Dilema Sejumlah Masalah, Pedagang Korban Kebakaran di Padang Theater Harapkan Bantuan Pemkot

Dilema Sejumlah Masalah Pedagang Korban Kebakaran di Padang Theater Harapkan Bantuan Pemkot Tampak tumpukan karung dari pakaian bekas pasca kebakaran yang melanda sejumlah kios pedagang di kawasan Padang Theater, beberapa hari yang lalu ( Foto: Covesia/ Fakhruddin)

Covesia.com - Sebelas hari semenjak api membara di Lantai II kawasan Padang Theater Kota Padang Provinsi Sumatera Barat, belum terlihat aktivitas perdagangan di belasan los dan kios yang terbakar. 

Para pedagang pun mengeluhkan bantuan modal dan perbaikan tempat usaha yang kunjung belum datang dari Pemerintah Kota (Pemko) Padang. Di antara mereka ada yang berhutang untuk menghidupi kebutuhan keluarga, ada pula yang harus meminjam uang melalui sistem kredit untuk membeli peralatan usaha.

Wartawan Covesia.com berkunjung ke Padang Theater siang tadi, Rabu (15/1/2020). Sebagaimana diketahui, Padang Theater merupakan pusat pertokoan di Kota Padang. Pada Jumat (3/1/2020) malam, 12 los dan 2 kios di Lantai II di gedung bekas bioskop di Kota Padang tersebut dilahap si jago merah. Api baru berhasil dipadamkan oleh personel dari Dinas Pemadam Kebakaran Kota Padang sekitar tengah malam. Hari ini, sebelas hari semenjak kejadian itu, belum terlihat aktivitas para pedagang yang los atau kiosnya yang terbakar. 

Tempat pertama yang saya kunjungi adalah los kopi. Sang pemilik, Syahril (69) mengatakan bahwa dia masih belum melakukan aktivitas perdagangan sejak api melahap habis isi losnya. Kata Syahril, total kerugian yang dialaminya akibat kebakaran itu adalah sekitar Rp25 juta. Dia perlu bantuan modal sebesar itu untuk memulai usahanya. Saat ini, Syahril sudah membersihkan losnya dari sisa-sisa kebakaran. Karena losnya masih dibatasi garis polisi, Syahril pun belum bisa berjualan. "Hari-hari habis untuk menunggu harapan bantuan dari Pak Wali," ujarnya. 

Syahril mengharapkan bantuan modal usaha dan perbaikan tempat usaha segera diberikan oleh Pemko Padang. Meski demikian, karena desakan kebutuhan ekonomi, Syahril terpaksa meminjam uang salah seorang temannya melalui sistem kredit senilai Rp8 juta untuk membeli peralatan usaha, seperti kompor gas, sendok, gelas, dan sebagainya. "Uang itu baru untuk beli peralatan dapur, belum yang lainnya," jelasnya. 

Kemarin, Syahril baru saja membersihkan losnya dari sisa-sisa barang yang terbakar dan tidak bisa digunakan lagi. "Kalau police line (garis polisi) sudah dibuka, dan ini sudah dibersihkan, kita akan berjualan lagi," ujarnya saat ditanya kapan dia ingin berjualan.

Sementara itu, Syaiful (58) yang kios burungnya  berada di dekat los kopi Syahril, kedua matanya tampak berkaca-kaca ketika diwawancarai oleh Covesia.com. Sama dengan Syahril, sejak api membakar kiosnya sebelas hari yang lalu, dia belum bisa berjualan. Dia mengharapkan bantuan dari "Pak Walikota" berupa modal untuk memulai usahanya kembali. Syaiful mengatakan bahwa total kerugian akibat kebakaran itu adalah sekitar Rp50 juta. Dia kiosnya tersebut, Syahril berjualan beragam jenis burung. 

Dia memperlihatkan, kepada Covesia.com, foto-foto dari burung-burungnya yang terbakar tersebut. Dia juga memperlihatkan sebuah foto yang gambarnya merupakan screenshot dari laman sebuah portal online. Di foto tersebut terlihat Walikota Padang Mahyeldi Ansharullah sedang melakukan peninjauan lokasi di kios yang terbakar, dengan judul "Walikota akan Beri Bantuan untuk Korban Kebakaran di Padang Theater Pasar Raya". Berita yang telah di-screeshoot dari sebuah portal berita online menjadi sebuah foto oleh Syaiful menjadi alasan baginya dan pedagang yang lain untuk menuntut Walikota Padang segera memberikan bantuan modal dan perbaikan tempat usaha.

Syaiful mempertanyakan kapan Walikota Padang akan memberikan bantuan kepada pedagang yang kios atau losnya terbakar. "Kalau memang ada, segera diturunkan," harapnya.

Tidak mau berpangku tangan, Syaiful sudah mencat roller kiosnya pada beberapa waktu lalu. Sejumlah sangkar burung yang kebanyakan kosong sudah digantungkan di langit-langit kios. Salah seorang temannya yang berbaik hati kepadanya memberikan Syaiful beberapa ekor burung. Syaiful berharap agar bantuan dari Pemko Padang segera turun. 

Setelah mewawancarai Syaiful, wartawan Covesia.com lalu beranjak ke kios buku yang juga berada di dekat los kopi. Saya melihat seorang lelaki paruh baya bertelanjang dada sedang mencat roller kios dengan cat kuning. Kios itu tutup. Buku-buku pun berserakan di depan kios tertutup. Lelaki itu, Jumalis (57), mengatakan kepada Covesia.com bahwa total kerugiannya akibat kejadian itu adalah sekitar Rp80 juta. "Karena banyak buku baru yang terbakar, seperti buku SMK, buku kesehatan, buku hukum. Semuanya baru-baru kemarin," ujarnya. 

Rencananya, dia akan berdagang dengan memanfaatkan buku-buku yang tersisa. Sampai saat ini, katanya, belum ada bantuan dari Pemko Padang. Untuk biaya kebutuhan sehari-hari, Jumalis memiliki pekerjaan sampingan sebagai tukang pengantar koran.

Lain Jumalis, lain pula dengan Yeni (57). Pedagang baju bekas ini mengaku harus berhutang untuk membiayai kebutuhan hidupnya. Kedua matanya tampak berkaca-kaca ketika diwawancarai oleh Covesia.com. "Ndak ado do. Alah bahutang-hutang Jo kawan. Ndak ada bapitih kami do, Pak. Jo apo anak kami ka makan (Tidak ada, sudah berhutang-hutang dengan kawan. Tidak punya uang kami pak, dengan apa anak kami mau makan)," ujarnya. Yeni memiliki empat orang anak. Biasanya kebutuhan sehari-hari dipenuhi dari hasil berdagang pakaian bekas ini. 

Kata Yeni, akibat kebakaran tersebut, dia mengalami kerugian sekitar Rp20 juta. Selain los kainnya, ada 9 los kain lainnya yang terbakar. Rata-rata kerugian yang dialami pedagang lainnya juga seperti itu. Jumlah pedagang yang berjualan di 10 los kain bekas tersebut yaitu 12 pedagang. Dia mengatakan kebakaran tersebut sudah menghabiskan seluruh isi 10 los kain tersebut. 

Tiga hari pasca kejadian, Yeni bersama pedagang los kain lainnya mulai memasukkan sisa-sisa kain yang terpanggang ke dalam karung. Saat Covesia.com, karung-karung yang berisi sisa-sisa kain yang terpanggang, puluhan mungkin, masih tampak berjejeran di bekas los yang terbakar. Dia dan pedagang kain lainnya mengharapkan agar instansi terkait segera membuang karung-karung  tersebut. "Maangkek barang ko se jadih. Tagak, buek peti. Bisa kami manggaleh (mengangkat barang-barang ini sudah mujur lah, biar berdiri buat peti, agar kami bisa berjualan kembali)," ujarnya. 

Kini, garis polisi masih mengelilingi los-los kain yang terbakar. Selama garis polisi itu masih ada, Yeni dan pedagang lainnya masih belum bisa berjualan. Dia dan pedagang lainnya sudah pergi ke Polresta Padang untuk mengetahui penyebab kebakaran. Dia dan pedagang lainnya juga sudah pergi ke Dinas Perdagangan Kota Padang untuk mengadukan nasib. Dia dan pedagang lainnya sama-sama berharap agar Pemko Padang segera memberikan bantuan modal dan perbaikan tempat usaha untuk memulai hari yang lebih baik. 

(fkz/don)

Berita Terkait

Baca Juga