Dosen UNP Latih Pemandu Wisata di Sawahlunto Tentang Jenis dan Penamaan Batuan di Kawasan Geopark

Dosen UNP Latih Pemandu Wisata di Sawahlunto Tentang Jenis dan Penamaan Batuan di Kawasan Geopark Kegiatan lapangan pelatihan pengenalan jenis dan pemerian nama batuan

Covesia.com - Kota Sawahlunto, merupakan salah satu kota yang memiliki nilai sejarah penting di Sumatra Barat. Kota ini juga telah ditetapkan sebagai salah satu kawasan Geopark Nasional pada November 2018. Selain itu, UNESCO juga menetapkan Sawahlunto sebagai salah satu World Heritage pada Juli 2019. 

Status yang melekat saat ini, mau tak mau, menuntut segala lini di Sawahlunto, mesti bekerja sama membangun citra daerahnya, terutama dalam aspek geowisata. Pada bagian bersamaan, kompetensi pemandu wisata yang memiliki dengan pengetahuan yang baik mengenai geologi, budaya, konservasi maupun sosial kemasyarakatan.   

Memerhatikan urgensi ini, tiga dosen Jurusan Teknik Pertambangan, Universitas Negeri Padang melaksanakan pengabdian masyarakat yang ditujukan kepada PKM Kelompok Sadar Wisata Desa Rantih Kecamatan Talawi dan Desa Silungkang Tigo Kecamatan Silungkang Kota Sawahlunto. 

Secara khusus, tim dosen UNP memberi pemahaman melalui pengenalan jenis dan pemberian nama batuan dalam Kawasan Situs Geologi Taman Bumi (Geopark) Sawahlunto guna meningkatkan kompetensi SDM pemandu wisata sesuai Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) sektor pariwisata. 

“Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilakukan dengan metode pemaparan oleh pemateri dan diskusi yang dilakukan di ruang pertemuan Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga kota Sawahlunto pada 24 Oktober 2019,” ungkap Ketua Tim Kelompok Pengabdi, Rifky Pratama Putra S.Si., M.T. 

Rifky mengatakan, usai pemaparan, kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan lapangan ke lokasi Situs Taman Bumi (Geopark) Bukit Batu Runcing yang berlokasi di desa Silungkang Oso, Kecamatan Silungkang. 

“Kegiatan ini ditujukan kepada pemandu wisata dari kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Desa Rantih Kecamatan Talawi, Desa Silungkang Tigo Kecamatan Silungkang serta beberapa anggota Pokdarwis lain di Kota Sawahlunto,” imbuhnya.  

Peserta lainnya berasal dari guru mata pelajaran Geografi tingkat SMP di Sawahlunto sehingga tercatat peserta pelatihan berjumlah 38 orang. Sementara, materi pelatihan disampaikan dua pemateri dengan topik berbeda. 

Pemateri pertama, Dian Hadiansyah S.T., M.T dari Dinas Energi dan Sumberdaya Mineral Provinsi Sumatera Barat sekaligus juga tim Geopark Ranah Minang, memperkenalkan kawasan taman bumi (geopark), perkembangan geopark di Sumatera Barat, hingga aspek penting dalam pengelolaan kawasan geopark.

“Ketua Ikatan Ahli Geologi Sumatera Barat juga memperkenalkan beberapa jenis batuan yang berada dalam kawasan Geopark Sawahlunto,” tambah Rifky. 

Sedangkan pemateri kedua, Harizona Aulia Rahman S.T., M.T. dari jurusan Teknik Pertambangan UNP menyampaikan proses pembentukan batuan, jenis batuan, pengenalan jenis batuan serta pemberian nama batuan berdasarkan sifat fisik dan kimia. 

Rifky mengungkapkan, peserta pelatihan cukup antusias dengan kegiatan tersebut. Hal itu dinilai dari diskusi dan sesi tanya jawab setelah pemaparan materi oleh pemateri. 

Latar belakang pendidikan pemandu wisata dan keterbatasan pengetahuan tentang pemberian nama serta jenis batuan di kawasan situs taman bumi di Sawahlunto, menjadi salah satu alasan mengapa kegiatan pelatihan penting untuk digelar. 

Rifky menyebutkan, di antara peserta Pokdarwis ada yang meminta agar dilakukan kunjungan khusus dari pemateri dan tim dosen guna mengidentifikasi batuan yang berada di situs geologi di desa mereka. 

“Situs geologi tersebut belum banyak dikunjungi oleh wisatawan karena minim informasi, fasilitas, dan infrastruktur. Begitu juga dari peserta kelompok guru-guru mata pelajaran Geografi tingkat sekolah menengah yang banyak mengajukan pertanyaan tentang Geopark dan pengenalan jenis batuan untuk diteruskan kepada peserta didik di sekolah masing-masing,” jelasnya. 


Pada pelatihan kali ini, pengabdi juga membawa beberapa contoh batuan dari kelompok batuan beku, batuan sedimen dan batuan metamorf. Dari contoh itu, peserta pelatihan dapat mempratikkan langsung cara mengenali dan pemberian nama pada masing-masing kelompok batuan. 

Anggota 1 Kelompok Pengabdi UNP, Harizona Aulia Rahman S.T., M.T. menerangkan, Sawahlunto secara tinjauan geologi merupakan bagian dari cekungan Ombilin yang merupakan tipe cekungan belakang busur (back arc basin) sehingga sebagian besar batuan yang dijumpai di permukaan adalah batuan sedimen klastik dan batuan sedimen karbonat disamping juga dapat dijumpai beberapa batuan beku. 

“Karena itu juga, di Sawahlunto dapat dijumpai batubara yang cukup tebal dengan kualitas sangat baik yang mengisi bagian cekungan ini,” kata Harizona.          

Anggota 2 Kelompok Pengabdi UNP, Drs. Bambang Heriyadi M.T. menyebutkan, kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan pemandu wisata dari kelompok sadar wisata kota Sawahlunto, khususnya tentang aspek geologi situs taman bumi di kota Sawahlunto. 

“Selain itu, agar pemandu bisa memenuhi amanat Kepmen Ketenagakerjaan nomor 89 tahun 2019 tentang SKKNI kategori Kesenian, Hiburan dan Rekreasi Golongan Pokok Aktivitas Olahraga dan Rekreasi lainnya Bidang Kepemanduan Geowisata,” ulas Bambang. 

Sebelum kegiatan dilaksanakan, pengabdi juga telah melakukan audiensi dengan Wali Kota Sawahlunto, Deri Asta dan Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Sawahlunto, mengenai rencana kegiatan pelatihan dalam rangka pengabdian kepada masyarakat. 

Wali Kota Sawahlunto, Deri Asta sangat mendukung kegiatan pengabdian masyarakat ini dan berharap dapat dilaksanakan secara berkesinambungan di kota itu. 

(Webtorial)

Berita Terkait

Baca Juga