Tiga Tahun Berdiri, SMKN 1 Dua Koto Pasaman Masih Banyak Kekurangan

Tiga Tahun Berdiri SMKN 1 Dua Koto Pasaman Masih Banyak Kekurangan Kepala SMKN 1 Dua Koto, Almiswar saat memimpin upacara bendera dihalaman sekolah tersebut (Ist)

Covesia.com - Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Kecamatan Dua Koto, Kabupaten Pasaman yang berdiri sejak tahun 2017 masih banyak kekurangan, baik segi infrastruktur maupun tenaga pengajarnya.

Kepala SMKN 1 Dua Koto, Almiswar ketika dikonfirmasi oleh Covesia.com mengaku sangat mengeluh akan minimnya fasilitas disekolah yang dipimpinnya itu.

"Sekolah setingkat SMK Negeri ini baru ditopang satu ruangan bersama guru, lokal 6 unit, dan labor bersama. Disinilah tempat kami membina dan mendidik 146 Siswa setiap harinya dalam kondisi serba terbatas," ungkap Almiswar, Selasa (25/2/2020).

Menurut Almiswar sekolah itu saat ini membutuhkan kekurangan lokal dan labor penunjang belajar siswa.

"Kekurangan lokal 4 unit, 1 unit labor ATPH, 1 unit labor komputer lengkap, 1 unit labor APHP, 1 unit labor IPA, 1 unit labor Kimia dan ruang produksi," kata Almiswar.

Kemudian kata dia guru profesional, satu ruangan guru yang refresentatif, ruang wakil kepala dan ruangan penunjang siswa lainnya.

"Untuk selama tiga tahun ini berdiri, siswa terpaksa menumpang Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) ke SMA N 1 Dua Koto sebagai sekolah tetangga. Karena memang kondisinya sangat darurat. Untuk tahun ini dipastikan siswa kembali menumpang ujian. Sebab, jangankan komputer jaringan internet (wifi) saja tidak ada," katanya.

Selanjutnya yang paling parah saat ini kata dia halaman sekolah dibagian utara sudah mulai terban yang curam dengan kedalaman sekitar 100 Meter. 

"Kami sangat kuatir adanya korban jiwa dilokasi ini. Belum lagi hewan ternak masyarakat dan anak-anak bebas lalu-lalang kelingkungan sekolah yang luasnya 2 Hektare ini. Karena sama sekali belum ada dibangun pagarnya," katanya.

Pihaknya sangat meminta perhatian serius kepada pemerintah Provinsi Sumatera Barat akan kondisi tersebut.

"Sebab jika kondisi ini terus dibiarkan, kami kuatir jumlah peminat sekolah akan terus menurun. Kemudian tingkat kecerdasan anak terganggu yang tak ditopang fasilitas yang layak," tutupnya.

(hri)

Berita Terkait

Baca Juga