Rumah dan Sawah Warga Banyak Rusak di Koto Alam, Diduga Akibat Pertambangan

Rumah dan Sawah Warga Banyak Rusak di Koto Alam Diduga Akibat Pertambangan Area sawah warga yang rusak diduga akibat aktifitas tambang batu andesit di Koto Alam, Sumbar (Foto: Angga/Covesia)

Covesia.com - Masyarakat Koto Alam, Kecamatan Pangkalan Koto baru, Kabupaten Limapuluh Kota, SUmatera Barat mengeluhkan banyaknya rusak rumah dan sawah yang rusak selama tiga tahun terakhir. Diduga rusaknya rumah dan sawah ini dikarenakan aktivitas perusahaan tambang batu andesit yang ada di nagari tersebut.

Pengamatan Covesia.com di Koto Alam, lebih dari 40 rumah telah mengalami keretakan. Baik di dinding maupun di lantai. Retakan rumah-rumah ini seperti rumah sehabis terkena gempa. Sedangkan sawah-sawah yang rusak, mayoritas tidak jauh dari bibir sungai. Kerusakan ini dikarenakan sawah tertimbun lumpur dan batu yang dibawa oleh arus sungai.

Saat dikonfirmasi ke salah seorang masyarakat Koto Alam, Yondrizal menyebutkan fenomena ini kuat dugaan karena aktivitas tambang batu Andesit yang beroperasi di sekitar Nagari Koto Alam. Rumah retak ini dikarenakan getaran dinamit saat memecahkan batu dan berefek ke rumah-rumah masyarakat. Sedangkan sawah rusak karena pembuangan limbah perusahaan yang tidak sesuai prosedur. Kerap membuang limbah ke sungai.

“Batu andesit itu batu keras. Untuk mengambilnya, harus diledakkan dengan dinamit. Getaran dinamit ini yang membuat rumah-rumah masyarakat di Koto Alam retak-retak. Kalau sawah, mayoritas yang dipinggir sungai dengan radius 20 meter kiri dan kanan sudah rusak karena tertimbun lumpur dan batu. Kami menduga lumpur dan batu itu dari limbah perusahaan tambang,” sebut Yondrizal kepada Covesia.com, Sabtu (30/11/2019).

Ia juga mengatakan jarak antara pemukiman penduduk dengan lokasi tambang cukup dekat. Apalagi, wilayah kerja PT Koto Alam Sejahtera (KAS). Dengan ledakan dinamit setiap hari ini, membuat retakan rumah-rumah warga semakin besar.

“Saat orang-orang tambang ini meledakkan batu, terdengar oleh warga. Jadi bisa dianalisa, berapa jarak antara pemukiman dengan lokasi tambang. Wajar saja rumah warga retak-retak karena getaran,” katanya.

Mengenai sawah, para pekerja tambang hanya mengambil batu. Sedangkan tanah dan lumpur tidak diambil. Jika terjadi hujan, lumpur dan tanah yang menumpuk tersebut tergerus ke sungai dan mengalir ke sawah-sawah masyarakat.

“Kenapa kami (warga-red) yakin itu limbah tambang?. Karena dalam lumpur itu banyak membawa batu-batu kecil. Jenisnya andesit juga. Lumpur ini terus mengalir di sungai setiap hari. Padahal jika sungai membawa material lumpur dan batu hanya saat banjir bandang. Tidak mungkin banjir bandang setiap hari. Karena itulah kuat dugaan kami rusaknya sawah dan rumah masyarakat di Koto Alam ini karena aktivitas pertambangan di sekitar nagari Koto Alam,” tambahnya.

Mengenai hal ini Wali Nagari Koto Alam, Abdul Malik mengaku belum bisa berkomentar. Dirinya memilih untuk menjabarkan persoalan ini jika wartawan datang langsung ke Kantornya di hari kerja.

“Besok saja di hari kerja. Datanglah ke kantor Wali Nagari jika ingin wawancara persoalan ini. sekarang saya sedang di kebun,” ucap Abdul Malik.

(agg)

Berita Terkait

Baca Juga