Sound of Borobudur Meriahkan Malam Puncak Festival Pamalayu

Sound of Borobudur Meriahkan Malam Puncak Festival Pamalayu Foto: Fakhruddin Arrazzi

Covesia.com -  Malam puncak Festival Pamalayu, Senin (6/1/2020), dimeriahkan oleh penampilan Sound of Borobudur. Grup musik yang diisi oleh musisi dan penyanyi legendaris nasional tersebut manggung di Dharmasraya untuk pertama kalinya. Mereka untuk pertama kalinya juga akan membawakan dan menampilkan berbagai alat musik yang diadopsi dari relief yang terpahat di Candi Borobudur, Jawa Tengah, di hadapan publik Indonesia dan dunia. 

Purcawaraka selaku direktur eksekutif grup musik tersebut menjelaskan bahwa kehadiran Sound of Borobudur di malam puncak Festival Pamalayu bukan tanpa sebab. "Semangat dan kekuatan yang muncul dari Dharmasraya sebagai upaya untuk memelihara kisah, merawat tinggalan peradaban, meluruskan cerita, dan mendudukkan sejarah pada tempat yang semestinya adalah sebuah keberanian yang membutuhkan dukungan," jelasnya. 

Dia juga mengatakan bahwa Sungai Batanghari merupakan saksi hidup dari rangkaian perjalanan masyarakat Dharmasraya. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya berbagai situs peninggalan kejayaan Kerajaan Dharmasraya di sepanjang alur sungai itu. "Situs-situs ini bukanlah onggokan batu mati. Tetapi lebih kepada perpustakaan yang diwariskan leluhur kepada kita. Peninggalan situs tersebut penuh dengan informasi ilmu pengetahuan ," ujarnya. 

Purcawaraka menjelaskan bahwa, jika setiap situs bisa dipahami dengan perspektif yang tepat, maka hal tersebut tak ubahnya sebagai buku besar yang siap dipelajari. "Siapa bangsa kita dan bagaimana bangsa kita itu, jawabannya adalah kota adalah bangsa yang beradab dan berbudaya," ujarnya.

Sungai Batanghari dari hulu sampai hilir adalah saksi hidup peradaban. Di sepanjang sungai tersebut berkembang sebuah sistem kehidupan yang maju dan memiliki budaya luhur. Purcawaraka menjelaskan bahwa Sungai Batanghari harus dijaga karena di kawasan itu terdapat sebaran situs peninggalan kejayaan masa lampau. "Batanghari adalah sungai yang harus kita rawat dengan keluhuran budi," harapnya. 

Persamaannya dengan Sound of Borobudur, kata Purcawaraka adalah membunyikan  tinggalan dan catatan sejarah bangsa Indonesia melalui seni dan musik. "Di relief Borobudur, sedikitnya ditemukan 45 jenis alat musik yang sebarannya hari ini meliputi 34 provinsi di Indonesia dan 40-an negara di seluruh dunia," jelasnya. 

Penampilan mereka mampu memukau seribuan masyarakat yang hadir di lokasi acara. 

Malam puncak Festival Pamalayu dilaksanakan, Senin (6/1/2020). Acara berlangsung di kompleks Candi Padang Roco Kabupaten Dharmasraya Provinsi Sumatera Barat (Sumbar). 

Berdasarkan pantauan Covesia.com, sebuah panggung acara didirikan di dekat lokasi situs peninggalan kejayaan Kerajaan Dharmasraya tersebut. Seribuan masyarakat tampak antusias mengikuti acara. Masyarakat yang hadir berasal dari beragam usia, seperti orang dewasa, remaja, bahkan anak-anak.

Pada acara tersebut, Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit dan Bupati Dharmasraya Sutan Riska juga tampak hadir. Acara juga diramaikan dengan berbagai macam pameran seperti pameran artefak, pameran bonsai dharmasraya, pameran kaligrafi, dan sebagainya. 

Acara malam puncak festival ini dimulai sekitar 20.30 WIB. Acara dimulai dengan penampilan para seniman asal Desa Muara Jambi yang bergabung dalam grup band Senandung Swaradipa. Setelah itu, ada penampilan drama kolosal dari berbagai sanggar tari yang ada di Dharmasraya. Mereka membawakan drama tentang sejarah Kerajaan Dharmasraya.

Pada saat acara berlangsung, sejumlah pengunjung tampak mengeluarkan android mereka. Mereka merekam jalannya acara melalui kamera ponsel mereka, dan mungkin menyebarkannya ke media sosial yang mereka miliki.

Kontributor: Fakhruddin Arrazzi

Berita Terkait

Baca Juga