Kisah Edi Muli, Rawat "Robert" Seekor Buaya Seperti Anak Sendiri

Kisah Edi Muli Rawat Robert Seekor Buaya Seperti Anak Sendiri Edi muli (59) saat membantu BKSDA mengevakuasi seekor buaya bernama Robert dengan ukuran 3,8 meter dan berat 1,5 ton, Kamis (28/11/2019)(Foto: Istimewa)

Covesia.com - Usmardi atau Edi Muli (59) seorang warga Painan, Kecamatan IV Jurai, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat (Sumbar) adalah seorang wiraswasta pemilik seekor buaya jantan bernama Robert yang diserahkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat pada Kamis (28/11/2019) kemarin.

Diceritakan Edi Muli pada Covesia.com, seekor buaya yang diberi nama Robert itu, dipelihara oleh dirinya sejak tahun 1988 lalu sampai kemarin diserahkan Edi ke BKSDA. 

Dimana dirinya, merawat Robert mulai dari Robert berusia tiga tahun dengan ukuran setengah meter sampai kemarin diserahkan Robert berusia 34 tahun dengan ukuran 3,8 meter dan berat 1,5 ton.

Sehari-harinya sebelum diserahkan ke BKSDA, Robert di tempatkan di kolam seukuran 3X6 meter dengan tinggi sekitar 1,5 meter, tepat di samping rumahnya yang berada di sekitar Teluk Batu Tembak Painan, Kecamatan IV Jurai.

"Sekitar 31 tahun sudah, saya memelihara dan merawat Robert ," kata Usmardi yang akrab di panggil Edi Muli pada Covesia.com, Jumat (29/11/2019).

Dengan rentang waktu yang cukup lama yang dihabiskannya merawat Robert, dirinya mengaku, sudah menganggap Robert seperti anak sendiri. Karena, katanya selama berkawan dengan Robert dirinya tidak pernah merasa takut dan dibahayakan.

"Robert sangat baik, meski kita ketahui dia adalah hewan liar dan berbahaya. Alhamdulillah dari kecil sampai ukuran sangat besar sekarang ini, saya dan keluarga tidak pernah dibahayakan, begitu juga dengan warga lain yang melihat Robert langsung dikandangnya," ucapnya.

Dikatakannya lagi, selama ini dirinya dan sang istri sangat intens dalam merawat Robert, dan dirinya bersama sang istri sangat mengerti bagai mana kondisi Robert ketika lapar dan haus.

"Apabila Robert lapar, dia akan memberikan tanda dengan meriak-riakkan air di dalam kolom tempat ia dikandangkannya begitu juga ketika dia kekurangan air atau haus," kata Edi.

Dalam memelihara dan merawat Robert, dirinya memberikan makan Robert satu minggu sekali dengan daging babi, ayam dan juga bebek.

"Saya kasih daging babi hasil berburu babi kawan saya, apibala tidak ada daging babi, maka kami belikan ayam atau bebek. Pokoknya, dalam satu minggu itu harus dikasih makan," sebutnya.

Menurutnya, tanda-tanda yang diberikan Robert itu, merupakan salah satu bentuk komunikasi dirinya dengan Robert. 

"Itu terlihat saat saya atau istri saya memberikan makan Robert, dan Robert terlihat tenang apabila sudah mendengar suara kami. Karena, selain mendengar buaya bisa mengenali kita dengan bau " ujarnya.

Puluhan tahun, memelihara dan merawat seekor buaya sampai dengan ukuran sangat besar. Dirinya, mengaku sangat sedih saat Robert diserahkan ke pihak BKSDA. 

Karena dirinya, bersama sang istri sangat menyayangi Robert, dan telah menganggap Robert serasa anak sendiri. "Saat dibawa BKSDA, istri saya menangis melihat Robert. Tapi, mau bagai mana lagi, Robert harus dikembalikan ke habitatnya, karena dia adalah reptil yang dilindungi dan diatur oleh undang-undang," ujarnya lagi.

Lanjutnya, meski merasa sedih berpisah dengan Robert dirinya bersama sang istri sudah sepakat dan ikhlas menyerahkan Robert ke BKSDA, dan permintaan itu sudah sejak tiga bulan lalu diberitahukan ke pihak BKSDA.

"Kita sudah sepakat menyerahkannya. Karena kita merasa sudah cukup tua dan takutnya tidak bisa lagi merawat Robert seperti biasanya. Apalagi dengan besarnya sekarang. Kami takut nantinya, dia mengamuk dan melukai orang lain," ucapnya.

Kendati demikian kata Edi, dirinya meminta kepada pihak BKSDA, untuk menjaga Robert selama di perjalanan apabila ada kendala dirinya bersedia ikut mengantarkan Robert ke tempat konservasi di Sumatera Utara. 

"Saya siap apa bila diminta, dan saya berharap Robet kembali pada habitatnya. Dengan kembalinya kehabitat aslinya, dia bisa merasakan alam yang seharusnya ditempatinya," tutup Edi Muli.

Kontributor: Indrayen Putra



Berita Terkait

Baca Juga