Polres Pasaman Akui Ada Aktivitas Illegal Minning di Kecamatan Dua Koto

Polres Pasaman Akui Ada Aktivitas Illegal Minning di Kecamatan Dua Koto Foto Tambang Ilegal (Ilegal Minning) di Kecamatan Dua Koto, Pasaman (Doc Walhi Sumbar)

Covesia.com - Kepolisian Resor (Polres) Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat mengakui akan adanya aktifitas penambangan emas secara illegal (Ilegal Minning) didaerah Nagari Cubadak, Kecamatan Dua Koto.

Kapolres Pasaman, AKBP Hendri Yahya menyebutkan aktivitas illegal minning itu yang dilakukan oleh masyarakat setempat secara tradisional tanpa menggunakan air raksa sudah berlangsung lama.

"Memang dari sejak dahulunya mata pencaharian utama masyarakat disana hanyalah mendulang emas secara tradisional disepanjang Daerah Arus Sungai (DAS) tepatnya di Kampung Batang Kundur, Kampung Lanai dan Kampung Sinuangon, Nagari Cubadak, Kecamatan Dua Koto," terang Kapolres Pasaman, AKBP Hendri Yahya saat diwawancarai Covesia.com, Rabu (12/2/2020).

AKBP Hendri Yahya mengaku belum megetahui secara rinci terkait aktifitas para penambang ilegal di daerah itu.

"Saya kan masih baru ditugaskan didaerah Kabupaten Pasaman ini yang sebelumnya dinas di Kabupaten Mentawai. Tentu secara rinci terkait situasi terkini penambangan secara ilegal dilokasi belum saya ketahui. Sebab menurut laporan anggota yang kami perintahkan, lokasinya sangat jauh kedalam dari jalan utama," tambahnya.

Namun guna memutus aktifitas para penambang  ilegal itu kata dia sudah melalukan operasi Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi ilegal diwilayah Kecamatan Dua Koto.

"Yang sudah kami lakukan selama tiga bulan terakhir ini yaitu operasi (razia) BBM. Hingga saat ini sudah kami amankan tiga orang tersangka dan ratusan liter BBM Solar ilegal yang diduga akan dipasok ke lokasi tambang itu," katanya.

Pihaknya pun melalui Polsek Dua Koto sudah memasang sejumlah spanduk imbauan dilokasi tambang untuk tidak lagi melakukan penambangan secara ilegal.

"Kami juga sudah memanggil pemangku adat, niniak mamak, Kepala Jorong, Camat dan tokoh masyarakat setempat untuk menghentikan seluruh aktifitas penambangan tersebut," katanya.

Akan tetapi pihaknya belum mengetahui secara pasti berapa buah alat berat (excavator) yang digunakan masyarakat setempat untuk aktifitas penambangan.

"Kalau sesuai laporan Walhi ada 7 buah. Namun menurut laporan yang kami terima tidak semuanya beroperasi dan sudah banyak yang rusak dilokasi. Namun kami sudah tegaskan kepada mereka yang memakainya untuk menghentikan aktifitas alat berat tersebut," katanya.

Pihaknya juga tidak mau gegabah dalam menindak para oknum penambang illegal itu agar tidak terjadi konflik masyarakat yang lebih luas didaerah lokasi tambang.

"Tahun 2019 kemarin didaerah Kecamatan Dua Koto itu sudah pernah terjadi konflik besar akibat persoalan tambang emas ini. Satu unit mobil anggota ludes dibakar massa. Belum lagi mobil Dandim 0305 Pasaman beserta yang lainnya waktu itu juga dirusak. Belum lagi puluhan masyarakat yang terlibat konflik mengalami luka-luka," katanya.

Pihaknya mengaku sangat keberatan akan statemen Walhi Sumbar yang menuding abai akan persoalan ilegal minning di Kecamatan Dua Koto.

"Kami bukan abai. Satu sisi jelas merusak ekologi DAS, tetapi tertumpu hajat hidup masyarakat setempat disana. Makanya kita pelan-pelan memberantasnya agar tidak menui konflik yang besar. Kami juga akan terus berkoordinasi dengan Pemkab Pasaman akan persoalan ini," tutupnya.

(hri/adi)

Berita Terkait

Baca Juga