DPRD Prihatin Adanya Kasus Ibu dan Anak Menjadi Muncikari di Padang

DPRD Prihatin Adanya Kasus Ibu dan Anak Menjadi Muncikari di Padang Ilustrasi (Ist)

Covesia.com - Ketua Komisi IV DPRD Kota Padang  Azwar Siri mengaku prihatin atas adanya penangkapan dua muncikari yang merupakan ibu dan anak oleh Polda Sumbar beberapa hari yang lalu di kawasan Lubuk Buaya, Padang, Sumatera Barat. 

"Kita sangat menyayangkan hal tersebut bisa terjadi," ujarnya saat dihubungi Covesia.com, Rabu (15/1/2020).

Azwar berharap Pemerintah Kota (Pemko) Padang bersama masyarakat harus bisa saling berkoordinasi agar hal tersebut tidak terjadi lagi ke depannya. Dia juga berharap agar penegak hukum bisa memberikan sanksi yang tegas kepada kedua pelaku. 

Kasus prostitusi tersebut terjadi di wilayah ramai penduduk. Kata Azwar, tokoh masyarakat di sana seharusnya bisa mengawasi. "Tokoh masyarakat di sana sudah kecolongan," ujarnya.

Terkait adanya dugaan adanya pembeking praktik prostitusi tersebut, Azwar manyampaikan bahwa hal itu harus bisa diberantas oleh Pemko Padang. "Harus ada peningkatan pengawasan oleh pemerintah daerah dan masyarakat," ujarnya. 

Sebelumnya diberitakan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Sumatera Barat mengungkap kasus prostitusi berkedok kos-kosan di Jalan Adinegoro Kelurahan Lubuk Buaya, Kecamatan Koto Tangah Kota Padang yang dijalankan oleh ibu dan anaknya.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Sumbar Kombes Pol Imam Kabut Sariadi di Padang, Senin mengatakan ketika dilakukan penggerebekan pada Jumat (10/1/2019) dan petugas mengamankan dua orang sebagai otak pelaku dari bisnis prostitusi itu yakni wanita berinisial H (54) dan anaknya berinisial D (30).

Ia mengatakan sang ibu berinisial H alias Hel sebagai mami yang mengendalikan operasional bisnis prostitusi dan menerima semua uang hasil tersebut.

Sementara anaknya berinisial D alias SUC berperan mencarikan wanita dewasa maupun anak di bawah umur untuk dipekerjakan melayani lelaki hidung belang.

Dalam penggerebekan, petugas menemukan lima orang di dalam rumah tersebut. Dua orang yaitu H dan D ditetapkan sebagai tersangka, sedangkan tiga orang wanita dan salah satunya anak di bawah umur ditetapkan sebagai korban kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).

(fkz/don)



Berita Terkait

Baca Juga