Upaya Berantas Tambang Emas Ilegal di Sumbar, Polisi Tangkap Dua Pelaku Penjual Merkuri

Upaya Berantas Tambang Emas Ilegal di Sumbar Polisi Tangkap Dua Pelaku Penjual Merkuri Jajaran Polda Sumbar, Saat melakukan rillis penangkapan pelaku penjual bahan berbahaya berupa air raksa atau merkuri, Kamis (16/1/2020)(Foto: Humas)

Covesia.com - Kepolisian Daerah (Polda) Sumbar berhasil mengungkap dua pelaku penjual bahan berbahaya berupa air raksa atau merkuri tanpa dilengkapi oleh surat izin usaha perdagangan bahan berbahaya. Pengungkapan kasus tersebut merupakan komitmen Polda Sumbar untuk memberantas tambang ilegal di Sumbar.

"Komitmen Kapolda berkaitan dengan illegal mining (tambang ilegal) memang tidak main-main," tegas Kabid Humas Polda Sumbar Kombes Pol Stefanus Satake Bayu Setianto, saat konferensi pers di Lantai 4 Mapolda Sumbar, Kamis (16/1/2020).

Stefanus menjelaskan bahwa kedua pelaku berinisial ZR (49) dan RM (45). ZR tertangkap tangan pada saat memiliki dan/atau memperdagangkan merkuri di Jorong Tanjung Salilok Kenagarian Sikabau Kecamatan Pulau Punjung Kabupaten Dharmasraya Provinsi Sumbar.

Sedangkan RM tertangkap tangan pada saat memiliki dan/atau memperdagangkan merkuri di Jalan Adinegoro Simpang Kalumpang Kecamatan Koto Tangah Kota Padang Provinsi Sumbar. 

Stefanus menjelaskan bahwa salah satu upaya untuk memberantas tambang ilegal di Sumbar adalah dengan cara menangkap pelaku penjual merkuri tersebut. Merkuri tersebut dijual dan dipergunakan untuk aktivitas tambang ilegal di wilayah Dharmasraya dan daerah lainnya di Sumbar. 

Kasubdit IV Tipider AKBP Iwan Ariyandhy menambahkan bahwa penangkapan kedua pelaku diawali dengan informasi yang diperoleh dari masyarakat. "Jadi, kami pun melakukan penyelidikan," ujarnya saat konferensi pers berlangsung. 

Barang bukti yang berhasil diamankan untuk pelaku ZR yaitu 75 botol berisikan diduga merkuri. Sementara barang bukti untuk pelaku RM yaitu 82 botol berisikan diduga merkuri. Total ada 157 botol yang berhasil diamankan pada penangkapan kali ini. 

Irwan menjelaskan bahwa pasal yang disangkakan kepada pelaku yaitu Pasal 104 dan atau Pasal 106 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan dan atau Pasal 62 Ayat 1 juncto Pasal 8 Ayat 1 huruf a, huruf i, dan huruf j Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen juncto Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 75/M-DAG/PER-10/2014.

Lebih lanjut Stefanus menambahkan bahwa kedua pelaku tidak saling berkaitan, kemudian untuk satu botol merkuri, pelaku menjual Rp1,5 juta.
"Kedua pelaku membeli merkuri tersebut dari daerah lain. Salah satunya ada yang dari Jakarta. Kedua pelaku saat ini sudah ditahan. Pelaku ZR menjual merkuri tersebut kepada pekerja tambang di Dharmasraya. Sementara, untuk pelaku RM, kata Iwan, masih dikembangkan ke mana ia menjualnya," pungkas Stefanus.

(fkz/don)


Berita Terkait

Baca Juga