erian Joni melihat permasalahan sosial di Kota Pariaman memiliki kaitan dengan perkembangan kota itu kian pesat.

"Sebab, perkembangan yang pesat, dengan terjadinya peningkatan pembangunan infrastruktur fisik, akan sejalan dengan kemajuan wisata pesisir di Kota Pariaman itu sendiri. Sehingga kondisi ini juga dibarengi dengan muncul masalah sosial baru di kota itu," sebut Erian Joni kepada Covesia, Kamis (27/2/2020).

Seperti halnya masalah sosial diantaranya aksi balap liar, kejahatan narkoba, dan prostitusi. 

"Jika dilihat dari kacamata sosiologis, bahwa memang benar bahwa pertumbuhan dan perubahan sosial pada suatu kota ternyata juga membawa dampak negatif," ungkapnya. 

"Sehingga muncul berbagai patologi sosial, seperti kesulitan dan akses yang terbatas di sektor formal, yang berdampak pada meningkatnya pengangguran," ungkapnya lagi. 

Selain itu kata Erian, perubahan dalam orientasi hidup dan pemenuhan gaya hidup juga pemicu timbulnya fenomena budaya instan. Artinya orang yang dalam kondisi itu biasanya akan menempuh jalan apa saja, asalkan mendatangkan uang.

"Tetapi perlu juga kita apresiasi lakangkah yang dilakukan Pemerintah Kota Pariaman dalam menghadapi perkembangan kota itu yang kian pesat. Bahwa pendidikan karakter berbasis keagamaan sebenarnya sudah baik di sana," jelasnya. 

Dengan berkembangnya kegiatan bernuansa religius, misalnya upacara tabuik, magrib mengaji dan banyaknya pusat-pusat Tahfiz Al-Quran, secara langsung akan menekan masalah berbagai sosial di Kota Pariaman.

Sebab, kalau berbagai masalah ini tidak segera diminimalisasi, bisa saja akan terus bertambah dan tentunya akan mempengaruhi citra Kota Pariaman sebagi kota wisata yang religi.

Erian juga menyebutkan, di samping meningkatkan derajat pengendalian sosial oleh aparat yang berwenang, Pemko juga perlu melakukan pemberdayaan ekonomi bagi kelompok marginal tersebut, seperti gerakan ekonomi produktif untuk kalangan pemuda misalnya. 

Maka adanya kelompok rentan tersebut, bisa dirancang program rekayasa sosial agar mereka dari kelompok tidak produktif menjadi produktif, apalagi kota kecil seperti Pariaman tidak akan sulit untuk mengakomodasinya, tinggal keseriusan dan kontinuitasnya Pemko saja lagi, ulasnya.

Diketahui sebelumnya, permasalahan sosial yang terjadi di Kota Pariaman, bahwa pada tahun 2019 lalu Ketua Badan Narkotika Kota (BNK) di daerah itu menyatakan, untuk kategori pengguna narkoba, Kota Pariaman termasuk dalam urutan kedua di Sumbar, 

Kemudian baru-baru ini ada sekitar 21 sepeda motor pelaku balap liar yang diamankan oleh petugas kepolisian di daerah itu. Aksi balap liar ini sudah sering terjadi di Kota Pariaman disetiap malam minggunya. 

Setelah itu, terkait soal prostitusi bahwa awal bulan ini pihak Satpol PP Kota Pariaman juga berhasil mengungkapnya, yang mana mereka ini menjadikan kota tersebut sebagai tempat untuk melakukan prostitusi. 

(per/rdk)

Berita Terkait

Baca Juga